
Deli melajukan mobilnya menuju perusahaan. Hatinya masih sakit karena kejadian yang kemaren. Tetapi Deli harus bersikap profesional, dia tidak boleh mendahulukan egonya di atas kepentingan pribadinya. Akhirnya Deli mengalah untuk tetap pergi ke perusahaan.
Deli sudah berada di meja kerjanya. Dia menatap agenda kegiatan yang akan dilakukan oleh Jero dan Felix. Deli memindahkan semua catatan catatan untuk kegiatan Jero dan Felix ke dalam sebuah buku kecil yang akan diserahkan kepada Felix sebagai asisten pribadi dari seorang Jero Edwardo.
"Semoga dia datang cepat. Aku akan izin untuk pulang cepat hari ini. Lelah banget rasanya badan" ujar Deli yang merasakan sebatang badannya terasa sangat lelah. Padahal yang sebenarnya lelah bukanlah badan dari Deli tetapi perasaan Deli yang lelah.
Deli menatap ke arah lift. Deli berharap sudah ada tanda tanda orang naik dari lobby atau langsung dari bestman tetapi sampai sekarang masih juga belum ada.
"Tumben dia makhluk itu telat datang. Gue udah capek nunggu ini. Gue pengen pulang" ujar Deli sambil menatap pintu lift dan berdoa agar kedua bosnya itu datang secepatnya.
Ting pintu lift terbuka lebar di depan Deli. Deli melihat dua orang pria berjalan keluar dari dalam lift. Jero dan Felix berjalan bersamaan. Deli menunggu di depan pintu ruangan Jero.
"Selamat pagi Tuan." sapa Deli kepada kedua bos besarnya itu. Kedua bos yang terlihat sangat tampan dengan memakai jas hitam.
Jero dan Felix menganggukkan kepalanya. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam ruangan. Deli mengikuti dari belakang.
"Tuan, agenda hari ini adalah rapat dengan tim pengembang perumahan dan nanti siang ada meeting dengan semua manager" ujar Deli memberitahukan kepada Jero dan Felix apa agenda yang harus dikerjakan oleh mereka.
"Tuan, saya hari ini izin pulang cepat Tuan. Karena badan saya kurang enak" ujar Deli yang mengajukan perihal izin pulang cepat kepada Jero dan Felix.
"Oh baiklah Deli. Kamu silahkan pulang duluan." ujar Felix menjawab izin yang diajukan oleh Deli kepada mereka berdua.
"Permisi Tuan" ujar Deli pamit kepada Jero dan Felix.
Deli kemudian berjalan kembali ke meja kerjanya. Dia kemudian menyiapkan semua barang barang miliknya. Dia akan pulang ke rumah sekarang juga.
Deli masuk ke dalam lift khusus karyawan. Dia kemudian berjalan menuju mobilnya yang diletakkan di bestman gedung perusahaan itu.
"Hay Deli mau kemana?" tanya Demian perez saat melihat Deli yang berjalan menuju mobil miliknya.
"Eh Tuan Demian, ini saya mau pulang Tuan. Kepala saya sakit" ujar Deli sambil memegang kepalanya.
__ADS_1
Demian menatap Deli dengan seksama. Demian tau kalau saat ini Deli sedang berbohong. Demian bukan tipe seseorang yang mudah dibohongi oleh siapapun.
"Kenapa bisa sakit kepala?" tanya Demian kembali.
"Nggak tau juga Tuan. Tiba tiba saja sakit" jawab Deli yang tidak bisa menatap ke mata Demian.
"Kamu masuk mobil. Saya akan antar pulang. Tapi, saya bertemu Jero dulu" ujar Demian memerintahkan Deli untuk masuk ke dalam mobil miliknya.
"Aku punya mobil sendiri Tuan. Aku pulang dengan mobil aku aja" ujar Deli menolak untuk masuk ke dalam mobil Demian.
"Deli saya tidak menerima penolakan" ujar Demian menatap Deli sangat lama.
Deli membalas tatapan dari Demian. Tetapi, sebagaimana Deli menatap Demian, Demian sama sekali tidak tergoyahkan. Niatnya untuk mengantarkan Deli pulang sudah sangat bulat dan tidak bisa ditawar tawar lagi.
"Oh baiklah baiklah. Saya akan masuk" ujar Deli mengalah untuk masuk ke dalam mobil milik Demian.
Demian kembali menghidupkan mobil miliknya. Dia mengaktifkan AC mobil supaya Deli tidak kepanasan di dalam mobil.
"Oke sip. Jangan lama lama. Kepala saya pusing" ujar Deli yang masih berusaha meyakinkan Demian kalau kepalanya pusing.
"Udah nggak usah boong" ujar Demian sambil menatap Deli.
Deli menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia sudah ketahuan oleh Demian kalau dia bohong tentang sakit kepalanya itu. Demian mengacak rambut Deli.
"Semoga nggak ada kaitannya dengan kejadian kemaren" ujar Demian sambil melihat ke dalam mata Deli.
Deli melarikan matanya dengan liat. Dia nggak mau menatap Demian. Deli takut dia nanti salah salah ucap dan berakhir dengan suatu hal yang tidak baik dilakukan oleh Demian.
"Aku turun bentar ya" ujar Demian kembali.
"Kaca itu tidak akan terlihat siapa di dalamnya dari luar. Jadi aman" lanjut Demian.
__ADS_1
Demian kemudian keluar dari dalam mobil. Deli melihat pria tampan itu berjalan ke dalam perusahaan. Tidak lama Demian masuk ke dalam perusahaan, Deli melihat mobil Dina masuk ke dalam area parkir bestman.
"Lah Dina ngapain ke sini ya?" ujar Deli melihat Dina turun dari dalam mobilnya dan langsung masuk tergesa gesa ke dalam perusahaan.
"Dia nggak ada ngomong sama sekali ke aku kalau mau datang ke perusahaan" ujar Deli sambil menatap Dina yang sudah hilang masuk ke dalam gedung perusahaan.
Deli kemudian memilih untuk memejamkan matanya. Dia akan menunggu Demian sambil tidur saja di kursi mobil.
Jero, dan Felix yang sedang duduk duduk mendadak kaget saat pintu di buka dari luar oleh seseorang.
"Maaf, saya main masuk saja karena sekretaris Tuan Jero tidak ada terlihat di luar" ujar Demian yang ternyata memilih untuk membuka pintu ruangan Jero tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Eh Tuan Demian, mari masuk Tuan." ujar Jero dan Felix menyambut dengan ramah Demian Perez yang datang tiba tiba ke perusahaan mereka.
Mereka bertiga kemudian berbincang bincang tentang kerjasama yang sedang mereka lakukan.
Tiba tiba pintu dibuka dengan kasar dari luar. Brak bunyi pintu yang di hempas seseorang.
Jero, Felix dan Demian kaget melihat siapa yang masuk dengan cara seperti itu.
"Ada apa sayang?" ujar Felix yang melihat Dina sangat murka.
Dina sama sekali tidak memperdulikan ucapan yang dikatakan oleh Felix. Dia tetap berjalan menuju Jero.
Plak. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Jero. Felix dan Demian kaget melihat apa yang terjadi. Apalagi Jero, dia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan tamparan keras di pipinya dari Dina yang datang tiba tiba itu.
"Elo, jangan pernah samakan perai Freya kekasih elo yang simpanan sugar daddy itu dengan sahabat baik gue" ujar Dina menunjuk dengan tangan kirinya tepat di hidung Jero.
"Maksud Anda apa Nona Dina Kusuma?" tanya Jero yang tidak paham dengan maksud perkataan dari Dina.
"Elo menuduh sahabat baik gue, yang gue tau siapa dia. Elo menuduh dia melakukan hal hal aneh dengan Demian Perez untuk mendapatkan kontrak kerjasama itu" ujar Dina memperjelas perkataan dan maksudnya datang ke perusahaan Edwardo.
__ADS_1
"Gue nggak nyangka. Anda yang katanya CEO terhormat Presdir perusahaan ternama bisa mengatakan hal serendah itu terhadap sekretarisnya sendiri" lanjut Dina masih dengan emosinya.