Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 82


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan memakan waktu yang lumayan lama. Akhirnya Deli sampai juga di depan pintu gerbang utama mansion keluarga Sanjaya. Deli membuka pintu gerbang besar itu sendirian.


Semenjak mansion itu jarang ditempati okeh Dian. Dian sudah memindahkan satpamnya ke cabang usaha perawatan wajahnya yang lain.


Deli memarkir mobilnya di samping mobil milik Dian. Saat Deli hendak menutup pintu pagar mansion, terdengar bunyi klason yang begitu panjang dari arah luar pagar. Deli melihat ke arah sumber suara. Ternyata dari sana nampak sebuah mobil berwarna merah menyala milik sahabatnya Dina.


"Dasar, gue kira siapa. Kiranya orang malas buka pintu pagar datang" ujar Deli yang membatalkan niatnya untuk menutup gerbang mansion.


Dina memberikan senyuman hangatnya kepada Deli. Dina memasukkan mobilnya ke halaman mansion Sanjaya. Dina memarkir mobil keluaran terbaru dari pabrikan kuda jingkrak itu di sebelah mobil Deli.


"Makasi sayangku. Kamu memang terbaik. Sarang heyo" ujar Dina sambil memberikan jarinya yang dibuat seperti kode atau simbol sarang heyo tersebut.


"Makasi, kesel heyo" ujar Deli membalas ucapan yang diberikan oleh Dina tadi.


"Haha haha haha. Mana ada kesel heyo. Kasih heyo baru ada. Loe ngadi ngadi" ujar Dina sambil turun dari dalam mobilnya.


Deli yang selesai menutup pintu pagar, menyusul Dina yang sudah berdiri di dekat tangga mau masuk ke dalam mansion.


"Hay baru selesai kerja loe?" tanya Dina kepada Deli.


"Gue denger selentingan di perusahaan gue. Kalau perusahaan loe berhasil menjalin kerjasama dengan perusahaan perez. Bener Del?" ujar Dina yang tadi memang sempat mendengar cerita beberapa karyawannya yang sedang makan siang di kantin.


Kebetulan juga Dina hari ini tidak ada meeting keluar menyempatkan makan siang di kantin perusahaan.


"Yup. Tapi gue juga ikut meeting hari itu. Lakik loe keren. Dia sukses mensugesti dan memaparkan dengan baik saat presentasi itu" ujar Deli memuji Felix.


Padahal kerjasama antara perusahaan Edwardo dan perusahaan Perez bisa terjadi karena adanya Deli di perusahaan itu.


Mereka berdua kemudian membuka pintu utama mansion. Ternyata di sana sudah duduk, Papi, Mami, Dian dan kak Hendri.


Deli dan Dina langsung bersalamaan dengan Papi dan Mami. Setelah itu mereka duduk di ruang tamu. Seorang maid mengantarkan minuman untuk Deli dan Dina.


"Baru pulang kerja kalian berdua?" tanya Papi kepada Deli dan Dina.


"Iya Pi." jawab Deli dan Dina kompak.


"Gimana kerjaan kamu Deli? Apa betah kerja di perusahaan Edwardo?" tanya Papi kepada Deli yang sedang asik dengan jeruk perasnya itu.


"Lumayan asik Pi. Bekerja di sana asli beneran kerja. Nggak ada mainnya. Kerja mulu" ujar Deli menjawab pertanyaan dari Papi.


Deli sebenarnya malas membahas tentang pekerjaan. Dia inginnya saat sampai di rumah tidak ada lagi membahas pekerjaan yang akan membuat kepalanya semakin sakit. Deli maunya sampai di rumah atau mansion dia akan mendengar cerita selain cerita pekerjaan. Harinya sudah disibukkan dengan pekerjaan, masak saat santai juga bahas pekerjaan. Deli tidak suka akan hal itu. Makanya saat Papi menanyakan hal itu, jawaban Deli singkat saja.


Papi melihat keengganan dari dalam diri Deli yang terlihat dari cara Deli menjawab. Papi kemudian memutuskan untuk mengubah arah pembicaraan.


"Gimana kalau kalian istirahat dulu. Setelah itu baru kita membahas tentang temuan yang terjadi di perusahaan Sanjaya." ujar Papi mengakhiri perbincangan sore itu di ruang tamu.

__ADS_1


Mereka semua beranjak dari duduknya kecuali Hendri. Dia tidak tau akan beristirahat dimana. Mami dan Dian yang melihat Hendri kebingungan saling tersenyum.


"Nak Hendri, istirahat di kamar tamu aja. Sini, mami antar ke sana" ujar Mami sambil berjalan duluan menuju kamar tamu.


Hendri mengikuti Mami. Dia tidak mungkin meminta Dian untuk mengantarkannya ke kamar tamu.


"Silahkan beristirahat Nak Hendri" ujar Mami sambil membukakan pintu kamar tamu selebar lebarnya.


Mami kemudian kembali ke kamarnya. Hendri masuk ke dalam kamar tamu. Hendri melepas jasnya. Dia kemudian merebahkan dirinya ke atas kasur empuk itu. Hendri beristirahat di sana sampai jam makan malam tiba.


"Pakaian gue nggak ada. Gimana caranya coba" ujar Hendri yang ingat tidak membawa pakaian gantinya.


Hendri kemudian membuka aplikasi toko yang sering dia membeli pakaian di sana. Hendri memesan satu stel pakaian. Dia meminta karyawan toko mengantarkan ke mansion Dian.


"Pakaian aman. Tinggal tunggu." ujar Hendri.


Hendri merebahkan badannya di atas kasur empuk yang berada di kamar tamu. Hendri akan beristirahat menjelang kurir yang mengantarkan pakaiannya datang ke mansion.


Tepat satu jam menunggu, pakaian itu akhirnya datang juga. Hendri yang sudah tidak mungkin lagi tidur, memilih untuk langsung mandi saja. Dia akan menunggu yang lainnya sambil duduk di ruang keluarga.


Dian yang juga telah selesai mandi, ingin melihat apakah Hendri sudah bangun atau belum berjalan menuju lantai bawah mansion. Dian membuka pintu kamar tamu. Ternyata dia tidak melihat Hendri di dalam.


Dian kemudian masuk ke dalam kamar tamu. Dia melihat pakaian yang tadi di pakai Hendri sudah berada di dalam paperbag salah satu toko pakaian merk ternama untuk pakaian laki laki.


"Sepertinya Kak Hendri udah mendi. Dimana dia sekarang ya?" ujar Dian berbicara sendiri sambil menaruh kembali paperbag itu keatas nakas.


"Nona muda mencari Tuan Muda ya?" tanya seorang maid yang baru dari arah ruang keluarga.


"Iya, maid. Dimana Kak Hendri ya?" tanya Dian kepada maid itu.


"Di ruang keluarga Nona. Tuan muda sedang mengobrol dengan Tuan Besar di sana" jawab Maid memberitahukan dimana keberadaan Hendri sekarang.


"Oh baiklah, terimakasih maid." ujar Dian dengan tulus mengucapkan terimakasih kepada salah seorang asisten rumah tangganya itu.


Dian berjalan menuju ruang keluarga. Dian melihat dari kaca besar yang menjadi pembatas ruang keluarga dengan ruangan lainnya, Papi dan Hendri sedang asik mengobrol. Mereka berdua terlihat sangat menyambung dalam bercerita.


Dian menggeser pintu kaca tebal itu. Papi dan Hendri melihat siapa yang masuk ke dalam ruang keluarga. Dian kemudian duduk di sofa yang biasa dia tempati kalau sedang duduk diruangan itu. Dian sangat senang duduk di sana karena, kalau rasanya Dian sudah bosan dengan obrolan yang terjadi. Dia bisa memandang indahnya taman samping rumahnya.


Papi dan Hendri bercerita tentang dunia bisnis, satu hal yang paling tidak disukai oleh Dian. Dian menatap kearah Papi da Hendri.


"Ye yang nggak suka bisnis tetapi akhirnya harus terjun ke dunia bisnis" ujar Papi menggoda anak tunggalnya itu.


"Kepaksa Pi. Mau gimana lagi. Keluarga semuanya pebisnis. Papi pebisnis, Mami pebisnis. Ee ee ee jatuh cinta juga kepada seorang pebisnis" ujar Dian sambil memandang Hendri.


"Ya aku syukuri aja Pi. Aku harus menyukai dunia itu secara perlahan. Mau gimana lagi Pi. Terpaksa diikuti" ujar Dian dengan nada biasa aja.

__ADS_1


"Haha haha haha. Sayang, jangan seperti itu. Orang pengen memiliki bisnis yang sukses. Tapi kamu malah sebaliknya" ujar Hendri menatap Dian.


"Aku bahagia kok sayang. Tapi, bantu aku untuk menyukai bisnisnya ya" ujar Dian menatap Hendri.


"Aman sayang. Emang dari beberapa hari kemaren, aku nggak bantu kamu?" tanya Hendri menatap Dian.


"Bener juga sayang" ujar Dian sambil tersenyum.


"Aku bantu Mami nyiapin menu makan malam dulu ya sayang. Papi sama Kak Hendri lanjutkan aja ngobrolnya. Pusing bisnis mulu" ujar Dian yang keluar sambil menggeleng geleng kan kepalanya.


Papi dan Hendri yang melihat gaya Dian, hanya bisa tersenyum saja. Dian sebenarnya bukan menolak dunia bisnis. Tapi untuk serius di situ Dian belum mampu.


Dian menuju dapur, dia melihat Mami sedang dibantu oleh Deli menyiapkan menu makan malam. Sedangkan Dina yang tidak bisa memasak duduk menunggu hasil masakan untuk diletakkan di atas meja makan. Walaupun di rumah Dian banyak asisten rumah tangga, tetapi yang namanya dapur adalah daerah kekuasaan Mami. Siapapun tidak akan bisa menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam kalau ada Mami di rumah.


"Mami masak apa Mi?" tanya Dian saat dia sudah sampai di dapur.


"Ayam kecap, capcay, sama udang goreng tepung" ujar Mami menjawab pertanyaan Dian.


Deli terlihat sedang memotong buah segar.


"Minum udah siap Mi?" tanya Dian lagi kepada Mami.


"Belum Yan. Kamu tolong buat teh ya. Terus kasih perasan sama irisan lemon" ujar Mami yang sedang kepengen minum lemon tes.


"Kasih es ya Mi" ujar Dina yang memang tidak bisa lepas dari es setiap makan.


"Oke" jawab Mami yang mengizinkan Dina untuk memberikan es pada minuman yang disoapkan oleh Dian.


Dina yang melihat beberapa masakan Mami sudah selesai, menaruh semuanya di atas meja makan. Dian juga meletakkan piring, sendok, garpu dan juga gelas.


Dina mengisi semua gelas dengan air putih dan juga es lemon tea yang telah dibuat oleh Dian. Semua makanan telah dihidangkan oleh Dina.


Papi dan juga Hendri sudah di panggil Mami tadi. Mereka berdua sudah duduk di kursi masing masing. Mami dan ketiga wanita cantik itu juga sudah duduk di kursi mereka masing masing.


Mereka semua kemudian menyantap makan malam yang dibuat oleh Mami dan dibantu Deli. Mereka makan dengan sangat lahap. Masakan Mami Dian hampir sama rasanya dengan masakan Bunda Deli. Mereka menyantap makan malam itu dalam keadaan hening, sesuatu yang memang terjadi di keluarga Deli dan Dian serta Dina sewaktu kedua orang tuanya masih hidup.


"Kita mau ngumpul dan bicara di mana?" tanya Papi kepada mereka semua saat setelah selesai menyantap makan malam lezat itu.


"taman samping aja Pi. Sekali sekali kita duduk di sana" jawab Mami yang kangen dengan duduk di taman samping.


"oke.Mami dan yang lainnya siapin teh dan juga cemilan ya. Papi dan Hendri ke sana duluan" ujar Papi.


"Sip Papi" jawab Mami sambil mengangkat kedua jempolnya dan memberikan kepada Papi.


Papi dan Hendri menuju halaman samping. Sedangkan Mami dan ketiga putrinya menyimpan kembali lemon tea untuk Papi dan Hendri, serta tidak lupa dengan puding mangga yang tadi dibuat oleh Deli.

__ADS_1


Setelah semua makanan dan minuman itu selesai. Mami dan ketiga putrinya menuju taman samping mansion. Mereka akan duduk duduk di sana semalaman. Berhubung besok hari libur, jadi mereka bebas mau bercerita sampai jam berapapun.


Dian menghidangkan ice lemon tea untuk mereka semua. Sedangkan Deli dan Dina menghidangkan puding mangga yang dibuat oleh Deli. Setelah itu mereka bertiga duduk di sofa yang kosong. Mereka akan mulai mendengar lanjutan cerita dari Dian yang sempat terpenting semalam.


__ADS_2