Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
179


__ADS_3

Satu bulan kemudian ...


Kehidupan yang berjalan dengan normal dan semuanya di lalui dengan rasa senang tanpa ada rasa cemas.


Kirana akhirnya mengetahui semua tentang Muhammad dan penyamarannya. Kirana tahu, Muhammad adalah Syakir, suaminya. Syakir hanya memohon agar Kirana bisa menjaga rahasia itu dengan baik selama berada di dekat Syakir.


Hidup Syakir memang tidak bisa di katakan aman. Ia telah melarikan diri dari pekerjaannya. Tapi, Syakir tidak takut akan semua resiko besar yang akan di hadapinya nanti. Semua bisa saja terjadi, hari ini, besok atau lusa. Bagi Syakir yang terpenting saat ini adalah Kirana. Ia bisa bertemu dengan Kirana, menjaga kehamilan istrinya hingga melahirkan nanti.


Syakir dan Kirana sudah bertemu kembali. Kini, mereka sudah tinggal bersama dalam satu apartemen dan hidup berbahagia selayaknya suami istri normal lainnya.


Kirana sendiri tak pernah sedikit pun menanyakan soal keberadaan Fatima. Ia anggap semuanya tidak penting. Kedatangan Syakir tentu karena semua doa -doanya telah di jabah dan di tunjukkan ini jalan terbaik untuk Kirana dan Syakir.


"Mas Syakir kenapa? Kirana lihat beberapa hari nampak tidak tenang?" tanya Kirana pelan sambil menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya.


Kirana sudah duduk manis di meja makan sambil menikmati nasi goreng spesial buatannya sendiri. Perutnya sejak pagi sudah meronta -ronta meminta segera di isi makanan.

__ADS_1


Cup ...


Syakir memeluk Kirana dari belakang dan mencium pipi Kirana yang sudah terlihat chubby dan menggemaskan.


"Apa aku terlihat panik? Gelisah? Ini karena aku tidak sabar menunggu kelahiran anakku," jawab Syakir santai dan duduk di depan Kirana. Ia memulai memyeruput kopi buatan Kirana.


Rumah tangga mereka sangat sempurna. Semua cinta dan kasih sayang tercurah di dalamnya tanpa batas. Mereka yang saling mencintai, saling menghargai sejak dulu, membuat hubungan mereka tetap harmonis dan langgeng. Jarang sekali terjadi perdebatan atau gontokan yang membuat mereka pecah kecuali saat itu. Saat yang paling menyeramkan untuk Kirana.


Syakir juga mulai menikamati sarapan paginya. Sudah satu bulan ini, jadwal makannya teratur. Kirana tak pernah melalaikan tugasnya sebagainistri yang baik. Walaupun Kirana sibuk di kedai dan sibuk menegrjakan tugas kuliahnya. Semuanyanmasih bisa ia kerjakan dengan baik tanpa menggerutu.


"Kenapa melihat Mas seperti itu?" tanya Syakir yang agak tak nyaman di tatap seperti itu. Seperti banyak dosa dan kesalahan persis dengan yang ia perbuat pada Kirana.


"Memang salah? Kalau seorang istri menatap penuh cinta dan penuh damba pada suaminya? Tidak haram kan?" ucap Kirana asal dan menyelesaikan sarapan paginya yang masih tersisa di piring.


Entah kenapa, ia sedang senang menatap Syakir. Saat makan, saat tidur pun diam -diam Kirana selalu menatap sendu ke arah Syakir. Sampai saat ini, Kirana masih tak percaya kalau Syakir benar -benar kembali ke pelukannya.

__ADS_1


Ini yang ia perlukan selama ini. Jiwa Syakir yang tetap ada di sampingnya untuk menjaga dirinya dan bayi dalam kandungannya.


Syakir menggelengkan kepalanya pelan.


"Mas tidak pernah bilang itu salah. Mas hanya takut ...." ucap Syakir pelan lalu melanjutkan mengunyah nasi goreng di dalam mulutnya.


"Takut apa?" tanya Kirana pelan.


"Takut kalau istriku akan semakin jatuh cinta padaku," ucap Syakir sambil terkekeh.


"Bisa -bisanya bercanda seperti itu kamu, Mas? Hemmm ... Kirana sudah jatuh cinta sama Mas sejak SMA dulu. Bahkan cinta itu selalu tumbuh kembang dan bertambah. Tidak ada keinginan untuk mengakhiri semuanya. Saat Mas memilih untuk ...." ucapan Kirana langsung di hentikan oleh Syakir dengan sikap tegas. Syakir tidak ingin Kirana membahas masa lalunya lagi, walaupun ia belum menalak Fatima.


"Cukup Kirana. Mas tidak mau kamu membahas hal itu. Maafkan Mas yang sudah menyakiti kamu. Mas memang bersalah Kirana. Tapi ingin menebus semuanya demi kamu dan anak kita. Mas tidak mau lagi kehilangan keduanya seperti yang sudah -sudah. Mas juga tersiksa Kirana," ucap Syakir sendu.


Kirana hanya mengangguk pasrah menuruti semua permintaan Syakir.

__ADS_1


__ADS_2