
"Jero, gue ke kamar Dina bentar. Loe mau ikut atau tidak?" tanya Felix kepada Jero yang sedang sibuk membaca dokumen dokumen penting perusahaannya yang ternyata ada seekor tikus kecil ingin bermain main dengan dirinya.
"Nggak. Loe aja. Gue lagi baca dokumen perusahaan" ujar Jero menolak ajakan Felix untuk ke kamar Dina dan Deli. Jero memang sudah terbiasa dengan adanya Deli dan Dina. Tetapi kalau untuk terlalu akrab dengan dua wanita itu Jero belum bisa melakukannya.
Felix kemudian menuju kamar Dina. Dina akan bercerita tentang Juan dan keluarganya yang lain. Termasuk penyebab kecelakaan keluarga besarnya itu.
Felix berharap Dina tidak menutupi satupun ceritanya nanti. Felix ingin Dina terbuka kepada dirinya, karena dalam diri Felix, Dina adalah pelabuhan terakhir cintanya itu.
Felix mengetuk pintu kamar Dina. Deli yang sedang berada di dekat pintu kamar pergi membuka pintu kamar tersebut. Dia melihat Felix berdiri di depan pintu kamar.
"Silahkan masuk Tuan Felix. Dina sudah menunggu Anda di dalam." ujar Deli memberitahukan kepada Felix.
Felix kemudian masuk ke dalam kamar hotel Dina. Dia melihat kamar hotel yang rapi. Untung saja Jero memesan kamar suite jadi saat Felix masuk ke kamar Dina, Felix tidak harus duduk di atas ranjang Dina, tetapi bisa duduk di sofa yang ada di ruang tamu kamar suite tersebut.
Felix kemudian duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu. Dina yang baru dari dapur mengambil tiga botol air mineral langsung meletakkan di atas meja.
Deli yang baru dari membuka pintu kamar untuk mempersilahkan Felix masuk menuju kamar. Dia tidak mau menganggu Felix dan Dina.
"Deli, loe di sini aja" ujar Dina meminta Deli untuk ikut duduk bersama dirinya dan Felix.
"Nggak usah Din. Gue mengantuk" ujar Deli.
" Oh ya sudah. Kamu istirahat sana" ujar Dina membolehkan Deli untuk beristirahat. Mereka sudah memutuskan untuk kembali besok saja ke negara mereka. Cuaca yang tidak bersahabat ini belum akan berakhir hari ini menurut pilot yang akan menerbangkan pesawat. Pilot akhirnya memutuskan untuk menunda penerbangan ke hari besok saja.
"Jadi, mau mulai cerita dari yang mana dulu?" tanya Dina kepada Felix.
"Terserah sama orang yang mau cerita aja sayang. Dari mana aja boleh" jawab Felix memberikan kebebasan Dina mau cerita dari bagian mana terlebih dahulu.
__ADS_1
"Oke sayang. Aku mulai kenapa Juan memiliki nama Juan Wijaya Kusuma." ujar Dina.
Felix mengangguk. Dia juga penasaran dengan hal itu.
"Juan ditemukan Papi saat Juan menolong Mami dari pencopet sayang. Juan membantu Mami melawan pencopet itu. Saat itu Juan sudah besar juga, usianya sekitar lima belas tahunan lah. Nah Mami membawa Juan pulang ke rumah. Mami menceritakan apa yang terjadi kepada Papi." ujar Dina memulai ceritanya kepada Felix tentang Juan.
"Singkat cerita, Juan ditanyai oleh Papi, apakah masih punya keluarga atau tidak. Juan ternyata sama sekali tidak memiliki keluarga. Sejak saat itulah Juan tinggal bersama kami." ujar Dina.
"Saat itu kamu umur berapa sayang?" tanya Felix.
"Sepuluh tahun sayang." jawab Dina.
"Bisa lanjut atau tidak sayang?" tanya Dina kepada Felix.
Felix mengangguk.
"Ternyata Juan bisa dengan cepat menyelesaikan dua studinya yang berbeda itu. Satu studi bisnis yang diinginkan Papi, satu lagi arsitek sesuai keinginan dirinya. Juan bisa menyelesaikan kedua duanya dalam waktu tiga tahun." ujar Dina bercerita kepada Felix.
"Sayang, berarti dia adalah kakak angkat kamu. Kenapa dia memanggil kamu Nona bukan nama saja?" tanya Felix.
"Karena memang dari dulunya dia manggil aku dengan panggilan Nona. Menurut dia itu adalah panggilan kedekatannya kepada aku sayang. Papi dan Mami sudah berkali kali melarang dia, tapi Juan tetap saja memanggil hal tersebut. Akhirnya kami mengalah dengan keinginannya" ujar Dina memberitahukan kenapa Juan masih memanggil dia dengan sapaan Nona.
"Sayang, sekarangkan dia yang mengelola perusahaan utama. Apa kamu tidak takut kalau dia akan mengambil perusahaan kamu?" tanya Felix.
"Hahahahahahah. Tidak sayang sama sekali tidak. Kami di perusahaan utama sama sama memiliki saham lima puluh lima puluh sesuai dengan pembagian yang dibuat oleh Papi dan Mami sebelum mereka meninggal." ujar Dina menerangkan kepada Felix.
"Maafkan aku sayang, bukan maksud aku menyinggung perasaan kamu" ujar Felix yang takut Dina salah paham dengan pertanyaannya.
__ADS_1
"Tidak apa apa sayang. Aku tidak marah kamu menanyakan hal itu kepada aku. Jadi, aku bisa menjelaskan semuanya kepada kamu." ujar Dina.
"Aku tidak mau menyimpan sesuatu dari kamu sayang. Aku ingin kamu mengetahui semuanya sayang. Termasuk tentang harta warisan yang ditinggalkan oleh Papi dan Mami" ujar Dina selanjutnya.
Felix mengangguk. Dia sangat suka Dina mengatakan semuanya kepada dirinya, tanpa harus ada yang berusaha ditutup tutupi oleh Dina dari dirinya.
"Terus sayang, apa Juan tidak terpikirkan untuk menikah?" tanya Felix yang menyanbar kemana mana.
"Sepertinya belum sayang. Pernah hari itu aku bertanya kepada dia, jawabannya, dia meminta aku untuk menikah lebih dahulu. Setelah dia memastikan aku bahagia dengan pilihan aku barulah dia akan menikah." ujar Dina menjawab pertanyaan Felix.
"Juan semenjak kematian kedua orang tua kami, membuat dia semakin posesif dengan aku sayang. Sekarang semenjak aku udah tamat kuliah apalagi sekarang sudah ada kamu, Juan tidak menghubungi aku seperti orang makan obat. Kalau nggak, sampe capek aku angkat panggilan dari dia sayang. " uajr Dian mengatakan bagaimana posesifnya Juan kakak angkatnya itu.
"Jadi dia benar benar menjaga kamu?"
Dina mengangguk.
"Yup dia betul betul menjaga aku selama ini sesuai dengan pesan mommy kepada dia. Dia sama sekali tidak pernah membiarkan aku menangis. Sama sekali tidak pernah. Juan amat sangat menjaga aku" ujar Dina membanggakan kakak laki lakinya itu.
"Pernah waktu itu, aku belajar naik motor, nah aku jatuh saat itu. Aku kira dia akan memarahi aku, tetapi nyatanya motor tersebut di bakarnya." ujar Dina menceritakan salah satu kejadian bagaimana Juan menjaga keselamatannya.
"Hah sampai segitunya?" ujar Felix kaget mendengar apa yang diceritakan oleh Dina.
"Bener sayang. Malahan waktu aku bercerita dengan Deli dan Dian bagaimana posesifnya Juan. Mereka menginginkan bukti yang akurat. Aku saat itu langsung menangis dan menghubungi Juan. Saat itu ternyata Juan sedang dalam meeting penting. Juan sama sekali tidak peduli dengan meeting itu. Dia langsung terbang menuju tempat aku berada" ujar Dina memberikan bukti.
"Ngeri sedap juga sayang. Sampai kamu menangis gara gara aku, aku jamin Juan akan meledak dan akan menghabisi aku." Kata Felix bergidik ngeri.
"Hahahahaha. Juan tidak akan menyakiti orang yang aku cintai sayang." ujar Dina mengatasi rasa tegang di wajah Felix.
__ADS_1