
"Kalian baik-baik saja kan? Tidak ada masalah apapun?" tanya Umi Amira semakin penasaran.
Tubuh Fatima berbalik dan bersandar pada dinding wastafel. Fatima berusaha menguatkan tubuhnya untuk mengangguk pelan.
"Aby mana? Katanya sakit?" tanya Fatima pelan.
"Lagi istirahat, Andrew yang merawat," ucap Umi Amira.
"Kak Andrew?" tanya Fatima menegaskan.
"Iya, Andrew," ucap Umi Amira pelan.
"Masih percaya dengan lelaki itu?" tanya Fatima pelan menatap Umi Amira.
"Andrew kan memang anak Aby, walaupun anak angkat, tingkat kepercayaan Aby kepada Andrew itu sangat besar," jawab Umi Amira dengan jelas.
"Itu hak Aby, yang jelas Fatima hanya mengingatkan, Kak Andrew itu tidak baik dan memiliki tujuan tertentu," ucap Fatima menasehati.
"Tapi, Andrew itu sudah seperti keluarga. Aby dan Umi membesarkan dia, karena kejeniusannya," ucap Umi Amira pelan.
"Fatima, apa kabar adikku sayang?" ucap Andrew setengah berteriak yang baru saja masuk ke dalam ruang makan sambil membuka tangannya untuk memeluk adik angkatnya itu.
"Tidak perlu memeluk, bukan muhrimnya," ucap Fatima ketus.
"Hei, cantik kamu kenapa? Tidak rindu pada kakakmu ini?" tanya Andrew pelan.
"Umi, Fatima mau istirahat dahulu ya?" ucap Fatima pelan berjalan ke lemari pendingin untuk mengambil beberapa buah untuk menghilangkan rasa mualnya.
"Iya, istirahatlah. Biar nanti bibi antar makanan ke kamarmu," ucap Umi Amira pelan.
Fatima hanya mengangguk dan berjalan menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Mengabaikan sosok Andrew yang masih menatap Fatima dengan tajam.
Fatima melewati kamar Aby, dan membuka pintu kamar itu untuk melihat keadaan Aby Fatih. Dengan sangat pelan Fatima membuka kamar Aby Fatih. Terlihat tubuh yang semakin tua terbaring lemah di ranjang itu.
__ADS_1
Fatima berjalan mendekat, memberanikan diri untuk melihat dan bertemu Aby Fatih.
Kedua mata Aby Fatih masih terpejam, sepertinya memang sedang terlelap dalam tidurnya. Fatima duduk di tepi ranjang Aby Fatih dan mengusap lembut kepala Aby Fatih yang sudah mulai memutih.
"Fa ... ti ... ma ...." lirih Aby Fatih sedikit terbata-bata. Suaranya seolah tidak terdengar dengan sangat jelas.
"Aby ... ini Fatima," ucap Fatima lembut, air matanya sudah mengumpul di sudut matanya.
Tangan Aby Fatih terangkat pelan menggapai wajah Fatima, anak perempuan satu-satunya. Diusap wajah Fatima dengan penuh kelembutan dan menghapus air mata yang sempat terteteskan dari sudut mata itu.
"Jangan menangis ya? Aby tidak apa-apa, Aby tidak marah. Maafkan kesalahan Aby waktu itu," ucap Aby Fatih begitu terdengar sangat meyayat hati Fatima. Kedua tangan Aby Fatih itu di genggam oleh Fatima dengan erat lalu dicium dengan penuh kasih sayang.
"Fatima sudah memaafkan, jauh sebelum Aby meminta maaf. Fatima masih menganggap Aby sebagai ayah dan orang tua terbaik. Fatima juga banyak salah sama Aby dan Umi, Fatima banyak dosa pada Allah SWT," ucap Fatima pelan.
"Terima kasih Fatima. Mana Suami? Syakir? Aby juga ingin meminta maaf atas semua kesalahan dan perbuatan Aby kepadanya.
Rasanya sulit bicara jujur pada Aby tentang hubungan Fatima dan Syakir saat ini. Wajah Fatima langsung terlihat murung dan panik. Pertanyaan seperti ini adalah pertanyaan yang sangat dihindari.
"Assalamu'alaikum, Aby," ucap Andrew pelan. Lagi-lagi lelaki itu mengganggu situasi dan kondisi yang membuat mood Fatima seketika hilang.
Fatima menoleh sekilas dan memutar kedua bola matanya dengan sangat malas.
"Aby, Fatima mau istirahat sebentar, nanti Fatima kesini lagi untuk menemani Aby," ucap Fatima dengan sangat lembut.
Aby Fatima mengangguk pelan dan tersenyum.
Fatima pun mencium kening Aby Fatih lalu beranjak dan keluar dari kamar tidur Aby Fatih.
"Fatima, ada apa dengan kamu? Tidak biasanya kamu seperti ini pada Kakak. Seolah Kakak ini punya kesalahan beaar," ucap Andrew pelan sambil menyentuh pundak Fatima saat berpapasan di ambang pintu kamar itu.
Fatima hanya menanggapi dengan senyuman kecut dan berlalu begitu saja menuju kamarnya. Langakh kaki Fatima sangat cepat, tangannya tergapai dan tertarik ke belakang hingga tubuh Fatima secara reflek berbalik arah dan menubruk tubuh Andrew yang sudah berdiri di belakang Fatima.
"Apa-apaan ini!? Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan!! Kita bukan muhrim dan selamanya tidak akan pernah menjadi muhrim!! Paham?!!" ucap Fatima dengan sangat tegas. Fatima melempar tangan Andrew yang masih menggenggam tangan Fatima.
__ADS_1
"Karena kita bukan muhrim dan aku sangat mencintaimu Fatima, aku berharap kita akan menjadi satu suatu hari nanti," ucap Andrew pelan penuh keyakinan.
"Setelah apa yang kamu perbuat pada Mas Syakir, kamu tidak malu?! Berbuat buruk hanya demi kepentinganmu sendiri?! Rubah itu sikap kamu?!! Jangan pernah dendam!!" ucap Fatima keras.
Fatima langsung berlari kecil menuju kamar pribadinya dan mengunci rapat. Fatima ingin tenang dan ingin sendiri. Betapa sangat bersyukur sekali, karena kedua orang tuanya menerimanya dengan baik. Tapi, kehamilan ini belum tentu bisa diterima baik dan dapat termaafkan. Syakir saja yang tidak mencintai dan tidak memiliki perasaan apapun kepada Fatima merasa kecewa dan terbohongi. Apalagi ini kepada kedua orang tuanya yang benar-benar sayang dan tulus mengurus Fatima sejak kecil. Tentu saja, mereka akan murka dan marah luar biasa.
Fatima membersihkan diri dengan mandi dan mengganti pakaiannya. Tubuhnya makin terlihat cantik dan berisi, perutnya juga semakin terasa kencang dan membuncit bila dilihat dari arah samping melalui kaca cermin.
Ada rasa bahagia, dan senyum dalam luka tersembunyi. Tapi, lebih banyak menangis dalam kepedihan hatinya.
Tubuh Fatima di rebahkan di atas kasur. Di nakas sudah ada makanan yang mungkin tadi sempat di antar oleh bibi.
'Mas Syakir, kamu sudah sampai belum? Masih adakah maaf untukku?' batin Fatima didalam hatinya.
Ponselnya berbunyi, Sulaiman menelpon Fatima. Lelaki tua itu kehilangan dan mencari tahu keberadaan Fatima. Fatima mencoba mengangkat dan tersambung pada sambungan Sulaiman.
"Assalamu'alaikum, kamu dimana Fatima?!" tanya Sulaiman pelan dan lembut.
"Waalaikumsalam, Fatima sudah berada di Indonesia, tuan Sulaiman. Lupakan Fatima, Fatima ingin memulai hidup baru tanpa siapapun. Suatu hari bila anak ini lahir, maka Fatima akan memberikan kabar untuk tuan," ucap Fatima pelan.
"Beri alamatmu padaku, akan aku susul kamu ke Indonesia. Hanna sudah memberi ijin kepadaku untuk segera menikahimu, Fatima," ucap Sulaiman dengan rasa bahagia.
"Lupakan Fatima, tuan Sulaiman. Fatima masih memiliki ikatan hubungan yang SAH dengan Mas Syakir. Tapi, bila Fatima sendiri pun, Fatima lebih baik sendiri dan tidak mau memjadi istri kedua, itu sangat menyakitkan," ucap Fatima dengan ketus.
"Fatima, aku begiu mencintai kamu, tidak ada hal lain yang aku pikirkan setiap hari, selain kamu dan anak kita yang ada di kandunganmu," ucap tuan Sulaiman pelan.
"Fatima baru saja sampai dan lelah, Fatima ijin mau istirahat dulu ya," ucap Fatima pelan lalu menutup sambungan teleponnya.
Fatima menghembuskan napas Dengan sangat keras. Hidupnya kini seperti dalam teror keposesifan Sulaiman. Menjaga Fatima dengan berbagai cara, tentunya sebentar lagi rumah ini pun akan segera di ketahui keberadaannya.
"Fatima, buka pintunya, Kakak ingin bicara sebentar," ucap Andrew pelan sambil mengetuk pintu kamar itu.
Fatima hanya melihat ke arah pintu masuk kamar tidurnya dan menutup wajahnya dengan bantal agar tidak mendengar ketukan pintu itu.
__ADS_1
"Fatima ... Apakah kamu tidur?" panggil Andrew dari arah luar kamar dengan sangat lembut.