
"Huft bisa jadi. Kalau bener bener iya yang kita prediksi. Gue jamin dia akan langsung di depak dan mendapatkan surat tidak bisa bekerja di perusahaan Edwardo di negara mana pun" ujar salah satu manager yang tergolong lama bekerja di perusahaan Edwardo.
"Tuan Jero, apa anda mau berbicara dan memberi masukan?" tanya Felix kepada Jero yang wajahnya membuat para manager menjadi takut dan sangat gamang akan mendengar apa yang akan dikatakan oleh Jero.
"Nanti saja. Kasihlah pengantar dulu" jawab Jero menolak tawaran Felix untuk memberikan kata sambutan.
Felix mengangguk, Jero sudah meminta dia untuk membuka percakapan, berarti sudah saatnya Felix untuk memberikan sambutan dan pengantar untuk meeting hari ini.
"Selamat pagi para manager manager segala bidang dan juga pimpinan anak cabang perusahaan Edwardo yang sudah menyempatkan diri untuk hadir dalam meeting mendadak hari ini." ujar Felix membuka meeting mereka.
"Mungkin di antara para manager dan pimpinan anak cabang memikirkan kenapa Anda semua secara mendadak kami kumpulkan ke perusahaan utama." lanjut Felix berbicara kepada semua yang hadir.
"Sebelum Tuan Jero menyampaikan perihal kenapa kalian semua dikumpulkan di sini, maka saya akan bertanya satu hal penting, kepada kalian semua. Apakah kalian masih ingat pertanyaan Saya sewaktu kalian Saya wawancarai saat menjadi Manager dan juga saat kalian mau bekerja di perusahaan ini?" tanya Felix kepada semua orang yang ada di dalam ruangan meeting.
"Ingat Tuan" jawab salah satu pimpinan anak cabang perusahaan yang terkenal jujur dan pekerja keras.
"Apa?" tanya Felix kepada pria itu.
"Jujur dan bekerja keras" jawab Pria tersebut dengan penuh percaya diri.
"Yup. Kenapa saya bertanya hal itu kepada kalian semua, jawabannya satu, diantara kalian semua ada yang sudah berani untuk melanggar dari apa yang dikatakan pimpinan anak cabang di daerah A." ujar Felix membuka tabir kenapa mereka semua dikumpulkan di ruang meeting.
Para manager dan para pimpinan anak cabang perusahaan saling memandang satu sama lain. Mereka bertanya tanya, siapa yang telah dengan beraninya berkhianat kepada perusahaan tempat mereka bekerja yang terkenal sangat royal memberikan gaji dan segala jenis tunjangan itu.
"Siapa?" ujar seorang manager.
"Nggak tau" jawab yang satu lagi.
"Serius ada? Apa mereka nggak takut tuh" ujar yang lainnya lagi.
Suara suara kehebongan mulai terdengar di ruangan meeting. Para manager dan pimpinan anak cabang saling bertanya satu dan yang lainnya, siapa yang telah dengan berani melakukan pengkhianatan itu.
"Ehm" terdengar suara Jero yang berdehem membuat semua yang hadir di ruangan itu menatap ke arah Jero.
"Tuan Jero udah mau bicara. Alamat nggak akan selamat kita" ujar salah satu manager.
"Kalau kita tidak salah ngapain takut. Hadapi aja, nggak perlu cemas." ujar salah satu pimpinan anak cabang berujar kepada rekannya.
"Memang tidak kita yang berbuat. Tapi Anda tau sendirikan bagaimana marahnya Tuan Jero kalau ada yang berani mengusik perusahaannya. Apalagi ini korupsi, ngadi ngadi aja tu orang" ujar pimpinan anak cabang menjawab perkataan rekannya.
"Bisa diam sejenak, saya mau berbicara" ujar Jero dengan nada dingin dan seperti mencabik cabik siapa saja yang mendengar kalimat yang diucapkan oleh Jero.
Semua yang berada di ruangan meeting kemudian terdiam. Mereka melihat ke arah Jero, Presiden direktur perusahaan itu. Tidak satupun dari yang ada di dalam ruangan itu mengucapkan kata kata untuk mereka. Mereka semua terdiam.
"Saya tidak akan banyak banyak cerita kepada Anda semua. Saya cuma mau mengatakan satu hal kepada Anda, untuk melihat tayangan yang akan saya tampilkan." ujar Jero menatap wajah wajah yang sekarang ada di hadapannya.
"Tetapi sebelum saya memperlihatkan bahan tayang ini, membeberkan semua bukti bukti kecurangan salah satu dari Anda yang hadir di sini. Saya masih membuka kesempatan untuk Anda yang sudah membohongi saya, mengakui semua perbuatan yang telah Anda lakukan." lanjut Jero memberikan kesempatan kepada setiap orang yang berada di sana untuk mengakui kesalahan yang telah mereka perbuat.
Semua Manager dan Pimpinan anak cabang perusahaan saling memandang kembali. Mereka berharap siapa yang bersalah menunjuk tangannya dan menjelaskan kepada pemilik perusahaan apa yang terjadi sebenarnya.
"Saya tidak menunggu lama, silahkan bagi yang merasa oh saya orangnya. Silahkan mengaku saja. Saya tidak akan marah besar. Felix juga sama, dia juga tidak akan marah" lanjut Jero meyakinkan setiap pasang mata dan telinga yang ada di sana.
Jero menunggu sekitar beberapa menit lagi. Akhirnya Felix sama sekali tidak sabar lagi, dia langsung menayangkan bukti bukti yang telah mereka peroleh. Semua orang menatap ke layar besar yang menampilkan dokumen dokumen yang berisi kecurangan kecurangan yang dilakukan oleh seseorang itu.
Jero dan Felix sengaja tidak menampilkan nama atau wajah orangnya di awal awal video. Jero dan Felix hanya menampilkan dokumen dokumen yang telah dengan berani di gelapkan oleh orang tersebut.
Jero juga menampilkan berapa uang perusahaan yang telah digelapkan oleh orang tersebut. Felix menghentikan pemutaran video bukti bukti itu. Jero yang paham dengan maksud Felix menghentikan tayangan video langsung berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Nah sebelum saya lebih membuat malu Anda yang telah berani berbuat curang itu, sebaiknya anda mengaku ke kami kalau Andalah orangnya yang telah merugikan perusahaan keluarga saya" ujar Jero dengan nada tinggi.
Jero masih berusaha menahan amarahnya. Tapi ntah sampai kapan dia bisa, Jero kalau sudah marah, maka akan berakhir dengan suatu hal yang sangat jelek menimpa karyawan yang tidak mengaku itu.
Jero dan Felix kembali diam. Sedangkan Deli hanya bisa menatap saja. Dia tidak tau apa yang harus diperbuatnya. Semua itu adalah urusan dari kedua Tuan besarnya itu. Deli hanya mencatat apa yang dirasanya perlu dari semua hasil meeting tersebut.
'Ngaku aja apa susahnya sih. Mending ngaku jadi masalah ini nggak berlarut larut' ujar Deli dalam hatinya.
Deli nggak habis pikir kenapa yang bersalah itu tidak mau mengakui kesalahannya. Padahal dengan mengakui kesalahannya Jero tidak akan murka.
'Ngaku ajalah. Hukuman nggak akan berat. Ini main diam diam aja, sudah terbayang apa hukuman yang akan didapatkan oleh dia nanti' ujar Deli masih dalam pikirannya sendiri.
Deli sangat heran dengan pola pikir orang tersebut yang sama sekali nggak mau ngaku dengan semua yang telah dilakukan oleh dirinya.
"Kalau nggak berani mengakui kesalahan jangan mau buat salah. Ribet banget jadi orang" ujar Deli dengan nada sedikit keras.
Semua orang yang ada di dalam ruangan meeting melihat ke arah Deli, termasuk Jero dan Felix. Mereka tidak menyangka Deli akan berbicara hal itu dengan suara lantang.
"Bener apa yang diucapkan Nona Deli. Kalau nggak bisa menanggung resiko jangan bermain api" ujar Jero yang menyetujui apa yang dikatakan oleh Deli.
Deli terdiam, dia malu karena apa yang ada di dalam pikirannya ternyata di suarakan dengan lantang oleh Deli. Deli dibuat salah tingkah oleh ucapannya sendiri.
"Santai aja. Loe bener kok" ujar Felix berusaha membuat Deli kembali santai.
Deli tersenyum kepada Felix. Dia sangat berterimakasih kepada Felix karena sudah menenangkan dirinya kembali.
Setelah sekian lama menunggu, tetapi tidak ada satupun manager dan pimpinan anak cabang yang mengangkat tangannya, yang mengakui segala kesalahan yang telah dibuat oleh dirinya. Akhirnya kesabaran yang dimiliki oleh Jero habis sudah.
Brak, sebuah hentakan keras di atas meja diberikan oleh Jero. Semua yang hadir di acara meeting itu terdiam. Mereka sudah dapat membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya.
"Baiklah berhubung tidak ada yang mengaku dan batas kesabaran saya juga sudah habis untuk menunggu, maka dengan berat hati, saya akan menampilkan nama nama orang tersebut dan juga bukti transferan ke rekening milik dia." ujar Jero menatap tajam ke salah satu manager yang sudah duduk dengan gelisah.
Jero mengeluarkan ponselnya dari saku bagian dalam kemejanya. Dia mencari nomor Dian, orang pertama yang dihubunginya.
Dian yang sedang duduk dengan Hendri membahas tentang satu temuan yang berhasil ditemukan oleh Hendri, melihat ponselnya yang berdering.
"Siapa sayang?" tanya Hendri kepada Dian yang menatap lama ke ponselnya itu.
"Jero, sayang" ujar Dian.
"Angkat aja" ujar Hendri meminta Dian untuk mengangkat panggilan dari Jero.
"Hallo Tuan Jero, tumben menghubungi saya, ada apa?" tanya Dian yang sudah memasang loadapeker ponsel miliknya.
"Maaf Nona Dian, apa saya mengganggu kesibukan Anda?" tanya Jero dengan nada formal kepada Dian.
"Oh tentu saja tidak Tuan Jero. Ada yang bisa saya bantu?" tanya balik Dian kepada Jero yang tumben tumben nya menghubungi Dian siang siang begini.
"Begini Nona Dian, Saya berencana akan memecat salah seorang pimpinan di perusahaan saya" ujar Jero memberitahukan alasannya menghubungi Dian.
"Terus?" ujar Dian yang tidak mengerti kemana arah tujuan Jero mengatakan hal itu kepada dirinya.
"Saya memecat dia karena melakukan penggelapan dana dan penggelembungan dana. Kalau saya memecat dia, apakah kedua perusahaan besar milik Nona, akan mau menerima dia bekerja di sana?" Jero akhirnya mengatakan apa sebenarnya alasan dia menghubungi Dian.
"Hahahaha. Tentu tidak Tuan Jero. Saya tidak pernah menerima karyawan yang dipecat oleh perusahaan lain. Lebih baik saya cari saja orang luar Tuan" jawab Dian tanpa pikir panjang. Malahan yang lebih sadisnya lagi, Dian tertawa saat mendengar apa yang dikatakan oleh Jero.
"Terimakasih atas jawabannya Nona Dian. Saya permisi dulu" ujar Jero yang langsung memutuskan panggilannya dengan Dian.
__ADS_1
Hendri hanya geleng geleng kepala saja. Jero memiliki cara yang sangat ekstrem untuk menaku nakuti karyawannya.
Setelah menghubungi Dian. Jero kemudian menghubungi Dina. Jawaban yang diberikan oleh Dina pun sama, malahan Dina mengatakan jangankan untuk menerima dia di perusahaan utama, untuk menjadi office boy saja dia tidak akan menerima.
"Kalian sudah dengar bukan? Tidak ada satupun perusahaan yang akan menerima kalian bekerja di sana, Saya katakan kepada semua yang hadir di sini hari ini, perusahaan Edwardo tidak pernah sekalipun memecat karyawannya, kecuali karyawan itu telah melakukan kesalahan fatal. Makanya setiap karyawan yang dipecat oleh perusahaan Edwardo tidak akan pernah diterima bekerja di perusahaan manapun." ujar Jero melanjutkan perkataannya.
"Jadi, bagi ada yang mau mengaku silahkan mengaku, saya masih membuka peluang untuk anda mengakui segala kesalahan Anda" ujar Jero masih juga ingin menambah kadar kesabarannya.
Tetapi semua orang di dalam sana masih diam saja. Tak satupun tergerak untuk mengaku.
"Udahlah Jero, nggak akan ada yang mengaku, biarkan saja. Kita eksekusi aja lagi." ujar Felix yang sudah habis kesabarannya karena menunggu Jero yang masih juga memberikan waktu kepada mereka yang bersalah itu.
"Baiklah.Tampilkan namanya" ujar Jero memberikan perintah kepada Felix untuk menampilkan nama orang yang telah berbuat curang dalam perusahaan.
Felix kemudian menampilkan dengan besar fhoto orang yang telah melakukan korupsi yang besar di perusahaan Edwardo.
Semua mata mengarah kepada satu pria yang dari tadi berusaha untuk terlihat tenang. Tetapi ternyata dialah yang mengacaukan semuanya.
"Tuan, silahkan bela diri Anda. Anda juga boleh mengatakan data data di depan semua adalah data data palsu. Pencemaran nama baik. Boleh Tuan, silahkan saja" ujar Felix sambil menatap pria yang telah berbuat salah yang besar di perusahaan.
Pria tersebut hanya bisa menunduk saja. Dia tidak sanggup untuk membuka mulutnya.
"Kenapa Anda diam?" tanya Jero sambil menatap tajam pria tersebut.
"Tuan, maafkan saya Tuan. Saya terpaksa melakukan hal itu, karena anak Saya sedang sakit Tuan" ujar pria yang telah melakukan kesalahan tersebut.
"Apa Anda katakan? Anak Anda sakit? Apa benar begitu?" tanya Jero menatao lekat pria tersebut.
Pria itu menggigik tidak mampu menatap Jero dan Felix. Mereka berdua menatap seakan menguliti pria yang bersalah itu.
"Benar Tuan. Anak saya sakit Tuan" ujar pria tersebut masih juga kekeh mengatakan kalau anaknya sakit.
"Tuan Tuan, Anda sudah bersalah tetapi masih niat berbohong ke saya. Anda kira saya tidak tahu apa yang Anda lakukan di luar sana Tuan?" ujar Jero bertanya kepada pria tersebut.
"Anda menggunakan uang saya untuk pergi pesiar dengan selingkuhan Anda. Anda katakan uang untuk anak Anda berobat" ujar Jero menatap dingin pria tersebut.
"Anda jangan mengatakan hal yang tidak tidak Tuan Jero. Saya bisa menuntut Anda dengan tuntutan pencemaran nama baik." ujar pria tersebut berusaha menakut nakuti Jero
"Anda memang belum tau tipe kami berdua ternyata Tuan. Kami berani berkata seperti itu, karena kami sudah punya bukti kuatnya Tuan." kali ini Felix yang menjawab perkataan dari pria itu. Felix sudah kehabisan stok bersabar nya.
"Mana buktinya kalau ada? Sempat tidak ada, maka Anda berdua akan saya tuntut ke polisi" ujar pria tersebut menantang Jero dan Felix untuk menunjukkan bukti bukti atas semua kejahatan yang telah dilakukan oleh dirinya.
"Tenang Tuan. Sekarang ambil nafas Anda pelan pelan." ujar Felix sambil menatap mengejek ke pria tersebut.
Felix kemudian menampilkan semua bukti bukti yang sudah dikumpulkan oleh dirinya. Pria tersebut langsung ternganga tidak percaya dengan apa yang disaksikan olehnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Bukti apakah yang ditampilkan oleh Felix?
stay cun aja ya kakak. Jangan kemana mana.
kemana mananya ke novel di bawah ini kakak
My Affair
Kepahitan Sebuah Cinta
__ADS_1
it's my dream
Kesetiaan Seorang Istri***