Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 37


__ADS_3

"Deli yang terbangun terlebih dahulu dari istirahatnya setelah selesai melalui penerbangan jauh, masuk ke dalam kamar mandi. Deli berencana untuk membersihkan badannya serta keramas untuk menghilangkan rasa pusing yang di deritanya saat ini. Sedangkan Dina masih bergulat di atas ranjang hotel. Dina kelihatan sangat lelah setelah seminggu lebih berada di luar negeri.


"Din, Din, dina bangun. Sana mandi, hari sudah maghrib." ujar Deli membangunkan Dina saat dia telah selesai memakai pakaiannya. Pakaian yang akan dipakai untuk makan malam ke restoran hotel.


Dina menggeliat karena ada mendengar suara suara yang membangunkan dirinya dari tidur yang sangat nikmat itu.


"Din, Dina bangun. Udah maghrib." ujar Deli sekali lagi berusaha membangunkan Dina.


"Iya Deli udah bangun. Gue ngumpulkan nyawa gue dulu." ujar Dina menjawab panggilan dari Deli.


Deli kemudian menuju meja rias yang ada di kamsr hotel. Dia mulai memasang skincare ke wajahnya yang memang sudah cantik itu. Deli merias tipis wajahnya hanya untuk menambah kesan segar di kulut wajahnya. Sedangkan Dina masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selesai mandi, Dina juga merias wajahnya setipis mungkin. Dina sangat ingat apa yang dikatakan oleh Felix, kalau Felix tidak suka kekasihnya memakai makeup super tebal seperti seseorang habis di gampar.


Setelah selesai merapikan diri mereka masing masing. Deli dan Dina tinggal menunggu panggilan dari Jero dan Felix. Sambil menunggu Deli dan Dina melakukan panggilan video dengan Dian sahabat mereka yang sekarang tinggal sendirian di negara mereka.


Dian mengambil ponselnya yang bergetar itu. Dia melihat Dina melakukan panggilan video dengan dirinya.


"Woi tapi loe pulang hari ini. Gue tinggal sendiri sekarang. Deli perjalanan bisnis pula ke negara J." ujar Dian melaporkan kesendiriannya kepada Dina.


"Elo dimana Dina." ujar Dian setengah berteriak kepada Dina.


Dina semakin menjauhkan ponsel miliknya dari telinga.


"Kira kira dong Yan. Loe kira kuping gue kuping wajan yang nggak bisa denger apapun." ujar Dina yang protes akibat ulah Dian pakai berteriak


"Dina sayang jangan ngambek kamu sekarang dimana?" ujar Dian membujuk Dina kembali dengan bahasa yang halus.


"Nah gitukan bagus." ujar Dina memuji kelembutan Dian.

__ADS_1


"Loe mau tau gue dimana sekarang? Yakin?" ujar Dina mulai mengerjai Dian.


"Yakinlah. Masak nggak. Loe dimana?" ulang Dian kembali bertanya kepada Dina.


"Gue di sini." ujar Dina sambil mengarahkan kameranya kepada Deli.


"Hah. Loe ketemu Deli? Jangan katakan kalau kalian berdua liburan bareng." ujar Dian yang tidak terima ditinggal sendirian.


"Nggak ada liburan. Gue nemanin Felix ke sini untuk presentasi." ujar Dina memberitahukan agendanya datang ke negara J.


"Tapi Deli" ujar Dian masih ingin melanjutkan protesnya.


Tok tok tok. Terdengar bunyi pintu kamar yang diketuk dari luar. Deli yang sedang tidak memegang ponsel langsung berjalan menuju pintu kamar. Deli membuka pintu itu.


"Sudah siap Del?" tanya Felix.


"Sudah Tuan. Saya panggil Dina dulu." ujar Deli.


"Din ayuk. Tuan Jero dan Tuan Felix sudah siap." ujar Deli memberitahukan siapa yang barusan mengetuk pintu.


"Dian cantik paling seksi dan paling baik. Nanti kita sambung lagi ya. Sekarang gue dan Deli mau pergi makan malam dulu. Bay Dian." ujar Dina yang langsung memutuskan panggilan video dirinya dengan Dian.


'Kalian berdua tega' ujar Dian mengirim pesan ke grub chat mereka bertiga.


Deli membaca pesan itu hanya bisa tersenyum saja. Diam memang selalu menjadi yang paling sering ngambek diantara mereka bertiga. Tetapi untuk rasa setia kawan, Dian dan Dina sama saja.


Jero dan ketiga temannya menuju restoran yang terletak di lantai paling atas hotel. Jero sudah melakukan reservasi meja untuk mereka berempat dan juga sudah memasan menu makanan terbaik dari restoran hotel itu.

__ADS_1


Jero memilih untuk makan di balkon restoran. Mereka nanti rencananya sehabis makan malam akan melakukan diskusi untuk presentasi besok pagi. Presentasi yang harus sukses karena menjanjikan keuntungan yang luar biasa besarnua bagi perusahaan Edwardo Grub.


Pelayan mulai menghidangkan makanan saat mereka berempat sudah duduk di kursi masing masing. Dina sengaja duduk di sebelah Deli supaya Deli tidak tegang berada di sebelah Jero. Tapi apa yang diharapkan oleh Dina tidak terkabul. Deli tetap grogi karena Jero duduk dihadapannya. Deli merasakan makan malam mereka kali ini sangat luar biasa tidak nikmat. Deli sama sekali tidak merasakan kenikmatan dari apa yang dimakan olehnya.


Setelah mereka selesai makan malam. Pelayan juga sudah mengambil semua piring kotor yang berada di atas meja. Barulah Deli mengeluarkan laptop miliknya ke atas meja. Deli mengaktifkan laptop tersebut. Setelah itu dia membuka file yang akan digunakan untuk meeting.


"Ini Tuan Felix, materi meetingnya." ujar Deli memperlihatkan dokumen yang berisi materi meeting.


Felix membaca materi meeting tersebut. Ternyata ada beberapa bagian yang kembali di sempurnakan oleh Deli. Bagian bagian yang dianggap Deli masih kurang dan sudah dilengkapinya. Felix tidak menyangka Deli bisa membaca kekurangan dari materi meeting yang dibuat oleh Felix dan Jero dengan sangat teliti menurut mereka berdua.


"Presentasinya mana Deli?" tanya Felix yang penasaran apakah bahan tayang presentasi juga sudah diperbaiki oleh Deli atau masih seperti yang dibuat oleh Jero sebelum dirinya pergi perjalanan bisnis menemani Dina.


Deli membukakan file presentasi yang diminta untuk Felix. Felix kembali membaca dan memahami slide presentasi yang disempurnakan oleh Deli. Felix dalam sekali membaca sudah bisa membayangkan apa apa saja yang akan dibicarakannya saat presentasi besok.


"Gimana?" tanya Jero kepada Felix.


Deli menatap ke arah Felix. Deli takut kalau hasil perbaikan dirinya akan membuat Jero kecewa dan tidak suka. Deli menunggu dengan wajah sangat tegang. Dia tidak tau harus berbuat apa saat ini.


"Semua sudah oke. Deli sudah memperbaiki apa yang harus ditambah dan dikurangi dari dokumen ini." ujar Felix menjawab keraguan dari Jero.


Deli mengusap dadanya tanpa diketahui oleh yang lain. Dia tidak menyangka hasil perbaikannya akan disukai oleh Jero.


"Materi meeting dan presentasinya membuat gue yakin kita akan mendapatkan proyek itu." ujar Felix menatap bangga kepada Deli.


"Deli, kamu berhasil memperbaiki materi meeting. Tinggal giliran saya meyakinkan mereka untuk bekerja sama dengan kita." ujar Felix memuji kinerja Deli.


"Selamat Del. Loe keren" ujar Dina kehabisan kata kata untuk memuji Deli sahabat terbaiknya itu.

__ADS_1


Mereka berempat melanjutkan obrolan ringan tentang kegiatan meeting yang akan diadakan besok. Serta mereka juga membahas kenapa KW Grub yang merupakan perusahaan besar tidak ikut ambil andil dalam presentasi dan meeting yang diadakan oleh perusahaan terbesar di negara J.


Setelah membahas semua yang dirasa perlu. Mereka berempat kemudian kembali menuju kamar masing masing. Mereka besok akan berangkat dari hotel pukul delapan pagi. Felix sudah mempersiapkan mobil untuk mereka gunakan besok.


__ADS_2