Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
161


__ADS_3

Taksi online itu sudah menepi tepat di depan Apartemen sederhana yang baru akan ditinggali oleh Fatima dan Syakir. Apartemen pemberian khusus dari tuan Sulaiman sudah lama ditinggalkan oleh Fatima, karena Hanna, istri Sulaiman mengetahui rahasia besar hubungan gelap antara Fatima dan Sulaiman hingga Fatima mengandung.


"Yuk, masuk," ucap Fatima pelan kepada Syakir yang masih berdiri di depan kamar apartemen sambil mengedarkan pandangannya.


Cara berjalannya masih tampak kaku dan tertatih-tatih karena terlalu lama berada di atas tempat tidur dan jarak bergerak karena kesibukan Fatima yang tidak bisa fokus mengurus dan merawat Syakir dengan baik.


Syakir sudah berada di dalam, kamar apartemen itu terdapat dua kamar kecil dan satu ruangan serta dapur kecil yang cukup bersih.


"Berapa sewa kamar ini satu bulan, Fatima?" tanya Syakir pelan dan duduk di kursi yang ada disana.


Fatima masih merapikan beberapa barang-barang di kamar, namun telinga dan pikirannya masih fokus pada pertanyaan Syakir.


"Ini sangat murah, karena tempatnya yang jauh dari kota dan sangat terpencil," ucap Fatima pelan berusaha menyembunyikan apa yang terjadi padanya saat ini.


Syakir masuk ke dalam kamar tidur itu dan duduk di tepi ranjang sambil menatap Fatima yang masih saja membereskan pakaian ke dalam lemari.


"Selama ini kamu tinggal dimana? Kenapa harus pindah?" tanya Syakir tiba-tiba kepada Fatima.


Fatima menatap kedua mata Syakir dan tersenyum lebar. Fatima tahu, suatu hari pertanyaan ini akan sampai ditelinganya. Syakir bukanlah lelaki yang mudah dibodohi, walaupun sikapnya sangat cuek dan terkesan tidak peduli.


"Memangnya kenapa Mas Syakir? Fatima tidak sanggup membayar uang sewanya, karena memang mahal. Fatima bertahan karena memang ada Mas Syakir yang masih ada di rumah sakit," ucap Fatima pelan menjelaskan dengan masuk akal.


Padahal Fatima sedang bersembunyi dari kejaran para preman yang ingin membunuhnya atas perintah Hanna, istri Sulaiman.


Sudah satu bulan ini, Fatima memutuskan hubungan dengan Sulaiman. Mengundurkan diri sebagai asisten pribadi semenjak Fatima menyadari dirinya telah berbadan dua.


"Mas, akan mencari pekerjaan untuk membiayai kebutuhan hidup kita," ucap Syakir pelan lalu berdiri menghampiri Fatima.


Syakir ingin memeluk istri keduanya itu yang telah baik dan sabar mengurusnya hingga pulih kembali seperti sedia kala. Tangan Syakir baru saja akan melingkar di perut Fatima, namun Fatima memundurkan langkahnya ke belakang. Dirinya sudah tidak suci lagi dan sudah berdosa besar hingga tertanam benih di rahimnya hasil perbuatan zinah dengan pria yang telah membelinya.


"Jangan sentuh Fatima, lebih baik kita menjaga jarak," ucap Fatima dengan tegas dan mengangkat kedua tangannya.


Syakir menjadi heran, karena tidak biasanya Fatima seperti ini. Malahan dulu, Fatima yang memohon-mohon agar disentuh oleh Syakir, tapi kini wanita itu benar-benar menolak bahkan dengan tegas meminta agar tidak menyentuhnya.

__ADS_1


"Ada apa Fatima, kenapa kamu jadi berubah kepadaku?" tanya Syakir yang mulai membuka hatinya untuk Fatima. Bukan berarti Syakir melupakan semua tentang Kirana, tapi kebaikan dan ketulusan Fatima membuat Syakir juga ingin berlaku adil kepada istri keduanya ini.


Fatima menggelengkan kepalanya pelan. Hanya satu kalimat yang diucapkan Fatima kepada Syakir dengan menundukkan kepalanya.


"Fatima belum siap, maafkan Fatima, Mas," hanya kata-kata itu yang mampu terucap dari bibir kelu Fatima saat ini. Bibirnya tampak bergetar menahan rasa menyesalnya. Jika malam itu, Fatima tidak berbuat senekat itu meminta mahar untuk kegadisannya, mungkin hari ini Fatima akan merasakan kebahagiaan yang teramat sangat karena Syakir mulai membuka hati dan mau menyentuhnya sebagaimana seorang suami menjamah istrinya.


Tapi, kini keadaan sudah berubah, Fatima sudah tidak suci lagi, dan Fatima menunggu waktu yang tepat untuk meminta talak pada Syakir, walaupun sebenarnya tak mampu dilakukannya.


"Mas, mengerti dengan keadaanmu Fatima. Kamu terlalu lelah dan letih, bukan tubuhmu saja yang lelah, tapi pikiranmu juga lelah. Istirahatlah Fatima, biar Mas yang melanjutkan beres-beres kamar dan ruangan ini, sekalian Mas belajar untuk menggerakkan kedua kaki, tangan dan tubuh Mas agar tidak kaku lagi.


"Biarkan Fatima saja Mas, kalau Mas ingin mencari udara di luar silahkan atau mau berjalan melihat-lihat lingkungan sekitar apartemen ini," ucap Fatima pelan.


Syakir mengangguk pelan dan tersenyum. Ide yang cukup baik dari Fatima bisa diterima dengan akal sehat.


"Baiklah, ide yang cukup bagus, sekalian Mas mencari pekerjaan juga untuk menafkahi kamu. Setelah ini kamu fokus, pada sekolahmu Fatima, biar Mas yang bekerja," ucap Syakir dengan suara pelan.


Fatima tersenyum lebar dan mengacungkan jempol ke atas tanda setuju.


Syakir sudah berpamitan dan kini sudah berada di luar apartemen, berjalan menyusuri jalanan yang terlihat sangat sepi sekali. Beberapa toko dan rumah makan pun sepi pengunjung. Seperti kota mati, yang hanya ditinggali beberapa penghuni saja.


"Heii tuan, masuklah, apa kamu berminat untuk bekerja?" tanya pria tua berjanggut dari arah dalam toko sambil melambaikan tangannya.


Syakir merasa dirinya diajak bicara pun masuk ke dalam setelah melihat lambaian tangan pria tua itu bermaksud memanggil Syakir.


"Anda berbicara dengan saya, tuan? Benar sekali, saya sedang mencari pekerjaan," ucap Syakir pelan.


"Masuklah ke dalam," titah pria tua itu tegas.


Syakir mengikuti langkah pria tua itu dari belakang. Rumahnya sangat besar dan mewah sekali, dari depan hanya tampak Toko Pakaian yang kecil dan terlihat kurang ramai pengunjung.


Syakir mengedarkan pandangannya menatap semua barang-barang mewah yang ada disana.


Pria tua itu lantas mengantarkan Syakir kepada sosok Dani dan Anita. Anita sempat terkejut, melihat Syakir, lelaki yang pernah menjadi kelinci percobaannya karena keinginan gila Andrew, lelaki yang sangat Anita cintai karena obsesinya untuk mendapatkan pria seorang dokter.

__ADS_1


"Kamu itu, suami Fatima? Adik angkat Andrew?" tanya Anita kepada Syakir. Anita berusaha mengingat kembali memori beberapa bulan lalu, kenangan pahit mengenal sosok Andrew.


Dani tersenyum lalu menatap ke arah Anita, wanita yang telah menjadi asisten pribadinya dalam dunia racik meracik obat-obatan haram.


"Kamu yakin Anita, dia lelaki yang sempat kamu suntikkan obat racikanmu itu? Dunia itu ternyata sangat sempit sekali," jelas Dani sambil tertawa terbahak-bahak.


Hidupnya kini sudah senang, dengan harta kekayaan berlimpah, semua yang Danindan Anita inginkan hanya tunggal berucap dan menjentikkan jarnya maka semua akan termiliki.


"Sudahlah Dani, jangan bahas masa lalu. Urusan kita adalah tentang uang dan pekerjaan. Kini, aku sudah tidak peduli lagi dengan Andre, karena masih banyak lelaki yang tunduk padaku, bukan aku yang harus tunduk pada lelaki itu," tegas Anita menjelaskan.


"Baiklah, gadis pintar. Jadi namamu Syakir, mungkin pekerjaan ini sangat mudah bagimu, tapi bila gagal resiko tanggung sendiri," ucap Dani menjelaskan singkat tentang pekerjaannya itu.


"Apa pekerjaan itu?" tanya Syakir penasaran.


"Kurir," ucap Dani tegas dan menatap lekat kedua mata Syakir yang masih terlihat bingung dan penasaran.


"Kurir?! Kurir mengirimkan pakaian?!" tanya Syakir mengulang dengan polosnya.


Mendengar jawaban Syakir yang nampak polos pun membuat Dani dan Anita tertawa terbahak-bahak.


"Kamu kira menjual pakaian saja, kita bisa se-kaya ini? Semua itu tidak ada yang mudah dan instant tapi jeli melihat peluang," tegas Dani.


"Kurir obat-obatan racikan Anita, untuk di kirim ke Amerika, ada salah satu orang yang akan menerima kamu disana," ucap Anita pelan menjelaskan.


"Obat-obatan racikan, maksud kalian obat haram?!" tanya Syakir kembali sambil menelan air liurnya yang sudah mengumpul di dalam mulutnya.


Tiba-tiba saja wajah Syakir begitu tampak sangat tegang. Syakir benar-benar takut dan panik mendengar obat-obatan terlarang itu, dirinya seperti terjebak dalam jurang kehancuran. Tapi, mendengar nama Amerika seolah Syakir memiliki kesempatan untuk bisa menemui Kirana dan ini adalah kesempatan yang sangat langka.


"Bagaimana? Kalau siap, lusa bisa berangkat, dan satu bulan sekali kamu akan kesana untuk mengirimkan paket tersebut," ucap Dani tegas.


Syakir ingin menolak tapi sudah natural ada pilihan lain selain menerimanya dan mengikuti semua keinginan Dani dan Anita untuk sementara ditambah memang Syakir membutuhkan uang yang sangat banyak untuk menafkahi kedua istrinya itu.


"Baiklah, akan aku coba, tapi bila aku merasa pekerjaan ini berat, maka aku berhenti," ucap Syakir pelan menjelaskan.

__ADS_1


Dani dan Anita menyetujui ucapan Syakir. Selama Syakir bisa tutup mulut dan tidak membuka rahasia Dani dan Anita maka kehidupan Syakir pun akan aman.


Ketiganya sudah deal dan setuju dengan aturan mainnya, lusa adalah keberangkatan Syakir ke Amerika untuk pertama kalinya setelah Syakir sembuh dari sekaratnya.


__ADS_2