VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 100


__ADS_3

"Sayang." Viki dengan tiba-tiba mencium pipi Nara dari belakang.


Nara yang sedang mencuci piring kotor di wastafel segera mematikan kran air, dan membalikkan badan. Menatap ke arah sang kekasih. "Kenapa pulang lebih awal?"


"Karena kangen kamu." Viki mencubit gemas hidung kecil yang mancung milik Nara.


Nara mengusap hidungnya yang terasa sedikit sakit katena ulah Viki. "Aku pemilik perusahaannya sayang. Suka-suka aku dong." Viki meletakkan tangannya di pinggang kecil milik Nara.


Nara hanya menggeleng pelan, mendengar alasan yang di berikan oleh Viki. Tanpa sengaja, Nara melihat bayangan seseorang di balik tembok. "Pasti iblis betina." ucap Nara dalam hati, tersenyum jahil.


"Kerjain ah..." lanjut Nara.


"Nanti kalau kamu nggak kerja, kamu nggak punya uang. Terus aku bagaimana?" tanya Nara dengan nada manja.


"Tenang saja, meski calon suamimu ini tidak bekerja. Dia bisa memastikan, jika perempuan yang sangat dia cintai, tidak mungkin kekurangan apapun." Viki mengusap dengan lembut pipi Nara.


"Benarkan, apapun yang aku inginkan akan terpenuhi?" tanya Nara, tetap dengan nada manja.


"Apapun." Viki mencium kening Nara dengan penuh kasih sayang.


Nara mengalungkan tangannya di leher sang kekasih. Sebelumnya, Nara memastikan hanya ada Puspa di persembunyiannya.


"Aman." ucap Nara dalam hati.


"Bahkan seluruh harta aku." bisik Viki.


Nara dengan sengaja mendekatkan wajahnya ke wajah Viki. "Jangan memancingku." geram Viki, saat hembusan nafas Nara terasa di wajahnya.


Cup... Nara dengan berani mencium singkat bibir Viki. Tapi tangan Viki dengan sigap memegang tengkuk Nara. "Kamu yang memulai." ucap Viki lirih.


Sementara sebelah tangan Viki memegang tengkuk Nara, tangan yang bebas mengangkat tubuh Nara. Menaikkan badan Nara untuk duduk di samping wastafel.


Dam terjadilah apa yang memang Nara inginkan. Ciuman dan cumbuan dari Viki pada bibir Nara. Terasa pelan dan lembut. Keduanya menikmati dengan apa yang sedang mereka lakukan.


Nara membuka matanya pelan, melihat ke belakang Viki. Dimana ternyata Puspa sudah berdiri sambil mengepalkan tangannya.


Nara menatap ke arah Puspa dengan bibir miliknya masih di ***** oleh Viki. Rasa kesal membuncah di hati Puspa. Dia menatap Nara dengan tatapan permusuhan.


Niat hati ingin mengambil buah untuk di berikan pada Tuan Hendra, batal sudah. Puspa malah pergi ke dalam kamarnya sendiri. Menenangkan emosinya yang seketika terobrak-abrik karena pemandangan yang dia lihat di dapur tadi.

__ADS_1


Viki melepaskan pangutannya. Membersihkan dengan lembut sisa air liur di bibir Nara. "Kamu semakin hebat dan pintar." puji Viki.


"Abang." Nara cemberut sambil memukul dada Viki. Sungguh, sebenarnya Nara sangat malu dengan kejadian tadi. Seolah seperti Nara yang menginginkannya.


"Jika bukan karena lampir tadi, mana mungkin aku seberani tadi." ucap Nara dalam hati.


"Tapi abang suka." ucap Viki, menurunkan Nara dari tempat duduknya.


"Kenapa Puspa malah segera pergi. Kan durasinya jadi pendek." ucap Viki mengerlingkan sebelah matanya, sebelum meninggalkan Nara yang bengong.


Nara masih memandang punggung Viki yang semakin menjauh. "Abang tahu, jika Puspa ada di sini." gumam Nara, mengedipkan matanya beberapa kali karena tidak percaya.


"Aduh, semoga abang tidak marah." gumam Nara. Karena Nara merasa jika hanya memanfaatkan Viki untuk membuat Puspa kepanasana.


Tentu saja Viki mengetahuinya. Bagi Viki, bukan hal sulit untuk mengetahui keberadaan Puspa. Insting seorang Viki memang sangat tajam sedari dulu.


Apalagi selama ini, Viki sudah banyak menjalani hari dalam bahaya. Membuat Viki harus selalu waspada kapan saja dan di manapun.


"Tentu saja Abang tahu." gumam Nara tersenyum, seolah dia bangga memiliki seseorang seperti Viki di sampingnya.


"Asisten Rey." panggil Nara, saat melihat Rey sedang berjalan.


"Ada apa? Mau bertemu abang ya?" tanya Nara, setengah menebak kedatangan Rey.


"Iya Non." jawab Rey.


Belum sempat Nara menyahut perkataan Rey, Viki sudah berada di ujung tangga. Masih memakai kemeja yang sama dengan lengan di gulung sampai siku, tanpa jas yang memang sudah terlepas dari badannya. "Kita bicara di ruang kerja." ajak Viki dengan ekspresi datar.


Rey pamit pada Nara, segera mengikuti langkah kaki atasannya tersebut. "Abang,,, ganteng banget sih." puji Nara menggoyang-goyangkan badannya dengan telapak tangan menjadi satu di depan dada.


"Senyum ganteng, diam ganteng, bahkan bersikap dingin dan cuek juga masih ganteng. Makin cinta adek bang." imbuh Nara memuji Viki.


"Khemmm..." Puspa berdehem, melewati Nara untuk mengambil buah, yang akan dia berikan pada Tuan Hendra.


Nara melirik ke arah Puspa yang sedang membuka kulkas. "Pengen cepat-cepat di halalkan adek, bang." ucap Nara dengan nada manja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sepertinya Vanesa sudah tahu rencana kita Tuan." lapor Rey pada Viki.

__ADS_1


Viki duduk di kursi panjang, dengan Rey juga duduk di kursi tersebut. Namun Rey berada sedikit di ujung. "Bagus. Memang itu yang aku harapkan." Viki tersenyum senang.


Sementara Rey malah bingung, dengan apa yang di pikirkan Viki. Terlebih atasannya tersebut memberikan senyum senang, saat musuh mengetahui rencananya.


"Bagaimana dengan Melva?" tanya Viki.


"Seperti perintah anda. Dia juga mengetahui jika Anda yang menyuruh mereka untuk menolong Melva." lapor Rey.


"Sesuai rencana." ucap Viki tersenyum miring.


"Katakan pada anak buahmu yang berada di sana. Untuk terus memantau pergerakan Vanesa. Dan mencari tahu, siapa pemilik mansion tersebut." perintah Viki.


"Bukankah pemiliknya...."


"Dia bukan pemiliknya." ucap Viki memotong perkataan Rey.


"Lelaki yang selama ini bersama Vanesa, bukan pemilik mansion tersebut." jelas Viki.


"Dengan kata lain, dia mendekati dan selalu bersama dengan Vanesa karena perintah dari seseorang." tebak Rey.


"Benar. Dan inilah yang sedang kita lakukan saat ini. Mencari pemain catur yang sesungguhnya." ujar Viki.


"Vanesa hanya pion. Semuanya hanya pion. Pemain sebenarnya tetap berada di balik layar. Permainan yang sangat rapi." gumam Rey.


Sungguh, Rey bahkan tidak mengetahui semuanya. Rey mencuri pandang ke arah Viki. "Dari mana Tuan mengetahui semuanya." ucap Rey dalam hati.


Ada rasa takjub pada Viki sekaligus takut yang Rey rasakan. Karena diam-diam, atasannya tersebut mengetahui banyak hal.


"Setelah ini, gue harus bekerja lebih baik lagi." ucap Rey dalam hati. Dirinya ingin lebih memantaskan diri untuk bekerja sebagai asisten pribadi seorang Viki.


"Cari cara, supaya aku bertemu dengan Melva. Sekaligus Nyonya Vanya, mama dari Melva." perintah Viki pada Rey.


"Baik Tuan." ucap Rey.


"Saatnya aku menemui calon mertuaku. Akan aku tunjukkan, Nara bisa hidup dengan baik tanpa dia. Nara bisa menjadi gadis yang kuat karena tindakannya." ucap Viki dalam hati, menggenggam erat telapak tangannya sendiri.


Rey sudah mengetahui, kenapa Viki ingin bertemu dengan Nyonya Vanya. Karena memang, Rey juga sudah menyelidiki semuanya.


"Kamu akan menyesal. Telah membuang Nara seperti sampah." ucap Viki mengeratkan kedua rahangnya, hingga terdengar suara gemeletuk gigi.

__ADS_1


__ADS_2