VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 169


__ADS_3

"Apa kamu bilang. Tidak ada?!" saat ini, Tuan Beno dan sang istri, bersama dengan Vanya mendatangi KUA guna menanyakan data pernikahan putrinya beberapa tahun yang lalu. Vanya dan Smith.


"Cari yang benar." desak Vanya dengan kesal pada pegawai di sana.


"Bagaimana mungkin bisa tidak ada datanya. Jelas-jelas saya menikah sah secara hukum. Jangan ngaco kamu. Kalian pikir saya kumpul kebo." Vanya tidak terima, tapi ada perasaan cemas bercampur khawatir.


"Cari yang benar. Mungkin mata kamu minus. Suruh karyawan lain." tukas Nyonya Rianti dengan perkataan kasar.


Pegawai hanya bisa menghela nafas. Berhubungan atau melayani orang seperti mereka pasti akan seperti ini. Dan dia sudah terbiasa.


"Yang ada dalam daftar negara hanya pernikahan Nyonya Vanya dengan Tuan Diego. Saya tidak mungkin salah Nyonya, Tuan." tegas pegawai tersebut.


"Jika memang benar jika Nyonya Vanya pernah menikah dengan Tuan Smith sebelum menikah dengan Tuan Diego, pastinya akan ada perceraian terlebih dahulu sebelum Nyonya Vanya menikah dengan Tuan Diego. Apa Nyonya membawa surat cerainya?" tanya pegawai seraya membaca raut wajah mereka.


Sebab tak mungkin jika Nyonya Vanya bisa menikah dengan Tuan Diego jika masih berstatus sebagai istri sah Tuan Smith.


Bungkam. Ketiganya bungkam. Nyonya Rianti dan Vanya menatap pada Tuan Beno. Sebab, saat itu semuanya diurus oleh beliau. Tanpa melibatkan istri dan anaknya.


"Pa, bagiamana. Dimana surat cerai aku dan Smith?" tanya Vanya mendesak sang papa.


"Pa, loh.. Papa mau kemana?" teriak Nyonya Rianti saat sang suami pergi tanpa berkata apapun. Membuat dia juga Vanya menyusul Tuan Beno.


Pegawai tersebut menatap kepergian mereka dengan senyum remeh. "Orang kaya aneh. Jelas-jelas tidak pernah menikah. Pasti tidak ada datanya." gumamnya.


"Pa, kenapa papa malah masuk mobil sih. Bagiamana ini?" tanya Nyonya Rianti.


Tuan Beno memejamkan kedua matanya. Menyandarkan tubuhnya di kursi. "Papa dulu menyuruh orang bayaran papa yang ahli di bidang komputer untuk menghapus semua data mengenai kamu dan Smith." ucap Tuan Beno lirih, tanpa mengubah posisinya duduk.


"Mak-maksud papa?" tanya Vanya yang memang tidak tahu tentang semua itu.


"Vanya dan Smith, tidak pernah bercerai secara hukum. Dan sekarang mereka juga tidak ada di daftar pernikahan negara." tebak Nyonya Rianti, mulai mengerti keadaan.


Tubuh Nyonya Rianti lemas, melihat anggukan kepala dari sang suami. "Papa, mama, jelaskan pada Vanya!!" teriak Vanya tak terkontrol.


"Diam..!! Atau keluar dari mobil..!!" seru Nyonya Rianti mulai jengah dengan otak bodoh putrinya.


"Apa tidak bisa, papa menyuruh dia untuk mengembalikan datanya lagi. Atau menyuruh orang lain. Mungkin." harap Nyonya Rianti.


"Papa tidak tahu, di mama keberadaannya sekarang. Lagi pula, membutuhkan uang banyak untuk melakukannya. Dan kurasa itu tidak akan berhasil." kata Tuan Beno.


"Pa, maksud papa apa? Jangan buat mama semakin bingung." sebal Nyonya Rianti, yang merasa nika perkataan sang suami terlalu berputar-putar.

__ADS_1


"Data yang dihilangkan, atau dihapus. Biasanya tidak bisa dikembalikan." papar Tuan Beno.


"Bukankah papa bilang dia ahli di bidangnya. Pasti dia bisa." kekehnya.


"Papa tidak tahu keberadaannya. Membutuhkan uang untuk mencarinya. Seandainya dia kita temukan, kita juga membutuhkan uang lebih besar lagi untuk membuatnya bekerja di bawah perintah kita." jelas Tuan Beno.


"Kita terus terang saja. Tentang tujuan kita mempekerjakan dia lagi." usul sang istri.


Tuan Beno tertawa lirih. "Dan dia akan meminta bayaran lebih banyak lagi." ucapnya.


Saat mereka tengah pusing memikirkan tentang hilangnya data pernikahan Vanya dan Smith. Ponsel Tuan Beno berbunyi.


Sebuah pesan tertulis masuk ke dalam ponselnya. "Siapa pa? Kenapa?" tanya Nyonya Rianti, melihat wajah tegang sang suami.


Tanpa menjelaskan apapun, Tuan Beno menyerahkan ponselnya pada sang istri. "Viki. Anak itu lebih berbahaya dari Smith." gumamnya.


"Papa dengar, dia memang terkenal kejam pada lawannya." papar Tuan Beno.


Rey mengirimkan pesan tertulis pada Tuan Beno. Yakni ucapan selamat atas hilangnya data pernikahan Vanya dan Smith.


Tak hanya sampai di situ, Rey mengatakan jika mereka tidak akan mendapatkan data itu kembali.


Tak lupa, Rey menambahkan beberapa tulisan, mengenai suap yang dilakukan Tuan Beno saat beliau masih muda, dan masih memegang perusahaannya dulu.


Dan di akhir kalimatnya, Rey menuliskan pertanyaan yang seakan memberikan Tuan Beno pilihan. Padahal itu adalah tulisan dengan maksud mengejek dan mengancam.


INGIN MASUK PENJARA. SILAHKAN, DICOBA. LANJUTKAN APA YANG ANDA MAU.


Nyonya Rianti memandang ke arah sang suami dengan lamat-lamat. "Pa, apa yang harus kita lakukan?" beliau mengembalikkan ponselnya kepada sang suami.


"Kembali. Kita akan semakin hancur jika melangkah maju menghadapi seseorang seperti Viki. Apalagi keadaan kita sekarang sungguh berbeda dengan yang dulu." jelas Tuan Beno.


Sebagai seseorang yang sudah lama berkecimpung di dunia bisnis, setidaknya Tuan Beno bisa membaca apa yanga akan terjadi padanya, melawan pebisnis seperti Viki.


Sedikit banyak beliau tahu, bagaimana kekuatan yang Viki miliki. Menantang Viki sama saja menyerahkan diri dnegan suka rela, untuk menjadi mainan Viki.


Sedangkan di rumah mewah yang Nara anggap rumah hantu, semuanya tertawa mendengar Viki menceritakan apa yang ada di benak Nara. "Aawww,,,,!!" seru Viki, saat Nara mencubit pahanya dengan keras.


"Sakit sayang." ucap Viki manja, mengelus bekas cubitan Nara.


"Kenapa sih, Abang ember banget." kesal Nara. Bukannya apa, namun Nara sungguh malu. Apalagi di sana bukan hanya ada dirinya dan Viki.

__ADS_1


Namun Tuan Smith beserta sang istri, dan juga Tuan Hendra yang memboyong keluarganya, termasuk pembantu di rumah.


Tuan Smith tersenyum melihat cara Viki memperlakukan Nara. Begitu istimewa dan penuh cinta. Sebab, selama Tuan Smith mengenal sosok Viki. Hanya sikap arogan dan dingin yang Tuan Smith temukan.


Tapi sekarang, dihadapannya dan dihadapan seluruh kelurga, Viki berubah menjadi sosok yang penyayang, hangat, dan murah senyum.


"Kenapa kamu bisa berpikir sampai sana sayang?" tanya Nyonya Rahma masih dengan tawa di bibirnya.


"Salahin abang ma, suami Nara ini tidak memberitahu apapun pada Nara." ungkap Nara mengadu dengan ekspresi dibuat kesal.


Nyonya Rahma merentangkan kedua tangannya. "Sini sayang, jauhi suami kamu yang dzolim itu." canda Nyonya Rahma.


"Mama..." Nara berlari dan memeluk tubuh Nyonya Rahma.


"Dasar, anak kecil." ejek Viki, semuanya lantas tertawa dan menggeleng.


Berbeda dengan Nara yang langsung melotot ke arah sang suami, lantaran dikatakan anak kecil.


Di sela-sela obrolan mereka, Rini datang dan langsung memeluk tubuh Viki. "Abang, kakak udah hamil?" tanya Rini langsung nyeplos.


"Rini." tegur Nara.


Viki membawa Rini duduk di pangkuannya, dengan posisi Rini yang menyamping. "Kata mbak Mira, mbak Siti, dan mboh Nah. Rini sama Bima mulai sekarang nggak boleh tidur adama kak Nara. Agar, kak Nara cepat hamil." jelas Rini dengan jujur.


Mbak Mira yang sedang menurunkan gelas berisi minuman di meja mereka hanya diam menunduk. Perasaannya was-was. "Aduh Rin,,, kenapa pake diomongin segala sih." ucapnya dalam hari, takut kena marah majikannya.


"Bagus. Mama setuju. Rini memang pintar." ujar Nyonya Rahma membuat Nara semakin tersipu malu. Dan mbak Mira bernafas lega.


Nara mengalihkan pandangannya ke arah belakang tempat duduknya. Dimana ada taman luas di sana. Nampak beberapa orang ada di sana.


Termasuk mbak Siti dan Mboh Nah. Tapi keduanya seperti sedang memberi perintah. "Ma, itu, mereka sedang apa?" tanya Nara memandang ke taman tersebut.


"Kan hari ini ulang tahun kakak." cicit Rini.


Nara terdiam. Memandang seluruh orang yang tengah duduk di sekitarnya bergantian. "Ulang tahun Nara." ucap Nara lirih.


"Iya, ulang tahun kamu. Nanti malam, kita rayakan di sini." Nyonya Rahma memeluk erat tubuh sang menantu. Dengan tangan Tuan Hendra mengelus pelan rambut Nara.


Dalam pelukan sang mertua, mata Nara memandang ke arah sang suami dengan senyum di bibir dan mata berkaca-kaca. Viki hanya mengangguk pelan, dengan masih memangku Rini.


"Pa, Ma, jika Rini ulang tahun, Rini juga mau dirayakan." ujar Rini, memecah keheningan.

__ADS_1


"Pasti. Apapun permintaan Rini." tukas Viki.


__ADS_2