
Sepasang suami istri yang bekerja sebagai pemulung memberi nama Nara. Karena saat di temukan ada sebuah bros cantik tertempel di baju Nara. Bros tersebut berbentuk seperti huruf K, terbuat dari emas murni. Oleh karena itu, mereka memberi nama Kinara. Dengan panggilan Nara.
Dan kini, bros tersebut di simpan sendiri oleh Nara.
Tetapi sangat di sayangkan, kedua orang tua angkat Nara meninggal karena kecelakaan. Keduanya menjadi korban tabrak lari saat mengumpulkan rongsokan.
Dan kini, Nara harus menghidupi kedua adiknya. Memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Sementara Nara pergi bekerja, sang kecil Bima di asuh oleh Rini. Meski baru berusia tujuh tahun, tapi Rini sangat paham dan mengerti keadaan mereka.
Untuk pendidikan. Jangan pernah ditanyakan lagi. Bisa mengumpulkan uang untuk makan dan membayar tempat tinggal saja, mereka sudah sangat senang.
Seperti saat di beri uang oleh Ella. Nara segera memberikan pada pemilik rumah tempat dia tinggal. Dengan begitu, dia hanya memikirkan mencari uang untuk makan dan membeli susu untuk beberapa bulan ke depan.
*
*
*
"Bagaimana Vik, enak kan masakan Giska?" tanya sang mama saat Viki menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Tadi Giska ke sini bawa makanan. Pasti Giska sendiri yang memasak." ucap Nyonya Rahma memuji Giska di hadapan Viki. Berharap sang putra tertarik pada sosok Giska.
Sementara Giska tersenyum mendengar Nyonya Rahma memuji dirinya. Padahal belum tentu juga itu masakan Giska yang masak sendiri. Bisa jadi pembantu di rumah Giska yang masaknya. Atau malah Giska membelinya di restoran.
"Enak. Persis seperti masakan di restoran bintang tujuh." celetuk Viki melirik ke arah Giska dan tersenyum sinis.
Wajah Giska berubah pucat. Segera dia meminum air yang tersedia di depannya. "Memang Giska calon istri idaman. Masakan restoran saja kalah sama masakan dia." puji Nyonya Rahma.
Padahal tadi Viki menyindir Giska, malah sang mama salah paham dan memuji terus menerus masakan Giska.
"Khemmm.." Tuan Hendra berdehem. Dirinya tidak suka ada suara atau percakapan di meja makan.
Segera Nyonya Rahma menyadarinya. Seketika suasana menjadi hening. Hanya ada suara garpu dan sendok yang beradu dengan piring.
"Vik, kamu antar Giska. Kasihan, sudah malam. Masa kamu tega sih membiarkan dia pulang sendiri?" ucap Nyonya Rahma setelah makan malam selesai.
"Mama ini, kenapa sikapnya seperti di film-film. Menjodohkan anaknya. Menyuruhnya mengantar pulang. Besok apalagi." batin Viki.
"Nona Giska tadi naik apa ke sini?" tanya Viki dengan ekspresi datar.
__ADS_1
"Saya..." kata Giska.
"Kamu itu. Disuruh mengantar pulang, malah banyak bertanya. Cepat sana. Keburu malam." desak Nyonya Rahma.
Viki mengantar Giska pulang ke rumah. Di dalam mobil, Viki hanya diam. Bahkan dirinya tidak menanyakan alamat rumah Giska.
"Bagaimana perusahaan kamu?" tanya Giska membuka suara.
"Baik." jawab Viki datar.
"Kata mama kamu, kamu kenal sama Ella." ucap Giska.
"Hemmm."
Mata Viki tidak sengaja melihat Nara berdiri di pinggir jalan. Seperti ingin menyeberang. Menggendong anak kecil dengan seorang anak kecil lagi berdiri di sampingnya, menggenggam tangan Nara.
Dalam perjalanan, Viki tidak bisa berkonsentrasi. Dirinya tetap kepikiran dengan Nara dan dua anak kecil yang bersama Nara.
"Vikk,,, Viki!!" seru Giska. Karena sedati tadi Viki hanya diam memandang lurus ke depan. Padahal Giska sedang bertanya pada dirinya. Tapi satu katapun tidak keluar dari mulut Viki.
Dengan tiba-tiba Viki menghentikan mobilnya. "Kamu keluar." usir Viki pada Giska.
"Keluar Giska." ucap Viki tegas tanpa memandang ke arah Giska yang terlihat menahan marah.
Brakkk.... Giska menutup dengan keras pintu mobil Viki. Dengan cepat, Viki memutar balik mobil miliknya. Berencana mencari keberadaan Nara. Entah kenapa Viki selalu kepikiran dengan Nara.
"Aaaaa.....!!!" teriak Giska melihat Viki melajukan mobilnya menjauh dari dirinya.
"Berani sekali dia memperlakukan aku seperti ini. Awas kamu Vikkk....!!" geram Giska dengan menghentakkan kaki ke atas aspal yang dipijaknya berulang kali.
Segera Giska menelpon sopir pribadinya. Menyuruhnya untuk menjemput dirinya. "Lihat saja kamu Vik. Akan aku buat kamu mengemis cinta padaku. Bertekuk lutut hingga merangkak di hadapanku." ucap Giska dengan sorot mata tajam.
Dirinya benar-benar tidak terima dengan perlakuan Viki pada dirinya. Menurunkannya di tangah jalan. Tanpa penjelasan.
Nara,,, Sejak sore, setelah Nara pulang dari mulung. Bima selalu rewel. Bima tidak berhenti menangis. "Kenapa kamu sayang?" tanya Nara khawatir, menimang badan Bima yang terasa hangat.
"Dari tadi dedek terus menangis kak. Padahal sudah Rini berikan susu seperti biasanya." ucap Rini mengadu pada Nara.
"Iya sayang. Terimakasih." Nara mengelus pelan rambut anak berusia tujuh tahun tersebut.
__ADS_1
Tidak mudah bagi Rini untuk menjaga Bima. Apalagi di usia Bima yang menginjak dua tahun. Membuat Bima sangat aktif.
Nara segera membuka tasnya. Melihat jumlah uang di dalamnya. "Masih cukup untuk membawa Bima berobat." gumam Nara.
"Nara, Rini...!!" seru seseorang dari luar memanggil mereka.
"Iya bu." sahut Nara sembari membuka pintu.
"Ada apa? Kenapa sejak tadi Bima rewel?" tanya bu Anis. Pemilik rumah yang di sewa oleh Nara dan kedua adiknya.
"Tidak tahu bu, Nara baru saja pulang. Bima sudah menangis." ucap Nara menggoyang-goyangkan badannya. Karena sekarang dirinya sedang menggendong Bima.
"Badannya panas Ra. Sebaiknya kamu bawa ke dokter. Kamu periksakan Bima." ucap Bu Anis dengan telapak tangan memegang dahi Bima.
"Ini ibu ada uang, kamu pakai dulu nggak apa-apa. Kamu kembalikan jika sudah ada." tawar Bu Anis.
"Terimakasih Bu, Nara masih punya simpanan uang." tolak Nara dengan halus.
"Ya sudah kalau begitu. Cepat kamu bawa Bima untuk berobat. Nanti keburu malam."
"Kak, Rini ikut." rengek Rini.
"Rini di rumah saja. Sama ibu ya." bujuk bu Anis pada Rini.
Dengan cepat Rini menggelengkan kepala dan memegang erat tangan Nara. "Kak. Rini ikut." rengeknya. Bukannya Rini takut pada bu Anis, tapi dirinya takut pada suami bu Anis.
"Iya. Kamu ambilkan tas kakak." pinta Nara.
Dengan cepat, Rini mengambil tas selempang yang lusuh milik Nara. Dan memberikan pada kakaknya tersebut.
"Saya permisi dulu bu." pamit Nara pada bu Anis.
"Hati-hati Ra." ucap Bu Anis.
Bu anis memandang iba pada ketiga anak itu. Ingin sekali dirinya membantu mereka. Tapi karena suaminya, bu Anis tidak berani melakukannya. Suami bu Anis tidak segan-segan memukul bu Anis jika dirinya kedapatan membantu orang lain. Siapapun itu.
Uang hasil menyewakan rumah saja, semuanya di kuasai oleh sang suami. Bu Anis hanya di beri jatah sedikit untuk membeli keperluan sehari-hari.
"Beruntung kalian mempunyai Nara. Jika tidak, siapa yang akan merawat kedua anak kalian." gumam Bu Anis. Teringat kedua orang tua Rini dan Bima yang sudah lama tiada.
__ADS_1
Segera Bu Anis meninggalkan rumah Nara. Rumah kecil, dengan tiga ruangan di dalamnya. Ruang tamu, sekaligus tempat mereka merebahkan badan untuk tidur. Satu ruangan kecil untuk mandi. Dan satu ruangan kecil untuk memasak.