
"Kita berangkat sekarang?" tanya Nara memastikan.
Viki masih sibuk dengan ponselnya hanya berdehem menyahuti perkataan sang istri. Rasa penasaran, membuat Nara mengintip apa yang membuat sang suami lebih fokus pada layar ponselnya.
Mata Nara membelalak sempurna melihat apa yang ada di layar ponsel sang suami, hingga dirinyapun di acuhkan.
Nara kira Viki sibuk dengan pekerjaannya. Ternyata, Viki tengah sibuk bermain game sepak bola di ponsel miliknya.
Nara mendaratkan pantatnya dengan kencang di samping Viki. Namun sang suami sama sekali tidak terganggu dengan tingkahnya. "Nara tunggu lima menit. Jika suamiku tidak berdiri. Kita tidak jadi pergi." Nara cemberut.
Nara melirik ke arah Viki yang masih asyik bermain game di ponselnya. Nara hanya memutar bola matanya dengan malas. "Sabar Nara,,, sabar..." Nara mengelus dadanya.
Lebih dari lima menit, dan Viki masih asyik dengan ponselnya. Nara menggoyang-goyang lengan Viki. "Sayang, jadi pergi nggak sih...?!" rengek Nara dengan kesal.
Viki mematikan ponselnya. "Iya jadi."
"Memang sekarang jam berapa?" tanya Viki dengan santai.
Bukannya menjawab, Nara menunjuk ke arah jam dinding yang tertempel di dinding, di samping mereka. "Loh,,, kok..." ucap Viki terkejut. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam.
Nara melirik sinis pada Viki. "Salah siapa?!" tanya Nara galak, setengah menyindir.
"Kamu kok nggak bilang, kalau sudah jam tujuh." Nara menggeleng dengan sebal. Kenapa malah Viki menyalahkan dirinya.
Nara kesal bukan main. Meremas sendiri telapak tangannya di depan sang suami. "Astaga suamiku yang gantengnya sempurna. Bukankah istrimu ini sudah mengingatkan suamiku ini.." geram Nara tertahan dengan bibir dibuat tersenyum kaku.
Viki malah mencium pipi sang istri, sambil nyengir kuda. "Telapak tangannya kenapa, gatal?" goda Viki.
"Tau ah,,,," sebal Nara.
Viki tertawa, dan menghujami wajah Nara dengan ciuman. "Let's go." ajak Viki.
Dengan bibir cemberut menahan senyum, Nara berdiri. "Jangan cemberut dong,,, hilang cantiknya tahu." goda Viki, merangkul pundak istri kecilnya tersebut.
"Kita pergi ke rumah papa Smith dulu?" tanya Nara, yang sudah tahu jawaban pastinya.
Viki hanya mengangguk dengan tangan memainkan dan mengelus rambut sang istri yang sedang dirangkulnya dengan mesra.
Keduanya tengah duduk di kursi belakang mobil. Sementara pak sopir duduk sendirian di depan. Jika sebelumnya Viki tidak suka bepergian mengunakan sopir, entah mengapa kali ini Viki sedang malas untuk membawa mobil sendiri.
Pasti karena ada Nara. Membuat Viki ingin duduk berdua dan bermesraan dengan sang istri.
"Papa sama mama kenapa pergi membawa Rini dan Bima. Lagian tumben, mereka di ajak." papar Nara.
"Pasti karena Rini sedang libur sekolah. Dan juga perjalanan dinas papa kali ini sedikit lama. Itung-itung rekreasi untuk Rini dan Bima."
"Aku hanya takut, mereka malah menyusahkan mama dan papa. Tahu sendiri, bagaimana Bima kalau rewel. Kalau Rini sih, sudah besar."
"Tidak perlu khawatir, mbak Mira juga ikut."
"Sepertinya, sekarang mereka melupakan aku deh." rajuk Nara.
Viki terkekeh pelan. "Bukankah lebih baik. Mereka tidak akan mengganggu waktu berdua kita." ucap Viki bercanda.
"Jangan bilang begitu. Nanti kalau lupa beneran gimana." keluh Nara.
"Nggak akan. Kamu pikir mereka amnesia." celetuk Viki, mendapat pukulan di pahanya dari Nara.
"Astaga suamiku, bicara yang baik." tegur Nara.
"Kamu yang duluan mulai." Viki tidak mau disalahkan.
Perbincangan disertai perdebatan kecil mereka, membuat keduanya tak sadar jika saat ini mereka sudah sampai di halaman rumah Tuan Smith.
"Lihat, kita seperti tamu agung." kekeh Viki, melihat kedua mertuanya berdiri di teras rumah, menunggu kedatangan mereka, dan juga beberapa pembantu.
"Sayang." Nyonya Binta langsung merentangkan tangan, begitu Nara dan Viki keluar dari dalam mobil.
"Mama Biii...." Nara masuk ke dalam pelukan sang mama tiri.
Tuan Smith hanya menggeleng bahagia melihat adegan tersebut. Beliau bersalaman dengan Viki. "Sehat." sembari menepuk pelan pundak Viki. Disahuti anggukan dan senyuman oleh Viki.
Nyonya Binta mengurai pelukannya. "Mana oleh-olehnya." Nyonya Binta memandang ke arah perut Nara.
"Bukan di sini ma, masih di mobil." cicit Nara, mengerti ke mana arah pertanyaaan sang mama.
Nyonya Binta mencubit gemas pipi Nara. "Mama dan besan pengennya hadiah itu." Nyonya Binta berkata dengan ekspresi lucu.
"Doakan saja, dia segera hadir." timpal Viki.
"Amin...." jawab semuanya, termasuk beberapa pembantu di belakang pemilik rumah.
__ADS_1
"Pa.." Nara memeluk sang papa.
Tuan Smith melirik ke arah Viki. "Kamu menjaganya dengan baik. Kalau tidak." beliau mengepalkan tangannya ke arah Viki.
"Papa tenang saja. Dia suami idaman semua perempuan." puji Nara melepaskan pelukannya dan menghampiri sang suami.
"Ehh,,,, iya maaf. Boleh minta tolong." Nara memandang ke beberapa pembantu.
"Katakan Nyonya kecil."
"Tolong keluarkan semua yang ada di bagasi mobil. Dan bawa ke sini. Lalu, yang ada di kursi depan juga. Tapi jangan di campur." pinta Nara dengan sopan.
"Baik Nyonya kecil."
Mereka segera berjalan, dan melakukan apa yang dikatakan Nara. "Pantas saja Nyonya sangat senang membicarakan dan memuji Nyonya kecil, ternyata dia cantik dan baik." ucapnya lirih, saat mengambil beberapa barang di bagasi mobil Viki.
"Ini Nyonya kecil." Nara mengambil empat paper bag dengan warna berbeda, yang dia letakkan di kursi depan.
"Itu untuk kalian. Jika masih kurang, nanti kalian bilang ya." jelas Nara.
Beberapa pembantu masih terdiam dan saling memandang. Mereka bingung dengan perkataan Nara. Atau lebih tepatnya tidak percaya, jika paper bag tersebut untuk dibagi-bagikan pada mereka semua.
Nyonya Binta tersenyum melihat para pekerjanya kebingungan, tidak percaya. "Semua itu untuk kalian. Putri saya sengaja membelinya untuk diberikan pada kalian. Kalian terima." papar Nyonya Binta.
"Benarkan?" semuanya memandang pada Nara.
"Tapi jangan dilihat harganya ya." pinta Nara tersenyum ramah.
"Terimakasih Nyonya kecil, Tuan muda Viki." ucap mereka serempak.
Terharu atas kebaikan Nyonya kecil mereka. Padahal, mereka sama sekali belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi Nara begitu baik memperlakukan mereka.
Nara memberikan dua paper bag pada Nyonya Binta. "Ini untuk mama dan papa."
"Makasih sayang. Kami pasti suka." Nyonya Binta menerima dengan senyum di bibirnya.
"Ayo, sebaiknya kita masuk." ajak Tuan Smith.
"Kakak dimana?" tanya Nara. Sebab memang kakak tiri beserta istrinya masih berada di sini. Mereka akan kembali ke tempat tinggalnya besok pagi.
"Giska ada di dalam. Kak Renggo,,, sebentar lagi pasti pulang." Nyonya Binta melihat ke arah gerbang.
Dari atas balkon, Giska melihat semuanya. Bagaimana keluarga sang suami beserta para pembantu sangat menyanjung dan menerima Nara dengan baik.
"Perempuan kecil itu. Benar-benar,,,, membuatku semakin muak. Penjilat." Giska melihat tangan Viki selalu melingkar dengan setia di pinggang kecil Nara.
"Jika Viki tidak menikahinya, dia tetap akan berada di tempat kumuh tersebut. Memang sepantasnya, dia kembali ke tempat asalnya." kesal Giska.
"Dengan mudah dia mencuri perhatian di keluarga ini. Merebut Viki dariku. Lihat saja, kamu pikir kebahagiaan akan selalu bersamamu. Jangan mimpi."
Ancaman Viki sama sekali tidak dihiraukan oleh Giska. Amarah dan rasa kesalnya kembali muncul di ubun-ubun saat dia melihat Nara. Dan bagaimana pandangan penuh cinta dari mata Viki.
Sambil menunggu Renggo, mereka duduk bersantai di ruang tengah sambil berbincang. "Terimakasih." ucap Nara, saat seorang pembantu meletakkan minuman dan beberapa camilan di atas meja.
"Sama-sama Nyonya. Kami juga berterimakasih atas oleh-olehnya."
Nara mengangguk kecil. "Maaf, apa Nyonya kecil dan Tuan muda akan menginap di sini?"
"Tidak." jawab Viki ketus. Tuan Smith dan Nyonya Binta hanya menghela nafas dan menggeleng kecil. Keduanya sudah hapal tabiat dari menantunya tersebut.
"Sayang..." lirih Nara, mencubit paha Viki.
"Kenapa? Memang tidak kan. Lagi pula, aku tidak ingin tinggal seatap dengan perempuan gila itu. Bisa-bisa aku akan jadi pembunuh." celetuk Viki.
"Abang..." Nara hanya bisa mendesah pelan. "Maaf." tutur Nara pada para pembantu.
"Iya Nyonya, tidak apa-apa."
Nyonya Binta tersenyum jahil. "Bagaimana jika Nara ingin menginap di sini." goda Nyonya Binta.
"Tidak akan." jawab Viki santai.
"Bagaimana Nara, kamu maukan. Menginap semalam saja di rumah mama." bujuk Nyonya Binta melirik ke arah Viki.
"Ma." tegur Tuan Smith, tahu jika sang istri sedang menggoda Viki.
"Emm... ma..."
"Sayang, apa kamu mau tidak takut. Jika kita menginap di sini. Lalu perempuan gila itu..." sahut Viki menyela perkataan Nara.
Begitupun dengan Nara, dia menyela perkataan Viki dengan menegurnya. "Hussttt,,,, perempuan gila. Dia punya nama. Kak Giska. Dia kakak ipar kamu. Istri kak Renggo." tegur Nara.
__ADS_1
Nara hanya merasa tidak enak hati pada papa dan mamanya. Meski bagaimanapun, Giska adalah menantu mereka. Sama seperti Viki.
Nara tidak ingin mereka salah paham. Dan mengira jika dirinya dan Viki sama sekali tidak bisa menghargai anggota keluarga lainnya.
Nyonya Binta dan Tuan Smith tersenyum melihat kebaikan hati Nara. Padahal, mereka tahu. Bagaimana Giska sangat tidak menyukainya. Dan malah berusaha membaut Nara tersingkir.
"Dia memang gila. Sudah tahu hamil, tetap mengejar suami orang. Apa namanya coba." kekeh Viki.
"Sayang...." geram Nara tersenyum kaku memandang sang suami.
"Lagi pula sebentar lagi dia akan melahirkan. Tinggal sebulan lebih. Setelah itu,,," Viki tersenyum sinis, tidak melanjutkan perkataannya.
Tuan Smith, Nyonya Binta, dan Nara memandang aneh ke arah Viki. Suami Nara itu tahu, jika dirinya menjadi pusat perhatian.
Segera melakukan manufer perkataan. "Setelah itu, aku berharap Renggo menceraikannya." celetuk Viki.
Nyonya Binta dan Tuan Smith langsung terbengong mendengarnya. "Aaaww... "seru Viki, saat Nara mencubit lengannya.
"Sakit." rengek Viki, meringis. Nara benar-benar mencubit sang suami. Kesal dengan apa yang dilontarkan dari mulut sang suami.
"Bicara yang baik." tegur Nara.
"Sayang, kurang baik apa aku. Makanya, aku doakan Renggo dan Giska segera berpisah. Dan Renggo, bisa menemukan perempuan yang lebih baik. Coba kamu pikir, perempuan seperti Giska. Gimana mau mendidik anak."
"Setiap orang bisa berubah."
"Ckk,,,, kamu itu terlalu polos. Ada sebagian orang yang tidak akan pernah berubah. Ingat, iblis tidak akan pernah menjadi malaikat." oceh Viki.
Nara hanya mencebik. Tuan Smith bisa merasa, jika Viki mengetahui sesuatu yang dirinya tidak tahu. "Apa yang sedang terjadi." ucapnya dalam hati.
"Kak Giska." sapa Nara, begitu melihat seorang perempuan hamil berjalan mendekat ke arah mereka dengan senyum cantik di bibirnya.
"Kapan pulang?" Giska memeluk Nara. Membuat Nara terkejut, tapi segera Nara menetralkan kembali suasana hatinya.
"Sudah tahu, kenapa bertanya." sahut Viki tanpa melihat ke arah Giska.
"Ckk,,," decak Nara. "Ini kak, untuk kakak dan kak Renggo." Nara memberikan dua paper bag pada Giska.
Tiba-tiba sebuah tangan menyambar paper bag pemberian Nara. "Kak Renggo."
"Serius, ini untuk kakak." tanya Renggo memastikan. Giska hanya tersenyum kecut, melihat Renggo begitu antusias mengambil paper bag dari tangannya.
"Apa telingamu sudah tidak berfungsi." sindir Viki pada Renggo.
Bukannya marah, Renggo malah menggoda Viki. "Eehh,, ada Tuan Viki di sini. Sejak kapan beliau datang." Renggo duduk di dekat Viki. Sangat dekat.
Viki mendorong tubuh Renggo. "Jangan dekat-dekat. Aku masih normal." sinisnya.
"Abang...." seru Nara kesal. Sedari tadi Viki selalu bersikap dan berkata ketus pada semuanya.
Semuanya tertawa melihat tingkah dan ekspresi Nara saat kesal pada Viki. Termasuk Viki. Dan Giska, dia juga berpura-pura tersenyum.
Nara melihat tas kerja Renggo masih berada di sebelah Renggo. Dia mengalihkan pandangan pada Giska yang malah diam dan duduk dengan tenang.
Viki mengerti apa yang ada di benak Nara. "Setiap orang punya cara sendiri dalam berumah tangga." bisik Viki. Nara tersenyum dan mengangguk.
Cup... "Abang...!!" seru Nara tertahan. Malu bukan main. Viki mencium bibir Nara dihadapan banyak orang. Segera Nara membenamkan wajahnya di dada Viki.
Semua lantas tertawa melihat tingkah menggemaskan dari Nara. "Kenapa mesti malu sayang. Mama biasanya juga seperti itu sama papa."
Nyonya Binta tahu, jika sebenarnya Viki ingin menegaskan pada Giska. Jika dirinya tidak akan ada kesempatan untuk masuk ke dalam kehidupan mereka.
"Tapi tidak di tempat umum." gumam Nara, menatap sang suami dengan tatapan horor. Bukan takut, Viki malah terkikik geli melihat ekspresi wajah Nara.
"Jangan lakukan lagi. Nara malu. Lihat kak Renggo, dia saja tidak seperti abang. Main nyosor." kesal Nara.
Sungguh, ingin sekali Giska berdiri dan menampar bahkan mencekik Nara. Tapi dirinya masih waras untuk bisa menahan diri.
"Karena mereka tidak saling mencintai. Mana mungkin bisa seperti kita." jelas Viki tanpa beban.
Renggo hanya menggeleng dan tersenyum. Berhadapan dengan Viki, memang harus menyediakan kantong ekstra kesabaran.
Sebab, itulah Viki. Mengatakan semua tanpa pernah melihat lawannya. Tanpa memikirkan perasaan lawannya.
"Sudah,,, sebaiknya kita segera makan. Jangan berdebat terus." ajak Tuan Smith.
Suasana hening seketika menjadi ramai dengan memancarkan kebahagiaan hanya dengan kedatangan Nara dan Viki.
Bahkan, para pembantu merasa jika kehadiran pasangan pengantin baru tersebut membawa aura kebahagiaan.
Meski keduanya kerap berdebat kecil. Namun menurut mereka perdebatan mereka terlihat lucu dan romantis.
__ADS_1