
"Katakan. Kenapa kamu tidak menceritakan atau mengatakan apapun padaku. Apa saat ini memang kamu melupakan aku?!" seru Erlangga menggebu-gebu.
"Diajak pulang ke negaraku tidak mau. Sekarang malah memutuskan kontrak kerja. Mau kamu sebenarnya apa?!" kesal Erlangga.
Sara masih terdiam. Tersenyum menatap sahabatnya yang juga sudah dianggap sebagai kakaknya tersebut.
Membiarkan Erlangga meluapkan emosinya karena memang di sini, Sara merasa dirinyalah yang bersalah. Tidak memberitahu Erlangga apapun terkait keputusannya.
Sara yakin, Erlangga tidak akan bermain fisik. Dia cukup kenal siapa Erlangga. Lelaki cerewet yang selalu berada di sampingnya. Sekaligus kakak dan pelindung baginya.
"Jangan tersenyum. Kamu pikir aku akan luluh. Jangan harap." sengit Erlangga.
"Tiba-tiba berhenti dari pekerjaan. Tidak memberi kabar apapun. Apa yang ada di otak kecil kamu?!" dongkol Erlangga.
Sara mengerucutkan bibirnya. Saat Erlangga menyebut otak kecil yang ditujukan pada dirinya. "Apa Renggo yang memaksa kamu. Hingga kamu juga terpaksa untuk tinggal di sini?!" tebak Erlangga.
Sara menggeleng. "Apa kamu bisu. Dari tadi diam. Tersenyum. Menggeleng." kesal Erlangga.
Tenggorokan Erlangga terasa kering setelah mengomel. Segera diraihnya segelas air minum di atas meja di depannya. Meneguknya hingga tandas.
Sara dan Erlangga, saat ini berada di ruang tamu. Sara memilih tempat ini, tentu saja ada alasannya.
Selain tempatnya terbuka. Beberapa pembantu juga terlihat bekerja di ruang tengah. Dan yang terpenting. Ada beberapa CCTV di tempat tersebut.
Sara hanya menghindari sifat cemburu sang kekasih. Dengan begitu, Renggo bisa melihat mereka dari pantauan kamera CCTV.
"Ini murni keinginan Sara sendiri." Sara mulai membuka mulutnya.
"Sara ingin menikah dengan Renggo. Dan Sara ingin menjadi ibu rumah tangga seutuhnya." jelas Sara.
Sara tidak mengatakan pada Erlangga mengenai syarat dari kedua orang tua Renggo. Jika ini permintaan kedua orang tua Renggo. Dirinya tidak mau jika Erlangga memandang rendah keluarga Renggo.
Erlangga masih menatap Sara. Merasa penjelasan dari Sara masih kurang. "Aku mengatakan pada Nara. Kamu tahukan, jika Nara adalah istri Viki. Dan adik tiri Renggo."
Sara menjeda kalimatnya, sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku minta tolong pada Nara. Dan ya,,, aku terbebas tanpa membayar sepeserpun." Sara tersenyum sempurna, merasa bangga.
"Astaga. Cinta memang membuat orang bisa berbuat gila." Erlangga menggeleng heran.
"Kamu tidak malu. Mengatakan pada Nara?!"
Sara menggeleng. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Terpaksa Sara mengarang cerita bebas. Dirinya tidak ingin semuanya ribet. Jika Erlangga tahu semuanya.
Cukup paham dengan karakter Erlangga. Sara tidak ingin hubungan Erlangga dengan keluarga Renggo tidak baik.
Biar bagaimanapun. Mereka semua orang-orang yang saat ini dan seterusnya akan berarti dalam kehidupan Sara.
"Apa Renggo tidak sanggup membayar." ejeknya.
Sara melempar bantal kursi ke arah Erlangga, dengan sigap Erlangga menangkapnya. "Ngawur. Masa pengusaha sekelas Renggo tidak bisa membayarnya." sungut Sara.
Sara menengok ke kanan dan kiri. "Elo pikir di mana harga diri gue. Dikira nanti gue matre." lirih Sara.
"Sama saja bego. Elo meminta pada Nara." cibir Erlangga.
Sara meletakkan jari telunjuknya di kening. "Elo pikir gue bodoh. Ngomong langsung. Ya nggaklah. Pakai otak." ucap Sara lirih.
"Terus elo ngapain disini. Kayak nggak punya rumah saja." dengus Erlangga.
"Alasan utamanya, karena kedua orang tua Renggo sedang berada di luar negeri. Mereka meminta aku untuk tinggal sementara di sini. Menjaga baby Al. Meski ada pengasuhnya sih." cengir Sara.
Raut wajah kesal Erlangga berubah seketika. Mendengar Sara menyebut kata baby Al. "Siapa?" tanya Erlangga dengan lirih.
Sara menetap ke arah Erlangga. "Apa?" Sara bertanya, lantaran dirinya memang tidak begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Erlangga.
Segera Erlangga mengembalikan emosinya. Dirinya tidak ingin Sara mengetahui jika dia ingin sekali menemui anak dari Renggo, yang dia yakini adalah putranya.
"Tadi kamu bilang karena menjaga baby Al. Dia siapa?"
Sara manggut-manggut. "Calon anakku." ucap Sara dengan yakin.
Erlangga memutar kedua matanya dnegan kesal. "Sara..!!"
Sara meringis, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Dia putra Renggo dari pernikahannya yang pertama. Aldric. Panggilannya baby Al. Baru berumur setahun." papar Sara.
"Hanya itu alasan kamu tinggal di sini?" tanya Erlangga.
Sebenarnya Erlangga ingin sekali bertemu dengan baby Al. Namun dirinya bingung, bagaimana mengatakannya cara pada Sara.
Erlangga takut jika Sara malah akan curiga. Apalagi, selama ini yang Sara tahu. Dirinya tidak terlalu suka dengan anak kecil.
"Mungkin belum saatnya." itulah yang saat ini ada dalam benak Erlangga. Jika dirinya dan baby Al belum dipertemukan.
__ADS_1
"Alasan lainnya. Karena aku menghindar dari kejaran wartawan."
"Kenapa?"
"Masih tanya. Pasti mereka bertanya-tanya. Kenapa gue menghilang begitu saja dari dunia hiburan."
"Tinggal jawab. Mau menikah. Beres." sahut Erlangga benar.
"Memang iya sih. Tapi aku tidak mau. Yang aku inginkan hidup tenang, setelah menikah. Tanpa ada gangguan kamera di sekitar keluargaku." Sara berbicara dengan ekspresi melankolis.
"Heh.... Nan...." ucapan Erlangga terhenti, saat ada bayi kecil berjalan dengan gaya lucu menghampiri Sara.
Dan dia adalah baby Al. "Awas jatuh." seru Sara tertawa. Dengan sang pengasuh berada di belakangnya, sebab baby Al belum bisa berjalan dengan benar.
Deg.... "Putraku." batin Erlangga.
Sara segera menggendong baby Al. Mencium seluruh wajah baby Al bertubi-tubi dengan gemas. "Mbak bisa ke belakang. Biar baby Al bersama dengan saya."
"Baik Nona."
"Ma..mm..mam..maamm." oceh baby Al membuat senyum di bibir Erlangga.
"Ini dia baby Al. Halo om,,, kenalkan. Aku baby Al. Anak papa Renggo dan mama Sara." ucap Sara dibuat-buat seperti anak kecil.
Sara menatap aneh ke arah Erlangga. Mendapati Erlangga terus menatap calon anak tirinya dengan intens. "Hoey,,, kesambet." Sara menggerakkan telapak tangannya didepan wajah Erlangga.
Erlangga sedikit terkejut. "Ehh,,, maaf. Dia yang namanya baby Al?"
Sara mengangguk. "Tampankan." Sara seolah sedang memamerkan sebuah barang pada sahabatnya tersebut.
Sara tertawa, kembali mencium baby Al dengan gemas. Membuat baby Al tertawa lepas. Erlangga yang melihatnya, juga ikut tersenyum.
"Kalau dilihat-lihat. Wajahnya hampir mirip kamu." celetuk Sara. Membuat senyum di wajah Erlangga menghilang. Berganti dengan ekspresi pias.
"Heh,,,, mana ada. Aku belum menikah. Bagaimana mau punya anak." sangkal Erlangga.
"Ckk,,, santai. Nggak usah ngegas. Aku cuma bilang mirip. Bukan berarti baby Al anak kamu. Dia anak papa Renggo. Iya kan sayang. Dan sebentar lagi akan menjadi anak mama Sara."
Baby Al tertawa, melihat ekspresi Sara yang lucu saat di depan wajahnya. Sara menyodorkan pipinya, dan dengan pintar, baby Al mencium pipi Sara.
"Pintarnya anak mama Sara. Ehh,,, boleh nggak ya panggil mama." gumam Sara, meras lucu jika baby Al memanggilnya dengan sebutan itu.
Erlangga mencoba mencari cara. Untuk membuktikan jika bayi tampan dan menggemaskan yang ada di pangkuan sahabatnya tersebut adalah putranya.
Erlangga memutar otaknya. Bibirnya tersenyum saat melihat gelas kosong di atas meja. "Sara, gue haus. Ambilin minum dong." pinta Erlangga, mengelus tenggorokannya.
"Ckk,,, makanya. Jangan suka bicara keras. Untung pita suara elo masih utuh." omel Sara.
"Gue tamu. Hormatin dong. Gimana sih elo." protes Erlangga.
"Tamu bawel. Iyakan sayang. Om Erlangga bawel. Cerewet."
Sara berdiri dan melangkahkan kaki. "Ehh,,, mau kemana?" tanya Erlangga, membuat Sara berhenti.
"Pikun pak. Katanya suruh ambilin air minum." ketus Sara, dengan baby Al berada di gendongannya.
Ingin sekali Erlangga mengatakan jika dirinya akan menggendong baby Al. Tapi entah kenapa, lidahnya seakan kelu. "Jadi di ambilin nggak?" tanya Sara ketus.
"Ya,,, ya,,, ya jadi. Tapi itu." Erlangga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Apasih. Sumpah elo makin aneh." sungut Sara, memandang aneh pada Erlangga.
Erlangga membuang nafasnya dengan kasar. "Baby Al nya, biar di sini saja."
Lega,,,, hanya mengatakan hal sepele, membuat perasaan Erlangga terasa lega. "Baby Al, di sini." Sara memonyongkan mulutnya.
"Elo mau jaga?" tanya Sara tidak percaya. Sara tahu, jika Erlangga tidak begitu suka dengan anak kecil. Erlangga mengatakan jika anak kecil itu ribet.
Erlangga mengangguk kaku. "Ya.. Ya... ya itu. Kasihan ke sana ke sini." ucap Erlangga belibet.
"Serius?" tanya Sara tetap tidak percaya.
Erlangga berdiri. "Sini."
Dengan sedikit terpaksa, Sara memberikan baby Al pada Erlangga. "Awas, jangan elo bikin nangis." Sara mengepalkan tangannya pada Erlangga.
"Ckk,,, iya. Sana." usir Erlangga.
Dengan gaya kaku, Erlangga menggendong baby Al. "Duduk aja kali ya, biar mudah."
Erlangga menghirup dan menghembuskan nafas panjang. "Kenapa gue grogi." gumamnya, melihat rambut baby Al.
__ADS_1
Sebab, posisi Erlangga memangku baby Al, dengan sang bayi menghadap ke depan. "Rasanya kayak pertama kali gue ikut casting film."
Erlangga tersenyum takut. "Astaga, gue hampir lupa." gumamnya.
Erlangga menengok ke kanan dan kiri. Memastikan tidak ada orang yang melihatnya. "Maaf sayang, sedikit sakit. Jangan nangis ya." ucap Erlangga lembut.
Karena tidak membawa gunting atau alat potong lainnya. Dengan terpaksa Erlangga mencabut satu rambut baby Al.
"Eeeee...."
Segera Erlangga memasukkan sehelai rambut baby Al ke dalam sakunya. "Husssttttt.... " mengelus bagian kepala baby Al yang dia cabut rambutnya.
Beruntung, baby Al segera menghentikan rengekannya. "Semoga nggak hilang." gumamnya.
Sebab hanya satu helai rambut yang dapat dia ambil. Itupun kecil dan lembut.
Berkali-kali Erlangga mencium pucuk kepala baby Al. Merasa bersalah karena membuatnya merasa sedikit kesakitan karena ulahnya.
Saking tegang dan panik. Erlangga bahkan tidak menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya dari tempat lain.
Di perusahaan, Renggo selalu uring-uringan. Saat pertemuan, dia selalu bertanya pada sang sekertaris. Kapan acara pertemuannya akan selesai.
Sang sekertaris hanya bisa menghela nafas. Bersabar dan selalu bersabar. Dirinya juga tidak tahu apa yang terjadi pada atasannya tersebut.
Bertanya secara langsung, sama saja ingin berhenti bekerja untuk selamanya. Tidak bertanya, dirinya di buat penasaran dengan tingkah Renggo.
Selesai pertemuan, Renggo berjalan dengan cepat menuju ke ruangannya. Dirinya yang memakai rok span, dengan high hell, tentu saja dibuat pontang-panting menyamai langkah Renggo.
Tak sampai di situ, sang sekertaris mendapat teguran. Hanya langkahnya yang tidak bisa menyamai Renggo. "Kenapa gue di salahin." ucap sang sekertaris, dan semua itu hanya dia katakan dalam hati.
Dan yang membuat lucu. Sang sekertaris melepas high hellnya, agar langkahnya bisa menyeimbangkan langkahnya dengan Renggo.
Semua karyawan yang melihat hanya tersenyum, tentu saja mereka merasa lucu sekaligus kasihan.
Apa yang dilakukan salah kembali di mata Renggo. "Kamu pikir ini rumah!! Kenapa nyeker!!" bentak Renggo.
Segera dia memakai high hellnya kembali. Nasib bawahan, bisanya patuh dan diam. Menerima apa saja yang dikatakan oleh atasan. Satu yang bisa dia lakukan. Mengumpat di dalam hati sepuasnya.
"Jangan sampai ada yang masuk ke ruangan saya. Dan jangan menganggu saya, jika tidak saya panggil." perintahnya saat mereka sudah di depan ruangan Renggo.
"Jawab!!" bentak Renggo.
"Baik pak. Ehh,,, Tuan. Saya mengerti." ucapnya dengan satu tarikan nafas. Padahal nafasnya sedang tersengal-sengal.
Brakk...
Matanya melotot terkejut, Renggo menutup pintu dengan keras dan kasar. "Huhhhffft...." badannya lemas.
Badannya langsung merosot ke lantai. Duduk berselonjor, dengan tangan memijat pergelangan kakinya yang terasa linu.
"Ckkk,,,, pasti Tuan Renggo bertengkar dengan Nona Sara. Tapi kenapa selalu begitu ceritanya. Bertengkar dengan siapa, yang kena imbas siapa." keluhnya.
Segera Renggo duduk di atas kursi single kebesarannya. Membuka laptop dan melihat CCTV yang ada di kediamannya.
"Sejak kapan dia datang." Renggo melihat Erlangga dan Sara sudah duduk berdua di ruang tamu.
Renggo mengatur gambar CCTV di laptopnya. Juga dengan suaranya. Sehingga dirinya dengan mudah melihat apa yang sedang mereka lakukan dan mendengar apa yang mereka bicarakan.
Sebenarnya Renggo bisa langsung pulang setelah pertemuan. Menemani Sara untuk bertemu dengan Erlangga.
Tapi ego Renggo terlalu tinggi. Dia memilih memantau dari CCTV rumah yang terhubung dengan laptopnya.
Mata Renggo membulat, mendengar Erlangga berkata kasar dengan menaikkan nada suaranya saat berbicara dengan Sara. "Berani sekali dia membentak calon istriku." sungut Renggo, tidak terima.
"Itu juga, kenapa Sara malah senyum. Seperti orang tidak waras saja. Awas saja kalau sampai dia mengkhianatiku."
Renggo terbakar rasa cemburu, hanya karena Sara tersenyum pada Erlangga. Renggo berdiri, mengambil sebotol air dingin. Meminumnya hingga tandas. Dan kembali ke tempat duduknya.
Mata tajam penuh emosi yang diperlihatkan Renggo secara perlahan berangsur sirna. Mendengar penuturan Sara. "Hatimu memang baik. Kamu sama sekali tidak mengatakan persyaratan yang diajukan oleh kedua orang tuaku."
"Sara, aku tidak salah menunggu dirimu selama ini." ucap Renggo merasa keputusannya untuk bersabar selama setahun lebih, membuahkan hasil.
"Heh,,,, kenapa kamu berikan putra kita pada dia!!" seru Renggo, berusaha mencegah Sara yang memberikan baby Al pada Erlangga, dan Sara berjalan ke belakang.
"Awas saja, jika kamu berani mencelakai anakku." geram Renggo, tetap menatap layar laptop.
Renggo merasa jika gerak gerik Erlangga mencurigakan. "Kenapa dia?" gumamnya.
Renggo membesarkan layar laptopnya. Menatap intens apa yang dilakukan Erlangga pada sang putra. "Untuk apa?" tanya Renggo pada dirinya sendiri.
Renggo melihat dengan jelas, Erlangga mencabut rambut sang putra. Memasukkannya ke dalam saku miliknya.
__ADS_1