VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 86


__ADS_3

"Maaf." ucap Melva yang memang tidak sengaja menabrak tubuh Viki dari depan.


Viki hanya diam, dan berniat melanjutkan langkahnya kembali. Dengan tangan kanan memegang paper bag.


Tak ada niat dari Viki untuk sekedar menoleh, atau melihat siapa yang menabraknya. Karena bagi Viki, terlalu membuang-buang waktu.


Sementara Rey berjalan sedikit di belakang Viki. Padahal Viki sudah menyuruh Rey untuk berjalan tepat di sampingnya.


Namun Rey tetap tidak mau. Membuat Viki membiarkan saja, apa yang Rey ingin lakukan. "Tunggu." Melva memegang lengan Viki, saat Viki hendak melangkah pergi.


Segera Rey, menepis tangan Melva. "Maaf Nona. Jaga sikap anda." tutur Rey, merasa jika perempuan tersebut terlalu lancang.


Melva memakai topi, kacamata beserta masker. Membuat Rey sama sekali tidak mengenalinya. Tapi tidak dengan Viki.


Viki sudah menebak. Siapa yang berada di balik masker dan kacamata tersebut. Terlebih Viki sangat familiar dengan harum parfum yang di kenakannya. Tapi Viki malas untuk meladeni atau sekedar menyapanya.


"Apa sih." gerutu Melva, menatap Rey dengan horor. "Aku Melva. Vik." ucap Melva lirih, lebih kepada berbisik. Melva seperti sedang menghindar dari seseorang atau dari sesuatu.


Rey terdiam sambil memutar kedua bola matanya jengah. "Ckk. Kenapa medusa ini ada di sini." gerutu Rey dalam hati.


Melva kembali memegang lengan Viki. Dan kali ini, Rey hanya diam. Tidak menyingkirkannya seperti sebelumnya.


"Bisa kita bicara di tempat lain." ucap Melva dengan nada lirih.


"Maaf Tuan Viki, setelah ini anda harus menghadiri pertemuan penting." ucap Rey.


Sebenarnya perkataan tersebut Rey tujukan pada Melva. Tujuannya hanya satu. Menolak permintaan Melva.


Viki tersenyum samar. Dia juga tahu, jika Rey hanya mengarang alasan. Karena setelah ini, Viki tidak ada pertemuan apapun. "Maaf, saya harus segera pergi." pamit Viki.


Tapi baru beberapa langkah, Viki dan Rey terpaksa berhenti. Di depannya sudah ada beberapa pencari berita yang membawa alat perang mereka.


Terlihat jelas, jika mereka hendak menuju ke arah Viki dan Rey berada. Tapi mereka yakin, jika bukan mereka berdua incaran para pencari berita. Namun Melva.


Sayangnya, Viki juga akan terlibat dalam maslaah ini. Kesempatan. Melva tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat, Melva membuka masker dan kaca matanya. Tak lupa melepaskan topi yang bertengger di kepalanya. Memasukkan ketiga benda tersebut ke dalam tasnya.


Mengibaskan rambutnya dengan anggun. Menatanya menggunakan jari jemari. Melva segera memegang lengan Viki Tersenyum dengan manis.


Viki memejamkan mata sesaat. Mau tidak mau dia harus mengikuti permainan Melva. "Beritahu yang ada di rumah." perintah Viki pada Rey.


Melva mengerjapkan kedua matanya karena bingung dengan perkataan Viki. "Di rumah. Beritahu." ucap Melva dalam hati. Melva mencebikkan bibirnya.


Tapi Melva memilih tak ambil pusing dan tidak peduli.


Yang terpenting sekarang hubungannya dengan Viki. Dengan adanya pencari berita meliputnya tepat bersama dengan Viki, pasti semua masyarakat akan melihatnya. Dan mereka akan berspekulasi jika dirinya dan Viki memiliki hubungan spesial.


Segera Rey menuliskan sesuatu di layar ponselnya. Mengirimnya pada seseorang yang di maksud oleh sang atasan.


Melva tersenyum penuh arti saat awak media mendekat ke arah mereka. Tidak dengan Viki, dia tersenyum samar. Tapi nampak jelas, senyum tersebut adalah senyum licik.


"Kau yang meminta Nona. Jadi, jangan salahkan aku, jika terjadi sesuatu padamu." dalam benak Viki, sudah terbesit rencana apa yang akan dia lakukan.


Demi melindungi orang yang dia sayang. Tidak masalah bagi Viki bertindak licik. Karena memang itu di perlukan. Terlebih untuk memghadapi orang seperti Melva dan juga yanga lainnya.


"Kita lihat. Setelah ini, apakah kamu akan baik-baik saja. Atau malah akan ada drama tragis dalam hidupmu." ucap Viki dalam hati.


Di rumah, Nara yang sedang bersama Bima segera membuka pedan yang dikirimkan oleh asisten Rey. Kedua mata Nara sedikit menyipit. HANYA PERMAINAN DAN PEMBUKTIAN. Itulah pesan singkat dari Rey.


"Permainan dan pembuktian." gumam Nara, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.


Nara bukan gadis bodoh. Segera dia membuka sebuah aplikasi media sosial yang menayangkan siaran langsung.


Nara melihat Melva bergelayut dengan mesra dan manja di lengan kekar kekasihnya. "Permainan dan pembuktian." gumam Nara kembali.


"Astaga. Apa abang akan melakukannya. Tapi perempuan itu tidak bersalah. Apa abang setega itu, menjadikan Melva sebagai umpan." ucap Nara dalam hati.


"Ckkk,,, biarkan saja. Lagi pula salah perempuan itu sendiri. Sok kecentilan. Padahal Abang nggak nanggepi." sungut Nara.


Nara terdiam dengan pikiran entah di mana. Tiba-tiba Nara teringat akan mamanya. Yang dengan tega meninggalkannya demi harta.

__ADS_1


......................


......................


"Ma, mama mau bawa Kinan kemana?" tanya seorang anak kecil pada seorang perempuan dengan pakaian mahal melekat di tubuhnya.


Perempuan tersebut terdiam dengan tangan memegang stir mobil. Pandangannya fokus ke depan.


"Ma...." panggil bocah itu lagi.


Mobil berhenti di tepi jalan. "Kamu sayang mama?" tanyanya pada bocah berusia sepuluh tahun.


Dia hanya mengangguk pelan. Tapi tampak jelas ekspresi takut di wajahnya. Seperti bocah tersebut dapat menebak apa yang terjadi.


"Keluarlah dari mobil. Dan jangan pernah menampakkan wajahmu di depan mama." ucapnya tanpa ragu, mengusir seorang bocah. Yakni anaknya sendiri.


"Apa mama akan bahagia, jika Kinan pergi?" tanyanya dengan senyum di bibir. Senyum yang terlihat tulus, meski untuk menarik kedua sudut bibirnya membutuhkan keberanian yang besar.


"Pasti." ucap sang mama dengan nada percaya diri.


Kinan membuka pintu mobil dan keluar sendiri. Menyaksikan bagaimana mobil tersebut berjalan meninggalkannya.


"Mama, papa, kakek, nenek. Bahkan semuanya. Kalian benar-benar tidak menginginkan Kinan. Meski hanya sekedar pura-pura." ucapnya dengan wajah sendu.


Bocah kecil berusia sepuluh tahun duduk di bawah pohon. Sendirian dengan air mata mengalir di pipinya. Sesekali dia tersenyum kecut dan menghapus air matanya.


Cukup lama dia berada di bawah pohon. Bahkan perutnya yang tidak terisi sejak pagi. Tidak ada rasa lapar yang dia rasakan.


Kepalanya terasa mau pecah. Karena terus menerus menangis. Hingga sepasang suami istri datang mendekat ke arahnya.


Bertanya padanya. Meskipun dia masih berusia sepuluh tahun. Tapi dia bocah dengan kecerdasan di atas rata-rata.


Dia hanya diam dan menangis saat ditanya. Dia memilih untuk menutup kehidupannya yang lalu. Tidak ingin mengingat perlakuan yang selama ini di terimanya.


Kedua orang tersebut membawa dia pulang ke rumahnya. Menjadikan dia sebagai anaknya.

__ADS_1


"Kinan telah tiada. Kini namaku adalah Kinara." ucap bocah tersebut di dalam hati.


__ADS_2