VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 83


__ADS_3

"Apa yang suster lakukan di sini?!" tanya Nara dengan tatapan menyelidik. Lantaran menemukan Puspa berdiri di depan pintu kamar Viki. Dengan tangan sudah memegang handle pintu kamar Viki.


"Eh,,, Nara." ucapnya dengan terbata. "Anu,,, itu." Puspa menghentikan kalimatnya. Seakan dirinya sedang berpikir.


"Iya, tadi saya sedang lewat. Terus, saya seperti mendengar bunyi dari dalam. Iya benar. Begitulah." ucap Puspa mencari alasan. Dan pastinya dengan ekspresi gugup yang jelas terlihat.


Nara memicingkan sebelah matanya. Nara bukan gadis bodoh. Nara tersenyum remeh, mendengar alasan yang di berikan oleh Puspa.


Mendengar suara dari dalam. Tidak mungkin. Karena kamar Viki di lengkapi peredam suara. Dan Nara tahu dengan pasti hal itu.


Sekeras apapun suara yang berasal dari dalam kamar Viki, tidak akan mampu di dengar dari luar. Bahkan suara jeritan sekalipun. Sedangkan, dari dalam kamar Viki. Dapat mendengar suara dari luar dengan jelas.


Nara mendekat ke arah Puspa. "Sebaiknya suster melakukan pekerjaan suster dengan baik. Jangan sampai suster kehilangan pekerjaan. Karena suster baru bekerja di sini beberapa hari." ucap Nara dingin.


"Silahkan suster kembali bekerja. Sebagai perawat dari calon mertua saya. Tuan Hendra." ucap Nara penuh penekanan. Serta mengusir Puspa dengan cara halus. Untuk meninggalkan depan kamar Viki.


Tanpa berbicara, Puspa membalikkan badan dengan perasaan dongkol. Kembali ke ruangan dimana Tuan Hendra di rawat. Karena memang kamar rawat Tuan Hendra tidak berada di kamar pribadi Tuan Hendra.


Beliau di tempatkan di kamar yang berada tepat di sebelah kamar pribadi beliau. Meskipun begitu, setiap malam Nyonya Rahma juga tidur di kamar yang menjadi kamar rawat sang suami.


Nyonya Rahma hanya akan masuk ke dalam kamarnya saat dia mandi atau berganti baju. Viki melakukan hal tersebut dengan sengaja.


Karena Viki masih teringat, jika sang papa paling tidak suka jika kamar tidurnya di masuki oleh sembarang orang tanpa seizin darinya.


"Mau menggoda abang. Jangan harap. Dasar kegatelan. Kamu pikir aku akan diam saja. Tidak akan. Abang Viki cuma milik Nara." sungut Nara, melihat badan Puspa yang semakin menjauh.


"Abang." Nara masuk ke dalam kamar Viki. Tampak Viki duduk dengan memangku laptop. Nara mendekat ke tempat Viki duduk. "Turun yuk. Sebentar lagi makan malam." ingat Nara, tapi Viki masih fokus ke layar laptopnya.


"Bang..." panggi Nara, duduk di sebelah Viki. Melihat apa yang ada di layar laptop Viki. Tapi sayangnya Nara sama sekali tidak mengerti apa yang tertulis di layar laptop Viki.


Viki menutup laptopnya. "Iya." Viki menaruh laptopnya di meja.

__ADS_1


"Sini." Viki menepuk pangkuannya, menyuruh Nara duduk di atas pangkuannya. "Ayo, sini." pinta Viki.


Nara tersenyum dan segera duduk di pangkuan Viki dengan malu-malu. Untuk menutupi rasa gugupnya, Nara menggelembungkan kedua pipinya. "Tadi kenapa. Hemm..." tanya Viki pelan. Menyingkirkan beberapa helai anak rambut di wajah Nara untuk di bawa ke belakang telinga. Viki mendengar suara Nara dengan orang lain di depan kamarnya.


Nara menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Viki. "Tadi sus Puspa berdiri di depan kamar abang." ucap Nara mengadu.


"Lantas." Viki memainkan ujung rambut panjang milik Nara, dengan sesekali mencium wangi rambut Nara.


Nara menghela nafas. "Sepertinya sus Puspa suka sama abang." ucap Nara merasa resah.


Viki tersenyum samar. Dirinya tahu jika saat ini Nara sedang cemburu. Viki menaruh dagunya di pundak Nara. "Biarkan saja." ucap Viki santai.


Nara langsung menengok dan memandang ke arah Viki. "Maksudnya?" tanya Nara dengan bibir cemberut.


Viki meremas dengan gemas bibir Nara yang manyun. "Biarkan saja. Tidak perlu kamu tanggapi." jelas Viki.


Nara semakin kesal. Membuang muka dari Viki. "Kamu tidak percaya dengan abang? Apa kamu pikir abang lelaki yang mudah memberi perhatian pada lawan jenis? Bukankah kamu tahu sendiri, bagaimana keadaan abang?" cecar Viki bertanya.


Nara duduk menyamping. Memeluk badan Viki. "Nara hanya takut. Sus Puspa lebih dewasa dari Nara." cicit Nara.


"Abang..." ucap Nara cemberut, tapi sebenarnya hatinya sangat senang mendengar perkataan Viki. Yang berarti Viki memilih Nara.


Viki terkekeh pelan. "Makanya, jangan berpikir macam-macam. Puspa tidak akan pernah bisa menggeser tempatmu di hati abang. Bahkan perempuan lain sekalipun. Meski mereka jauh lebih cantik dari Puspa." jelas Viki dengan pandangan teduh menatap ke arah Nara.


Nara terdiam dengan senyum samar di bibirnya. Viki mendekatkan kepalanya. Dan cup....


Sungguh, Viki tidak bisa menahan untuk tidak mengecup bibir mungil berwarna merah muda milik Nara.


Nara memejamkan mata. Membiarkan dan menikmati bibirnya bersatu dengan bibir milik Viki. "Eehhmmm...." terdengar suara lenguhan dari Nara.


Tangan Viki beralih ke tengkuk dan pinggang ramping milik Nara. Sementara kedua tangan Nara mencengkeram erat kedua pundak Viki.

__ADS_1


Viki dengan lembut dan penuh cinta mengakses setiap sudut di dalam rongga mulut Nara. Beberapa saat kemudian, Viki menghentikan kegiatannya.


Viki dan Nara mengatur nafas masing-masing, saling menempelkan dahi mereka. Nara masih memejamkan matanya. Dan Viki melihat ke wajah Nara yang tampak cantik dan manis.


Dengan pelan dan lembut, Viki mengusap air liur yang berada di sekitar bibir Nara. "Abang sayang sama kamu." gumam Viki.


Nara menurunkan pandangannya ke dada bidang Viki. Jari jemarinya seperti sedang menggambar lukisan abstrak di dada Viki. "Nara juga." ucapnya pelan, karena malu.


Viki membawa Nara ke dalam pelukannya. "Nara..." panggil Viki pelan.


"Hemmmm." Nara mencari tempat ternyaman pada tubuh Viki untuk menyandarkan kepalanya.


"Abang sudah menemukan orang tua kamu." ucap Viki pelan. Dan Nara masih memeluk tubuh Viki.


Tidak ada ekspresi kaget atau sikap terkejut dari Nara. Seperti perkiraan Viki sebelumnya. Jika sebenarnya Nara mengingat bagaimana dirinya di buang sewaktu kecil.


Karena Viki memperkirakan jika saat itu terjadi, Nara sudah berusia kurang lebih sepuluh tahun. Dan pastinya, memori otak Nara sudah dapat menyimpan kejadian tersebut.


Kejadian yang memang Nara sengaja lupakan. Karena kejadian tersebut membuat hatinya sesak. Kejadian yang menimbulkan trauma pada diri Nara.


Viki mengusap punggung Nara dengan lembut. "Bagaimana keadaan mereka?" tanya Nara lirih, membenamkan wajahnya di dada Viki.


"Baik." jawab Viki singkat. "Sangat baik. Bahkan mereka sama sekali tidak kekurangan uang. Tidak seperti kehidupan kamu sebelum bertemu denganku." ucap Viki dalam hati.


Mengingat ternyata Nara berasal dari keluarga kaya raya. Bahkan kekayaan mereka melebihi kekayaan yang di miliki Viki.


"Syukurlah." ucap Nara lirih. Meski Viki tidak bisa melihat ekspresi wajah Nara, tapi Viki dapat memastikan jika saat ini Nara tengah dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Kita hanya memerlukan ayah kandung kamu untuk menjadi wali saat kita menikah. Setelah itu, kamu akan tetap berada di sini. Menjadi Kinara. Nyonya Viki Radika Mahendra." tegas Viki.


"Meski Nara anak yang tidak diharapkan kelahiran dan kehadirannya." ujar Nara, terdengar sendu.

__ADS_1


"Dan aku akan sangat berterimakasih. Karena dengan mereka tak mengharapkan mu, berarti kamu seutuhnya menjadi milikku. Istri kecilku." ucap Viki mencium pucuk kepala Nara.


Perasaan Nara menghangat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Viki. "Katakan saja, jika kamu sudah siap. Kita akan menemui mereka." ajak Viki.


__ADS_2