
"Maaf Tante, Ella terlambat." ucap Ella merasa tidak enak. Lantaran mama Viki sudah datang terlebih dahulu.
"Bukan kamu yang terlambat. Tante yang memang sengaja datang lebih awal." ucap Nyonya Rahma. Karena memang sekarang waktu masih menunjukkan pukul tiga sore kurang lima belas menit.
Keduanya memesan minuman dan makanan ringan terlebih dahulu. Sebelum melanjutkan pembicaraan mereka.
"Ell, maaf. Tante mengganggu waktu kamu."
"Tidak apa-apa tante, Ella sama sekali tidak sibuk." jelas Ella.
Terlihat raut wajah mama Viki yang sedikit sendu. "Tante mau berbicara mengenai Viki." ucapnya lirih.
"Apa ada masalah tante. Katakan saja, Ella akan membantu sebisa mungkin." ucap Ella.
"Apa perusahaan Viki bermasalah. Tante tenang saja, Ella akan meminta suami Ella untuk membantu Viki. Jangan khawatir tante." Ella menggenggam telapak tangan mama Viki di atas meja.
Ella mengira jika Viki sedang dalam kesulitan. "Beruntung papa mengingatkanku, seandainya aku salah langkah. Meminta Ella menjauhi Viki, pasti aku yang akan menyesal." batin Nyonya Rahma.
"Bukan sayang, Viki baik-baik saja." ucap mama Viki.
"Lantas?" tanya Ella dengan raut wajah penasaran.
"Tante menjodohkan Viki dengan seorang perempuan. Tapi sepertinya Viki tidak menyukainya." ucap Nyonya Rahma denan lesu.
"Jadi karena ini, gue disuruh kemari. Ella, elo sekarang ada di tepi jurang." batin Ella.
"Tante hanya menginginkan putra tante bahagia. Sebagai orang tua, tante juga ingin melihat Viki mempunyai pasangan. Seperti kamu." jelas Nyonya Rahma.
"Sulit." batin Ella.
"Tante, Ella akan mencoba berbicara dengan Viki. Satu hal yang Ella minta. Jangan terlalu menuntut Viki. Ella hanya tidak ingin dia pergi lagi dari kita tan." ucap Ella dengan hati-hati.
Karena di hadapan Ella sekarang adalah mama dari Viki. Ella tidak ingin jika perkataannya di salah artikan oleh beliau.
"Tante hanya mencarikan pendamping yang baik untuk Viki." timpa Nyonya Rahma.
"Baik di mata tante, belum tentu baik di mata Viki." ucap Ella dengan penuh kelembutan.
"Selama ini, Viki selalu tertutup untuk masalah perempuan. Tapi Ella janji, Ella akan mencoba berbicara dengan Viki." imbuh Ella.
"Tapi Ella minta maaf sebelumnya, jika Ella akhir-akhir ini tidak bisa bertemu dengan Viki seperti dulu. Suami Ella sedikit pencemburu tan." jelas Ella.
"Iya Ell, tante mengerti." ucap Nyonya Rahma.
"Pantas Viki bisa berteman lama dengan kamu. Kamu memang perempuan baik. Jika saja, kalian berjodoh. Pasti dengan senang hati aku akan menerima kamu Ella. Sayangnya kalian tidak lebih dari hubungan persahabatan." batin Nyonya Rahma.
Selepas bertemu dengan Ella, Nyonya Rahma memutuskan untuk berbelanja terlebih dahulu. Sementara Ella, dia menuju ke perusahaan sahabatnya. Viki.
"Viki ada?" tanya Ella pada resepsionis.
"Nona Ella." sapanya begitu tahu bahwa Ella yang menanyakan pemilik perusahaan.
"Ada Non, Tuan Denis juga datang. Baru saja keluar, meninggalkan perusahaan. Tadi juga ada kekasih Tuan Viki juga. Tapi sudah pergi." jelas resepsionis tersebut.
"Kekasih." batin Ella, terkejut. Tapi Ella menutupi keterkejutannya dengan senyum di bibirnya.
__ADS_1
"Sibuk banget." celetuk Ella nylonong masuk ke dalam ruangan Viki.
Segera Viki berdiri, melepas kacamata bacanya dan menghampiri Ella.
"Gue khawatir bangat sama elo." ucap Viki memeluk erat Ella.
"Gue baik. Ngapain elo khawatir." cerocos Ella.
Viki melihat jika sahabatnya benar-benar baik-baik saja. Diapun bisa bernafas lega.
"Gue habis ketemu sama nyokab elo." Ella mendaratkan pantatnya di kursi empuk di pojok ruangan Viki.
"Pasti soal Giska." Viki melempar minuman kaleng ke arah Ella yang baru saja di ambilnya dari dalam kulkas. Karena Viki sengaja meletakkan pendingin minuman di ruangannya.
"Giska." tanya Ella.
"Perempuan yang di jodohkan sama gue." ucap Viki meneguk minuman kaleng.
"Tadi Denis kesini?" Viki hanya mengangguk menjawab pertanyaan Ella.
"Lalu Giska?" tanya Ella. Viki yakin jika resepsionis rempong yang mengatakannya pada Ella.
"Ckk..." decak Ella melihat Viki menggeddikkan kedua bahunya. Dan Ella tidak perlu bertanya terlalu jauh.
"Ya sudah, gue pulang." ucap Ella.
Viki melongo tak percaya dengan sahabatnya tersebut. "Elo kesini cuma numpang minum." seloroh Viki.
"Katakanlah begitu." Ella meninggalkan ruangan Viki.
Sontak keduanya mencuri perhatian para karyawan di perusahaan Viki. Padahal tadi sempat berhembus kabar jika kekasih Viki datang ke perusahaan. Tapi kenapa malah Viki keluar bersama dengan Ella.
"Elo bolos." tanya Ella setelah keduanya berada di parkiran.
"Gue ada keperluan. Lagipula sudah ada Rey." jawab Viki.
"Keperluan?" Ella melihat pergelangan tangannya. Waktu masih menunjukkan pukul empat sore kurang.
"Mau ikut?" ajak Viki.
"Oke." Ella meninggalkan mobilnya di perusahaan milik Viki.
Keduanya saling bercanda di dalam mobil yang sedang menuju apartemen Viki.
"Gue belum pernah elo ajak ke sini." ucap Ella
"Belum genap satu bulan gue beli."
"Perlu gue coba." kekeh Ella.
"Jangan macam-macam." dengus Viki. Mengingat jika Ella dan Vano pernah bercinta di dalam apartemen miliknya yang sudah dia jual.
Ella mendadak bingung saat mereka berdua sudah berada di depan pintu apartemen Viki. Bukannya langsung masuk, Viki malah membunyikan bel apartemen. Seperti tamu.
Ella melongo saat melihat siapa yang membuka pintu apartemen milik Viki. Gadis cantik.
__ADS_1
"Bang Viki." ucap Nara dengan senyum.
"Masuk Ell." ajak Viki.
"Mbakk..." sapa Nara, teringat jika Ella pernah memberinya uang.
"Hai." sapa Ella kembali.
"Sebentar Bang, Nara buatkan minum." ucap Nara melangkah pergi ke dapur.
"Gue akan cerita." ucap Viki melepas jas yang melekat di tubuh kekarnya.
"Tubuh elo nggak jauh beda sama milik suami gue. Tapi sayang..." ucap Ella dengan perkataan yang tak di teruskan.
"Nggak usah di terusin." ucap Viki kesal.
"Bang Viki...!!" teriak Rini dari dalam, dengan menggandeng Bima.
Ella dibuat terkejut kembali dan menatap tajam ke arah Viki. "Iya, gue jelasin." ucap Viki.
"Sini sayang." Viki membawa Bima ke pangkuannya.
"Bima sudah minum susu?" tanya Viki.
"Udah." jawab Bima.
"Ini Bang, Non minumnya." Nara menaruh dua gelas berisi minuman di meja.
"Terimakasih."
"Nara." ucap Nara, karena Ella belum mengetahui namanya.
"Ella." sahut Ella memperkenalkan diri.
"Baik Non."
"Panggil saja,,," Elle sepertinya tengah berpikir.
"Kak." imbuh Ella memutuskan.
"Kak, kenalkan ini Rini dan Bima. Adik Nara." jelas Nara.
"Kenapa elo?" tanya Nara melihat ekspresi wajah Viki yang masam.
"Elo di panggil kak. Lah gue,, abang." omel Viki tidak terima.
"Ya iyalah,, tampang gue emang masih kakak-kakak. Elo,,," Ella menggelengkan kepala.
"Ckkk. Suka-suka elo." pasrah Viki.
"Ada yang mau menjelaskan." ucap Ella.
"Bang Viki nolongin adik Nara. Bima. Dia sedang sakit. Dan karena Bima sudah sembuh, Nara mau pamit pulang." ucap Nara dengan sopan.
Ella tidak bertanya jauh tentang mereka pada Nara. Tapi Ella akan bertanya padan Viki. Pasti.
__ADS_1