
"Kenapa seperti itu sayang?" tanya Nyonya Rahma.
Nara meminta pada Tuan Hendra dan Nyonya Rahma untuk menyembunyikan identitasnya sebagai calon istri dari Viki.
"Ma, sudahlah. Kita lakukan saja apa yang diinginkan oleh Nara. Mungkin Nara mempunyai alasan." ujar Tuan Hendra.
"Iya." jawab Nyonya Rahma dengan ketus. Padahal beliau sangat penasaran, kenapa Nara menginginkan hal tersebut.
Nyonya Rahma merasa kesal dan sebal pada sang suami. Lantaran malah mengizinkan Giska untuk bermalam disini.
Dan sekarang, Nara malah menyembunyikan identitasnya. Membuat Nyonya Rahma semakin emosi.
Seandainya saja Nara mengatakan jika dirinya adalah calon istri dari Viki, pasti Giska tidak akan mengejar Viki lagi. Begitulah yang dipikirkan oleh Nyonya Rahma.
Padahal, yang namanya ular berbisa, tetap saja akan menyemburkan bisanya tanpa memandang siapa yang akan terkena bisa racunnya.
Tanpa permisi, Nyonya Rahma pergi dari ruang tamu. Meninggalkan sang suami dan Nara. Tuan Hendra hanya tersenyum dan menggeleng menatap kepergian sang istri.
Berbeda dengan Nara. Dia merasa bangga melihat calon mertua mengambil keputusan seperti tadi. Padahal Nara tahu, jika sebenarnya Tuan Hendra juga lebih tidak menyukai Giska.
Nara yakin, atas dasar rasa kemanusiaan. Tuan Hendra memperbolehkan Giska bermalam di kediamannya. Meski hanya semalam.
Semalam. Tidak mungkin. Nara dapat menebak, jika pasti Giska sedang membuat dirinya akan tinggal di rumah ini untuk beberapa hari ke depan.
"Om, Nara ke kamar dulu." pamit Nara, Tuan Hendra mengangguk pelan dan tersenyum.
Viki, dia berlari keluar dari bar melewati jalan belakang. Setelah dia melancarkan aksinya untuk memeluk dan mencoba memegang tubuh lelaki dan membelainya meski dari belakang.
__ADS_1
Awalnya, target Viki tidak menyadari jika yang memeluk dan meraba dadanya dari belakang adalah juga seorang lelaki.
Lelaki tersebut mengetahuinya saat Viki menghentikan aksinya. Viki merasa jijik saat melakukannya. Membuatnya menarik kembali tangannya.
Naas, saat Viki menarik tangannya. Dengan cepat, lelaki tersebut malah menahan tangan Viki supaya tetap berada di tubuhnya bagian depan.
Viki terus mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan lelaki tersebut. Membuatnya membalikkan badan.
Betapa terkejutnya saat dia melihat jika yang memeluknya dari belakang adalah seseorang yang mempunyai badan seperti dirinya. Lelaki.
Beruntung Viki menggunakan masker, sehingga dia tidak mengenalinya. Saking terkejutnya, dia melepaskan tangannya dari tangan Viki.
Saat tangannya sudah bebas, Viki mengambil kesempatan tersebut untuk segera melarikan diri dan pergi keluar tempat yang penuh dengan anak manusia tersebut.
Tapi ternyata semuanya tidak semudah yang dipikirkan oleh Viki. Tentu saja lelaki tersebut tidak terima. Dirinya merasa dilecehkan.
Tidak mungkin kembali lewat pintu utama. Bisa mati dia dihajar mereka. Terlebih jika wajahnya sampai dilihat oleh orang banyak. Pasti karirnya akan hancur seketika.
Itupun, Viki harus mengeluarkan uang untuk membuat seseorang menunjukkan jalan keluar dari belakang.
Viki tertawa lepas setelah berada di dalam mobil, dan sedang melaju menuju arah pulang. "Gue normal." ucapnya dengan senang. Seakan mendapatkan sesuatu yang begitu berharga di hidupnya.
"Nara, kita akan menikah." ucap Viki dalam hati, dengan santai dan senyum mengembang di bibir, Viki masuk ke dalam rumah.
Tanpa dia tahu, jika saat ini ada seorang perempuan yang dia tidak ingin lihat telah tertidur lelap di salah saru kamar dalam rumahnya.
Dan Melva, dengan kekuasan yang dimiliki sang papa. Dia dengan cepat dapat mengetahui siapa Nara. Tapi Melva tidak mengetahui siapa Nara yang sebenarnya.
__ADS_1
Melva hanya mengetahui, jika Nara berasal dari keluarga yang tinggal di pemukiman padat penduduk. Serta anak yatim piatu, dengan dua adik.
"Pemulung. Pekerjaan macam apa itu." sinis Melva. Merendahkan Nara. Melva membaca dari kertas yang dia pegang. Sehingga dia mengetahui biodata dari Nara. "Pasti dia mendekati Viki karena uang. Sok lugu." imbuhnya melempar kertas tersebut.
"Viki. Tidak mungkin, jik dia tidak tahu. Tapi kenapa, dia malah memilih perempuan seperti dia. Tidak sebanding dengan Viki." gumam Melva.
Karena orang seperti Viki, tidak mungkin tidak tahu latar belakang dan kehidupan Nara. "Gue akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milik gue. Secara perlahan, tapi pasti." ucap Melva dengan yakin.
"Apalagi lawan gue hanya perempuan seperti dia." lanjutnya dengan tersenyum miring.
"Bagaimana? Dia tidak curigakan?" tanya Nyonya Vanya pada seseorang di seberang ponsel. Beliau membawa ponselnya ke dalam kamar mandi dan menghubungi seseorang secara diam-diam.
Tentu saja, karena dia takut. Jika sang suami mendengar percakapannya. Meski Tuan Diego sudah terlelap dalam tidurnya.
"Bagus. Jaga lisanmu, jika tidak ingin kehilangan lidah." ancam Nyonya Vanya, mematikan ponselnya.
Ternyata Nyonya Vanya mengetahui jika Melva menyuruh seseorang untuk menyelidiki tentang Nara. Dengan segera, Nyonya Vanya mendatangi orang tersebut.
Nyonya Vanya tidak ingin orang tersebut bertemu dengan Melva terlebih dahulu. Dengan memberikan uang padanya, Nyonya Vanya membeli semua laporan penyelidikan yang seharusnya di berikan pada Melva.
Setelahnya, Nyonya Vanya hanya memberikan selembar kertas. Dan menyuruhnya untuk diberikan pada Melva.
Pastinya orang tersebut dengan senang hati menerima uang dari Nyonya Vanya. Siapa yang menolak mendapatkan rezeki seperti itu.
Dua orang memberinya uang dengan jumlah yang besar. Sangat menggiurkan.
Aman. Untuk saat ini, rahasia dari Nyonya Vanya masih aman.
__ADS_1