VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 108


__ADS_3

"Garis dua." gumam Giska dengan suara bergetar, hingga benda kecil berbentuk persegi panjang dan pipih tersebut jatuh ke lantai kamar mandi.


Giska menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya. Badannya terhuyung ke belakang. Beruntung letak tembok tak jauh di belakang dari tempatnya berdiri. Kedua matanya menjadi buram karena air mata yang sudah terkumpul di pelupuk matanya.


Badannya jatuh terperosot. Air mata mengalir bak air sungai di kedua pipinya tanpa terkendali.


"Pa, kenapa Giska tidak keluar?" tanya Nyonya Gina merasa resah.


Tuan Marko mengusap bahu sang istri. "Tenang ma, mungkin saja belum selesai." Tuan Marko berusaha menenangkan sang istri.


Meski pada kenyataannya, dirinya sendiri saat ini juga sedang di landa rasa gelisah dan rasa takut yang luar biasa.


Orang tua mana yang tidak akan merasa takut. Mempunyai anak perempuan. Hamil sebelum nikah. Bukan masalah nama baik yang saat ini Tuan Marko pikirkan. Beliau lebih memikirkan sang putri.


Mengingat sampai saat ini Giska masih menaruh harapan pada sosok Viki. Tuan Marko juga tahu, atau bisa menebak. Siapa lelaki yang sudah menanam benih di rahim sang putri. Itupun jika benar, Giska sedang berbadan dua.


Tuan Marko juga tahu, jika Renggo melakukannya atas ajakan sang putri. Dirinya tidak bisa langsung menghakimi lelaki tersebut.


Meski pada kenyataannya Renggo juga bersalah. Karena menuruti ajakan dari Giska. Lagi pula, kucing mana yang tidak akan tertarik saat ada ikan asin di depannya.


Lantaran Giska juga yang menyebabkan semua ini. Jika saja Giska tidak mendatangi Renggo, pasti mereka juga tidak akan pernah berbuat hal seperti itu.


"Ma..." panggil Tuan Marko, Nyonya Gina sudah tidak bisa menunggu lagi. Beliau mask ke dalam kamar mandi.


"Giska, sayang." panggil Nyonya Gina membuka pintu kamar mandi. Sesuai keinginan sang mama, Giska tidak mengunci pintu kamar mandi saat dirinya berada di dalam.


"Giska." gumam Nyonya Gina, melihat Giska duduk bersender di tembok. Dengan air mata membasahi wajah cantiknya.

__ADS_1


Deggg,, Pandangan mata Nyonya Gina mengarah pada benda pipih dan kecil tergeletak di lantai. Di mana terdapat garis dua, dengan sangat jelas pada benda tersebut.


Nyonya Gina terdiam sebentar. Seolah pikirannya sedang bekerja untuk mencerna sesuatu. "Tuhan." gumam Nyonya Gina tak lagi dapat berpura-pura tegar.


Di peluknya sang putri dan di tenangkannya. Tuan Marko hanya berdiri di ambang pintu. Tanpa dirinya masuk dan bertanya apa hasilnya. Tuan Marko sudah bisa menebak apa yang terjadi pada putrinya.


Di perusahaan, Viki dan Nara sedang menikmati kebersamaan di ruangan Viki. Tanpa mereka ketahui, Rey sedang menghadang Melva yang ingin masuk ke dalam ruangan Viki.


"Perusahaan abang besar." cicit Nara merasa takjub dan kagum.


Viki menaruh kepalanya di pundak Nara, melihat wajah cantik sang kekasih dari samping. "Nanti ini juga akan jadi milik kamu." Viki menyisihkan rambut yang berada di wajah Nara. Membawanya ke belakang telinga.


Nara melirik ke arah Viki. Cup... Viki mencium pipi sang kekasih. "Sebentar lagi abang dan kamu akan menikah. Itu artinya, semua milik abang akan jadi milik kamu." jelas Viki membawa seluruh rambut Nara ke sisi lain, dirinya ingin leluasa mencium harum tubuh Nara.


"Bang geli..." desah Nara, saat hidung Viki mengendus leher Nara. Membuat leher Nara dan hidung Viki menempel.


"Kamu wangi bangat sih sayang." ujar Viki dengan nada rendah, memejamkan mata. Menikmati aroma wangi leher Nara.


Viki mengubah posisi duduk Nara menjadi menghadap dirinya. Meski Nara masih berada di pangkuan Viki.


Tangan Viki menangkup kedua pipi Nara. Mencium bibir Nara dengan pelana dan lembut. Nara masih memejamkan mata.


Cup,,, cup,,, cup,,, Viki mencium seluruh wajah Nara.. Membuat si empunya tersenyum senang bercampur geli. Spontan tangan Nara melingkar di leher milik Viki.


Cup,,,,, Viki mulai mengulum bibir Nara. Dan ini bukan kali pertama Viki dan Nara melakukannya. Membuat Nara mulai bisa mengimbangi ciuman yang di berikan oleh Viki pada bibirnya.


Tangan Viki merayap pelan ke punggung Nara. Mengelusnya dengan pelan. Meski tangan Viki berada di luar baju, dan tidak bersentuhan dengan kulit Nara. Tapi seperti ini saja, sudah membuat Nara seperti tersengat listrik.

__ADS_1


Tangan Viki yang bebas mulai menyentuh salah satu dada Nara dari luar baju. Perlahan tapi pasti, tangan Viki memberikan sengatan-sengatan kecil pada tubuh Nara.


Tanpa melepas ciumannya, tangan Viki yang berada di punggung Nara beralih merayap semakin ke bawah. Menekan dan meremas pantat sintal milik Nara. Membuat Nara sedikit maju ke depan.


Dua benda keramat saling bertabrakan dan bersentuhan. Meski di lapisi oleh kain, Nara dapat merasakan sesuatu yang mengeras. Yang saat ini menyentuh miliknya yang juga sudah basah.


Dari pantat, tangan Viki beralih ke tempat keramat milik Nara. Mengusapnya dengan lembut dari luar dress milik Nara.


Suara lenguhan terdengar dari bibir Nara. Saat Viki semakin menekan tangannya ke area keramat miliknya yang sudah basah sambil menggerakkan telapak tangannya.


Viki hanya berani melakukannya di luar dress yang di pakai oleh Nara. Dirinya tidak ingin menyentuh langsung kulit atau bagian tubuh Nara secara langsung.


Viki takut tidak bisa menahan gejolak hasratnya. Dan malah akan merusak hal yang seharusnya di jaga sampai menjadi miliknya yang sah di mata agama dan hukum.


Viki melepaskan pangutan bibirnya secara perlahan. Menyatukan dahinya dengan dahi milik Nara. Namun kedua tangannya masih saja beraksi di tempat paling sensitif untuk Nara.


"Bang..." panggil Nara dengan tatapan mata sayu, membuat Viki kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Nara yang sudah terlihat sedikit bengkak.


Dengan tetap menempelkan bibirnya, Nara membusungkan dadanya. Dan sedikit mengangkat pantatnya. Membuat tangan Viki bergerak lebih leluasa.


"Nikmatkan?" tanya Viki di sela-sela ciuman mereka. Nara hanya diam dan menikmati setiap sentuhan yang di buat oleh Viki.


Tapi Viki masih waras untuk tidak membuat tanda apapun di tubuh Nara. Viki tidak ingin semua orang memandang Nara dengan tatapan remeh. Viki benar-benar ingin menjaga marwah Nara di hadapan banyak orang.


Sesuai instuisi, Nara malah menggoyangkan pantatnya. Viki melepaskan ciumannya. Beralih mengendus leher putih dan harum milik Nara.


Tangan Nara mencekal erat kedua pundak Viki dengan kepala menengadah, memberi jalan untuk Viki menikmati wangi lehernya. Dengan pantat tetap bergoyang.

__ADS_1


Viki memandangi wajah Nara yang terpejam sembari berekspresi imut menurut Viki. "Segera mungkin aku akan menikahi kamu." ucap Viki dalam hati.


Brak..... terdengar suara keras gang langsung menghentikan kegiatan keduanya.


__ADS_2