VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 98


__ADS_3

"Maaf Tuan, saya ingin menyampaikan sesuatu." ujar bawahan Tuan Smith, yang beliau perintahkan untuk mencari tahu tentang Viki.


Tanpa berbicara, Tuan Smith memandang ke arah bawahannya. "Akhir-akhir ini, Tuan Viki di kabarkan dekat dengan Melva. Artis yang berada di bawah naungan perusahaannya. Bahkan beberapa kali awak media berhasil mendapatkan potret keduanya. Saat mereka sedang pergi berdua." lapornya.


"Kamu yakin. Perempuan itu adalah Melva." tanya Tuan Smith dengan tatapan tidak percaya.


"Benar Tuan. Melva. Putri dari Tuan Diego sebelum beliau menikah dengan Nyonya Vanya." lanjutnya.


Tuan Smith tidak terkejut saat mendengar nama mantan istrinya di sebut sebagai mama sambung dari artis bernama Melva.


Sebab, dirinya sudah mengetahui sejak awal. Dengan siapa Vanya akan membangun rumah tangga. Setelah bercerai darinya.


"Apa kamu sudah menyelidiki kediaman Viki?" tanya Tuan Smith.


"Maaf Tuan, untuk itu. Saya tidak bisa menembus masuk. Keamanan di sana di jaga dengan sangat ketat. Bahkan untuk komunikasi lewat telepon juga." lapornya.


Tuan Smith masih merasa janggal. Dirinya merasa jika bukan dengan Melva Viki akan menikah. "Jika dengan Melva, lantas kenapa Viki mendatangiku. Bukankah seharusnya dia mendatangi Diego." ucap Tuan Smith dalam hati.


"Selidiki lagi. Kali ini, cari dengan baik dan lebih jeli." perintah Tuan Smith untuk kedua kalinya. "Jika bisa, selidiki semua orang yang tinggal di dalam rumah tersebut. Segera." lanjut Tuan Smith.


"Baik." ucapnya.


"Cari tahu juga tentang kedua orang tua Vanya. Dan juga seorang anak perempuan yang tinggal bersama mereka. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Kayla. Dia bernama Kayla." ucap Tuan Smith.


Sejenak bawahan Tuan Smith tertegun. Kenapa majikannya menyuruhnya untuk menyelidiki seorang anak di keluarga Vanya.


Sepuluh tahun yang lalu. Dia memperkirakan jika usia anak perempuan itu saat ini sudah beranjak menjadi seorang gadis remaja.


"Dan seorang anak perempuan. Siapa dia." gumamnya. Karena setahunya, tidak ada anak perempuan di keluarga kedua orang tua Vanya. Selain Vanya sendiri. Karena Vanya hanya anak tunggal.


Karena memang, dengan sangat rapi. Kedua orang tua Vanya menyembunyikan keberadaan Kayla dari publik. Sehingga tidak ada yang tahu, siapa itu Kayla.

__ADS_1


"Ingat. Ini adalah perintah rahasia. Jangan sampai ada orang lain yang mengetahuinya. Aku pikir, kamu cukup mengerti dengan perkataanku ini." Tuan Smith menatap bawahannya dengan pandangan penuh ancaman.


"Baik Tuan." ucapnya dengan yakin. Segera dia meninggalkan ruangan atasannya tersebut. Dan melakukan perintah dari Tuan Smith.


"Kayla." ucap Tuan Smith, menyandarkan badannya dengan memejamkan kedua bahunya. Sembari pikirannya kembali mengingat wajah cantik dari sang putri.


"Sudah sepuluh tahun lebih aku tidak melihatnya. Pasti sekarang dia tumbuh menjadi perempuan yang cantik." gumam Tuan Smith.


Ingin sekali Tuan Smith menemui mantan istrinya. Tapi dia tidak bisa melakukannya. "Pasti Binta akan merasa sakit hati." gumamnya.


Sebab, dirinya sudah sepakat dengan sang istri. Jika tidak akan kembali menemui Vanya. Apapun yang terjadi.


Tuan Smith dengan pelan mencubit pangkal hidungnya berkali-kali. "Semoga aku segera bisa menemukannya." gumam Tuan Smith.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setiap hari, kini Nara lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan Tuan Hendra. Dan pagi tadi, ada drama kecil yang terjadi di ruang rawat Tuan Hendra.


Alhasil, seisi rumah harus membujuknya. Tapi tetap tidak bisa. Rini tetap menangis di dalam kamar Tuan Hendra. Sembari tangannya memegang lengan Tuan Hendra. Dan tak ingin melepaskannya.


Nara pun di buat terheran dengan sikap dan tingkah sang adik. Tapi Nara dapat memahami kenapa Rini bersikap seperti itu.


Karena mungkin Rini sudah lama tidak merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Sementara saat masih sehat, Tuan Hendra begitu menyayangi Rini dan juga Bima.


Akhirnya Nyonya Rahma berjanji akan mengizinkan Rini tidur dengan dirinya bersama sang suami nanti malam. Perkataan Nyonya Rahma mampu membuat Rini melepaskan tangannya di lengan Tuan Hendra. Membuat Rini dengan senyum merekah berangkat ke sekolah.


Semua orang hanya menggelengkan kepala melihat sikap Rini. Nyonya Rahma dan Tuan Hendra tidak marah. Tapi, Nara tetap meminta maaf atas perbuatan adiknya.


Kedua orang tua Viki malah senang dengan sikap yang di tunjukkan Rini. Mereka berspekulasi jika Rini benar-benar menyayangi keduanya sebagai orang tuanya.


Di dalam kamar, Nara membawa buku pelajaran saat menemani calon mertuanya. "Pasti om penasaran. Kenapa Nara tidak belajar dengan seorang guru." tebak Nara, saat Tuan Hendra memandangnya dengan tatapan intens.

__ADS_1


Dikarenakan Tuan Hendra koma beberapa bulan. Menjadikan rahang beliau sedikit kaku untuk di gerakkan. Sehingga setiap hari akan ada dokter spesialis yang datang memeriksa. Dan pastinya adalah dokter rekomendasi dari Dokter Andrew.


Nara menoleh ke belakang. Di mana pintu ruangan tersebut tertutup rapat. Nara sedikit mencondongkan badannya. Membuatnya lebih dekat dengan Tuan Hendra.


"Putra tersayang om ternyata sangat pencemburu." ucap Nara lirih, dan segera kembali duduk dengan t badan tegap. "Tapi Nara suka." lanjut Nara tersenyum simpul.


Tuan Hendra tersenyum dan mengangguk melihat sikap calon menantunya. "Bag-gus." ucap Tuan Hendra lirih.


Nara mengangkat kedua jempol tangannya di depan wajahnya. "Tapi om tenang saja. Abang bilang akan mencarikan guru pengganti." ucap Nara lagi.


Nara kembali sedikit mencondongkan badannya ke arah Tuan Hendra. "Kata abang, dia tidak percaya lagi dengan tante." ucap Nara lirih.


Perkataan Nara membuat senyum di bibir Tuan Hendra semakin merekah sempurna. "Apa Viki sudah menemukan kedua orang tua kamu." ucap Tuan Hendra lirih, sedikit terbata.


Nara tersenyum dan mengangguk. "Sebentar lagi Nara akan mempunyai KTP." ucap Nara tersenyum manis.


Tuan Hendra tahu, jika senyum Nara mengandung luka. Dan beliau juga tahu, jika Nara tidak ingin membicarakan mengenai kedua orang tuanya.


Tuan Hendra mengalihkan topik pembicaraan mereka. "Kapan Viki akan mendatangkan guru baru untuk kamu?" tanya Tuan Hendra dengan menggerak-gerakkan jarinya yang sedikit terasa kaku.


"Nara juga tidak tahu om. Terserah abang saja." ucap Nara.


Puspa membuka pintu dengan pelan dari luar. Pemandangan yang dia lihat pertama kali adalah keakraban antara Nara dan Tuan Hendra.


Pemandangan yang menurut semuanya adalah pemandangan yang manis, tapi tidak dengan apa yang di pikirkan oleh Puspa.


Belum hilang rasa kesal Puspa, Nyonya Rahma yang berada di belakanganya juga masuk ke dalam kamar rawat Tuan Hendra.


Membuat ketiganya kini berbincang ringan dengan kedua sudut bibir mereka selalu terangkat ke atas. "Kenapa semua orang menyukai Nara. Sebenarnya siapa sih dia. Apa dia tidak punya keluarga." ucap Puspa dalam hati.


Puspa pernah bertanya pada pekerja di kediaman Tuan Hendra, tentang sosok Nara. Tapi bukan jawaban yang dia inginkan yang dia dengar.

__ADS_1


Namun malah peringatan dari para pekerja di rumah Tuan Hendra, untuk tidak terlalu ikut campur dan menjadi seperti seorang detektif.


__ADS_2