VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 32


__ADS_3

Jujur, Nara merasa kasihan pada Rini, kerena dari tadi mereka terus berjalan. Hanya untuk mendapatkan kontrakan yang murah. Karena uang Nara yang tinggal sedikit.


"Nara..." panggil seseorang di samping Nara.


Segera Nara dan Rini menolah ke samping. "Tante Rahma." sapa Nara, segera berdiri dan mencium punggung telapak tangan Nyonya Rahma.


Nyonya Rahma melihat kearah dua bocah yang duduk di belakang Nara. "Mereka berdua adik Nara tante." ucap Nara.


"Halo." Nyonya Rahma berjongkok di depan mereka. Dengan sopan, Rini dan Bima bersalaman dengan Nyonya Rahma. "Anak pintar." puji Nyonya Rahma.


"Kalian mau kemana?" tanya Nyonya Rahma. Melihat ada dua tas dan kantong plastik berukuran besar berada di samping Rini.


"Mau cari kontrakan bu." jawab Rini.


"Panggil tante sayang. Seperti kakak kamu." ucap Nyonya Rahma.


"Nama kamu siapa sayang?" tanya Nyonya Rahma dengan lembut.


"Saya Rini, dan adik saya Bima, tante." ucap Rini dengan sopan memperkenalkan dirinya dan adiknya.


"Anak-anak yang sopan." batin Nyonya Rahma.


"Pasti kalian sedang menunggu kedua orang tua kalian." tanya Nyonya Rahma.


"Ibu sama bapak sudah tidak ada tante." jawab Rini tersenyum.


"Kedua orang tua kami telah meninggal tante." ucap Nara menjelaskan.


"Maaf, tante nggak tahu sayang." ucap Nyonya Rahma menyesal.


"Tidak apa-apa tante." ujar Nara.


"Memang kenapa dengan kontrakan kalian yang lama?" tanya Nyonya Rahma.


"Kontrakan yang lama sudah habis, jadi kita mau cari kontrakan yang baru." ucap Nara, segera membuka mulutnya. Sebelum Rini berbicara. Rini hanya diam mendengar kakaknya berbicara.


"Bukannya bisa di perpanjang lagi?"


"Ada orang yang ingin menyewanya dengan harga lebih mahal tante." ucap Nara berbohong.


"Emmm..." gumam Nyonya Rahma.


Nyonya Rahma tidak terlalu kaget. Karena memang biasanya, pemilik kontrakan atau rumah yang disewakan akan memberikan pada seseorang yang berani memberikan mereka uang lebih banyak. Dan itu terjadi di setiap daerah manapun.


"Maafkan Nara. Karena Nara berbohong." batin Nara. Karena Nara tidak mungkin menceritakan kejadian sebenarnya pada Nyonya Rahma.


"Kalian sudah dapat kontrakannya?"


"Belum tante." jawab Rini dengan polos.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kalian ikut tante saja?" tawar Nyonya Rahma.


Entah kenapa, Nyonya Rahma merasa kasihan melihat ketiga anak tersebut. Apalagi Nara pernah membantunya.


Dan Nyonya Rahma yakin jika mereka anak baik-baik. Karena jika tidak, tidak mungkin Nara mengembalikan dompet miliknya yang terjatuh.


Padahal di dalamnya terdapat banyak uang cas. Pasti jika memang Nara berniat buruk, dia tidak akan mengembalikan dompetnya pada sang pemilik.


Hening. Baik Nara maupun Rini tidak ada yang menjawab. Karena Nara baru bertemu dengan Nyonya Rahma kali keduanya.


Dan Nara juga tidak begitu mengenal Nyonya Rahma. Bukannya berpikir negatif atau berpikir buruk mengenai orang yang hendak memberi bantuan terhadap dirinya.


Tapi Nara lebih waspada dan berhati-hati. Apalagi dirinya tidak sendiri. Ada Rini dan Bima yang harus dia jaga.


Nyonya Rahma tersenyum. Sepertinya beliau tahu apa yang ada dalam pikiran Nara. "Kamu tidak perlu khawatir. Jika saya berniat jahat, kamu bisa melaporkannya pada polisi." ucap Nyonya Rahma.


"Bukan seperti itu tante." elak Nara merasa tidak enak hati.


"Nara hanya tidak mau membuat repot tante." ucap Nara mencari alasan.


"Lagi pula apa tante tidak takut pada kami. Lihat kami tante. Bisa saja kami berniat buruk pada Tante." ujar Nara.


"Tante percaya sama kamu. Lagi pula, jika kamu memang ingin berniat jahat sama tante, kamu harus berpikir ulang." ucap Nyonya Rahma.


"Suami tante seorang pejabat di pemerintahan." jelas Nyonya Rahma.


"Wah,, suami tante lurah ya." ucap Rini polos. Membuat Nyonya Rahma terkekeh. "Iya." sahut Nyonya Rahma.


Seandainya Nara tahu jika Nyonya Rahma adalah mama dari Viki, apakah dia masih akan berpikir untuk ikut bersama Nyonya Rahma.


Atau Nara malah akan menolak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tuan, ada yang ingin saya sampaikan." ucap Rey.


Viki memandang ke arah Rey yang berdiri di depannya. "Beberapa investor menarik kembali investasi mereka. Dan membatalkan kerja sama dengan perusahaan kita." jelas Rey.


"Selidiki." pinta Viki.


"Baik." segera Rey undur diri dan melaksanakan perintah dari atasannya.


Viki merasa ada yang tidak beres. Apalagi sebelumnya Viki tidak mempunyai masalah dengan mereka. Pasti ada sesuatu di balik sikap mereka.


Ting... Ponsel Viki berbunyi. Satu pesan teks masuk ke dalam ponsel milik Viki.


APAKAH KAU SUDAH SIAP BERMAIN.


Viki mengerutkan dahinya. Ini kali kedua Viki mendapat pesan tertulis dari seseorang. Dan dia tidak tahu siapa pengirimannya.

__ADS_1


Viki hanya acuh. Karena pesan pertama juga demikian. Tidak ada apa-apa yang terjadi pada Viki.


"Apa ada hubungannya dengan para investor yang menarik kembali investasi mereka." gumam Viki.


Tidak mau berpikir terlalu lanjut, Viki mengabaikan pesan tersebut. Lagi pula Rey masih menyelidikinya. Dan Viki masih menunggu hasil penyelidikan yang dilakukan oleh asistennya tersebut.


"Tapi gue nggak boleh diam saja. Dan menunggu seorang menyerang. Gue nggak suka bermain sebagai kiper." ucap Viki lirih.


Segera Viki menghubungi seseorang. Menyuruhnya untuk menyelidiki pemilik nomor yang sudah dua kali mengirimi pesan tertulis seperti sebuah peringatan pada Viki.


"Kerjakan dengan benar. Uang akan gue transfer setelah pekerjaan elo beres." ucap Viki pada seseorang di seberang ponselnya.


"Masuk." ucap Viki menaikkan nada suaranya. Mendengar suara ketukan pintu dari luar.


"Bagaimana?" tanya Viki tidak sabar mendengar laporan dari Rey.


"Semua karena Tuan Marko." ucap Rey.


"Sudah aku duga." ujar Viki lirih.


"Ini Tuan." Rey memberikan beberapa lembar kertas pada Viki.


Viki tersenyum samar. "Ternyata dia ingin melihat perusahaanku kebingungan uang." gumam Viki.


Karena dengan begitu, perusahaan Viki akan mengalami kesusahan dana. Jika tidak ada lagi investor yang mau bekerja sama dengan perusahaannya.


"Tuan, beberapa perusahaan yang bekerjasama dengan kita ingin membatalkan kerjasamanya." ucap Rey dengan hati-hati.


"Bukankah mereka akan rugi?" tanya Viki, tapi Rey hanya menggeleng pelan, pertanda dirinya tidak tahu.


"Pasti Marko sudah mengganti kerugian mereka." gumam Viki memejamkan mata. Memijat pangkal hidungnya, menghilangkan rasa stres.


"Baiklah, jika memang dia menginginkan bermain curang dan kasar. Aku akan meladeninya." ucap Viki.


"Aku harus meminta pertolongan Om Haris." batin Viki. Karena dirinya masih pemula dalam bisnis. Apalagi perusahaannya termasuk masih baru.


Segera Viki menelpon Papa dari sahabatnya tersebut.


"Om, bisa kita bertemu?" tanya Viki di ujung telepon.


……………


"Ada yang ingin Viki bicarakan. Viki ingin meminta bantuan Om."


……………


"Baik Om. Nanti Viki akan mampir ke rumah." ucap Viki.


Viki sadar jika dirinya belum mampu untuk melawan kekuatan Tuan Marko. Oleh karena itu, dirinya memperlakukan bantuan seseorang yang juga lebih kuat dan berkuasa di banding dengan Tuan Marko.

__ADS_1


"Siapkan kontrak kerjasama kita dengan perusahaan Tuan Haris." pinta Viki.


"Baik Tuan." ucap Rey dengan semangat.


__ADS_2