VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 49


__ADS_3

Viki membuka aplikasi berwarna merah. Mencari video dengan adegan ciuman terdapat di dalamnya. Menontonnya berdua, tentunya bersama dengan Nara.


Tampak wajah keduanya tegang dengan nafas memburu. Tapi tetap, tatapan mereka masih berfokus pada video di ponsel Viki.


Video sepasang lelaki dan perempuan tengah bercumbu mesra. Tampak di video, kedua pemeran tersebut saling menikmati.


Tangan Nara memegang guling di depannya, dengan ekor mata melirik ke arah Viki.


Terasa sudah sedikit lama dan Nara mengerti. Viki segera mematikan video tersebut. Keduanya tampak masih canggung. Hanya diam dengan pikiran masing-masing.


Nara mengulum bibirnya sendiri. Sembari ekor matanya mencuri pandang ke arah Viki. Sementara Viki sendiri juga tak kalah gugup dan gelisah dari Nara.


"Sebaiknya kita hentikan semua ini. Lebih baik kamu kembali ke kamar." ucap Viki tanpa melihat ke arah Nara, yang sedang duduk di sampingnya.


Viki merasa dirinya terlalu egois. Memanfaatkan Nara untuk hal semacam ini. Apalagi sudah jelas jika Nara adalah gadis polos. Viki merasa bersalah. Karena melibatkan Nara dalam hal ini.


Nara memandang Viki dengan tatapan rumit. "Kenapa?" tanya Viki, karena Nara terus menatapnya.


"Jika abang benar-benar mau sembuh. Ijinkan Nara berada di samping abang. Menemani abang, hingga abang benar-benar sembuh." cicit Nara.


"Bang." Nara mengambil telapak tangan kiri Viki, dan menggenggamnya. Membuat Viki menoleh dan menatap Nara. "Abang tenang saja. Bukankah sudah Nara katakan. Nara ikhlas. Nara akan membantu abang." imbuh Nara.


"Kita akan melakukannya." tegas Nara. Menyakinkan Viki.


Karena Nara berpikir, siapa yang akan membantu Viki. Jika bukan dirinya. Apalagi Mbok Nah pernah bercerita jika teman perempuan Viki yang diketahui mbok Nah hanya Ella.


Dan sekarang Ella sedang dalam masa berkabung, karena kehilangan suami serta calon anaknya yang masih berada di dalam kandungan. "Jangan sampai Abang salah mencari perempuan." ujar Nara.


"Itu juga yang gue takutkan" ucap Viki dalam hati.


Viki menatap Nara, tersenyum hangat, dan mengangguk pasti.


Viki mulai memejamkan mata. Dan Nara sedikit mengangkat bokong dan tubuhnya. Supaya sesuai dengan tinggi dari Viki.


"Pasti bisa." ucap Nara dalam hati. Dengan kedua mata melihat ke arah bibir Viki.


Cup... Keduanya saling menempelkan bibir. Hanya menempelkan saja. Bahkan seperti itu saja, keduanya sudah menahan nafas. Ada rasa aneh di setiap pikiran dan perasaan masing-masing.


Jika Nara merasa deg-degan karena ini pertama kalinya, berbeda dengan Viki. Perut Viki sudah terasa seperti di aduk. "Gue harus sembuh. Gue nggak boleh jijik." batin Viki, saat perutnya sudah terasa mual.


Segera Viki memegang tengkuk Nara, dengan keadaan mata masih terpejam. Mendapat sentuhan dari Viki, kedua mata Nara terbuka.


Nara mengambil nafas, yang dengan otomatis. Bibirnya terbuka dengan sendirinya. "Emmmmpppp...." terdengar suara lenguhan dari Nara.


Saat Viki mulai merasakan manisnya bibi Nara. Dengan pelan dan lembut, Viki ******* bibi tipis milik Nara. Masih dengan memejamkan mata.


Viki tidak berani membuka kedua matanya. Viki takut jika percobaannya akan gagal, saat melihat sosok Nara. Seorang perempuan di depannya.


Hingga terdengar suara decapan dari bibir Viki. Viki terus memangut bibir Nara. Hingga Nara mendorong dan memukul dada Viki. Membuat Viki segera melepaskannya.


"Hah,,, hah,,,," terdengar suara nafas tersengal dari Nara.


"Kenapa?" tanya Viki, menatap ke arah Nara. Dengan jari jemari Viki mengusap bibir Nara yang basah karena air liur keduanya.


"Nara nggak bisa bernafas bang." ucap Nara lirih.


"Sekali lagi boleh?" tanya Viki, membelai bibir tipis milik Nara.


Belum sempat Nara menjawab, Viki sudah sedikit membungkukkan badan dan mendaratkan bibirnya di bibir milik Nara.


Viki terus merasakan, mencicipi, mencecap, serta ******* bibir Nara. Tanpa memainkan lidah di dalamnya. Dan masih dengan memejamkan kedua matanya.


Jujur, awalnya Viki merasa mual. Tapi setelah merasakan, Viki merasa baik-baik saja. Hingga Viki meminta untuk kedua kalinya.


Memastikan jika dirinya tidak merasakan jijik lagi. Viki melepaskan pangutannya dari bibir Nara "Terimakasih." ucap Viki, kembali membersihkan bibir Nara.


Nara hanya tersenyum. "Sekarang kamu istirahat. Sudah malam." ucap Viki.


"Apa tidur di sini saja?" tanya Viki polos. Nara menepuk jidatnya sendiri, mendengar perkataan Viki.


"Pasti semua orang akan terbangun. Karena biasanya Bima akan terbangun sebelum subuh. Dan Nara akan menidurkan lagi." jelas Nara.


Takut jika sampai Bima menangis, karena tidak menemukan Nara di sampingnya. Sementara, di saat-saat jam seperti itu, Rini masih terlelap dalam tidurnya.


Segera Nara meninggalkan kamar Viki. "Ternyata seperti ini rasanya." gumam Nara tersenyum-senyum sendiri.

__ADS_1


Dengan jari kemari mengelus bibir miliknya sendiri. Serta kedua kakinya menendang-nendang ke udara. Mengambil selimut, menutupkannya ke seluruh badan. Hingga kepalanya juga tidak terlihat.


Dan Viki, kedua matanya masih terjaga. Menjadikan kedua lengannya sebagai bantal. "Rasanya tidak buruk." ucap Viki, mulai memejamkan kedua matanya.


"Mungkin, besok perlu di coba lagi." ucap Viki. Karena menurut Viki, yang namanya terapi harus di lakukan secara rutin.


"Nara, nanti sekitar pukul sembilan guru kamu akan datang." ucap Nyonya Rahma, di sela-sela mereka sarapan.


"Iya tante. Terimakasih." ucap Nara, sambil mencuri pandang ke arah Viki yang sedang menikmati sarapannya dengan hikmat.


Tampak Viki cuek. Bahkan pagi ini, Viki sama sekali belum mengeluarkan suaranya sama sekali. Sekedar menyapa penghuni rumah.


Bahkan Rini yang memanggilnya dengan antusias seperti biasa, hanya mendapat senyuman dan sentuhan lembut di rambut dari Viki.


"Bang Viki kenapa ya?" ucap Nara dalam hati.


"Semua buku yang kamu perlukan dan semua kebutuhan untuk menunjang belajar kamu akan di bawakan sendiri oleh guru kamu nanti." jelas Nyonya Rahma.


"Makasih tante." ucap Nara dengan tulus. Mengalihkan tatapannya pada Nyonya Rahma.


"Dan kamu gadis kecil. Mulai besok, kamu sudah masuk sekolah. Jadi, nanti kita pergi berbelanja. Membeli apa saja yang kamu perlukan untuk sekolah." jelas Nyonya Rahma.


"Rini perginya sama siapa tante?" tanya Rini.


"Sama tante dong." jawab Rini.


Viki melajukan mobilnya ke perusahaan. Sementara Tuan Hendra juga pergi bekerja.


Sekitar pukul sembilan kurang sepuluh menit. Guru yang akan membimbing Nara sudah datang. Mbok Nah segera mempersilahkan masuk dan memberitahu Nyonya Rahma.


"Selamat pagi pak." sapa Nyonya Rahma dengan rumah.


Segera dia berdiri, dan berjabat tangan dengan Nyonya Rahma. "Alif, Nyonya. Panggil saja saya Alif." ucap Alif, memperkenalkan diri.


"Sepertinya kurang sopan, saya memanggil pak Guru dengan sebutan nama." tolak Nyonya Rahma dengan sopan.


"Tidak apa-apa Nyonya. Lagi pula saya masih muda. Tidak perlu sungkan." ucap Alif, merendah.


"Baiklah. Bagaimana kalau nak Alif." ucap Nyonya Rahma meminta izin.


"Silahkan Nyonya." ucap Alif, memperbolehkan.


"Baik Nyo,, eh tante." ucap Alif.


"Silahkan, mari saya antar ke belakang." Nyonya Rahma mengantar Alif ke belakang. Ke ruang tengah. Dimana sudah ada Nara dan kedua adiknya.


"Nara." panggil Nyonya Rahma. Segera Nara dan kedua adiknya mendongakkan kepala, melihat ke arah seorang lelaki yang berdiri di samping Nyonya Rahma.


Segera Nara dan Rini berdiri. Sementara Bima, masih asyik dengan mainannya. "Kenalkan, dia nak Arif. Guru kamu." ucap Nyonya Rahma.


"Manis." batin Arif saat kedua matanya bertatapan dengan Nara. Apalagi di tambah senyum di bibir tipis milik Nara. Membuat Nara bertambah cantik.


"Nara, pak Guru." ucap Nara, memperkenalkan diri.


"Jangan panggil pak. Panggil saja kak. Saya masih muda." ucap Alif tersenyum.


"Saya Rini, adik kak Nara." ucap Rini membuka mulutnya, saat Alif memandang ke arahnya.


"Adik." batin Alif, tapi dia tetap tersenyum. Karena Alif memang tidak tahu jika mereka bukan saudara kandung. Memang, Nara dan kedua adiknya sangat berbeda, dilihat dari wajahnya.


"Baiklah, Nara. Kamu belajar. Setelah ini, tante mau ajak Rini keluar. Dan kamu, sama Mbak Mira dulu ya." ucap Nyonya Rahma, berjongkok dan mengusap pelan rambut Bima.


Mbak Mira segera merapikan mainan Bima, di bantu oleh Nara dan juga Rini. Selesai, segera Mbak Mira mengajak Bima bermain di ruangan lain. Supaya tidak menganggu Nara belajar.


Dan Rini, dia berada di dalam kamar. Bersiap pergi bersama dengan Nyonya Rahma. Rini memakai baju yang pernah di belikan oleh Viki, yang sama sekali belum pernah dia pakai. Dress lengan sampai atas siku, dengan panjang tepat di bawah lutut.


Beserta sepatu yang juga pernah di belikan oleh Viki. "Bang Viki, Nara pakai." ucap Rini berdiri di depan cermin.


"Cantiknya." puji Nyonya Rahma, melihat penampilan Nara.


"Ini bang Viki yang membelikan tante." ucap Rini dengan senang. "Baguskan." ujar Rini.


"Bang Viki memang hebat." ucap Nyonya Rahma, segera Rini mengangguk untuk menjawab perkataan Nyonya Rahma.


"Nara, nak Alif, kami pergi dulu." pamit Nyonya Rahma.

__ADS_1


"Iya tante." jawab keduanya bersamaan.


Rini melihatnya dengan tatapan tidak suka. "Kakak, jangan nakal. Nanti Rini kasih tahu Bang Viki loh." celetuk Rini.


Nara dan Alif memandang dengan tatapan bingung ke arah Rini. Jika Alif bingung, saat mendengar Rini menyebut nama bang Viki. Lain dengan Nara. Dia bingung, mengapa Rini bisa berkata seperi itu.


Nyonya Rahma hanya tersenyum. "Sudah. Ayo berangkat." ajak Nyonya Rahma.


Alif mengajari Nara mulai dari awal. Karena Nyonya Rahma mengatakan pada dirinya jika Nara tidka pernah bersekolah sebelumnya.


"Tapi kenapa dia sudah pandai menulis. Bahkan berhitung." ucap Alif dalam hati.


Tapi Alif masih enggan untuk bertanya lebih lanjut. Apalagi Nara dan dirinya baru saja bertemu. Dan tugasnya adalah membimbing Nara. Mengajari Nara, seperti dia mendidik anak didiknya di sekolah.


"Dia cukup pandai dan juga cekatan." batin Arif memuji Nara.


Dengan cepat, Nara selalu bisa memahami dan mengerti apa yang di katakan oleh Alif. "Sepertinya ini tidak akan sulit." ucap Alif dalam hati.


Saat dirinya melihat tulisan Nara yang rapi. Dan juga jawaban Nara dari beberapa soal yang dia tanyakan pada Nara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tante." sapa Giska, saat dia melihat Nyonya Rahma berada di pusat perbelanjaan.


"Giska." sahut Nyonya Rahma. Keduanya lalu saling menempelkan pipinya. Bercipika cipiki.


"Tante bersama siapa?" tanya Viska dengan ramah, meski Giska dengan jelas melihat ada gadis kecil di sebelah Nyonya Rahma.


"Ini, kenalkan. Dia Rini." ucap Nyonya Rahma, memperkenalkan Rini pada Giska.


Seolah Nyonya Rahma dan Giska melupakan kejadian terakhir saat keduanya bertemu di rumah Nyonya Rahma.


"Hai, Rini. Kenalkan, aku kak Giska." ucap Giska dengan ramah, sedikit membungkukkan badan.


"Salam kenal kak." ucap Rini, mengulurkan tangannya pada Giska, dan mencium punggung telapak tangan Giska.


"Tante mau beli apa?" tanya Giska.


"Seragam." jawab Nyonya Rahma, dengan tangan memegang pundak Rini.


"Siapa sih ni bocah." batin Giska.


Giska memang tidak pernah menyukai anak kecil. Menurutnya, mereka hanya akan menyusahkan dan juga merepotkan. "Giska ikut ya tante. Kebetulan Giska sendirian." ucap Giska berbohong.


Padahal Giska sudah berjanji pada teman-temannya, jika mereka akan belanja bersama.


"Boleh." sahut Nyonya Rahma. "Ayok sayang." Nyonya Rahma menggandeng lengan Rini, mengajaknya masuk ke dalam toko yang memang menjual perlengkapan alat sekolah.


"Siapa sih dia. Tante Rahma kelihatannya sayang banget sama dia. Saudaranya mungkin." batin Giska yang berjalan di belakang Nyonya Rahma dan Rini.


Selam berada di toko, Giska merasa sangat kesal. Nyonya Rahma bahkan sama sekali tidak mempedulikan keberadaannya.


Beliau sibuk dan repot untuk memilihkan perlengkapan sekolah yang akan di gunakan oleh Rini. "Nyonya." sapa seorang perempuan pada Nyonya Rahma.


Giska yang mendengarnya, langsung melihat pemilik suara tersebut. "Dia, kenapa kuntilanak itu bisa berada di sini." geram Giska lirih. Melihat Melva menghampiri Nyonya Rahma.


Padahal tujuan Giska ikut dengan Nyonya Rahma supaya mereka kembali akrab lagi. Sehingga Giska bisa mendekati Viki. Pantang menyerah Nona Giska.


"Saya Melva, Nyonya. Artis yang bekerja di bawah naungan perusahaannya Tuan Viki." ucap Melva, memperkenalkan diri, saat Nyonya Rahma melihat ke arah dirinya.


"Oh iya. Melva. Saya tahu kamu. Kamu kan artis. Tapi maaf, saya tidak tahu jika kamu bekerja di perusahaan putra saya." jelas Nyonya Rahma.


"Sedang apa?" tanya Nyonya Rahma.


"Tadi ada acara di lantai lima. Tapi sekarang sudah selesai." jelas Melva dengan tutur lata lembut dan sopan.


Sebenarnya Giska tidak sengaja melihat Nyonya Rahma. Dirinya mencari jalan sepi untuk menghindari para fansnya yang sudah berkumpul di depan.


Tapi siapa sangka, perjalanan memutarnya malah membuahkan hasil. Dia melihat mama dari Viki berada di dalam toko baju. Bersama Giska.


Tak ingin menyia-nyiakan momen, segera Melva ikut bergabung. "Akan lebih seru, kalau gue ikut." batin Melva.


"Khem.." dehem Giska, berdiri di samping Melva. Tersenyum manis ke arah Nyonya Rahma.


Baru saja Nyonya Rahma ingin membuka mulutnya, Rini dari belakang sudah memanggilnya. "Tante." panggil Rini, menggunakan setelan seragam beserta perlengkapannya.

__ADS_1


Sama seperti Giska, Melva juga terkejut melihat gadis kecil berseragam SD. Memanggil Nyonya Rahma dengan sebutan tante.


"Siapa. Apa saudaranya Viki." batin Melva.


__ADS_2