
"Maaf Tuan." ucap Rey sedikit menundukkan kepala. Karena tidak berhasil mencegah Melva masuk ke dalam ruangannya.
Viki menggerakkan tangannya. Membuat Rey segera meninggalkan ruang kerja Viki. Melva memandang Viki dengan tatapan kesal.
Melva meninggalkan lokasi syuting begitu saja. Membuat kru dan artis lainnya meradang. Karena Melva bertindak seenak jidatnya.
"Katakan dengan singkat. Aku sedang sibuk." ucap Viki acuh.
"Jelaskan. Siapa perempuan yang bersama kamu semalam?!" tanya Melva dengan penuh amarah.
Viki mengangkat kedua alisnya. Dan tersenyum miring. "Jelaskan. Apa yang perlu saya jelaskan pada anda Nona. Memangnya, apa hubungan kita?" sindir Viki.
Melva menggeleng tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh lelaki yang saat ini masih duduk di kursi singlenya miliknya. "Hubungan kita. Selama ini kamu selalu baik dan memperhatikan aku. Lantas, kenapa kamu masih menanyakannya?!" sentak Melva.
Viki terkekeh pelan. "Nona Melva. Aduh,,, Saya memang tipikal orang baik. Dan akan bersikap baik pada siapapun. Terlebih, anda adalah artis yang berada dalam naungan perusahaan saya. Bukan hanya dengan anda, saya bersikap seperti itu." ucap Viki santai.
"Saya, anda. Panggilan macam apa itu?!" bentak Melva masih tidak terima.
"Baiklah. Mengenai pertanyaan pertama yang anda ajukan. Penjelasan, siapa perempuan cantik yang semalam bersama saya. Dengan senang hati, akan saya jelaskan." tekan Viki.
Melva menatap Viki dengan tatapan kesal bercampur rasa marah. "Dia adalah Nara. Calon istri dari Viki Radikan Mahendra." ucap Viki dengan tenang, mengenalkan Nara.
Melva mendekat ke arah Viki, memukul tubuh Viki dengan membabi buta. "Kamu jahat...!! Kamu pasti berbohong. Hanya aku perempuan yang pantas bersanding dengan kamu!!" teriak Melva.
Segera Viki berdiri dan mencekal kedua lengan Melva. Meski bagi Viki pukulan Melva tidak terasa di tubuhnya. Namun Viki hanya takut, jika kuku-kuku Melva yang panjang akan mengenai wajah tampannya.
"Apa yang kamu lakukan?!" geram Viki, dengan tangan melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Melva.
Bukannya menjawab, Melva malah memeluk Viki dengan menangis. "Aissh,,, lepas..!!" seru Viki dengan nada tertahan, mengangkat kedua tangannya.
Viki merasakan geli saat Melva memeluknya. "Kenapa berbeda." ucap Viki dalam hati. Teringat saat Nara memeluknya.
Viki merasakan kehangatan dan juga rasa nyaman saat berpelukan dengan Nara. Bahkan juniornyapun ikut bereaksi dengan menegang.
__ADS_1
Tapi dengan Melva, kenapa Viki merasa aneh. "Kayaknya gue harus memeluk Nara nanti sampai rumah." ucap Viki dalam hati, untuk memastikan sesuatu.
Viki memandang ujung kepala Melva. "Tunggu, apa gue belum benar-benar sembuh?" tanya Viki pada dirinya sendiri dalam hati. Ada perasaan takut tiba-tiba menyergap di hati Viki.
Viki hanya takut, jika dia memang belum sembuh. Dan pasti dia tidak akan bisa menjadi suami yang seutuhnya untuk Nara. Padahal Viki sangat ingin menikahi gadis tersebut.
Melva mendongakkan kepalanya tanpa melepas pelukannya pada Viki. Dirinya penasaran. Kenapa Viki malah terdiam. Tapi tidak membalas pelukannya. Bahkan tidak mengucapkan apapun.
Melva melihat Viki mengangkat kedua tangannya seperti seseorang yang menyerahkan diri pada seseorang dengan ekspresi rumit.
Melihat pandangan Viki begitu jauh dan kosong, Melva dengan berani sedikit berjinjit. Mendekatkan bibirnya dengan bibi milik Viki.
Seakan tersadar, Viki merasakan benda kenyal menempel di bibirnya. Dengan reflek Viki mendorong kasar tubuh Melva ke belakang. Membuat pantat Melva mendarat sempurna di atas lantai yang keras.
"Aaaawwww!!" teriak Melva.
Viki segera mengambil tisu, mengelap bibir miliknya. Seakan Viki merasa jijik. Melva memegang pinggangnya yang terasa sangat sakit. Tak hanya itu, pantatnya juga terasa sakit.
"Ooohh,,,,," Melva menggeleng melihat tingkah Viki mengusap bibirnya. Seakan bibirnya yang baru bersentuhan dengan bibir Viki adalah sarang penyakit.
Baru saja berdiri. Dengan cepat, Viki menekan kedua pipi Melva dengan kuat. "******. Berani sekali kamu melakukannya." geram Viki dengan mata memerah menahan amarah.
"Sakk... sak-sakk-sak-kit." ucap Melva terbata.
Viki melepaskan tangannya di pipi Melva, dan kembali mendorong Melva. "Ssshhhhttt." desis Melva merasa perih bercampur sakit pada kedua pipinya.
"Tinggalkan ruanganku. Sebelum kesabaranku habis!!" tekan Viki.
"Reyyy...!!!!!" teriak Viki memanggil sang asisten. Dengan segera Rey masuk ke dalam ruangan.
"Seret dia. Selamanya, jangan pernah membiarkan dia menginjakkan kaki di perusahaanku. Cabut kontrak kerja sama perusahan kita dengan dia." ucap Viki, menatap bagai mata elang pada Melva.
"Baik Tuan." Rey membawa Melva keluar dari ruangan atasannya. Melva hanya bisa pasrah, lantaran masih merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Seperti pantat, pinggang, bahkan kedua pipinya.
__ADS_1
"Gila, menyeramkan. Apa sebenarnya yang sudah di lakukan oleh Melva." gumam Rey, mencoba menebak. Sehingga Viki menjadi sangat murka.
Seperti yang dikatakan oleh atasannya, Rey segera memutuskan kontrak kerja sama dengan Melva. Tapi, sebelum itu. Rey sudah mengantisipasi semuanya.
Mengingat bagaimana fans Melva yang terlalu fanatik pada artis mereka. Pasti mereka tidak tinggal diam, saat perusahan memutuskan kerja sama dengan sang artis.
Apalagi, selama ini Rey tahu. Bagaimana sikap dan sikap Melva di luar. Bagai ibu peri bagi para fansnya. Sebab, selama ini Melva menunjukkan sikap anggun, ramah, baik, serta sifat lainnya.
Dan semua masyarakat percaya, jika Melva adalah ibu peri di dunia nyata. "Beruntung gue punya ini." gumam Rey tersenyum licik, memegang beberapa lembar foto.
Foto Melva sedang bermesraan bersama beberapa lelaki yang berbeda. Dengan pakaian minim. Bahkan, apa yang tertempel di tubuh Melva tak layak di sebut pakaian. Karena hanya menutupi sebagian area tubuhnya.
"Dengan ini, gue yakin. Melva tidak akan berani bertingkah atau berbicara macam-macam." ujar Rey percaya diri.
Selama berkarir di dunia hiburan, Melva di kenal sebagai sosok yang kalem dan lemah lembut. Melva sama sekali tidak pernah berkencan atau memiliki kekasih.
"Ini juga bagus." Rey memperhatikan foto Melva lainnya. Saat Melva berada di club malam bersama teman-temannya.
Rey mengirimkan beberapa foto melalui ponsel miliknya, langsung pada nomor Melva, tanpa melalui perantara asisten Melva.
JAGA MULUT.
Itulah kalimat pendek yang Rey imbuhkan di beberapa foto Melva.
"Selesai. Dengan begini, Melva tidak akan berani berkutik." ucap Rey.
Seperti yang di perkirakan Rey, Melva saat ini sedang mengamuk di apartemen lantaran foto yang dikirim oleh Rey.
"Dari mana bajingan itu memperoleh foto gue." kesal Melva.
Melva menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar. "Oke, elo bisa mendepak gue dari perusahaan. Tapi gue nggak akan pernah melepaskan lelaki incaran gue." dengus Melva.
"Perempuan itu. Gue harus cari tahu. Siapa dia. Nara." ucap Melva, tak lagi memikirkan karirnya di perusahaan Viki.
__ADS_1
Melva merasa, karirnya akan tetap berada di atas. Meski sudah tidak bekerjasama dengan perusahaan Viki.
Melva memegang bibirnya, dan tersenyum samar. "Padahal hanya sebentar. Tapi masih terasa. Uuuhhhh." Melva memejamkan kedua matanya. Membayangkan sesuatu hal mesum di otak liarnya.