
Nara yang fokus pada buku di depannya, bahkan tidak menyadari jika ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya.
"Abang, bikin Nara kaget saja." ucap Nara memegang dadanya, saat Viki masuk nylonong ke dalam kamar Nara. Dan langsung mencium pipi Nara.
Beruntung kedua adik Nara sudah terlelap di atas ranjang besar di kamar Nara. Karena sampai sekarang, mereka masih tidur bertiga dalam satu kamar.
Nara melihat ke arah ranjang. "Mereka sudah bermimpi indah." Viki mengusapkan hidungnya ke pipi dengan manja.
Tangan Nara terulur mengusap rambut Viki dengan pelan. Lantas Viki segera membaringkan badannya di sofa panjang tersebut, dengan menggunakan paha Nara sebagai bantalnya.
"Abang belum mandi?" tanya Nara, melihat Viki masih menggunakan pakaian kerjanya.
"Belum, nanti saja." jawab Viku dengan malas.
"Pakai air hangat." ingat Nara.
"Hemmm." timpal Viki.
Nara masih mengelus dengan lembut rambut Viki. "Kenapa pulang larut malam?" tanya Nara dengan suara lembut.
Viki memeluk pinggang Nara, menaruh wajahnya tepat di depan perut sang kekasih. "Lembur." jawab Viki singkat.
Bohong. Viki berbohong pada Nara, jika dirinya lembur. Sejujurnya, Viki sedang galau. Terlebih setelah dirinya dipeluk dan di cium oleh Melva.
Karena saat di peluk dan di cium Melva, Viki merasa jijik. Viki sedang dilema. Dirinya takut jika pada kenyataannya, dirinya belum sembuh.
Ketakutan Viki hanya satu. Ditinggalkan oleh Nara. Entah kenapa, gadis tersebut seperti candu bagi Viki. Hanya melihat wajahnya saja bisa membuat perasaan Viki tenang.
Viki takut jika ternyata dia masih seperti dulu. Lantaran dirinya juga belum membuktikan keampuhan senjatanya untuk menembus gowa hangat milik perempuan.
Nara ingin menceritakan kejadian pagi tadi di rumah. Dimana papa kandungnya bersama istri barunya mendatangi rumah. Dan berniat berbicara dengannya.
__ADS_1
Namun Nara urungkan niatnya, Nara merasa ada yang sedang dipikirkan dan ditutupi oleh Viki. "Abang, ada apa?" tanya Nara dengan pelan.
Viki masih diam, malah semakin mengeratkan pelukannya dan tetap membenamkan wajahnya ke perut Nara.
Tidak ada kata marah atau kecewa yang di rasakan Nara, saat Viki malah abai dan diam. Saat ditanya oleh dirinya.
Dengan sabar, Nara kembali bertanya pada Viki. "Jika ada masalah, Abang cerita saja pada Nara. Mungkin Nara tidak bisa membantu. Tapi setidaknya, Nara bersiap menjadi pendengaran yang baik." ucap Nara.
Tak berapa lama, Viki melepaskan pelukannya. Menengadahkan wajahnya memandang ke arah Nara dengan tatapan rumit.
"Cium bibirku." pinta Viki secara tiba-tiba, Nara mengerjap pelan di buat bingung dengan permintaan Viki. "Abang baik-baik sajakan?" tanya Nara, merasa aneh. Bukannya bercerita, Viki malah meminta ciuman.
"Cium aku sayang, di sini." Viki menunjuk ke arah bibirnya sendiri. Nara masih diam, memandang Viki dengan aneh.
"Jika tidak mau ya sudah." dengus Viki bangun dari tidurnya. Seperti anak remaja yang sedang merajuk.
"Bang...." panggil Nara, melihat Viki malah berjalan keluar dari kamarnya.
"Kenapa sih. Kenapa abang aneh banget." gumam Nara. Tidak ada niat Nara untuk mengejar Viki.
Mungkin Nara terlalu memikirkan kedatangan papa dan sang istri barunya. Membuat Nara menjadi lelah pikiran.
Viki meremas dengan kasar rambutnya. Bahkan sedikit menjambaknya. Ingin menceritakan pada Nara tentang apa yang di lakukan Melva saat mereka di perusahaan. Viki takut Nara akan marah.
Viki masuk dan berdiri di bawah shower. Menyalakan kran airnya, membasahi seluruh badannya dari ujung rambut. Tanpa melepas pakaian yang masih menempel di tubuhnya.
Viko tersenyum samar. Sebuah ide gila terbesit di benaknya. "Aku harus mencobanya. Benar." gumam Viki, segera mandi dengan benar dan menyelesaikannya.
Viki berdiri di depan kaca. Mengambil masker dan topi dari dalam laci. "Sekarang. Gue nggak boleh menunda waktu." gumam Viki yakin.
Dengan keyakinan di dalam hati, Viki mengendarai mobilnya membelah jalanan malam. Menuju sebuah bar di kotanya.
__ADS_1
Sebelum turun, dia memakai masker dengan topi yang di balik. "Hufttt..." Viki menghela nafas dengan pelan dan menghembuskannya dengan juga.
Ini bukan pertama kalinya Viki pergi dan masuk ke dalam tempat seperti ini. Namun ini pertama kalinya Viki akan menjalankan rencana gilanya.
Begitu masuk, telinga Viki sudah langsung di sambut dengan dentuman musik yang memecahkan gendang telinga. Harum alkohol dan rokok tercium dengan jelas di indera pernafasan.
Nampak perempuan dan lelaki berbaur menjadi satu. Meliuk-liukkan badannya di atas lantai. Sementara di kursi-kursi juga banyak lelaki yang sekedar bersantai dengan di temani minuman dan pastinya wanita cantik.
"Hay..." sapa seorang perempuan yang memakai pakaian kurang bahan pada Viki.
Viki melihatnya sekilas, dan meninggalkannya tanpa berbicara. Membuat sang perempuan mengumpat kasar. Namun Viki mengacuhkannya.
Viki berdiri dan bersandar di diding. Sendirian. Seolah sedang memikirkan rencananya. "Benar. Gue turun saja. Ikut berdansa bersama mereka." ucap Viki dalam hati.
Viki tidak menargetkan perempuan, tetapi lelaki. Viki ingin mengetes dirinya sendiri dengan lelaki. Kenapa tidak perempuan?
Tentu saja Viki tidak ingin menimbulkan masalah. Dan alasan terbesarnya karena perempuan bernama Nara. Viki merasa akan berkhianat pada Nara, jika menargetkan perempuan.
Bukankah menargetkan lelaki justru akan menimbulkan masalah besar. Benar. Jika ketahuan. Tapi bukankah sama saja. Keduanya akan menimbulkan masalah jika ketahuan.
Aisshh,,, terserah apa yang pikirkan oleh Viki saja.
Dengan yakin, Viki melangkahkan kaki menuruni anak tangga. Berjalan menuju ke arah sekumpulan anak manusia yang tengah berjingkrak.
Viki memasukkan badannya di antara mereka. Manik matanya menatap sekeliling. Mencoba mencari lelaki yang menurutnya tampan.
"Dia,,, lumayan. Tapi masih tampan gue." ucap Viki membandingkan lelaki yang tak jauh sedang menggoyangkan badan di depannya.
Sementara lepas tengah malam. Saat Viki sedang keluar rumah. Kediaman Tuan Hendra kedatangan tamu tak di undang.
Seorang perempuan yang membuat seisi rumah bangun hanya karena kedatangannya. Giska.
__ADS_1
"Katakan. Kenapa kamu sudah hampir subuh malah mendatangi rumah kami?!" kesal Nyonya Rahma, karena tidurnya terganggu.
Giska menunggu keadaan di rumahnya aman. Merasa semua orang sudah terlelap dalam tidurnya, Giska keluar dari dalam rumah dengan perlahan.