VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 168


__ADS_3

"Bang, Nara tidak nyaman deh memanggil dengan panggilan honey. Boleh tidak diganti saja?" tanya Nara dengan mata berharap.


"Abang...." panggil Nara dengan suara lembut, sebab Viki masih diam.


"Terserah kamu. Asal panggilan yang spesial. Dan nggak aneh." tukas Viki fokus memandang jalan.


Nara memainkan bibirnya, dengan mata melirik ke kanan kiri. Memikirkan panggilan yang akan di berikan pada sang suami.


Nama yang tidak terlalu lebay dan saat memanggil, Nara merasa nyaman. Kedua sudut bibir Nara terangkat. Sepertinya dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. "Suamiku. Boleh." tanya Nara tersenyum malu.


Viki tersenyum samar. "Panggilan yang indah." batin Viki. Tapi dia gengsi untuk mengatakannya. Sebab dia terlanjur berlagak cuek.


"Terserah." jawab Viki acuh.


"Tapi abang maukan. Tidak marahkan?" tanya Nara mencari kepastian.


Viki mengangguk. "Makasih suamiku." Nara mencium singkat pipi Viki.


"Astaga sayang, jika begini terus, lama-lama suamimu ini akan diabetes. Manis sekali istriku." ucap Viki dalam hati bergembira.


Hanya perkara panggilan, membuat mereka berdua terus berbicara di dalam mobil. Hingga Nara tak sadar, jika mobil yang dia naiki kini mulai berjalan perlahan.


"Waoowww...." seru Nara, membulatkan mulutnya tak percaya dengan apa yang sekarang dilihatnya.


Sebuah rumah mewah dan megah. Lebih besar dan lebih megah dari rumah keluarga Viki. Rumah tersebut tampak seperti rumah kerajaan zaman dahulu jika dilihat dari luar.


Ekspresi senang dan terpukau dari Nara tiba-tiba lenyap. "Ehh,,, ada apa sayang." Viki terkejut, kenapa Nara memegang lengannya dengan kencang.


"Jangan turun." pinta Nara, semakin mengeratkan pegangannya, saat sang suami hendak membuka pintu mobil.


Viki sudah memberhentikan mobilnya, dan saatnya untuk keluar dari dalam mobil. Namun Nara malah melarangnya.


"Abang..." segera Nara membuka sabuk pengaman yang melingkar di depan tubuhnya.


"Suamiku." kata Viki mengoreksi panggilan Nara untuknya.


"Suamiku, apa kamu tidak merasa aneh." ucap Nara, Viki melihat ke arah sang istri yang sepertinya sedang memperhatikan sekitar mereka.


Viki mengernyitkan keningnya. "Aneh kenapa?" tanya Viki yang kebingungan.

__ADS_1


Nara semakin menempelkan tubuhnya pada Viki. Memegang dengan erat lengan Viki. "Di dalam hutan, ada rumah seperti ini. Apa suamiku tidak curiga." Nara memasang ekspresi waspada.


Viki terkekeh melihat sang istri. "Apa yang kamu pikirkan. Kami pikir ini di film." Viki menyentil kening Nara.


"Bukan. Bukan seperti itu. Lihat. Semuanya pohon. Sama sekali tidak ada rumah. Selain rumah di depan kita. Sekarang suamiku pikir kembali. Siapa yang mau tinggal di rumah seperti ini." jelas Nara dengan yakin.


"Ayo turun, nanti kamu juga akan tahu." ajak Viki.


Nara masih di dalam mobil. Kakinya enggan untuk menginjak rumput hijau di bawah mobil. "Sayang, ayo turun." Viki membuka pintu mobil di samping Nara.


Nara menggeleng. "Ayo pulang. Kita baru saja menikah. Nara tidak ingin terjadi apa-apa dengan kita. Kasihan mama, papa, Rini, Bima. Dan semuanya. Pasti mereka akan cemas." cicit Nara mampu membuat Viki tertawa.


"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?"


"Rumah hantu. Meski dari luar tampak indah dan terawat. Nara yakin, penghuninya adalah makhluk tak kasat mata." Nara memicingkan matanya.


Viki semakin tertawa mendengar apa yang diucapkan sang istri. Dari mana Nara mendapatkan pikiran seperti itu. "Oke, baiklah. Suamimu ini akan masuk sendiri. Terserah jika kamu masih ingin tetap di dalam mobil." Viki berdiri tegap, tanpa menutup kembali pintu mobilnya.


"Aaa... Bagaimana ini." kesal Nara, melihat Viki mulai berjalan. Dan akan benar-benar meninggalkannya. Meninggalkan dirinya sendiri di dalam mobil.


"Dasar suami laknat. Dia malah pergi sendirian. Bagaimana jika ada hantu yang menculik aku." buku kuduk Nara meremang hanya memikirkan hal tersebut.


"Suamiku,,,,!!! Tunggu...!!!" teriak Nara, berlari menyusul Viki. Padahal Viki berjalan dengan sangat lambat. Dan tentu saja dirinya sengaja melakukannya.


Viki tahu, jika istrinya pasti akan menyusul dirinya. Dia tahu, jika Nara memang takut pada hantu. "Kenapa ninggalin istrinya sendiri!!" bentak Nara, dan memukul keras lengan Viki.


"Loh,, katanya nggak mau ikut. Mau di dalama mobil saja. Kami gimana sih. Malah nyalahin aku." tutur Viki santai.


"He,he,he,,, main buka. Ketuk dulu. Kalau yang punya rumah marah bagaimana?!" hardik Nara, saat tangan Viki ingin mendorong dan membuka pintu di depan mereka.


Lagi-lagi salah. Viki mendesah pelan. Berusaha sabar, untuk sang istri tercinta. "Kata kamu tadi penghuninya hantu. Ini masih sore. Pasti mereka sedang tidur. Mana boleh kita mengganggu hantu yang sedang tidur. Lebih baik kita masuk saja. Perlahan." papar Viki semakin menggoda Nara.


Nara menghentakkan kakinya di lantai beberapa kali. "Sebenarnya kita mau apa sih ke sini. Uji nyali..!!" Nara melotot ke arah Viki, dengan nafas memburu menahan rasa kesal bercampur takut.


Viki tersenyum samar. "Uji nyali. Boleh juga. Yuk masuk." ajak Viki dengan santai, semakin semangat menggoda Nara.


Krekkkk.... Viki membuka pintu di depannya. Tangan Nara semakin memegang erat lengan sang suami.


Saat beberapa langkah kaki Nara maju ke depan, Nara terhipnotis dengan apa yang ada di hadapannya. Beberapa kata yang Nara tangkap dari apa yang dia lihat. Indah, rapi, bersih, dan tertata dengan baik. Meski begitu, Nara tetap merasa takut.

__ADS_1


"Sepi." gumam Nara. "Apa hantu juga seperti kita ya, suka berbenah." cicit Nara, Viki hanya tersenyum sedari tadi. Mendengar dan melihat tingkah dari sang istri yang menurutnya lucu dan mengemaskan.


Byurrr.... Terdengar suara benda jatuh ke dalam air. Dan itu sangat jelas tertangkap ke indera pendengaran Nara. "Apa itu." Nara menghentikan langkah kakinya. Yang juga membuat Viki berhenti.


Ha,,, ha,,,, ha,,, jangan,,, geli,,,


Lagi-lagi Nara mendengar suara tawa dari anak kecil disertai beberapa perkataan. Nara semakin ketakutan. "Pulang, Nara mau pulang." rengek Nara semakin ketakutan, memeluk erat tubuh Viki.


Viki hanya bisa menahan tawanya. "Ada apa sih. Kita akan menginap di sini. Lihat, matahari akan segera tenggelam." papa Viki.


Nara menggeleng dengan kepala berada di dada Viki. "Nara takut. Nara takut hantu. Kita pulang. Nara nggak mau menginap di sini." papar Nara.


"Yakin, nggak mau menginap di sini." goda Viki.


Nara memukul-mukul dada Viki. "Jahat. Nara takut. Kenapa Abang malah senang sekali menggoda Nara..!!" teriak Nara.


"Kakak....!!" panggil seseorang di belakang Nara.


"Suara itu." gumam Nara berhenti memukul Viki. Bukannya menengok ke belakang, Nara malah mengeratkan pelukannya ke tubuh Viki.


Dan air mata Nara keluar sudah dari dalam matanya. "Hantu,,,, abang.... kita pulang. Nara takut hantu... Ayo,,,," teriak Nara semakin kencang.


Dua anak kecil yang memakai baju handuk di belakang Nara hanya bisa mengerjapkan kedua matanya dnegan lucu.


Keduanya menatap ke arah Viki, seakan meminta penjelasan. Namun Viki malah memainkan kedua alisnya naik turun dan tersenyum aneh.


"Tenang. Sayang,,, istriku. Tenang. Hey,,, lihat. Siapa mereka." Viki mencoba menenangkan Nara yang sedang histeris ketakutan.


"Nggak mau..!!" jerit Nara.


"Ada apa ini,, Viki...!!! kamu apakan Nara?!!" teriak seseorang perempuan yang baru datang.


Tangis Nara mereda seketika. Rasa takutnya menghilang. Otaknya mulai bekerja. Nara mendongakkan kepalanya, memandang ke wajah sang suami.


Suara yang sangat familiar. Apalagi Nara mendengar jika namanya dan nama sang suami di sebut.


Viki memegang kedua pundak Nara, membalikkan atau memutar badan Nara untuk menghadap ke belakangnya.


Nara melongo, melihat siapa yang berada di depannya. "Mereka hantunya." bisik Viki menggoda Nara dan tertawa kecil.

__ADS_1


"Abangggg!!!!!" teriak Nara kesal. Rini, Bima, dan Nyonya Rahma langsung menutup kedua telinganya.


__ADS_2