VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 120


__ADS_3

Viki memandang tajam perempuan yang sekarang duduk di salah satu kursi, saat mereka sedang sarapan pagi.


"Semalam Nona Giska datang ke rumah saat abang tidur. Om yang mengizinkan Nona Giska untuk tinggal di rumah." jelas Nara, sebab semuanya hanya diam, di saat Viki mungkin bertanya dalam hat.


Tidur. Mereka semua mengira jika Viki sedang tidur saat Giska datang. Katena terlalu capek, makanya Viki tidur dengan lelap. Itulah yang ada di benak setiap orang.


Padahal, kenyataannya Viki sedang mengetes kejantanannya. Viki hanya diam, tidak menimpali perkataan dari Nara.


"Hanya semalam. Itu artinya hanya tadi malam. Tidak ada malam-malam lain." ketus Nyonya Rahma, seperi mengingatkan Giska. Jika hari ini, dia harus segera angkat kaki dari rumah ini.


Giska hanya diam. Tepatnya bukan diam, dalam arti kata pasrah. Namun sekarang otak Giska sedang berputar. Mencari cara, supaya dia dapat tinggal di sini lebih lama lagi.


Seperti biasa, saat makan bersama, Nara melayani Rini dan Viki bergantian. "Terimakasih kakak." ucap Rini, di balas anggukan dan senyum manis dari Nara.


"Abang mau ini?" tanya Nara, tapi Viki menggeleng. Viki langsung makan dengan tenang makanan yang sudah ada di atas piringnya.


Demikian juga dengan anggota keluarga yang lain, yang sibuk dengan makanan mereka di atas piring masing-masing.


Giska melirik ke arah Nara dan Viki bergantian. "Mereka saudara, tapi kenapa rasanya ada yang berbeda." ucap Giska dalam hati.


Sebagai saudara, tidak seharusnya Nara memperlakukan Viki seperti tadi. Itulah yang ada dalam benak Giska.


Terlebih, kedua orang tua Viki juga nampak baik-baik saja dengan perhatian yang diberikan Nara pada Viki.


"Om, nanti suster Puspa akan datang. Kan hari ini jadwal om latihan." ucap Nara mengingatkan.


Meski sudah sembuh, namun Tuan Hendra masih memerlukan terapi atau latihan di punggungnya. Sebab, kecelakaan yang menimpa dirinya terparah adalah bagian punggung.


"Pagi apa siang, Ra?" tanya Nyonya Rahma. Karena biasnya, jadwal terapi sang suami tidak menentu.


"Tadi sus Puspa menelpon, dia mengatakan agak siang. Karena harus ke rumah sakit terlebih dahulu." jelas Nara.


"Memang kenapa tan?" tanya Nara, seolah Nyonya Rahma menampilkan ekspresi kecewa.

__ADS_1


"Hari ini ada pertemuan ibu-ibu pemerintah. Apa tante absen saja ya. Lagian papa juga belum hadir." ucap Nyonya Rahma memandang Nara dan beralih memandang sang suami.


"Kenapa Nara seperti anggota inti dari keluarga ini. Dan juga, kenapa dia lama sekali tinggal di rumah ini?" tanya Giska dalam hati.


Mana mungkin Giska berani bertanya secara langsung pada Nara maupun yang lain. Bisa-bisa bukan jawaban yang dia terima, melainkan bentakan.


"Mama datang saja. Masa papa sudah tidak hadir, mama juga tidak hadir. Sekalian beri kabar, jika minggu depan papa sudah mulai bekerja seperti biasa." jelas Tuan Hendra.


"Pa...?!" Nyonya Rahma memandang dengan intens, karena ucapan yang di katakan oleh sang suami.


"Papa sudah sembuh ma. Memang mama betah, setiap hari ada saja yang datang. Dengan berkata, menengok bapak." ucap Tuan Hendra, dengan ujung kalimat menirukan gaya bicara staffnya yang secara bergantian menengok dirinya setiap hari.


Bukan hanya staff saja yang menjenguk Tuan Hendra, setiap hari ada saja anggota pemerintah maupun rekan kerja Tuan Hendra yang menjenguknya.


"Serius, om sudah benar-benar lebih baik?" tanya Nara khawatir.


Tuan Hendra mengangguk pelan. "Dua rius." jawab Tuan Hendra sambil bercanda.


"Ma, jangan berdebat di meja makan. Ini masih terlalu pagi untuk bertengkar." tutur Tuan Hendra.


"Salah Giska apa sama tante. Bahkan, Giska tidak pernah berbuat jahat sama tante. Giska hanya minta untuk tinggal di sini. Giska minta tolong." ucap Giska dengan air mata yang sudah menetes di pipi.


"Sial, tahan. Elo brengsek banget, belum lahir juga." ucap Giska dalam hati.


"Permisi, Giska ingin ke dalam sebentar." segera Giska berlari menuju kamar yang semalam dia tempati.


Menguncinya dari dalam, dan berhambur ke kamar mandi untuk mengeluarkan makanan dari dalam perutnya. Nafas Giska terengah, bahkan wajahnya juga pucat.


Dengan pelan, Giska berjalan ke ranjang empuk di kamar tersebut. Membaringkan badannya yang terasa lemas. "Ehh,,, menderita sekali gue." gumam Giska sambil memejamkan mata.


"Ckk,,, bayi nakal. Kenapa nggak bisa di ajak bekerja sama. Sudah tahu, sedang dicarikan papa yang tampan. Malah kebanyakan tingkah." omel Giska, menggerutu sendiri menyalahkan bayi yang bahkan masih kecil.


Di ruang makan, Nyonya Rahma mendengus melihat Giska yang seenak jidat pergi meninggalkan meja makan. "Dia pikir ini rumahnya. Astaga." ujar Nyonya Rahma menggeleng heran.

__ADS_1


"Viki berangkat dulu. Rini bareng nggak?" tawar Viki, mengacak rambut Rini. Dengan mulut masih penuh dengan makanan, Rini mengangguk.


Segera Rini menyelesaikan makanannya yang tinggal sedikit. Bersalaman pada semua orang, dan berangkat ke sekolah bersama dengan Viki.


"Abang, hati-hati." ucap Nara.


"Nanti malam dandan yang cantik. Abang mau ajak kamu pergi keluar." Viki mencium kening Nara.


Nara hanya mengedipkan kedua matanya dengan memasang ekspresi bingung. "Nanti ada seseorang yang akan datang mengantarkan gaun beserta perlengkapannya. Kamu di rumah saja." Viki kembali mencium kening Nara kembali.


"Abang,,, cepat..!! Nanti Rini telat loh." ucap Rini dengan tangan di atas jendela mobil, menghadap ke arah Nara dan Viki.


"Iya.." jawab Viki dengan tersenyum gemas pada Rini yang sedang merajuk.


Viki mencubit pipi Nara. "Persis seperti kamu." papar Viki meninggalkan Nara.


"Apaan, memang ada. Nara seperti Rini. Ada-ada saja. Nara sudah dewasa. Rini masih anak-anak." dengus Nara.


"Da,,, da,,, kak Nara.... wlekkk...." Rini melambaikan tangannya sambil memeletkan lidahnya ke arah Nara.


"Astaga, siapa sih temannya Rini di sekolah. Makin aneh-aneh saja tingkahnya." geleng Nara heran.


Tapi Nara senang, Rini bisa sekolah dan belajar dengan baik. Bahkan, Nara yakin. Jika di sekolah Rini mempunyai banyak teman.


Nara dapat melihat, bagaimana Rini akan sangat antusias jika akan berangkat sekolah. Bahkan Rini pernah mengeluh, kenapa jam sekolah tidak sedikit di perpanjang.


Unik. Jika siswa lain senang pulang cepat. Maka Rini akan menggerutu, dan malah kesal.


"Nara...." panggil seseorang dengan suara keras, saat Nara hendak membalikkan badan kembali ke dalam rumah.


Nara melihat seseorang berdiri di luar pagar rumah. Tampak pak satpam enggan untuk membuka pagar rumah tersebut.


Nara masih diam dengan matan menatap intens pada sosok yang sedang memandangnya dengan senyum di bibir.

__ADS_1


__ADS_2