
Pagi hari, seluruh kalangan masyarakat di hebohkan dengan adanya berita mengenai Viki. Terlebih, di dalam berita tersebut di tampilkan beberapa foto Viki yang tampak mesra dengan seorang lelaki.
"Brengsek. Siapa yang berani-berani bermain dengan gue." geram Viki, mencengkeram erat ponsel miliknya.
Setelah Viki melihat sendiri berita tentangnya, karena di beritahu oleh Rey.
Meski wajah dari lelaki yang berfoto dengan Viki telah di buramkan, namun Viki dapat mengetahui siapa sosok tersebut.
Yakni mendiang Jonathan. Sebab, dulu Viki memang pernah menjalin hubungan spesial dengan lelaki tersebut.
"Tidak mungkin Vanesa. Dia sudah meninggal." gumam Viki, menerka-nerka siapa yang mempunyai foto tersebut selain Vanesa, yaitu kekasih almarhum Jonathan.
Tidak ingin banyak berpikir, segera Viki menghubungi Rey, menyuruh Rey untuk melacak dan mencaritahu siapa dalang di balik tersebarnya foto panas dirinya bersama lelaki tersebut.
Rey tidak ingin banyak tanya. Dia tahu, ini termasuk ranah pribadi sang atasan. Tapi yang Rey yakini, jika Viki bukan seorang penyuka sesama jenis seperti yang di beritakan.
"Denis, hanya dia yang bisa menghentikan berita ini." gumam Viki, segera menghubungi sahabatnya tersebut.
"Gue sudah melakukannya, tanpa elo suruh. Tenang saja, beberapa menit lagi, berita tentang elo tidak akan tayang di layar televisi. Tapi elo harus ambil langkah cepat, gue hanya bisa mengontrol saluran televisi. Selebihnya, gue angkat tangan." ucap Denis di seberang telepon.
"Oke, setidaknya muka gue sudah tidak ada di layar televisi. Thanks." Viki segera mengakhiri percakapannya dengan Denis.
"Setidaknya, gue sudah bisa meredam berita di televisi. Sial....!!" seru Viki meninju angin.
Seperti biasa, Viki memakai pakaian kerja. Dengan langkah tegap, Viki menuruni tangga. Manik matanya melihat ke arah kursi. Dimana ada sang mama yang sedang menangis. Dengan sang papa dan Nara di damping sang mama.
"Bang." cicit Nara, melihat Viki berdiri di dekat mereka dengan tatapan sendu.
Sebab, Nara memang sudah mengetahui jika Viki pernah mengalami sakit seperti yang diberitakan saat ini. Namun itu dulu, dan Nara yakin. Jika sekarang calon suaminya tersenut telah sembuh.
"Apa benar... Apa benar kamu,,," Nyonya Rahma tidak kuasa menahan tangisnya, bahkan beliau tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya.
Tuan Hendra hanya diam. Menatap sang anak dengan lamat-lamat. Viki berjongkok di depan sang mama. Memegang kedua telapak tangan Nyonya Rahma.
"Semua itu tidak benar. Jika benar, mana mungkin Viki ngebet menikah dengan Nara." jelas Viki dengan pelan.
"Benarkah?" tanya Nyonya Rahma dengan pelan.
"Itu dulu ma, tapi sekarang Viki sudah yakin, jika Viki sudah sembuh." ucap Viki, yang hanya berani berkata dalam hati.
"Mama perlu bukti?" tantang Viki, Nyonya Rahma segera mengangguk.
"Baiklah." Viki memandang Nara yang sedang duduk di samping sang mama. Viki melepas telapak tangan sang mama, beralih memegang tangan Nara.
__ADS_1
"Sayang, mama butuh bukti." ucap Viki tersenyum mesum memandang ke arah Nara.
Plakk... "Awww..." jerit Viki, saat merasakan sakit di kepalanya.
"Apa sih maaa...?!" teriak Viki, mengelus kepalanya yang di pukul kuat oleh sang mama.
"Jangan macam-macam." bentak Nyonya Rahma.
Tuan Hendra dan Nara tersenyum, mereka merasa lega, melihat sikap Nyonya Rahma yang galak seperti biasanya. Yang menandakan jika sekarang beliau dalam keadaan baik-baik saja.
"Ckk,, katanya mama butuh bukti. Mama gimana sih." decak Viki sembari berdiri. Padahal Viki juga tidak mungkin melakukan anu-anu dengan Nara, sebelum mereka menikah.
"Tapi tidak begitu caranya..!!" bentak sang mama.
"Loh,,, terus mau pake cara apa ma, cuma itu satu-satunya cara untuk membuktikan, jika Viki normal. Memang mama ada cara lain?" goda Viki.
"Awww... ma,,, sakit!" teriak Viki, saat lengannya dicubit sang mama.
"Kamu itu, malah bikin mama kesel." gerutu Nyonya Rahma.
"Iya,, iya,, maaf." Viki mencium kening sang mama.
"Maaf pa, Viki akan segera menyelesaikannya." Viki memandang sang papa dengan tatapan resah dan merasa tidak enak hati.
"Maaf pa, membuat papa malu." Viki memeluk sang papa, merasa menyesal atas kesalahannya di masa lalu.
Tuan Hendra menepuk pelan bahu sang putra. "Kenapa papa mesti malu. Papa bangga mempunyai putra seperti kamu. Masih muda, merintis usaha sendiri dari nol. Tanpa bantuan papa. Dan sekarang tengah sukses menjadi pengusaha muda yang di segani oleh semua orang."
Tuan Hendra mengurai pelukan mereka. "Lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan. Kami akan mendukung kamu. Tenang saja, papa bisa menangani masalah di kantor papa." Tuan Hendra menepuk pundak sang putra.
Viki merasa lega, ternyata kedua orang tuanya tidak lantas termakan omongan berita tersebut. "Viki pamit. Viki harus segera menyelesaikan semua ini." pamit Viki.
"Nara ikut bang." pinta Nara dengan wajah cemas.
"Tidak perlu, kamu temani mama. Bukankah sebentar lagi papa berangkat kerja." ujar Viki.
"Hati-hati." ucap Nara, menaikkan nada suaranya saat Viki melangkah pergi.
"Tidak perlu khawatir. Viki pasti bisa meredam dan menyelesaikan semua maslaah ini." ucap Tuan Hendra menenangkan Nara yang tampak cemas.
Di depan perusahaan, sudah berkumpul beberapa wartawan. Dan pasti mereka menunggu kedatangan Viki.
"Ckk,,, padahal Denis sudah membuat berita tak bermutu itu lenyap di televisi. Untuk apa mereka masih mencari berita sampai di sini?!" dengus Viki.
__ADS_1
Denis mengancam stasiun televisi yang masih menyiarkan berita tentang Viki. Karena memang, keluarga Denis menanamkan saham di beberapa stasiun televisi. Membuat mereka punya kekuasaan mutlak.
Namun seperti yang Denis katakan, jiak dia tidak bisa membantu jika sudah sampai di luar ranahnya.
Viki tidak memakai mobil yang selalu dia pakai untuk berangkat ke kantor. Kali ini, Viki memakai mobil yang memang sangat jarang dia gunakan. Sebab mobil tersebut berukuran sedikit besar.
Viki menghentikan mobil di seberang jalan. Viki masih di dalam mobil, mengamati setiap orang yang berada di depan perusahaan.
"Aku akan masuk melewati pintu belakang. Amankan." perintah Viki pada Rey melewati sambungan ponsel.
Sampai di ruangannya, Viki langsung di berikan kabar yang sangat tidak enak. "Katakan." ucap Viki pada karyawannya.
"Maaf Tuan. Karena berita tersebut, beberapa klien dan juga perusahaan yang sedang bekerja sama dengan perusahaan kita membatalkan kerja samanya." lapornya.
"Lalu kenapa. Batal ya batal." ujar Viki dengan santai.
"Maaf Tuan, tapi tanpa mereka, perusahaan kita tidak bisa berjalan dengan baik dan seimbang." kilahnya.
"Apa kamu mengajariku cara menjalankan perusahaan!!" bentak Viki.
"Maaf Tuan, saya tidak berani." ucapnya.
"Lakukan saja seperti yang saya perintahkan!!" ucap Viki dengan nada dingin.
"Baik."
"Rey, ingat mereka. Dan setelah ini, jangan pernah lagi bekerja dama dengan mereka." tegas Viki.
"Baik Tuan."
"Tuan, bagaimana jika kita bekerjasama dengan perusahaan Tuan Diego." ujar seorang karyawan, memberi masukan.
"Lakukan saja apa yang dikatakan Tuan Viki. Jangan banyak bertanya. Sebaiknya kalian segera keluar." perintah Rey, membuka suaranya terlebih dahulu. Apalagi Rey mendengar nama Diego. Pastinya akan membuat amarah Viki bertambah melambung.
Sementara di luar ruangan Viki, berita mengenai Viki yang penyuka sesama menjadi gosip hangat para karyawan. Namun Viki tidak mau ambil pusing.
"Kita akan segera bekerja sama dengan perusahaan Denis dan Ella." tutur Viki memutuskan.
"Baik Tuan." Rey tersenyum sempurna mendengar perkataan Viki. Akhirnya Viki mau melakukan kerjasama dengan dua perusahaan raksasa milik kedua sahabatnya tersebut.
"Dalam setiap masalah, pasti ada keberuntungan." gumam Rey tersenyum.
"Melepaskan perusahaan-perusahaan kecil untuk bergabung dengan dua perusahaan raksasa. Bukankah akan membuat perusahaan semakin kuat." imbuh Rey tersenyum sempurna.
__ADS_1