
Viki melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah terlebih dahulu. Sebelum menghadiri pesta pertemuan yang di adakan setiap tahunnya yang akan dihadiri oleh para pebisnis muda.
"Semoga Denis tidak datang bersama dengan Hana." gumam Viki.
Viki sudah menghubungi sahabatnya tersebut. Bertanya apakah dia akan datang pada acara tersebut. Seperti dugaan Viki, Denis datang dengan alasan yang sama dengan dirinya.
Mereka berdua masih membutuhkan banyak relasi dan juga kawan. Lantaran mereka tergolong sebagai pengusaha yang masih pemula.
Biarpun perusahaan Denis lebih pesat, karena perusahaan tersebut milik keluarganya. Tapi Denis bahkan baru saja menginjakkan kaki di perusahaan.
Karena jika sampai Denis membawa Hana, pasti Denis akan lebih memilih bersama dengan Hana ketimbang dirinya. Karena Hana kekasih Denis.
"Viki tidak ikut makan ma." ucap Viki, menghampiri sang mama yang sedang menata menu makan malam di meja. Dan tentunya bersama dengan Nara.
Viki berjalan sedikit memutar, mendekat ke arah Nara. Dan... cup.... Badan Nara seketika mematung saat Viki mencium pipinya.
Tringg.... terdengar suara sendok terjatuh ke lantai. Dan pastinya sendok tersebut berasal dari tangan Nara. "Hati-hati sayang." ucap Viki.
Sayang. Panggilan dari Viki membuat pasokan oksigen di paru-paru Nara berkurang drastis.
Tanpa rasa bersalah, Viki mengambil sendok di lantai. Menaruhnya di atas meja. "Viki....!!" seru Nyonya Rahma melihat apa yang di lakukan Viki pada Nara.
Suara melengking dari Nyonya Rahma membuat semuanya menoleh ke arah mereka. Bahkan juga Tuan Hendra dan kedua adik Nara yang sedang berada di ruang tengah.
Hap... dengan sigap, Viki menangkap buah apel yang sengaja di lempar sang mama ke arahnya dengan memamerkan gigi pada sang mama. Sungguh, Nyonya Rahma merasa kesal dengan putranya.
Nara memberengut sambil memandang ke arah Viki. Sebenarnya Nara merasa senang. Tapi pasti Nara malu sekali, apalagi di depan mereka ada Nyonya Rahma. Mau di taruh di mana muka Nara.
Krukkkk.... Viki menggigit buah apel tersebut. Tersenyum memandang Nara, dan mengerlingkan sebelah matanya dengan naka. Membuat kedua mata Nara membulat seketika.
"Viki,,,!!" geram Nyonya Rahma tertahan. Viki melangkah meninggalkan Nara. Dan mendekat ke arah sang mama.
Viki memeluk Nyonya Rahma dari belakang. "Biar mama nggak iri." Viki mencium pipi Nyonya Rahma.
"Astaga." Nyonya Rahma memukul lengan Viki dengan keras, membuat Viki melepaskan pelukannya dan mengusap lengannya.
"Sudah sana mandi." usir Nyonya Rahma.
Viki dengan santai sambil memakan buah apel, berjalan menaiki anak tangga, menuju ke dalam kamarnya.
Viki berhenti di tengah tangga. Menoleh kembali ke arah sang mama. "Ma, Viki ada acara di luar. Tidak ikut makan malam." ucap Viki kembali memberitahu sang mama.
Nyonya Rahma dan Nara hanya memandang ke arah Viki, tanpa menyahut perkataan dari Viki.
"Kamu baik-baik saja Nara?" tanya Nyonya Rahma, melihat Nara masih terdiam. Seperti syok. Apalagi Nyonya Rahma melihat kedua pipi Nara berwarna kemerahan.
"I--i--iya tante." jawab Nara terbata-bata. Segera Nara menundukkan kepalanya. Melanjutkan kegiatannya dengan hati berdebar tak karuan. Antara senang bercampur takut.
Nyonya Rahma tersenyum dan menggeleng pelan memandang ke arah Nara yang tetap menunduk. Nyonya Rahma tahu jika Nara pasti sangat malu.
"Viki ada-ada saja." gumam Nyonya Rahma. Padahal Nyonya Rahma merasa senang dengan perlakuan Viki pada Nara. Hanya saja beliau berjaga-jaga, supaya mereka tidak kebablasan sebelum menikah.
Sementara di dalam kamar, Viki sedang bersiap. "Apa gue ajak Nara." ucap Viki di depan cermin.
Viki mengancingkan kancing di kedua lengannya. "Lebih baik jangan. Apalagi jika Nara sampai bertemu dengan Giska. Bisa tamat riwayatnya." ucap Viki menjawab sendiri perkataannya.
Karena pasti Giska tidak akan tinggal diam. Apalagi Viki yakin jika Renggo maupun Tuan Marko belum bisa mengendalikan Giska.
Setelah makan malam, seperti biasa. Semua berkumpul di depan televisi barang sebentar sambil berbincang ringan.
Kecuali Tuan Hendra yang sudah berada di ruang kerjanya. Berkutat dengan lembaran-lembaran kertas di depannya. Tak lupa, secangkir kopi yang sudah di buatkan oleh sang istri menemaninya di atas meja kerjanya.
Suara langkah kaki Viki membuat mereka menghentikan obrolan mereka. Dengan serentak menoleh ke arah sumber suara.
Degg.... Jantung Nara bertalu-talu saat memandang bagiamana sempurnanya sosok Viki. "Den Viki tampan ya." bisik Mbak Siti di samping telinga Nara sambil menurunkan camilan di meja dekat Nara duduk.
__ADS_1
"Ehhh..." kata Nara menoleh dan tersadar.
"Anak mama ganteng banget. Mau ke mana?" goda Nyonya Rahma.
Viki merapikan kembali jas di badannya. Padahal jas tersebut masih sangat rapi. "Ke acara tahunan ma."
"Sendiri?" Nyonya Rahma melirik ke arah Nara yang menunduk, memainkan kepingan puzzle milik Bima.
"Nggak." jawab Viki, sontak membuat tangan Nara terdiam. "Dama Denis." lanjut Viki. Nara tersenyum samar, menghembuskan nafas lega. Padahal Nara sempat berpikir jika Viki mengajak teman perempuannya.
"Kenapa nggak ajak Nara saja." tegur Nyonya Rahma. Tapi Nara masih terdiam. Berpura-pura tidak melihat ke arah Viki maupun mendengar pembicaraan keduanya.
"Tidak ada waktu ma. Viki tahunya tadi. Nara juga perlu persiapan." jelas Viki.
"Benar juga." ucap Nyonya Rahma. "Kelihatannya Nara perlu membeli beberapa gaun. Untuk jaga-jaga." imbuh Nyonya Rahma.
"Ma, bisa bicara sebentar." ucap Viki, melihat ke arah jam tangannya. Dan terlihat masih ada waktu untuk berbicara berdua dengan sang mama.
"Ada apa?" tanya Nyonya Rahma, yang sudah berada jauh dari tempat Nara dan kedua adiknya.
"Mumpung Viki ingat, Viki minta mama hati-hati dengan Giska. Dia sedikit berbahaya." ucap Viki dengan raut wajah serius.
"Iya." ucap Nyonya Rahma, dirinya tidak bertanya alasan Viki berkata demikian. Tapi Nyonya Rahma sangat tahu putranya, Viki pasti sedang tidak sedang bercanda.
"Viki titip Nara. Jika mama mengajak Nara keluar rumah, dan bertemu dengan Giska. Untuk sementara mama bilang saja jika Nara saudara kita." ucap Viki membuat kening Nyonya Rahma mengerut. "Viki tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Viki anggap mama sudah paham." lanjut Viki.
"Viki berangkat." pamit Viki, melangkah kembali untuk mendekat ke arah Nara.
Viki tersenyum melihat Rini yang tidak peduli dengan kehadirannya. Karena terlihat Rini tengah sibuk dengan buku yang sedang dia pegang.
Viki menggerakkan alisnya, dan sepertinya Nara paham maksud Viki. Segera Nara berdiri. "Aku berangkat, hati-hati di rumah. Jangan tidur larut malam." ucap Viki, menatap ke arah Rini dan Bima.
Lalu,,,, cup, dengan singkat Viki mencium kening Nara. Sementara Nara hanya mengangguk, melihat Viki berjalan ke arah pintu keluar.
"Kenapa?" tanya Nyonya Rahma dengan lembut, di samping Nara.
Nara masih terpaku melihat ke tempat Viki menghilang. "Sepertinya Nara punya penyakit jantung." jawab Nara dengan mata tetap menatap ke arah yang sama.
Nyonya Rahma ingin tertawa, tapi di tahannya. "Memang ada apa dengan jantung kamu?" tanya Nyonya Rahma, dengan nada yang masih sama.
"Huhhhh,,,,, jantung saya berdebar. Tiap Bang Viki menyentuh saya." jawab Nara tersenyum sembari menghembuskan nafas pelan.
"Oooooo,,,, begitu." ujar Nyonya Rahma.
"Ehhhhh...." Nara seperti tersadar dari lamunannya, menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Menoleh ke samping, dimana Nyonya Rahma memandangnya dengan senyum menggoda dirinya.
"Permisi tante.....!!!" seru Nara, berlari meninggalkan ruang tengah.
"Haaa,,,haa,,,ha,,,ha,,, Astaga. Lucu sekali." Nyonya Rahma tertawa terbahak-bahak sampai memegang perutnya. Bahkan ada setitik air mata yang keluar dari sudut matanya.
Rini dan Bima seketika terdiam dan memandang ke arah Nyonya Rahma. "Maaf, tante kelepasan." ucap Nyonya Rahma tersadar.
"Tante kenapa?" tanya Rini dengan tatapan aneh.
"Itu,, anu,, iya,, itu,,, emmm lucu. Acara di televisi itu. Lucu." ucap Nyonya Rahma, sambil menghapus air mata di sudut matanya.
Bima yang tidak paham kembali memainkan mainannya. Sementara Rini, melihat ke arah televisi. "Lucu. Memang lucu." gumam Rini, mengetuk-ngetukkan pensil di dagunya sambil melihat ke arah televisi.
Dimana di televisi sedang menyiarkan acara berita. Rini menggelengkan kepala. "Orang dewasa memang aneh." ucap Rini lirih. Kembali fokus pada buku di tangannya.
Nyonya Rahma kembali duduk di samping Bima. Masih memikirkan perkataan Viki. Tentang Giska dan Nara.
"Bukankah lebih baik, seandainya Giska mengetahui jika Nara calon istri Viki." ucap Nyonya Rahma dalam hati.
Karena menurut Nyonya Rahma, dengan Giska mengetahui siapa Nara di hati Viki. Giska tidak lagi mengejar Viki.
__ADS_1
Dengan begitu Viki tidak perlu berhubungan dengan Giska. Karena pasti Giska akan mundur dengan sendirinya.
Padahal, tanpa Nyonya Rahma ketahui Viki melakukannya karena khawatir Giska akan mencelakai Nara. Meskipun Nara di rumah, pasti orang seperti Giska mempunyai seribu cara yang licik.
"Nanti saja, aku bicarakan dengan papa." ucap Nyonya Rahma kemudian.
Nara segera masuk ke dalam kamar mandi. Membasuh wajahnya dengan air berkali-kali. Nara menyenderkan badannya ke tembok.
"Memalukan." gumam Nara. "Lagian kenapa sekarang bang Viki pake cium Nara. Mana di lihat Tante Rahma. Nggak tahu tempat." ucap Nara dengan bibir cemberut.
Tapi, sedetik kemudian bibir Nara tersenyum sempurna. "Semoga bang Viki segera menemukan keluarga Nara." ucap Nara, berharap. Karena dengan begitu, dirinya dan Viki akan segera menikah.
Nara memandang ke cermin. Memandang dirinya dari pantulan cermin. Nara mendekat ke cermin. Dan teringat perkataan ibunya.
JANGAN MENJADI PEREMPUAN LEMAH. JANGAN PERNAH MENUNJUKKAN KETAKUTANMU DI HADAPAN MEREKA YANG TIDAK MENYUKAIMU.
"Bu, sekarang ibu sama bapak bisa tenang. Disini, Nara dan Rini, juga Bima. Sekarang mempunyai tempat bersandar." ucap Nara dengan sendu.
"Nara janji, Nara akan menjadi perempuan kuat. Biar bisa bersanding dengan bang Viki." ucap Nara dengan sungguh-sungguh.
Setiap saat, hari dan nyali Nara sedikit menciut. Saat teringat siapa Viki. Dan pastinya, banyak perempuan di luar sana yang berlomba-lomba untuk bisa bersanding dengan Viki.
Tapi Nara selalu mematahkan hal tersebut. Apalagi teringat jika Viki pernah berkata jika dirinya satu-satunya perempuan yang pernah dia sentuh.
"Nara akan memperjuangkan abang, selagi abang masih menginginkan Nara." ucap Nara.
"Cckkk,,,," decak Denis saat dirinya dan Viki masih berada di dalam mobil. Menuju ke tempat acara.
Viki sengaja menjemput Denis beserta Miko, asistennya Denis. Dengan alasan ingin berangkat bersama.
Padahal tujuan Viki adalah memastikan jika Denis berangkat sendirian. Tidak mengajak Hana maupun perempuan lain.
"Semua gara-gara Hana." dumal Denis, karena Hana tidak mau dia ajak untuk pergi ke acara ini.
Viki hanya melirik ke arah Denis dan merasa acuh dengan wajah masam sahabatnya. "Kenapa, mau pergi dengan Lirang?" tanya Viki, menyebut nama perempuan tersebut dengan aneh.
"Mana ada. Hubungan gue sama Hana baru membaik. Lagi pula gue dari dulu sama sekali nggak tertarik sama Lyra." omel Denis.
"Kenapa sih elo." sungut Viki, karena sedari tadi Denis selalu menarik nafas dalam-dalam. Atau kalau tidak selalu berdecak. Dan juga memasang wajah sebal dan kesal.
Di depan kursi depan, kedua asisten Denis dan Viki hanya terdiam. Mendengar kedua atasannya tersebut selalu beradu mulut. Karena hal tersebut sudah terbiasa mereka dengar jika keduanya bersama.
"Elo nyadar nggak sih." ucap Denis dengan suara sedikit meninggi.
"Apa?" tanya Viki dengan santai dan tenang.
"Astaga. Kita pergi ke acara tersebut. Dan semuanya lelaki. Empat lelaki." kesal Denis.
Viki menggeleng pelan. Dirinya sama sekali tidak mengerti kenapa Denis malam ini selalu menggerutu.
Viki memutar kedua matanya jengah. "Biasanya juga seperti ini." dengus Viki kesal, mendengar keluhan dari sahabatnya tersebut.
Tiba-tiba wajah Denis murung. "Tidak. Ada satu perempuan di antara kita." ucap Denis lirih, teringat jika mereka selalu bertiga saat menghadiri acara seperti ini.
Karena waktu itu, Vano masih acuh pada Ella. "Santai, sahabat kita dalam keadaan baik-baik saja. Dia pasti kembali." ucap Viki dengan percaya diri.
Denis memandang tajam ke arah Viki. "Ada yang elo sembunyikan dari gue." tanya Denis dengan tatapan curiga.
Viki sadar jika dia salah bicara. "Akhirnya sampai." ucap Viki, turun dari mobil.
Viki tidak mungkin menceritakan jika beberapa waktu yang lalu dirinya dan Ella berkirim pesan. Meskipun hanya sekali.
"Jaga tu muka." ingat Viki pada Denis. Sebab banyak kamera yang pastinya akan meliput mereka.
"Bawel." ketus Denis. Padahal sedari tadi, dirinyalah yang selalu cerewet di dalam mobil. Rey dan Miko hanya menggeleng pelan di belakang mereka, melihat kedua atasannya tersebut.
__ADS_1