VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 55


__ADS_3

"Nara...." panggil Viki dengan lirih. Membayangkan wajah polos dari Nara.


"Kenapa usiamu masih kecil. Apa aku mencoba mengirim pesan pada Ella. Setidaknya dia akan membaca sewaktu-waktu. Saat dia mengaktifkan ponselnya." ucap Viki.


Viki memang aneh. Padahal Ella, sahabatnya tersebut sedang menenangkan diri. Dan entah ada di antah berantah mana sekarang keberadaannya tidak diketahui. Malah di beri pekerjaan rumah.


Sementara Denis, yang keberadaannya sudah tentu. Yakni satu kota dengannya. Dan dapat dia temui dengan mudah, Viki tidak mau menganggu. Dengan alasan, Denis mempunyai masalah dengan kekasihnya.


Viki segera menyelesaikan ritual membersihkan badan. Masih dengan memakai handuk yang melilit di pinggul, Viki mengambil ponsel. Mengetik sesuatu yang sangat amat panjang, sudah seperti gerbong kereta api. Dan dikirimkan pada sahabatnya.


Sebut saja pesan curahan hati dari seorang Viki. Selesai, segera Viki bergegas memakai pakaian. Karena masih banyak pekerjaan yang belum dia selesaikan.


Mood Viki yang baru saja di hancurkan dengan kedatangan Giska. Kini sudah mulai kembali membaik. Meski dipikirannya masih berputar-putar nama seorang gadis muda. Nara.


"Tuan, lima belas menit lagi kita akan menemui klien Tuan Marko." ucap Rey dari luar, meninggikan suara. Tepatnya di depan pintu kamar pribadi milik Viki. Yang berada di dalam ruang kerjanya.


"Kita berangkat sekarang." ucap Viki, membuka pintunya. Keluar dari kamar dengan keadaan lebih segar. Dan raut wajah terlihat tenang.


"Baik." segera Rey mengambil berkas yang sudah di siapkan dan meluncur ke tempat mereka akan bertemu.


"Apakah dia sudah membereskan semuanya?" tanya Viki.


Rey yang tampak fokus menyetir, tetap menjawab pertanyaan atasannya tersebut. "Sudah Tuan, semua duri yang akan menghalangi jalan kita sudah mereka singkirkan dengan bersih." ucap Rey.


"Baguslah. Mereka tidak ingkar janji." ucap Viki, dengan pandangan mata membaca setiap berkas yang berada di tangannya.


"Tapi tetap saja, pasti mereka akan kembali membuat riak kecil untuk proyek nanti." gumam Viki.


Rey tidak menjawab. Karena sungguh, Rey masih belum menemukan jalan keluar untuk masalah tersebut.


Dengan keputusan besar dari atasannya tersebut. Mau tidak mau sekarang Rey harus lebih teliti dan lebih protektif lagi.


"Kumpulkan semua informasi yang dibutuhkan olehnya." perintah Viki.


Karena hanya memberikan mereka informasi yang mereka inginkan, Viki akan mendapatkan bantuan dari salah satu pimpinan orang bawah tanah tersebut.


Viki menyadari, jika dirinya belum sehebat sahabatnya. Ella. Tapi setidaknya, Viki akan merambat naik secara perlahan. Menggunakan kekuatannya sendiri.


"Baik Tuan." jawab Rey.


Viki juga harus memikirkan jalan keluar, dirinya tidak mungkin bergantung dari pertolongan mereka. Karena mereka membantu jika ada imbalan. Apalagi seandainya mereka berkhianat. Pasti Viki akan kelimpungan, jika tidak segera mencari jalan keluar.


Viki memejamkan mata. Teringat perkataan seseorang padanya.

__ADS_1


JIKA INGIN MASUK, MASUKLAH MENGGUNAKAN DUA KAKI. AGAR PIJAKANMU BERTAMBAH LEBIH KUAT DAN TIDAK GOYAH.


Viki membuka kedua matanya. "Kumpulkan informasi mengenai mereka yang menghalangi jalannya proyek. Secara lengkap. Sekecil apapun." perintah Viki.


Viki yakin jika itu akan sangat berguna untuk mereka. "Baik Tuan " jawab Rey.


"Susupkan bawahanmu yang handal ke dalam kelompok mereka." Viki yakin, jika proyek super besar ini dapat terealisasikan, pasti dia akan di segani oleh semua pengusaha.


Dan pastinya akan banyak pengusaha yang meminta kerja sama dengan perusahaannya. Dan Viki pastikan semua akan terjadi.


Sementara di mobil, Giska masih terdiam. Dirinya masih tidak percaya dengan yang di alami baru saja.


Tangan Giska terulur memegang lehernya yang masih terasa sakit. Giska masih mengingat jelas tatapan dingin dari Viki. Pria itu bahkan tak berkedip saat mencekik lehernya.


Giska melihat melihat dengan kedua matanya secara jelas, niat membunuh dari tatapan mata Viki. Pria itu - sangat berbahaya jika sedang marah. Beruntung Rey ada di sana. Jika tidak, pasti sekarang Giska sudah menjadi mayat.


Tiba-tiba Giska menyeringai. Menatap lurus ke depan dengan pandangan liciknya. "Jika aku tidak bisa memiliki dia, maka aku pastikan. Tidak ada perempuan yang akan hidup bersamamu." ucap Giska dengan ekspresi wajah menakutkan.


"Va,,,, Ra,,,, Da,,,, Siapa yang di sebutnya saat kedua matanya terpejam. Aku harus mencari tahu. Siapapun dia, aku harus segera mengakhiri hidupnya." ucap Giska tanpa perasaan. Mencengkeram stir dengan erat.


"Ikuti kemanapun Viki pergi. Laporkan padaku, jika ada seorang perempuan di dekatnya. Jangan lupa, kamu ambil gambarnya." perintah Giska dengan seseorang di ujung teleponnya.


"Kamu hanya akan menjadi milik Giska. Hanya milik Giska. Tidak ada yang lain. Haaaa,,,,,, Viki...." ujar Giska dengan tertawa menakutkan.


Bukannya takut akan apa yang di lakukan Viki padanya. Giska malah semakin tertarik dengan Viki. Entahlah, Giska benar-benar terobsesi dengan sosok Viki.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nara." panggil Alif untuk kesekian kalinya. Karena pandangan Nara seperti menerawang jauh ke depan dan kosong.


Alif menghembuskan nafas panjang. "Nara." panggil Alif, memegang telapak tangan Nara di atas meja.


"Ehh,,,," ucap Nara terkejut dan segera menarik telapak tangannya.


"Maaf, tadi kakak sudah memanggil kamu berkali-kali. Tapi kamu tidak menjawab." jelas Alif.


"Oohh,,, maaf kak." ucap Nara merasa tidak enak. Bisa-bisanya dia melamun di saat jam belajar.


"Kamu ada masalah?" tanya Alif, mencoba mencari tahu.


"Maaf kak. Bisa kita lanjutkan belajarnya?" bukannya menjawab, Nara malah mengajak Alif untuk melanjutkan sesi belajarnya.


"Baiklah." ucap Alif, padahal niat Alif hanya untuk membantu meringankan beban Nara. Itupun jika Nara mempunyai masalah berat, yang sulit di hadapinya.

__ADS_1


Dan tentunya, jika Nara mengizinkannya. Ternyata Nara malah memilih untuk tidak menjawab pertanyaan darinya. Membuat Alif hanya bisa menerimanya.


Nara kembali melanjutkan belajarnya. "Aku harus fokus. Belajar yang rajin Nara. Supaya tidak mempermalukan keluarga bang Viki." batin Nara, menyemangati dirinya sendiri.


Nara benar-benar ingin menjadi perempuan yang bisa dan pantas berada di samping Viki.


Sesekali Alif selalu mencuri pandang pada wajah Nara. "Sangat cantik." batinnya dalam hati.


Nara menyerahkan kertas soal yang di berikan Alif padanya. Karena Nara sudah selesai mengisi keseluruhan pantatnya tersebut. "Sudah kak, bagaimana?" Nara memandang ke arah Alif.


"Iya, sangat cantik." jawab Alif, memandang ke arah Nara.


Kening Nara mengerut mendengar perkataan Alif. "Kak." Nara melambaikan tangannya di depan Alif.


"Astaga. Maaf." Alif mengusap wajahnya dengan kasar. Nara melihat ke arah Alif dengan kening semakin mengerut.


Alif mengambil kertas di depannya. Pandangan matanya berfokus ke lembar kertas tersebut. Dengan kepala mengangguk pelan berkali-kali.


Terlihat jika Alif sangat senang dengan hasil jawaban dari Nara. "Belum ada satu minggu kamu belajar. Kamu memang pintar." tangan Alif hendak terulur mengacak rambut Nara, tapi Nara segera menghindar dengan berdiri.


"Nara ke belakang sebentar kak. Mau ambil minum. Haus." ucap Nara, bergegas menuju dapur.


Alif mengalihkan tangannya yang masih di udara dengan menggaruk tengkuknya sendiri sambil tersenyum. "Nara." gumam Alif.


Nara menuangkan air minum di gelas. "Kenapa aku merasa ada yang aneh dari kak Alif." batin Nara.


Tidak mau berpikir negatif, segera Nara membawa minumannya ke depan. "Ini kak, silahkan di minum. Tadi Nara sudah minum di belakang." Nara menurunkan segelas jus buah di meja.


Alif segera mengambilnya, meminumnya hingga tersisa separuh. "Terimakasih. Tahu saja kamu, kalau aku sedang haus." ucap Alif.


"Oh iya, sejak tadi aku belum melihat tante Rahma?" tanya Alif.


Nara yang sedang menulis sesuatu di atas kertas menjawab pertanyaan Alif tanpa menghentikan kegiatannya tersebut. "Tante Rahma mengikuti Om Hendra. Beliau berdua menghadiri acara amal." jelas Nara.


Nara dan Alif melanjutkan kegiatan mereka. Alif menjelaskan dengan pelan dan secara gamblang pada Nara. "Bagaimana, ada yang di tanyakan?" tanya Alif, selesai dia menjelaskan pada Nara.


"Yang ini." Nara menunjuk pada satu poin yang membuatnya todak bisa berpikir.


Pandangan mata Alif tertuju pada poin yang tunjuk oleh kari Nara. "Ini?" tanya Alif memastikan. Nara menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.


Keduanya melanjutkan sesi pembelajaran untuk Nara, hingga waktu untuk belajar selesai.


Hingga makan malam dan semua sudah berkumpul di meja makan, Viki juga belum datang. "Kenapa Nara?" tanya Nyonya Rahma, karena terlihat raut khawatir di wajah Viki.

__ADS_1


Dan sepertinya Tuan Hendra dapat menebak apa yang sedang dipikirkan oleh gadis muda tersebut. "Mungkin Viki masih ada pekerjaan. Kamu tidak perlu khawatir." ucap Tuan Hendra.


"Iya Om." balas Nara dengan tersenyum lembut.


__ADS_2