VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 68


__ADS_3

"Maaf Tuan, untuk urusan mobil. Biar rekan kami yang memeriksanya." ucap bawahan Tuan Haris yang juga bawahan Ella.


"Maaf jika saya lancang. Tapi saya hanya takut jika kita malah akan menerima hasil yang tidak sesuai dengan harapan kita. Jika menyerahkan pada pihak bengkel." jelasnya.


"Apa dia bisa?" tanya Viki. Karena sepertinya, bawahan Ella mengerti apa yang Viki inginkan.


"Pasti. Dia orang kepercayaan Nona Ella untuk urusan mobil." jawabnya dengan cepat.


"Baiklah, saya serahkan mobil itu padamu." ucap Viki percaya. "Jangan lupa, untuk memeriksa setiap bagiannya." imbuh Viki. Dirinya berharap ada petunjuk dari mobil sang papa yang sudah hancur bagian depannya.


"Selidiki asisten dan juga orang yang mengikuti kemana papa pergi?" perintah Viki.


"Baik." bawahan Viki bekerja sama dengan bawahan Tuan Haris, melakukan apa yang diinginkan oleh Viki.


Viki dan Rey bergegas pergi ke markas mereka. Yang di bangun beberapa bulan terakhir. Sebuah gedung kosong.


Viki sengaja membeli sebuah tanah. Dimana di atasnya sudah berdiri sebuah bangunan. Dirinya merenovasi gedung kosong tersebut menjadi markas untuk kelompoknya.


Posisinya juga sangat sulit di temukan lawan. Bahkan kawan sekalipun. Karena terletak di pinggiran kota. Dimana tempat tersebut sangat terpencil.


Tapi Viki menemukan sebuah jalan tikus. Sehingga dirinya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di tempat tersebut.


"Bagiamana?" tanya Viki, begitu dirinya dan Rey sudah berdiri di sebuah ruangan.


"Maaf Tuan. Di tempat kejadian, tidak ada CCTVnya." jelas bawahannya.


"Apa sudah ada yang menuju ke TKP?" tanya Viki.


"Sudah Tuan. Dan..." perkataan Rey berhenti karena ponsel miliknya berdering.


"Baik." ucap Rey, dengan seseorang yang menghubunginya.


"Mereka menemukan sesuatu." ucap Rey pada Viki setelah mematikan panggilan teleponnya.


Segera Viki dan Rey bergegas ke tempat terjadinya kecelakaan yang menimpa Tuan Hendra.


"Lihat Tuan, jika dilihat dengan seksama. Ada bekas ban mobil lain di sini." ucap bawahan Viki, saat Viki sudah sampai di tempat tersebut.


Viki segera memperhatikan apa yang ditunjukkan oleh bawahannya. Dan juga berjalan ke beberapa tempat lain di sekitarnya. "Ada yang lain?" tanya Viki.


Seharusnya jika ada mobil lain, setidaknya ada pecahan dari mobil lain. Apalagi terlihat bagaimana parahnya keadaan mobil Tuan Hendra. "Tidak ada."


"Ada dua mobil. Dan satu mobil milik papa." ucap Viki lirih. Yang menandakan jika kecelakaan Tuan Hendra melibatkan dua mobil lainnya.


Viki berdiri di tepi jalan. Dimana ada jurang yang tidak terlalu curam di sampingnya. "Beberapa rekan kami sudah berada di bawah untuk memastikan." ucapnya.


"Tunggu Tuan, anda tidak perlu turun ke bawah. Saya rasa sudah cukup mereka saja." ucap Rey, saat Viki hendak menuruni tempat tersebut.


"Benar Tuan, di bawah sudah ada enam orang. Kami rasa sudah cukup." timpal yang lainnya, membenarkan perkataan Rey.


Viki masuk ke dalam mobil. Menunggu anak buahnya yang masih berada di bawah untuk melaporkan penemuan mereka.


"Kenapa lama sekali." ucap Nyonya Rahma dengan suara seraknya. Karena sampai sekarang, Tuan Handra masih berada dalan ruang operasi.


"Tante. Kita harus tenang. Percaya sama dokter. Mereka pasti akan memberikan yang terbaik untuk om Hendra." ucap Nara mengelus pelan lengan calon mertuanya tersebut. Sambil tangan sebelahnya menghapus air matanya di pipi.


"Benar kata Nara. Kita hanya perlu berdo'a. Serahkan semua pada dokter dan Tuhan." imbuh Nyonya Ane.


Ting... lampu yang berada di atas pintu ruang operasi berubah warna. Beberapa orang berpakaian medis keluar dari dalam.


Ketiganya lantas segera berdiri. Dengan tubuh Nyonya Rahma berada dalam rangkulan Nyonya Ane. "Bagaimana dok?" tanya Nyonya Ane.


Semua dokter dan juga petugas medis sempat terkejut saat melihat Nyonya Ane berada di sini. Tapi seketika mereka teringat jika Viki adalah putra dari Tuan Hendra, merupakan sahabat dari putri Nyonya Ane.


"Operasinya berjalan dengan lancar." ketiganya bernafas lega seperti beban mereka sedikit berkurang.


"Tapi...." sang dokter menjeda perkataannya.


Baru saja rongga ketiganya sedikit bebas, namun kata tapi dari dokter membuat ketiganya seolah kembali menegang.


"Pasien masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tuan Hendra mengalami koma." lanjut sang dokter.


"Hikkksss....." air mata yang sempat terhenti sebentar. Kini kembali mengalir. Dan lebih deras lagi.


Nyonya Ane menuntut Nyonya Rahma untuk duduk. "Nara, kamu di sini." tutur Nyonya Ane.

__ADS_1


"Baik tante." ucap Nara segera memegang tubuh Nyonya Rahma yang lemas karena berita yang baru saja beliau dengarkan.


"Jelaskan?!" ucap Nyonya Ane dengan tegas. Nara melihat bagaimana semua petugas medis seperti merasa takut pada Nyonya Ane.


Dan juga, Nara tidak pungkiri. Jika Nyonya Ane sangat berwibawa dan juga terlihat tidak bisa dipandang rendah. Meskipun beliau seorang perempuan.


"Kami sudah melakukan operasi untuk menghentikan pendarahan yang terjadi di beberapa bagian. Termasuk di otak." jelas sang dokter.


Nara, meskipun duduk. Dia juga ikut menyimak penjelasan dari sang dokter. Tapi entah dengan Nyonya Rahma. Karena sekarang tubuh beliau sedang terkulai lemas. Menyandarkan kepalanya di pundak Nara. Dengan tatapan mata kosong.


"Pendarahan sudah berhenti. Tapi sayangnya, Tuan Hendra mengalami koma. Tapi anda tidak perlu khawatir. Semua alat vitalnya berfungsi dengan baik." imbuh sang dokter.


"Saya ingin menemui pemilik atau kepal dokter di sini." ucap Nyonya Ane.


"Kebetulan saya sendiri adalah kepala dokter di sini. Tapi pemilik rumah sakit, beliau sedang tidak berada di tempat untuk saat ini." ucap sang dokter.


"Berikan pelayanan dan juga perawatan terbaik untuk Tuan Hendra. Dan sepertinya anda tahu, apa yang beliau butuhkan. Dan apa yang ingin kami dengar." tutur Nyonya Ane.


"Baik Nyonya. Dan sekarang pasien sedang dipindahkan ke ruangan lain. Untuk menjalani perawatan selanjutnya." jelas sang dokter.


Ada tekanan tersendiri pada para dokter yang merawat Tuan Hendra. Mengingat Tuan Hendra termasuk pejabat negara. Dan juga Nyonya Ane adalah istri dari pengusaha terkenal.


Di tambah lagi Viki. Putra Tuan Hendra. Siapa yang tidak mengenalnya. "Semoga Tuan Hendra segera sadar." gumam dokter yang lain.


Nara, Nyonya Rahma dan juga Nyonya Ane pergi ke ruang rawat Tuan Hendra. "Tante, Nara belikan makan dulu ya." ucap Nara.


Nyonya Rahma menggeleng pelan. Duduk di kursi samping ranjang Tuan Hendra, dengan tangan memegang lengan sang suami.


"Tante sudah pesankan makanan. Kamu tidak perlu khawatir." ucap Nyonya Ane.


"Terimakasih tante." sahut Nara tersenyum pada Nyonya Ane.


Makanan datang, namun Nyonya Rahma kekeh tidak mau makan. Nyonya Ane hanya memandang. Mencoba membiarkan, beliau ingin melihat apa yang akan dilakukan calon istri dari Viki, saat calon mertuanya tidak mau memakan makanan tersebut.


Nara membuang nafas kasar. Menarik kursi yang tak jauh dari samping ranjang Tuan Hendra. Duduk di samping Nyonya Rahma.


"Tante, jangan keras kepala." ucap Nara dengan nada pelan. "Apa tante juga ingin sakit. Jika tante sakit, siapa yang akan menjaga om." bujuk Nara.


"Tante, jika nanti tante juga ikut terbaring di ranjang pasien. Dan Om Hendra sadar. Apa tante pikir om Hendra akan senang. Pasti om Hendra juga akan sedih." rayu Nara.


Nara mengangkat sendok berisi makanan ke depan mulut Nyonya Rahma. "Buka mulut tante. Nara suapi. Untuk Om Hendra. Untuk bang Viki, dan juga Nara. Apa tante nggak sayang sama kita." ucap Nara.


"Pasti. Nara akan makan banyak setelah ini. Nara dan tante harus menjaga kesehatan. Kita akan bersama-sama menjaga Om Hendra." ucap Nara.


Nyonya Ane tersenyum melihat Nara. "Kamu dapat dari mana perempuan ini Vik?" tanya Nyonya Ane dalam hati.


Nyonya Ane menilai, jika Nara benar-benar tulus melakukannya. Tidak ada rasa terpaksa atau senyum palsu dari Nara.


"Kamu juga harus makan." ucap Nyonya Ane mengingatkan Nara. Setelah Nara memberikan air minum untuk Nyonya Rahma.


"Terimakasih Tante. Tante tidak makan?" tanya Nara, saat dirinya hendak makan.


"Tidak, saya tadi sudah makan siang." tolak Nyonya Ane dengan sopan.


"Kenapa?" tanya Nyonya Ane, saat Nara malah memperhatikan makanan di depannya.


"Ini terlalu banyak. Nara tidak mungkin menghabiskannya. Lagi pula, tidak enak jika dimakan nanti." ucap Nara.


"Emmm,,, tante. Apa boleh Nara memberikan sebagian makanan ini pada penjaga di depan?" tanya Nara, karena di depan ruangan ada beberapa bawahan Nyoya Ane yang berjaga.


"Silahkan. Dari pada mubadzir. Tapi kamu makan dulu. Setelahnya, berikan pada mereka." saran Nyonya Ane.


Nyonya Ane memainkan ponselnya. Sesekali melihat ke arah Nara yang sedang makan. "Jadi kangen sama Ella." ucap Nyonya Ane dalam hati.


Sesekali Nyonya Ane tersenyum melihat Nara. "Cantik, baik, dan tulus. Kelihatannya juga masih muda. Dan juga pintar." ucap Nyonya Ane dalam hati, menilai Nara.


Selesai. Nara selesai makan. "Tante, Nara keluar sebentar." pamit Nara. Membawa kantong makanan di tangannya.


"Pak, ini untuk bapak dan teman-teman bapak." Nara menyerahkan makanan pada seorang lelaki yang berdiri di samping pintu masuk kamar rawat Tuan Hendra.


Lelaki tersebut tersenyum. "Terimakasih Nona..."


"Nara. Panggil saja Nara."


"Baik, Nona Nara."

__ADS_1


Saat Nara hendak masuk kembali, ada seorang perempuan yang datang. Tapi bawahan Nyonya Ane melarangnya.


"Kalian tidak tahu, siapa saya??!" ucapnya terdengar angkuh. Saat bawahan Nyonya Ane menghadang langkahnya.


"Siapa dia?" tanya Nara dalam hati, dengan tangan sudah menggenggam gagang pintu. Memperhatikan penampilannya dari atas hingga bawah.


Nara menyimpulkan jika dia bukan perempuan sembarangan. Apalagi pakaian dan beberapa benda lain yang melekat di tubuhnya.


Meskipun Nara tidak tahu berapa harganya, Nara tahu jika semuanya adalah barang mahal. Terlebih kulitnya yang seperti porselen. Pasti dia dengan rajin merawat diri ke salon.


"Maaf Nona, siapapun anda. Tapi anda tidak di izinkan untuk masuk."


Giska bersedekap dada. Menaikkan dagunya. Sungguh terlihat begitu sombong. "Saya calon istri dari Viki. Calon menantu Tuan Hendra dan Nyonya Rahma. Giska." ucap Giska.


Deg,,,,, "Gi--Giska." ucap Nara dalam hati terbata. "Jadi dia yang bernama Giska." imbuh Nara dalam hati.


Nara mencoba menetralkan degup jantungnya. Saat dirinya merasa sedikit takut berhadapan dengan Giska. "Cantik. Bahkan cantik sekali." puji Nara dalam hati.


Nara tidak memungkiri, jika Giska adalah perempuan cantik. Dan pastinya dia lahir dari keluarga terpandang dan kaya. Melihat semua yang ada pada dirinya, selain harta dan sikapnya yang sombong.


"Cantik dan kaya. Pantas sombong. Tapi tidak secantik kak Ella. Kan kak Ella juga kaya. Bahkan kata bang Viki, kekayaan kak Ella melebihi kekayaan bang Viki." ucap Nara dalam hati, membandingkan Giska dan Ella.


Nara tersenyum samar. "Beruntung dia sudah tidak perawan. Jadi bang Viki tidak tertarik. Dan lagi, aku juga sangat mujur. Karena dia sangat sombong. Sehingga tidak mungkin bang Viki menyukainya." batin Nara.


Meskipun dirinya masih di bawah Giska, tapi setidaknya Nara masih mempunyai nilai lebih untuk membuat seorang Viki tertarik dan jatuh cinta pada dirinya.


Sombong sedikit bolehkan....? Karena memang yang dipikirkan Nara adalah sebuah kebenaran.


"Khemm..." dehem Nara. Melangkah maju, karena terlihat Giska begitu ngotot.


Giska memandang ke arah Nara. Menelisik gadis yang sekarang berdiri di hadapannya. "Tapi maaf. Untuk saat ini om Hendra belum bisa di jenguk." ucap Nara dengan sopan, dan senyum di bibirnya.


"Om." Giska mengangkat sebelah alisnya mendengar Nara menyabut kata om.


"Saya..." ucap Nara terhenti, saat Nyonya Ane keluar dari dalam ruang rawat.


Nyonya Ane mendengar ada suara ribut di depan. Di tambah lagi Nara yang belum kembali masuk. Membuatnya bergerak untuk melihat apa yang terjadi.


"Ada apa ini?" tanya Nyonya Ane.


Giska memicingkan sebelah matanya melihat siapa yang baru saja keluar dari dalam. Tampak ekspresi tidak suka yang dia tampilkan di wajahnya. Tapi dengan cepat Giska merubah ekspresi tersebut.


Namun sayang, Nara melihat semuanya. "Bunglon." ucap Nara dalam hati, melihat Giska dengan cepat dan mudah mengubah ekspresinya.


Giska melangkah maju. Sedikit menabrak tubuh Nara. Membuat Nara terhuyung ke belakang. Beruntung bawahan Nyonya Ane segera reflek dan bergerak cepat.


"Maaf." ucap Giska dnegan sopan, menunjukkan senyumnya. Dan segera memegang lengan Nara.


Nara hanya diam. Memandang Giska dengan tatapan datar. "Apa sih maunya ni kutu kupret." geram Nara dalam hati.


"Nyonya, anda di sini?" tanya Giska menyapa Nyonya Ane.


"Busyet dah. Benar-benar bunglon dewasa. Dia seharusnya seperti Melva. Jadi artis. Pasti akan dapat banyak penghargaan." ucap Nara dalam hati.


"Kenapa kamu membuat keributan di depan ruangan. Apa kamu tidak tahu, ini tempat apa?" tanya Nyonya Ane tegas.


Nara terdiam. Dia merasa takjub dengan pembawaan Nyonya Ane sedari tadi. "Maaf Nyonya, saya hanya ingin menjenguk Tuan Hendra." ucap Giska ramah, mencoba mencari peruntungan.


"Tuan Hendra membutuhkan ketenangan. Kamu paham maksud saya?" tanya Nyonya Ane memandang tajam ke arah Giska.


Nara tersenyum, melihat kedua tangan Giska terkepal di bawah, sementara bibirnya masih menampilkan senyum palsunya.


Tak kehilangan akal, Giska menyebut nama Nara. "Tapi dia bisa masuk ke dalam." ujar Giska masih dengan nada lembut dan senyum di bibir.


Nyonya Ane terdiam. Dia teringat perkataan Viki. Jika hanya ada beberapa orang yang mengetahui jika Nara adalah calon istrinya.


Nyonya Ane menunggu Nara. Menunggu Nara untuk membuka mulutnya. Penasaran apa kira-kira yang akan di ucapkan oleh Nara.


Nara menatap ke arah Giska dengan tatapan rumit. "Astaga, getol sekali dia." ucap Nara dalam hati, merasa kesal dengan Giska.


Padahal sudah jelas jika dirinya tidak diterima. Tidak di perbolehkan masuk. Tapi tetap memaksa. Apa benar perempuan ini sungguh tidak mempunyai urat malu.


"Saya..." tunjuk Nara pada wajahnya sendiri.


"Iya,, kamu..." ucap Giska dengan lembut.

__ADS_1


Nara rasanya mau muntah mendengar perkataan Giska. "Kamu mau tahu siapa saya?" tanya Nara tersenyum. Giska dan Nyonya Ane memandang ke arah Nara.


"Saya...."


__ADS_2