VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 56


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Viki pada ketiga pengusaha tersebut.


Nampak ketiganya masih terdiam dan saling pandang. "Memang benar, jika proyek ini berhasil. Tempat itu akan menjadi tempat berbelanja, bersantai, dan bermain terbesar di Asia." ucap salah satu dari mereka.


Dia mengalihkan pandangan ke Viki. "Kita hanya tidak ingin, membuang uang dengan sia-sia lagi." imbuhnya.


Karena sebelum proyek tersebut berhenti, ketiganya sudah cukup banyak menggelontorkan uang untuk proyek tersebut. Hingga proyek harus berhenti karena adanya kendala yang tidak bisa ditangani dengan uang.


Rival ketiganya yang menghentikan proyek tersebut dengan cara curang. Alhasil, proyek berhenti di tengah jalan. Dan tidak diteruskan. Dari pada menambah banyaknya korban jiwa.


"Kamu pasti tahu, kenapa proyek ini berhenti." ucapnya.


Viki mengangguk dengan pasti. "Dan saya bisa pastikan, untuk kali ini. Pembangunan akan berjalan dengan lancar." ucap Viki dengan tatapan penuh keyakinan.


"Rey." ujar Viki. Rey memberikan sebuah kertas berisikan tulisan dari hasil komputer pada ketiga pengusaha tersebut.


Viki tahu dan paham betul. Sebagai seorang pebisnis, uang adalah segalanya. Seorang pebisnis tidak akan mengeluarkan uang tanpa mengambil keuntungan. Sangat mustahil.


Di kertas tersebut tertulis, jika proyek terhenti di tengah jalan. Maka Viki akan mengganti uang ketiga pengusaha tersebut. Tapi bukan berarti menganti uang yang sudah mereka keluarkan sebelumnya.


Viki akan menganti uang yang mereka keluarkan, selama mereka bertiga bekerja sama dengan Viki. Tidak kurang dari satu rupiahpun.


Terdengar cukup menjanjikan. Karena sebelumnya proyek tersebut berhenti dan mangkrak. "Anda yakin?" tanyanya pada Viki.


Karena jika proyek kembali terhenti, itu artinya Viki harus mengeluarkan uang dalam jumlah banyak. Untuk mengganti uang mereka. "Yakin." jawab Viki dengan pasti.


Tapi Viki juga bukan orang bodoh. Dia menambahkan beberapa poin, yang pasti akan membuat kening ketiga pengusaha tersebut mengerut.


Mereka serempak menatap ke arah Viki. "Jika proyek berhasil, kamu akan mendapatkan bagian empat puluh persen setiap tahun dari pendapatan." ujarnya pada Viki, setelah membaca poin tersebut.


Viki tersenyum melihat ekspresi ketiganya. "Tepat. Di sini, saya berani mengambil resiko. Jika proyek gagal, saya akan mengembalikan uang kalian. Dan jika proyek berhasil, saya akan mendapat uang empat puluh persen dari pembagian hasil setiap tahunnya. Adil bukan?" ucap Viki, lebih seperti sebuah pertanyaan. Padahal sebuah penekanan.


Rey tersenyum samar melihat permainan dari atasannya tersebut. "Tuan memang hebat. Mereka pasti akan menerima syarat tersebut." ucap Rey dalam hatinya.


Viki yakin jika mereka akan menerima syarat tersebut. Apalagi pembangunan proyek berjalan lebih dari enam puluh persen.


Dan Viki juga yakin, jika proyek akan berjalan dengan lancar dan pastinya berhasil.


Viki merapikan jas yang melekat di badannya. "Kalian bisa menandatanganinya, jika bersedia. Namun, kita tidak akan pernah bertemu lagi, setelah ini. Jika kalian tidak mencoretkan pena di atas kertas." tegas Viki.


Yang artinya, Viki tidak akan meminta kerja sama tersebut untuk kedua kalinya. "Silahkan, saya tidak mempunyai banyak waktu." imbuh Viki, dengan pandangan menatap ke arah jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.


Viki tersenyum samar melihat ketiganya membubuhkan tanda tangan di atas kertas tersebut. "Mana mungkin mereka tidak setuju." ucap Viki dalam hati.


Meskipun syarat yang Viki ajukan saat proyek berhasil cukup memberatkan mereka, tapi Viki yakin jika mereka akan setuju. Lantaran mereka sudah mengeluarkan uang banyak sebelumnya.


Dan pasti, sebagai pengusaha mereka menginginkan uang mereka kembali. Meski secara perlahan. Karena mereka menginginkan keuntungan bukan kerugian.


"Tuan Viki sudah mulai menunjukkan cakarnya." batin Rey.


Karena memang itulah yang harus di lakukan pebisnis, jika menginginkan usahanya maju. Berani mengambil resiko, dan berani bertarung.


"Tenang saja Tuan, saya akan tetap berada di samping anda." ucap Rey dalam hati.


Selesai. Viki sudah mendapatkan tanda tangan dari ketiga pengusaha tersebut. "Terimakasih. Setelah ini, Rey. Asistenku yanga akan menghubungi kalian." ucap Viki.

__ADS_1


"Kita kembali ke kantor." perintah Viki pada Rey, padahal Viki berniat akan langsung pulang. Tapi karena Denis menghubunginya, dan mengajaknya bertemu, dia akhirnya kembali ke perusahaannya.


"Baik Tuan." ucap Rey.


"Ni.... Segarin dulu muka elo." ejek Viki melemparkan sebotol air dingin pada Denis. Nampak wajah Denis yang kusut seperti baju tidak di setrika.


Padahal Viki baru saja mengalami hal yang kurang mengenakkan, tapi karena proyek kerjasama dengan ketiga pengusaha tersebut mencapai kata sepakat, pastinya aura Viki seketika berubah.


Denis meminumnya hingga separuh. "Gue lagi bingung." ujar Denis.


Viki juga meminum air dingin di dalam kaleng tersebut. "Kenapa?" tanya Viki, duduk di samping Denis.


"Jangan bilang elo suka sama gue." goda Viki, lantaran Denis menatapnya dengan tatapan mata yang aneh.


"Aaa....!!!" seru Denis. Memukul lengan Viki. Segera Viki berdiri dan menjauh dari Denis.


"Sorry brow. Meskipun gue belok kanan, belok kiri. Gue sama sekali nggak kepikiran main sama elo. Sumpah." ucap Viki berdiri di samping meja, mengangkat jarinya membentuk huruf V.


Denis mengambil bantal kursi dan melemparkan ke arah Viki. Dengan sigap, Viki menangkapnya. Dan memegangnya di depan dada. Seolah menjadikan bantal sebagai pelindungnya. Serta tertawa terbahak.


"Siapa juga yang suka sama elo. Gue normal. Lagi pula penyakit elo nggak menular. Bego." sarkas Denis dengan wajah semakin kesal karena tingkah sahabatnya.


Viki memang belum menceritakan pada sahabatnya tersebut, lantaran Viki mau membuat kejutan untuk Denis.


Dan juga, Viki belum pernah berhubungan badan dengan perempuan. Oleh sebab itu, Viki belum bisa bercerita apapun pada Denis.


Yang Viki inginkan sekarang, Viki direstui oleh kedua orang tuanya untuk menikahi Nara. Dan Viki akan langsung memberikan undangan pernikahan pada Denis.


Bukankah rencana surprise yang luar biasa mengejutkan untuk sahabatnya tersebut. "Siapa tahu, gue yang nikah lebih dulu dari pada Denis." ucap Viki dalam hati.


"Ini soal Hana." ucap Denis lirih. Seketika Viki teringat jika Hana pernah bilang pada dia. Jika Hana sudah menceritakan tentang kejadian di apartemen pada Denis.


Viki kembali duduk di samping Denis. "Elo mau jauhin Hana?!" tanya Viki dengan nada datar, menatap ke arah Denis. Karena Hana juga pernah bilang, jika dirinya dan Denis tidak pernah berkomunikasi sejak saat itu.


Denis mengangkat kepalanya. Menoleh ke samping dan menatap Viki dengan penuh penasaran. "Gue sudah tahu, tentang Hana dan Vano." ucap Viki santai.


Denis menyatukan kedua alisnya. "Bukan hanya gue. Tante Ane, Reza, dan Ella. Kita tahu." imbuh Viki.


Denis mengepalkan tangannya, meninju ke bawah. Ke arah kursi empuk yang di dudukinya. "Dan seharusnya elo juga tahu, penyebab awal Ella mengalami kecelakaan." imbuh Viki.


Denis menggelengkan kepalanya pelan. "Elo benar-benar. Apa sih yang elo tahu. Lyra dan balas budi yang harus elo bayar." ucap Viki dengan nada kesal.


"Karena Ella tahu tentang hal tersebut. Dia kecewa sama Vano dan Hana. Karena mereka membohongi dirinya." imbuh Viki.


Denis mengusap wajahnya kasar. Di sini, dia merasa menjadi orang paling tolol dan bodoh. Dia sama sekali tidak tahu apa-apa.


"Sekarang gue mau tanya. Setelah Hana berkata jujur tentang semuanya, apa elo masih mau sama dia?" tanya Viki.


Denis menatap ke jauh ke depan. "Awalnya gue juga ragu sama perasaan gue sendiri. Tapi ternyata gue nggak bisa. Nggak bisa tanpa Hana."


"Seharusnya gue ada untuk dia di saat seperti itu. Seharusnya gue menemani dia. Bukan malah menjauh. Sumpah, gue menyesal." jelas Denis.


Tampak raut sesal di wajah Denis. Dan Viki, dapat melihatnya dengan jelas. "Awalnya gue juga sempat menyalahkan Hana atas kejadian ini. Tapi, gue berpikir logis saja."


"Hana pasti juga tidak mau semua terjadi. Dan pasti, seandainya Hana tahu, semua bakal terjadi. Maka gue yakin, jika Hana tidaka akan bermalam di apartemen milik Ella." ujar Viki.

__ADS_1


"Iya. Makasih, sekarang gue sedikit merasa lega." ucap Denis tersenyum. Merasa jika batu yang menghimpit dadanya telah terangkat.


"Sekarang elo mau apa?" tanya Viki.


"Bertemu dengan Hana. Dan meminta maaf. Gue benar-benar egois. Gue berharap, Hana menerima gue kembali." ucap Denis berharap.


"Memang kalian sudah putus?" tanya Viki, seolah dirinya tidak tahu apapun. Padahal Hana sudah menceritakan jika dirinya dan Denis sudah lama tidak berkomunikasi.


"Jangan mengada-ada!!" seru Denis tidak terima. "Kita tidak akan pernah putus." sangkal Denis.


Viki tersenyum samar. Sekarang, dia sudah yakin. Jika Denis, benar-benar mencintai Hana. "Oke." ucap Viki mengangkat kedua tangannya.


"Tapi, ada sesuatu hal yang mungkin akan menjadi masalah besar dalam hubungan gue sama Hana." ujar Denis. Dan Viki, hanya terdiam. Menyimak perkataan Denis selanjutnya.


"Ternyata, selama ini mama gue nggak pernah suka sama Hana." jelas Denis.


"Maksud elo?" tanya Viki. Karena yang Viki lihat saat beberapa pertemuan, mama Denis selalu menyambut Hana dengan wajah senang.


"Hana datang ke kantor gua bersama Ella. Dan......" Denis menceritakan semuanya pada Viki.


"Gila, tante Monic ternyata parah juga." geleng Viki tidak percaya. Jika sampai Nyonya Monic meneror Hana dengan berbagai perkataan pedas dan juga foto.


"Dan Hana. Selama ini dia diam. Tidak menceritakan apapun sama elo. Dan hanya Ella. Hanya Ella yang tahu. Dan Ella memaksa Hana." imbuh Viki.


"Sabar banget Hana ngadepin tante Monic."


"Parah. Padahal perusahaan elo akan tetap berdiri kokoh. Tanpa elo harus menikah dengan putri pemilik perusahaan besar lainnya." Viki masih tidak percaya dengan tindakan mamanya Denis.


"Sekarang elo mau apa?" tanya Viki. Dirinya semakin antusias. Apalagi ternyata Hana termasuk perempuan kuat juga.


"Gue akan temuin Hana. Minta maaf. Minta kesempatan. Dan gue, akan berada di depan dia. Mengejar restu dari mama." tegas Denis.


"Semangat. Perjuangkan cinta elo." ucap Viki. "Dan gue juga akan memperjuangkan cinta gue sama Nara." imbuh Viki dalam hati.


"Pasti. Gue tidak akan pernah berdiri di belakang ataupun di samping Hana. Tapi gue berjanji, akan berdiri di depan Hana." ujar Denis.


"Gue akan melindungi dia. Apapun yang terjadi." ucap Denis dengan sungguh-sungguh.


"Gue juga akan sungguh-sungguh menjaga Nara." ucap Viki dalam hati.


Selepas Denis meninggalkan perusahaannya, Viki kembali melamun. Pikirannya kembali tertuju pada Nara. "Kenapa gue malas banget pulang." ujar Viki.


Dan benar saja, Viki tidak langsung pulang ke rumah setelah pekerjaan selesai. Dia malah pulang ke apartemen miliknya.


"Rasanya berbeda." gumam Viki. Lantaran biasanya dia pulang akan di sambut dengan teriakan anak kecil. Rini dan Bima.


Namun sekarang, semua terasa sepi. "Mungkin karena gue audah mulai terbiasa dengan kebisingan mereka." gumamnya.


Seperti biasa, Viki langsung memejamkan mata tanpa membersihkan badan terlebih dahulu.


Hingga makan malam dan semua sudah berkumpul di meja makan, Viki juga belum datang. "Kenapa Nara?" tanya Nyonya Rahma, karena terlihat raut khawatir di wajah Nara.


Dan sepertinya Tuan Hendra dapat menebak apa yang sedang dipikirkan oleh gadis muda tersebut. "Mungkin Viki masih ada pekerjaan. Kamu tidak perlu khawatir." ucap Tuan Hendra.


"Iya Om." balas Nara dengan tersenyum lembut.

__ADS_1


__ADS_2