VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 174


__ADS_3

"Berbulan madu...!!" pekik Giska. Saat sang mertua, Nyonya Binta sedang berbincang dengan sang putra, Renggo di meja makan, saat mereka sedang melakukan sarapan bersama.


"Iya, mungkin saat ini mereka sedang berada di atas. Pesawat terbang maksud mama." kekeh Nyonya Binta, melirik ke arah Giska.


Tuan Smith dan Renggo hanya menggeleng dan tersenyum. Mereka tahu, jika Nyonya Binta sengaja membicarakan bulan madu Nara dan Viki, untuk membuat Giska tahu.


Pundak Giska merosot. "Berapa lama mereka berbulan madu?" tanya Giska dengan raut wajah datar tanpa sopan sama sekali.


"Seminggu. Bahkan bisa lebih." Nyonya Binta sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


Kraakkk,,,, Giska memundurkan kursinya. Dan meninggalkan meja makan tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Padahal, makanan di atas piring Giska masih sangat banyak. Katakanlah, hanya terambil beberapa suap, masuk ke dalam mulut Giska.


Beberapa pembantu yang berada di sekitar meja makan saling pandang. Dan menghembuskan nafas mereka pelan.


Seolah mereka tahu apa yanga sebentar lagi terjadi. "Setiap hari membersihkan kamarnya berkali-kali. Senang sekali membuat kami susah. Menambah pekerjaan kami saja." keluhnya dalam hati.


"Ma, kenapa mama senang sekali membuat menantu marah?" tukas Tuan Smith.


"Mama juga tidak berniat seperti itu pa. Hanya saja, mama ingin Giska tahu, dan berhenti berharap, apalagi terus memaksakan diri mengejar Viki."


"Dia sudah bersuami. Hamil lagi. Bukannya berubah, malah semakin menjadi. Dan satu lagi. Selamanya, dia tidak akan pernah bisa merebut hati Viki." celoteh Nyonya Binta.


Renggo hanya diam menikmati sarapannya. Tanpa mau ikut campur urusan mereka. "Ma, Renggo titip calon anak Renggo." ucap Renggo sebelum berangkat bekerja.


Nyonya Binta mengangguk. "Iya nak, dia juga cucu mama." Nyonya Binta tersenyum menatap sang putra. "Meski mama meragukannya." imbuhnya, hanya bisa dikatakan dalam hati.


"Nyonya, kapan Nona muda akan berkunjung ke sini?" tanya seorang pembantu di rumah.


Sebelumnya, Nyonya Binta sudah memberitahu seluruh pekerja di rumah. Tanpa terkecuali. Jika dirinya mempunyai seorang putri tiri.


Beliau juga menyuruh mereka membersihkan sebuah kamar. Kemungkinan, jika Nara dan Viki berkunjung. Syukur-syukur mereka mau menginap. Barang semalam saja.


"Mungkin setelah mereka bulan madu." jawab Nyonya Binta tersenyum. Membayangkan, jika dia akan mempunyai cucu dari Nara dan Viki.


Seperti biasa, Giska meluapkan amarah dan emosinya dengan membuat kamar layaknya tempat penampungan barang rongsokan.


"Percuma gue datang dan ikut Renggo ke sini. Sial...!!" umpatnya, dengan tangan mengambil bantal di sampingnya dan membuangnya.


"Mereka pergi seminggu, bahkan lebih. Dan gue. Gue di sini juga seminggu. Haahhh,,!!!" teriak Giska, menjambak rambutnya sendiri.


"Mau kemana kamu?!" tanya Nyonya Binta, melihat sang menantu berdandan cantik dengan menenteng tas di tangannya.


"Pergi." jawabnya ketus.


"Bik,,, katakan pada sopir untuk mengantarnya." pinta Nyonya Binta.


Giska menatap nyalang pada sang mertua. "Terimakasih mama mertua. Tapi saya bisa pergi sendiri. Tidak perlu mengkhawatirkan saya." Giska tersenyum kaku, menyimpan wajah kesal.


"Saya khawatir dengan calon cucu saya. Bukan dengan kamu."


Giska memutar kedua bola matanya sebal, dan mengumpat dalam hati. "Kamu ikuti aturan saya. Atau, tetap diam di dalam rumah. Nyonya Giska." Nyonya Binta tersenyum senang.


"Baiklah. Saya pergi dulu, mama mertua." geram Giska, menatap sang mertua dengan pandangan iblisnya.


Nyonya Binta langsung terduduk lemas di kursi. "Apa aku salah. Bila berharap Renggo dan perempuan iblis itu bercerai."


"Ini Nyonya, silahkan diminum." ucapnya, menyodorkan segelas air minum pada majikannya.


"Kamu nanti lihat Nara. Dia gadis cantik dan baik. Masalahnya, saya terlambat bertemu dengannya. Nanti kalian pasti akan menyukainya."


"Iya Nyonya. Saya sudah tidak sabar, ingin melihat Nona Nara."


"Nyonya kecil. Panggil dia Nyonya kecil. Saya sudah sepakat dengan besan, mengenai penggilan itu." papar Nyonya Binta dengan binar bahagia.


"Baik Nyonya." ucapnya, ikut bahagia. Melihat sang majikan terlihat begitu bahagia saat menceritakan tentang Nara.


Padahal, semenjak Giska datang. Nyonya Binta terlihat murung dan tidak seperti biasa.

__ADS_1


"Katakan pada sopir, untuk melapor kemana saja Giska pergi. Jangan sampai dia pergi ke tempat yang bisa membuat calon cucu saya celaka." perintah Nyonya Binta.


"Baik Nyonya."


Di perusahaan Viki, Renggo dan Rey membicarakan kerja sama yang akan dijalani dua perusahan. "Dan untuk memasarkan produk kita nanti, saya ingin Sara sebagai artisnya." tukas Renggo.


Rey tersenyum. Mengingat perkataan Tuannya. "Baik. Saya juga setuju."


"Apa kamu tidak memerlukan persetujuan Viki?" tanya Renggo, pasalnya Rey langsung mengatakan iya, dengan apa yang diinginkannya.


Mengingat jabatan Rey sebagai asisten Viki. Tapi, bukankah sangat tidak etis, mengambil keputusan tanpa persetujuan pimpinan.


"Tuan Viki pasti akan setuju dengan apa yang saya putuskan. Tuan Renggo tidak perlu risau dan khawatir." ujar Rey yakin.


Padahal, tanpa sepengetahuan Renggo, Viki sudah memberitahu Rey untuk menyetujui kerjasama ini. Dan juga mengenai artis yang akan mempromosikan produk mereka.


Apalagi di sini Rey melihat, Renggo juga tidak menginginkan keuntungan yang besar pada pihaknya. Cukup adil bagi dua perusahan. Terlebih, mereka menggunakan artis yang berada di bawah naungan perusahaan Viki.


Rey tersenyum samar. Sepertinya dia ingin melakukan sesuatu. "Gue harus mengetesnya. Benar apa tidak dugaan gue. Mumpung nggak ada Tuan Viki." ucap Rey dalam hati, mendapatkan kesempatan untuk melakukan keusilannya.


Rey mengetik pesan pada seseorang lewat ponselnya. "Sebentar lagi, pertunjukkan di mulai." ucap Rey dalam hati dengan bahagia.


Tak lama, setelah Rey mengirim pesan pada seseorang, pintu ruangan Rey diketuk dari luar. "Masuk..!!" pinta Rey dengan meninggikan nada suaranya.


Pintu terbuka perlahan dari luar, sosok perempuan cantik, dengan senyum di bibir melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam ruangan.


Seketika senyumnya lenyap, saat dia menyadari ada seseorang di dalam ruangan yang dangat dia hindari.


"Duduklah." pinta Rey pada Sara.


Dengan terpaksa, Sara mendaratkan pantatnya di kursi tak jauh dari Rey. Berbeda dengan Sara yang tidak memandang Renggo sama sekali.


Renggo malah menatap perempuan yang berhasil mencuri hatinya dengan intens. Membuat Sara menjadi salah tingkah dan gugup.


"Tenang Sara, tenang. Dia bukan siapa-siapa. Dia lelaki yang sudah beristri. Ingat itu." ujar Sara dalam hati.


Padahal, Sara sama sekali tidak bisa tenang. Hati dan perasaan yang telah dia simpan, hanya dengan menatap wajah Renggo, kini kembali bergemuruh seperti badai.


"Tidak Tuan, hanya ada beberapa pemotretan sore nanti." papar Sara.


"Lali, bagaimana dengan syuting film kamu?"


"Syuting akan di mulai minggu depan Tuan." papar Sara.


"Begini Sara." Rey menjeda kalimatnya, mulai berbicara dengan serius. Dan Renggo masih setia menatap setiap detail wajah cantik dari Sara. Tanpa berminat untuk berpaling.


Seolah takut, jika dia berpaling. Sosok Sara yang ada di depannya akan kembali menghilang.


"Perusahaan Tuan Viki dan Tuan Renggo akan bekerja sama. Kami membutuhkan seorang artis untuk mendukung proyek tersebut. Kamu pasti tahu, maksud saya bukan?"


Sara mengangguk. "Untuk itu, kami sepakat menggunakan kamu sebagai artisnya."


Mata Sara membulat sempurna. Bukankah itu artinya dia akan sering bertemu dengan Renggo. Padahal, tujuannya pindah ke negara ini, agar tidak lagi bertemu dengan lelaki yang mampu membuat hatinya bahagia, namun juga membuat hatinya hancur.


Renggo tersenyum melihat ekspresi Sara. "Kenapa harus saya Tuan. Masih banyak artis lainnya yang lebih baik dari saya. Dan juga, saya terlalu sibuk untuk beberapa minggu ke depan." tolak Sara dengan halus.


"Ini tidak akan membutuhkan waktu lama. Hanya syuting iklan produk kami. Jika kamu memang artis profesional, seharusnya kamu tahu. Dan tidak perlu menolak." Renggo mengeluarkan suara.


"Bukannya saya tidak mau Tuan. Hanya, saya tidak ingin membuat kalian kecewa." sanggah Sara tanpa menatap Renggo.


"Saya yakin, kamu tidak akan membuat kami kecewa. Ini hanyalah produk botol minuman. Cukup gampang bukan." Renggo semakin tertarik membuat Sara kesal.


"Bukankah saya sudah katakan. Jadwal saya beberapa minggu ke depan sangat padat." kilah Sara.


"Kamu pasti mempunyai seseorang yang membantu mengatur waktu. Apa gunanya dia, jika menghandle pekerjaan kecil saja tidak bisa."


Sara ingin kembali membuka mulutnya, namun suara Renggo terlebih dahulu menggema di telinganya. "Tatap lawanmu saat berbicara Nona. Mana sopan santunmu."


Sara hanya bisa mendelik dan merasa ini semua memang di sengaja oleh Renggo. Dan Rey, jangan ditanyakan lagi. Rey duduk dengan tenang. Seolah dirinya sedang menikmati pertunjukkan di depannya.

__ADS_1


Rey tersenyum kembali. Dan dapat dipastikan, jika keusilannya akan bertambah. Namun keusilan Rey malah membuat Renggo bahagia. Tidak dengan Sara.


"Maaf, kalian berbicaralah berdua. Saya ingin ke toilet sebentar." Rey beralasan. Padahal di dalam ruangannya jiga ada toilet. Kenapa harus keluar ruangan.


Sara terkejut, saat Rey meninggalkan mereka berdua. "Loh,,, Tuan Rey. Tunggu." Sara hendak berlari mengejar Rey.


Dan Rey, sekarang duduk manis di depan runagan. Seolah menjadi seorang security dengan tangan memainkan ponsel.


Namun tangan kekar Renggo lebih dulu melingkar di perutnya. "Lepas... Tuan, apa yang anda lakukan. Jangan lancang. Mana sopan santun anda..!!" teriak Sara berontak.


Renggo mencium wangi rambut Sara. "Aku kangen kamu Sar..... Sangat." bisik Renggo sensual di telinga Sara.


Beberapa detik, Sara terdiam. Seolah terhipnotis dengan suara Renggo. Namun kesadarannya kini kembali.


Sara melepas tangan Renggo yang sedikit kendor, membalikkan badannya dan.... Plakkkk.... Menampar pipi Renggo dengan kuat.


Renggo hanya diam. Tak bergeming dari tempatnya. Tamparan Sara tidak berarti apa-apa bagi dirinya. Kedua mata Sara merah, menahan amarah dan juga air mata.


"Kamu pikir saya ini perempuan macam apa. Hah...!!" teriak Sara.


"Jaga sikap anda Tuan. Anda lelaki yang sudah beristri. Dan sekarang, istri anda sedang hamil besar. Sebentar lagi akan melahirkan keturunan anda." ucap Sara menggebu-gebu.


"Dan saya, saya perempuan baik-baik. Saya bukan perusak rumah tangga orang. Saya, Sara. Tidak akan pernah melukai perasaan seorang perempuan." tegas Sara dengan nafas tersengal.


Renggo terdiam. Menatap Sara dengan pandangan sayu. Sara membalikkan badan dan hendak meninggalkan Renggo.


Perkataan yang keluar dari mulut Renggo, menghentikan langkahnya, juga nafasnya. "Bagaimana jika dia tidak mengandung calon pewarisku, meski dia istriku." ucap Renggo.


Sara terdiam, membelakangi Renggo. Perkataan Renggo seperti teka-teki bagi dirinya. Kesempatan ini tidak di sia-siakan Renggo.


Renggo mendekat, dan membawa Sara untuk duduk kemabli. Renggo tahu, jika Sara masih mencintainya. Sama halnya dengan dirinya.


Sara memandang Renggo dengan tatapan bingung dan penasaran. Renggo membawa telapak tangan Sara dalam genggamannya.


Dan mungkin, inilah saatnya Renggo menceritakan semuanya pada Sara. Renggo berharap, Sara mau menerimanya kembali.


"Aku terlalu buta dengan kata cinta. Setiap kali dia mendatangiku, aku seperti seorang gigolo. Melayani hasratnya. Berharap, dengan begitu. Dia akan menerima cintaku. Meski dia mempunyai lelaki yang dia cintai. Aku tidak peduli."


"Aku begitu bahagia, saat aku mendengar jika dia hamil. Sama sekali aku tidak berpikir, jika janin tersebut bukan anakku."


"Bodoh dan dungu. Terserah, orang mengatakan apa. Aku tidak peduli. Aku menikahinya. Meski sampai detik ini, dia sama sekali tidak menganggapku."


"Selama menikah, kami tidak pernah tidur di dalam kamar yang sama. Kami tidak pernah bersentuhan fisik, dalam bentuk apapun. Bahkan, bicara saja tidak pernah."


"Tapi aku tetap bertahan. Hingga, ada seseorang yang mengirimiku sebuah beberapa foto, dimana dia sedang tidur bersama beberapa orang lelaki yang berbeda."


"Dari sanalah, hatiku terasa sesak. Aku mulai merasa jika pengorbananku sia-sia. Setiap usaha untuk menarik perhatiannya tidak akan pernah berhasil."


"Aku memutuskan untuk bertahan karena calon anak kami. Tidak lebih. Dan kamu tahu, seseorang berkata padaku. Jika anak yang ada di dalam kandungannya, bukan darah dagingku."


"Awalnya aku tidak percaya. Aku marah pada orang tersebut. Tapi, tidak mungkin jika orang seperti Viki berbohong padaku." papar Renggo panjang lebar.


"Tuan Viki." cicit Sara lirih.


Renggo mengangguk. Melepaskan genggaman tangannya pada telapak tangan Sara. "Viki menikahi adik tiriku. Nara." jelas Renggo.


"Dan akhirnya, aku melakukan tes DNA. Dibantu oleh Viki."


"Tapi, bukankah itu sangat berbahaya. Apa istrimu mau. Kenapa tidak menunggu hingga dia melahirkan." cecar Sara.


Renggo tersenyum masam. Menyenderkan badannya ke kursi. "Aku sudah tidak bisa berpikir. Saat itu, aku hanya ingin tahu kebenarannya."


"Bertanya langsung pada istrimu. Itu jauh lebih baik."


Renggo terkekeh pelan. "Kamu belum mengenal siapa Giska. Bagiamana kelakuan dan peringainya." ujar Renggo.


"Aku melakukan tes DNA secara ilegal. Dengan membius Giska." Sara membungkam mulutnya, dan menggelengkan kepala.


"Semua diatur oleh Viki. Seharusnya tanpa aku beritahu, kamu sudah tahu. Tentang kekuasaan Viki, baik di bisnis. Maupun dunia bawah." Renggo menoleh, menatap Sara.

__ADS_1


"Viki terpaksa melakukannya. Sebab, aku meminta tolong dan memaksanya. Dan kamu tahu hasilnya apa." Renggo tersenyum nanar.


Dari senyumnya, Sara sudah mengetahui jawaban dari tes DNA tersebut.


__ADS_2