VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 24


__ADS_3

"Rini, kamu jaga Bima ya. Seperti biasa, kakak sudah selesai memasak dan mencuci. Kamu tinggal menjaga Bima." jelas Nara.


Setiap hari Nara bangun saat subuh baru menjelang. Segera dirinya mengerjakan pekerjaan rumah, sehingga dia meninggalkan rumah dengan tenang.


"Ini uangnya jika ingin beli jajan." Nara memberikan uang yang tak seberapa pada Rini.


"Iya kak." Rini mengambil uang tersebut dan mengangguk. Sementara Bima masih terlelap dalam tidurnya.


Rini memandang tubuh Nara yang semakin menjauh dari ambang pintu dengan tatapan yang sulit di artikan.


Setelah tubuh kakaknya tidak terlihat, Rini menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Seperti biasa, Rini akan merapikan baju sembari menunggu Bima yang masih tertidur.


Air mata Rini menetes. Teringat perkataan pedas tetangganya. "Kamu dan Bima itu, bukan saudara kandung Nara."


Saat itu Rini langsung kembali ke rumah membawa si kecil Bima. Bu Anis yang mendengarnya, langsung menemui Rini. Dan memberi nasehat pada Rini.


"Meski kalian bukan saudara kandung, yang terpenting Nara sayang sama kamu, sama Bima. Bukankah itu lebih dari cukup."


Mendengar nasehat dari Bu Anis, membuat perasaan anak berusia tujuh tahun tersebut merasa tenang. Apalagi selama ini Nara tidak pernah membahas masalah tersebut.


"Kak Nara, Rini sayang sama kakak." ucapnya lirih, dengan nada parau.


Matahari mulai terik. Nara sudah mengisi karungnya dengan barang bekas yang di ambilnya dari tempat sampah dan jalan. Meski masih mendapat separuh, tapi Nara sudah senang.


"Haus banget." keluh Nara dengan keringat sebesar biji jagung menetes dari dahinya. Tenggorokannya terasa kering.


Mata Nara mencari warung, ingin membeli air minum. Dengan semangat Nara membeli minuman di warung. Minuman rasa buah yang di taruh dalam plastik sekiloan, dan di beri sedotan.


"Makasih bu." Setelah membayar minuman yang berharga seribu rupiah, Nara mencari tempat teduh untuk makan bekal yang di bawanya dari rumah.


Menaruh karungnya, dan duduk di sebelahnya. Pohon besar melindungi Nara dari terik matahari. Dengan lahap, Nara mengisi perutnya. Sebelum melanjutkannya pekerjaannya.


Nara tidak menghabiskan nasi dan lauknya. Untuk berjaga-jaga jika nanti dia pulang larut dan merasa lapar lagi.


Air minumnya juga tidak di minum semua. Nara menyisakan separuh. Mata Nara mencari karet gelang untuk menali ujung minuman yang di taruh di plastik kiloan.


"Itu, ada karet gelang." ucap Nara.


Nara berdiri, berniat mengambil karet gelang yang tak jauh dari tempatnya duduk. Tapi...


"Aaaa...!!!" jerit seorang perempuan yang tidak sengaja tertabrak Nara. Membuat baju bagian depan basah terkena air minum Nara.


"Maaf kak." Nara meminta maaf.

__ADS_1


"Kamu bisa jalan nggak sih." bentak Giska dengan tangan membersihkan bajunya yang basah.


"Eee,,, mau apa?" tanya Giska nyolot, saat Nara mengulurkan tangannya. Hendak menyentuh Giska.


"Membersihkan baju kakak." tukas Nara.


"What. Membersihkan. Hey." Giska mendorong dengan kasar pundak Nara, membuat Nara terhuyung dua langkah kebelakang.


"Lihat kamu!" hardik Giska. "Bukannya bersih, malah tambah kotor. Bau lagi!" imbuh Giska dengan nada kasar.


Nara sedikit menundukkan kepala. Memang benar yang di katakan Giska. Jika dirinya bau dan kotor. Lantaran sudah sedari tadi Nara berkeliling mencari rongsokan.


"Kamu tahu nggak, baju saya ini mahal. Uang kerja kamu selama satu tahun, belum tentu bisa membeli baju seperti yang saya pakai." cemooh Giska.


"Maaf kak." ucap Nara.


"Apa..!! kakak. Kamu pikir saya kakak kamu. Kamu pikir kita sederajat. Selain miskin, ternyata kamu juga buta." ejek Giska.


"Ngaca,,,,!! kakak, kakak. Jijik gue, elo panggil kakak." ucap Giska dengan sombong.


"Maaf Nona." ucap Nara membenarkan panggilannya untuk Giska.


"Minggir!!" bentak Giska. "Dasar, sampah!!" Giska berjalan melewati Nara dengan menjepit ujung hidungnya. Padahal Nara memang berkeringat, tapi tidak sebau yang Giska katakan.


Nara hanya menggeleng dan mencium bau badannya sendiri. "Nggak terlalu bau." gumam Nara.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya perempuan paruh baya menghampiri Nara setelah Giska pergi.


Nara menggelengkan kepalanya dengan pelan. Jujur, Nara masih merasa takut. Apalagi berhadapan dengan orang kaya.


"Sudah, dia sudah pergi. Lain kali, jika berhadapan dengan orang kaya seperti dia, kamu diam saja. Seperti tadi."


"Iya Bu, saya paham."


"Kita hanya orang miskin. Mereka orang kaya. Banyak uang. Bisa melakukan apapun. Bahkan, melenyapkan kita adalah hal yang mudah." tuturnya.


Nara mengangguk dan tersenyum. Perempuan tersebut menepuk pelan pundak Nara dan meninggalkan Nara setelah memberinya nasihat.


Bagi orang seperti Nara, mencari masalah dengan orang kaya adalah hal yang paling dihindari.


Sekarang kamu bisa menghindar Nara, tapi apa kamu akan bisa menghindar. Jika Giska tahu Viki pernah membantu kamu dan kedua adikmu.


Di dalam mobil, Giska uring-uringan. Niat hati ingin bertemu mamanya Viki untuk berbelanja bersama batal sudah.

__ADS_1


Giska menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Mencari buah untuk di bawa menemui Nyonya Rahma. Sialnya, sebelum membeli buah. Giska bertabrakan dengan Nara yang membawa minuman.


"Apes banget gue. Orang miskin sialan. Aaaaa..." teriak Giska memukul-mukul stri berkali-kali melampiaskan kekesalannya.


"Awas saja jika bertemu kembali." geram Giska.


Giska segera menghubungi mamanya Viki. Memberitahu jika dirinya tidak bisa menemani Nyonya Rahma untuk berbelanja.


Selesai beristirahat sejenak, Nara kembali melanjutkan aktifitasnya. "Nyonya,, tunggu. Ini ada yang jatuh." seru Nara menghentikan seorang perempuan paruh baya.


"Oo,,, makasih ya nak." ucap Nyonya Rahma menerima dompetnya yang terjatuh, dan di ambilkan oleh Nara.


"Sama-sama bu." ucap Nara sopan, sedikit membungkukkan badan.


"Ini untuk kamu." Nyonya Rahma memberikan sejumlah uang pada Nara.


Tapi Nara menolaknya dengan sopan. "Maaf Bu, tidak perlu. Terimakasih." ucap Nara.


"Baiklah, kalau begitu kamu bantu saya saja bagaimana? Membawa sebagian belanjaan saya ke sana." tunjuk Nyonya Rahma pada sebuah mobil mewah berwarna silver.


"Boleh Nyonya. Mari saya bantu." Nara mengambil alih beberapa kantong keresek di tangan Nyonya Rahma.


"Sebenarnya saya tadi sudah janjian sama seseorang. Tapi entah mengapa dia membatalkannya." jelas Nyonya Rahma pada Nara.


"Nama kamu siapa?" tanya Nyonya Rahma dengan lembut.


"Nara Nyonya." jawab Nara sopan.


"Jangan panggil Nyonya, panggil apa ya..." terlihat Nyonya Rahma sedang berpikir.


"Tante." putusnya. Membuat Nara terbengong.


"Terimakasih ya, sudah banti tante. Ini, sebagai ucapan terimakasih." lagi-lagi Nyonya Rahma memberikan beberapa lembar uang berwarna merah pada Nara.


"Tapi Tante..."


"Jangan menolak rezeki. Nggak baik." ujar Nyonya Rahma memotong perkataan Nara.


Degg... Nara teringat akan Viki. Saat dirinya menolak uang pemberian Ella. Viki selalu berkata seperti itu.


"Di terima. Tante ikhlas Nara."


"Terimakasih Tante." ucap Nara, mencium punggung telapak tangan dari Nyonya Rahma.

__ADS_1


"Tante pergi dulu ya." pamit Nyonya Rahma naik ke dalam mobil.


Nyonya Rahma menatap tubuh Nara yang menjauh darinya. "Anak yang sopan. Beruntung sekali mempunyai putri seperti dia. Meskipun hidup kekurangan, dia tetap bersikap baik dan jujur." puji Nyonya Rahma pada Nara.


__ADS_2