VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 184


__ADS_3

"Bagusnya....!!!" girang Nara bertepuk tangan bahagia, memuji hasil karyanya sendiri yang dibantu beberapa pembantu di kediaman Tuan Smith.


Para pembantu di rumah Tuan Smith selalu tersenyum bahagia semenjak pagi, setelah kedatangan Nara.


"Boleh minta tolong?" tanya Nara.


"Katakan Nyonya, apa yang bisa kami bantu."


"Tolong bersihkan kamar ini ya, soalnya saya mau ke dapur." karena memang kamar yang Nara sulap menjadi kamar bayi masih berserakan. Beberapa barang masih tergeletak di lantai tak beraturan.


"Memang Nyonya kecil mau melakukan apa di dapur?"


"Masak." jawab Nara dengan santai.


"Tidak perlu Nyonya. Anda katakan saja, Nyonya menginginkan apa, biar chef di sini yang membuatkannya untuk Nyonya."


Nara menggeleng. "Jangan, soalnya ini untuk suami saya. Jadi, saya mau masak sendiri."


"Tapi Nyonya..."


"Tenang saja, saya tidak akan membuat kacau dapur. Karena memang setiap hari, saya melakukannya khusus untuk suami saya." Nara menerangkan, jika memang dirinya sudah terbiasa dengan peralatan dapur.


Nara dengan santai meninggalkan kamar bayi yang baru saja dia dekorasi dengan berbagai macam warna. Untuk melangkahkan kakinya ke dapur.


Beberapa pembantu yang tadi membantu Nara menyiapkan kamar bayi saling pandang. Mereka tidak percaya, jika Nara bisa memasak.


"Sebaiknya kamu susul Nyonya di dapur. Siapa tahu beliau butuh bantuan." ujarnya pada rekan sesama pembantu, khawatir pada Nyonya kecil mereka.


"Oke. Kalian bersihkan kamar ini. Aku akan segera ke dapur." Dia mengangguk dan menyusul Nara.


Beberapa pembantu ketar-ketir melihat Nara memakai apround. Mereka bukan takut jika dapur akan kacau katena kegiatan yang akan dilakukan Nara.


Melainkan, ketakutan terbesar mereka adalah, jika seandainya anak majikan mereka akan terluka. Dan pastinya, mereka yang akan terkena teguran.


Terlebih dia adalah istri dari Viki. Pengusaha yang terkenal dingin dan kejam pada lawan. Bagaimana mereka tidak takut.


"Kita lihat dan pantau dari sini saja." ucap seorang pembantu yang memegang kemoceng.


"Betul." mereka menjadi serba salah.


Tak lama, ada pembantu yang turun dari lantai atas dengan terburu-buru dan langsung menghampiri Nara di dapur. "Nyonya izinkan saya membantu. Katakan saja apa yang bisa saya lakukan." pintanya.


"Baiklah." Nara memberikan beberapa wadah yang sudah bersisi sayuran. "Potong, jangan lupa di cuci."


"Baik." ucapnya, mengambilnya.


Sang pembantu tersenyum melihat Nara begitu cekatan dan ahli dalam memainkan alat masak. "Wah,,, ternyata Nyonya pandai memasak. Maaf kami tadi meragukan keahlian Nyonya " ucapnya dengan jujur.


"Oke,,, tidak masalah. Saya hanya bisa memasak sederhana, dengan beberapa menu." Nara menjawab enteng, melanjutkan acara memasaknya.


"Tapi itu sudah hebat. Apalagi jika Tuan muda menyukainya."


Nara tersenyum senang. Mengingat bagaimana sang suami selalu makan lahap dan memuji semua masakannya. "Suami saya selalu senang dan memakan apapun yang saya masak untuknya." Nara mengatakannya dnegan binar kebahagiaan.


Nara memang sengaja datang ke rumah Tuan Smith begitu sang suami berangkat kerja. Sebab, Nara ingin menghias dengan cantik kamar yang akan menjadi tempat tidur keponakannya.


Dirinya sekalian membawa bahan makanan yang ingin dia masak di dapur Tuan Smith dan juga pakaian ganti. "Aduh Nyonya, kenapa tadi membawa bahan makanan dari rumah." ujar pembantu. "Padahal di sini juga ada."


Nara tersenyum. "Nggak apa-apa. Jaga-jaga saja, siapa tahu tidak ada."


Padahal tidak mungkin tidak ada. Jikapun benar tidak ada, pasti dengan sigap mereka akan keluar membelikannya.


Setelah berkutat beberapa jam di dapur, Nara menyelesaikan acara memasaknya. "Selesai." seru Nara, mencicipi masakannya.


"Biar saya yang mencuci wadah kotornya Nyonya."


"Oke, terimakasih." Nara mengambil rantang, dan menata makanan ke dalamnya.


Seperti biasa, Nara mengantarkan makan siang untuk Viki di kantor. Secara tidak sengaja juga, dia melihat Sara sedang berjalan.


"Selamat siang Nyonya." sapa Sara dengan sopan.


Nara memandangi Sara dengan intens. "Dia perempuan yang di cintai kak Renggo. Cantik. Kelihatannya juga baik dan penyayang." ucap Nara dalam hati.

__ADS_1


Sara melambaikan tangannya di depan wajah Nara. "Nyonya." panggil Sara lagi.


"Hah,,, eh maaf." Nara tersadar dari lamunannya.


"Jangan panggil saya Nyonya. Anda saja umurnya di atas saya. Panggil saja Nara." ujar Nara ramah.


Sara tersenyum. "Benar kata Renggo. Selain cantik, dia juga ramah dan tidak sombong." batin Sara.


"Mana berani saya memanggil anda hanya sebutan nama saja." senyum Sara.


Nara mengerti kenapa Sara mengatakan hal tersebut. Sebab memang pada kenyataannya, dirinya adalah istri dari pemilik perusahaan di mana Sara bekerja.


"Sayang...." seorang lelaki menghampiri mereka. Membuat Sara dan Nara mengalihkan perhatian pada orang tersebut.


Viki langsung melingkarkan tangannya dengan posesif di pinggang sang istri kecilnya. "Kenapa lama sekali." ucapnya dengan manja.


"Maaf, apa suamiku ini lapar?" Nara mengelus pipi sang suami.


Viki mengangguk pelan. "Sangat." cup,,,, Viki mendaratkan ciuman singkat di kening sang istri.


Sara dan beberapa karyawan yang berada di sekitar mereka melongo melihat apa yang di suguhkan di depannya.


Mereka bahkan menelan ludahnya dengan sulit, saat melihat Viki memperlakukan Nara dengan lembut.


"Tuhan,,,, ternyata kulkas bisa mencair juga." bisik-bisik mereka.


"Ya sudah, kita ke ruanganku. Aku sudah sangat lapar." pinta Viki.


Nara memandang ke arah Sara. "Nona Sara, kami permisi dulu." pamit Nara.


"Eehh,,,,i-iya." gugup Sara.


Nara dan Viki berjalan ke arah lift, dengan tangan Viki masih setia melingkar di pinggang ramping Nara. "Sayang,, lepas. Malu." bisik Nara.


Tapi Viki sama sekali tak mengindahkan protes dari istrinya tersebut. Dia malah tampak menikmatinya.


Hari berganti hari. Dan kini, bayi kecil Renggo sudah berada di kediaman Tuan Smith.


Sebab, kini di kediaman Tuan Smith sedang kedatangan keluarga besannya. Juga Tuan Marko bersama sang istri.


Nyonya Rahma terburu-buru masuk ke dalam kamar bayi. Menggendong Bima untuk keluar dari dalam. "Mama,,,, adek bayi..." ucap Bima sedikit cedal.


Bima meronta ingin turun. Namun Nyonya Rahma tidak membiarkannya. "Sayang, Bima bermain di depan bersama kak Rini saja ya." bujuk Nyonya Rahma.


Rini segera membantu sang mama, membujuk adiknya yang menangis ingin kembali masuk ke kamar. "Bima, lihat kakak. Kakak punya apa ini."


Rini membawa sebuah mainan yang dia sengaja bawa dari rumah. Dan benar saja, segera Bima terdiam dan ikut Rini bermain di depan.


"Kenapa ma?" tanya Tuan Hendra pada sang istri.


"Aduh,,, anak papa yang kecil, sangat membahayakan. Dia merengek ingin menggendong Al." Nyonya Rahma menggeleng.


Sontak semuanya tertawa terbahak. "Mungkin Bima mengira dia boneka jeng." kekeh Nyonya Binta.


"Memang pengasuhnya di mana?" tanya Nyonya Gina.


"Di dalam, tapi tetap saja. Namanya Bima. Diakan masih kecil, mana mengerti jika itu berbahaya. Main gendong saja." jelas Nyonya Rahma.


"Ini ma." Nara meletakkan beberapa camilan di atas meja yang dia baru beli dalam perjalanan ke sini.


"Sini sayang." Nyonya Rahma menepuk tempat kosong di sebelahnya.


"Apa Viki nanti ke sini?" tanya Nyonya Binta.


Nara mengangguk. "Iya ma, katanya nanti setelah pulang dari kantor langsung mampir ke sini." jelas Nara.


Nyonya Gina tersenyum melihat hangatnya kedua keluarga tersebut. Perasaan iri menyeruak dalam angannya.


"Seandainya saja Giska bisa seperti Nara. Pasti aku akan dengan tersenyum meninggalkan dunia ini." ucapnya dalam hati.


Nyonya Gina merasa sakit yang luar biasa pada dadanya. Tapi beliau menahannya. Dia tidak ingin merubah suasana yang begitu hangat, menjadi sedih.


"Oh ha bedan, kapan acara tasyakuran Al akan dilakukan?" tanya Nyonya Rahma.

__ADS_1


"Belum tahu jeng, nunggu papanya dulu. Soalnya Renggo masih sibuk mengurus bisnisnya di sini." ucap Nyonya Binta, menjeda sejenak perkataannya. "Dan juga perceraiannya." imbuhnya lirih.


Nyonya Rahma dan Tuan Hendra yang sudah mengetahui jika Renggo dan Giska akan bercerai hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk keduanya.


"Bima mana ma?" tanya Nara.


"Di depan, sama Rini. Tenang saja, tadi mama lihat mbak Mira juga mengikuti mereka." jelas Nyonya Rahma tidak ingin membuat Nara cemas.


Karena sekarang, kemanapun Nyonya Rahma pergi mengajak Bima. Beliau selalu mengajak mbak Mira untuk ikut. Tentu saja Mbak Mira ditugaskan untuk mengawasi Bima yang sedang aktif-aktifnya.


Sekitar sore hari, Renggo dan Giska masuk ke dalam rumah bersama. Membuat semua orang yang tengah bersantai sambil berbincang ringan di ruang tengah menatap heran.


"Kami bertemu di depan." jelas Renggo, seakan mengerti apa yang ada dalam benak semua orang.


"Al mana ma?" tanya Renggo.


"Di dalam, sama susnya." jawab Nyonya Gina yang memang masih berada di rumah Tuan Smith.


Berbeda dengan Renggo, Giska malah fokus ke arah Nara yang sedang bermain bersama Rini dan Bima. "Keberuntungan berpihak ke gue. Jika dia di sini, berarti nanti Viki pasti akan ke sini." batin Giska, menebak.


"Kamu dari mana?" tanya Nyonya Gina pada putrinya yang sedang mendaratkan pantat di sebelahnya.


"Dari pengadilan, lalu jalan-jalan. Giska butuh refreshing. Selama ini Giska kayak dipenjara." sindirnya ditujukan pada beberapa orang di ruangan.


"Anak kami di dalam, nggak kangen?"


Giska memutar bola matanya malas, mendengar pertanyaan sang mama. "Giska capek ma, lagian papanya juga sudah membayar pengasuh." jawabnya ketus.


Nara tersenyum jahil. Sepertinya Nara ingin menggoda Giska. Nara membisikkan sesuatu pada Rini. Hal tersebut langsung membuat Rini menatap heran ke arah sang kakak.


Nara nyengir di tatap oleh adiknya. "Apa boleh?" bisik Rini. Nara mengangguk yakin. "Boleh, tapi jangan bilang, jika kakak yang menyuruh." bisik Nara.


"Tapi sekali ini saja." bisik Nara selanjutnya. "Kakak mah." ucap Rini lirih.


"Ayooo..." Nara bicara, namun hanya membuka mulutnya, tanpa mengeluarkan suara.


Rini mengangguk. "Baiklah." Rini menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Rini berdiri, berjalan menuju ke depan. "Kakak siapa? Gendut sekali." Rini berdiri tepat di depan Giska.


Jlebbb,,,,, Giska melotot tak percaya dengan yang dikatakan anak kecil yang tengah berdiri di depannya.


"Rini..." tegur Nyonya Rahma, menggelengkan kepala. "Nggak boleh sayang." tegur Nyonya Rahma. Padahal dalam hati, Nyonya Rahma sedang tertawa lepas.


Bahkan beliau ingin sekali memberi hadiah pada Rini. "Rini,,, jangan seperti itu sayang." Nara menatap Rini.


"Maaf kak Giska. Adik Nara masih kecil. Tapi, memang sih, badan kakak gemukan. Tapi menurut Nara, kak Giska tetap cantik, meski gendut." Nara tersenyum simpul menatap Giska.


"Iya, terlihat subur." sahut Nyonya Binta.


Segera Rini pergi setelah Nara mengedipkan sebelah matanya pada dia. Dan Giska, dia berusaha tersenyum. Meski sekarang rasanya ingin sekali dia mencakar-cakar wajah mereka.


Dari ambang pintu kamar bayi Al, Renggo tersenyum melihat sang adik mengejek Giska. "Nara, Nara. Ternyata kamu jahil juga." gumam Renggo, segera bergabung bersama mereka.


"Sore..." suara seorang lelaki mampu membuat perhatian mereka teralihkan.


"Sayang..." Nara segera berdiri dan menghampiri sang suami. Mengambil tas di tangan Viki. Lalu melakukan hal sepeti biasanya.


Mencium punggung telapak tangan Viki, lalu Viki mencium kening Nara. "Sayangku mandi dulu. Tadi Nara sudah membawakan baju ganti." jelas Nara.


"Nara sana suami Nara ke kamar dulu." pamit Nara pada semuanya.


Karena memang, di kediaman Tuan Smith sudah disediakan sebuah kamar khusus untuk Nara dan Viki. Seperti halnya di rumah Tuan Hendra.


Nara dan Viki saling menautkan jari sembari berjalan beriringan melangkah ke kamar mereka. "Perasaan jadi menghangat melihat mereka." celetuk Nyonya Binta.


"Aduh besan,,, itu belum seberapa. Kalian pasti akan uring-uringan jika melihat keromantisan mereka ayang tak kenal tempat." sahut Nyonya Rahma, melirik ke arah Giska yang sedang menatap kepergian sepasang suami istri tersebut.


"Jadi pengen muda lagi." kekeh Nyonya Binta, menyenggol lengan sang suami.


"Ingat,,,, cucu,,, cucu,,," ujar Tuan Smith, membuat semuanya tertawa lepas.


Renggo juga tersenyum. Dirinya malah membayangkan jika Nara dan Viki adalah dirinya dan Sara. "Pasti aku akan bahagia sekali." gumam Renggo.

__ADS_1


__ADS_2