VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 147


__ADS_3

"Bang, pengap,,, sesak..." rengek Nara.


Setiba di dalam kamar, Viki memeluk erat tubuh mungil Nara dari belakang. Keduanya kini tengah berada di dalam kamar, yang memang di sediakan untuk mereka berdua istirahat.


Setelah mereka mengikuti acara ramah tamah dengan tamu selepas ijab kobul.


Mereka masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, sebelum nanti malam keduanya akan kembali menggelar acara resepsi pernikahan untuk keduanya.


"Kamu cantik banget sih sayang." ucap Viki mulai menciumi leher Nara.


Sementara Nara bukan gadis polos, yang tidak mengerti keinginan dari sang suami. Apalagi Nara merasakan benda keras menempel di pantatnya.


"Bang,,,," panggil Nara dengan pelan dan nada lembut.


"Kenapa? Kamu nolak sentuhan dari abang?" tanya Viki dengan kedua mata terpejam, dan nafas memburu.


"Bukan begitu, kita harus istirahat dulu. Nara takut abang akan capek. Bukankah nanti malam kita akan mengadakan acara resepsi. Ini sudah sore lo bang." bujuk Nara, seraya membalikkan badan.


Mengatakan jika dirinya takut sang suami akan kecapekan.


Sebab Nara paham betul dengan sifat dari Viki. Jika sudah mempunyai keinginan, pasti Viki akan melakukannya. Apapun itu.


Beruntung Nyonya Rahma sudah memberi trik pada Nara, bagaimana meluluhkan hati Viki yang keras seperti batu tersebut.


"Pasti berhasil. Soalnya mama pernah bilang, jika harus bertutur kata lembut dengan sedikit rayuan, untuk membuat lelaki luluh dan mau menuruti semua apa kata kita." ucap Nara dalam hati sembari berdo'a.


Viki mengusap lembut pipi Nara. "Kamu capek? Maaf, abang nggak sabaran." Viki mengecup pelan pipi Nara. "Maaf ya, abang terlalu bersemangat." lanjut Viki mengecup singkat bibir Nara.


Nara tersenyum manis. Memeluk tubuh Viki. Tapi tiba-tiba Nara merasakan tubuhnya melayang. "Abang...." seru Nara terkejut, saat Viki sudah menggendong dirinya.


"Jangan kebanyakan gerak, nanti jatuh." ujar Viki, berjalan dengan menggendong Nara menuju ranjang besar dan empuk, yang memang di sediakan pihak hotel untuk mereka berdua.


Dengan pelan, Viki menurunkan Nara di ranjang empuk tersebut. "Kita istirahat saja dulu." Viki juga menyusul Nara naik di atas ranjang.

__ADS_1


"Nggak bersih-bersih dulu?" tanya Nara. Pasalnya, kini keduanya masih menggunakan pakaian yang mereka gunakan dalam acara ijab kobul.


Viki menggeleng. "Baiklah, tapi ganti pakaian saja. Mandinya nanti saja, setelah bangun tidur. Jadi tubuh juga akan fress saat kita turun." ucap Viki


Keduanya berganti pakaian secara bergantian. Dilanjutkan dengan kembali naik ke atas ranjang. Viki merangsek ke arah Nara, memeluk tubuh Nara layaknya guling.


Nara tersenyum dengan tangan mengelus lengan Viki yang melingkar di tubuhnya. "Astaga, baru di peluk begini saja aku sudah merasa senang, tapi juga tegang sih." ucap Nara dalam hati.


Selang beberapa menit, keduanya tampak sudah masuk ke dalam mimpi.


Pemberitaan pernikahan Viki dan Nara menjadi perbincangan hangat dan juga menjadi sorotan tersendiri.


Terlebih tentang sosok Nara. Dan pasti setelah ini, para pencari berita akan menggali dan mencari tahu siapa Nara sebenarnya.


Apalagi musuh Viki. Mereka pasti tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan sekecil apapun untuk menjatuhkan Viki. Meski hal tersebut sulit mereka lakukan.


Pasalnya, saat ini perusahaan milik Viki sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan raksasa milik kedua sahabatnya. Denis dan juga Ella.


Entah bagaimana keduanya tertidur. Awalnya Viki yang menjadikan Nara sebagai guling, kini malah Nara yang menjadikan Viki sebagai gulingnya.


Dengan sangat pelan, Viki turun dari ranjang. Mengangkat panggilan yang ternyata dari asistennya, Rey.


"Ada apa Rey?" tanya Viki.


Viki menebak ada masalah yang serius, sebab Rey bahkan mengganggu dirinya di saat seperti ini.


Viki sedikit mendesah, saat mendengarkan laporan dari asistennya tersebut. Entah apa yang dilaporkan Rey pada Viki. Tapi tampak jelas, jika raut wajah Viki terlihat sedang tidak baik-baik saja.


Sembari mendengarkan apa yang Rey katakan, Viki menatap ke arah ranjang. Dimana Nara tengah tertidur seperti bayi. Tampak tenang dan juga terlihat begitu cantik.


"Lakukan segalanya, untuk menghentikan mereka. Saat ini aku harus fokus ke acara pernikahanku. Jika kamu merasa tidak sanggup, segera minta bantuan Ella atau Denis." perintah Viki pada Rey.


Viki segera menyimpan kembali ponselnya, setelah mematikan ponselnya. "Aku tidak akan membiarkan kamu terluka lagi, sayang." ucap Viki lirih.

__ADS_1


Viki menghela nafas, kembali naik ke atas ranjang dan tidur di samping Nara dengan pelan. Sehingga tidak akan membangunkan Nara.


Viki menatap intens ke wajah sang istri. "Apa yang kalian inginkan. Jika dulu kalian bisa dengan mudah menyakiti bahkan membuang Nara. Tidak untuk kali ini. Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuhnya, meski sehelai rambutpun." geram Viki dalam hati.


Ternyata, berita pernikahan Viki dan Nara tidak hanya disiarkan di dalam negara. Bahkan berita tersebut juga heboh di luar negeri.


Dan pastinya sampai di telinga Giska. Bahkan, Giska juga melihat acara ijab kobul yang dengan lantang diucapkan oleh Viki melalui video. Yang dikirim oleh sahabatnya.


"Nara, elo lihat saja. Gue akan kembali mengambil apa yang seharusnya menjadi milik gue." geramnya, menggenggam erat ponsel di tangannya.


"Ini semua gara-gara elo, bayi sialan." umpat Giska, memandang ke arah perutnya yang mulai tampak sedikit besar.


Giska tidak bisa berbuat banyak. Apalagi menyingkirkan bayi di dalam kandungannya. Sebab, jika sampai Giska melakukannya, kedua orang tuanya, bahkan Renggopun akan berjanji membuat hidup Giska akan menderita.


Dan tetu saja Giska tidak menginginkan hidup tanpa uang. Apalagi, setelah menjadi istri Renggo, Giska di perlakukan layaknya seorang ratu.


Semua keinginan Giska terpenuhi. Apapun itu. Bahkan kesehariannya hanya Giska habiskan untuk berbelanja barang yang tidak bermanfaat. Menghamburkan uang dari Renggo.


Kini, Giska kembali menjadi Giska yang seperti dulu. Arogan dan juga semena-mena.


Saat ini di pemukiman para pemulung yang pernah di huni oleh Nara dan kedua adiknya juha sedang ramai membicarakan Nara.


Ada yang mendoakan Nara, ada yang memuji Nara, namun ada juga yang mencibir dan berburuk sangka pada Nara.


Namun, para ibu-ibu yang sedang membicarakan Nara terdiam, saat bu Anis berjalan di depan mereka. Tentu saja mereka takut, lantaran selama ini bu Anis yang selalu membela dan juga perhatian pada Nara dan kedua adiknya.


"Bu Anis, apa bu Anis nggak lihat. Sekarang Nara sudah jadi orang kaya loh. Apa mungkin sekarang dia lupa sama ibu ya, padahal dulu ibu kan yang selalu membantu Nara." ucap seseorang, memprovokasi bu Anis.


Namun sayang sekali, bu Anis sama sekali tidak terpancing dengan perkataannya. "Saya memberi pertolongan pada mereka dengan ikhlas. Jadi, saya juga merasa senang. Jika mereka sekarang hidup lebih baik." tutur bu Anis.


"Lagi pula, bukan hanya dengan Nara dan kedua adiknya saya bersikap seperti itu. Bukankah setiap kamu membutuhkan bantuan, saya juga menolong kamu." sindir bu Anis.


Bu Anis merasa kesal, padahal dia tidak membedakan siapapun. Saat ada yang datang padanya dan meminta bantuan, pasti beliau akan membantunya jika beliau bisa dan mempu.

__ADS_1


__ADS_2