
"Bagaimana jeng, apa jeng setuju?" tanya Nyonya Binta pada Nyonya Rahma.
"Setuju saja sih, tapi kita tanya anaknya dulu. Jeng kan tahu sendiri, bagaimana kerjanya pemimpin perusahaan." jelas Nyonya Rahma, lantaran dirinya tahu, bagaimana gilanya Viki jika bekerja.
"Ya sudah, nanti kita sekalian tanya pas kita kumpul. Sebentar lagi Renggo sama Giska akan pulang. Nggak akan lama sih, sekitar seminggu di sini." ucap Nyonya Binta.
"Giska ke sini. Aman nggak?" tanya Nyonya Rahma khawatir. Sebab beliau tahu bagaimana gilanya Giska.
"Aman jeng. Tentu saja. Selama di sini, saya akan terus menjadi ekor dia. Pantau terus. Jangan sampai dia menyakiti putri kita." ucap Nyonya Binta dengan yakin.
Nyonya Rahma mengangguk. "Ckk,,, kenapa sih, pake acara ke sini segala." decak Nyonya Rahma tidak tenang.
"Heh,,, dia ngotot kepengen ikut Renggo. Ada pekerjaan di sini selama seminggulah. Dia ngancem, kalau nggak di ajak." jelas Nyonya Binta, menghela nafas.
"Nyonya Gina sudah tahu?" tanya Nyonya Rahma.
Meskipun Nyonya Binta tidak begitu menyukai Giska, namun beliau berhubungan baik dengan kedua orang tua Giska. "Tenang, jeng Gina juga pasti akan membantu kita mengawasi Giska." tutur Nyonya Binta.
Meski Giska menantunya, namun Nyonya Binta lantas tidak menutup mata dan membiarkan Giska bertindak semaunya. "Lagian saya merasa bersyukur, Giska pulang. Rencana mau saya ajak ke dokter kandungan. Saya mau memastikan sendiri. Kondisi calon cucu saya." papar Nyonya Binta.
"Iya juga sih jeng. Diakan,,, maaf ya jeng. Saya tahu dia menantu jeng. Tapikan, ya,,, begitulah." papar Nyonya Rahma, takut jika Nyonya Binta tersinggung.
"Santai saja. Bukankah kita sama-sama tahu. Bagaimana sifat dari menantu saya itu." jelas Nyonya Binta.
"Saya heran deh jeng. Kedua orang tuanya tu baik, sopan. Pokoknya berhati dan beretika. Kenapa anaknya sama sekali tidak menuruni sifat mereka. Sedikit saja." Nyonya Rahma menggerakkan jari tangannya, seperi ingin mencuil sesuatu.
"Entahlah, saya juga heran. Apalagi Renggo. Bisa-bisanya terjebak dengan perempuan seperti Giska." Nyonya Binta memijat keningnya.
"Sudah, jangan ngomongin dia terus. Nggak akan ada habisnya, malah bikin pusing." tukas Nyonya Rahma.
Di restoran, Nyonya Binta dan Nyonya Rahma ketemuan sembari berbincang. Sementara mbak Mira mengawasi Bima yang sedang bermain tak jauh dari tempat Nyonya Rahma dan Nyonya Binta berada.
Nara menatap dengan senyum mengembang, saat sang suami makan dengan lahap. Viki menghentikan makannya dan menatap ke arah Nara. "Kamu kenyang, hanya lihat Abang makan?" goda Viki.
Nara tersenyum sempurna, dan mulai makan. Namun tangannya terhenti saat Viki memegang rantang di depannya. "Ada apa bang?" tanya Nara.
"Aaaa... Buka mulut kamu." pinta Viki, ingin menyuapi Nara.
"Tidak perlu bang. Sini, seharusnya Nara yang melakukannya." tolak Nara, dan malah mengambil rantang di tangan Viki.
Nara mengangkat sendok berisi makanan. Mengarahkannya ke mulut Viki. "Kamu juga makan sayang." pinta Viki.
"Iya, setelah ini Nara. Kita berbagi." ucap Nara. "Aaaa,,," kata Nara membuka mulutnya, saat ingin menyuapi Viki.
__ADS_1
Nara dan Viki lantas makan berdua. Dengan Nara yang menyuapi Viki serta dirinya sendiri. "Siapa yang masak?" tanya Viki di sela-sela makan.
"Enak? Abang suka?" tanya Nara, mendapat anggukan dari Viki.
"Istri abang sendiri yang masak. Tanpa bantuan." ucap Nara pamer, merasa senang.
"Iiiih,,,, makin jago masaknya." Viki mengusap pipi Nara.
Selesai. Makanan yang di bawa Nara ludes tak tersisa. "Sayang." panggil Viki, saat Nara menata kembali rantang tersebut.
"Ada apa sayang?!" ucap Nara sedikit keras.
"Panggil lagi dong. Candu banget suara kamu." Viki memeluk tubuh sang istri dari samping.
"Sayang..." ucap Nara tersipu, tapi beruntung Nara tidak berhadapan langsung dengan Viki. Lantaran pandangannya fokus ke meja, dan masih memasukkan rantang dalam wadahnya.
"Makin cinta abang." Viki mengeratkan pelukannya.
"Bang, lepas dulu. Biar Nara selesaikan ini." ujar Nara.
Viki melepas pelukannya. "Tadi kamu sama Erlangga ngomongin apa. Sampai abang datang kamu nggak lihat." tanya Viki.
Teringat saat Nara berbincang dengan Erlangga di depan lobi. Saat masuk ke ruangan, Nara langsung mengajak Viki makan. Sehingga Viki mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Ckkk,,, memang dia nggak tahu. Kamu istri pemilik perusahaan. Gimana sih." kesal Viki menyandarkan badannya ke kursi.
Nara beralih menatap sang suami. Sebab apa yang dilakukannya sudah selesai. "Sepertinya tidak tahu bang." papar Nara.
"Tadi saja, dia nawarin Nara untuk bekerja menjadi artis di perusahan abang. Dia juga begitu bangga, saat pamer. Jika dirinya salah satu artis di perusahaan Abang." lanjut Nara.
Viki tersenyum sombong. "Artis mana yang tidak akan senang. Berada di bawah naungan perusahaan abang." ujar Viki sombong.
"Iiihh,,, sombong." goda Nara mencubit lengan sang suami.
"Tadi sepertinya, dia juga terkejut. Saat asisten Rey memanggil saya dengan kata Nyonya." ujar Nara, teringat ekspresi Erlangga.
Viki mantap Nara. Sehingga kini keduanya sama-sama beradu pandang. "Jangan dekat-dekat dengan lelaki manapun. Kecuali..." ucap Viki, namun Nara malah melanjutkan perkataannya yang mulai posesif.
"Abang dan Bima." tegas Nara. Membuat Viki tertawa pelan. Membawa Nara dalam pelukannya.
"Kamu tahu iti. Nanti pulang bareng abang ya." ajak Viki.
"Iya." jawab Nara masih dalam pelukan sang suami.
__ADS_1
Viki mencium pucuk kepala Nara. Mengurai pelukannya. "Heh,,,, sebenarnya abang pengen bobok siang bareng kamu." ucap Viki cemberut.
"Apa sih bang..." Nara tersipu, meremas dengan hemas bibir Viki yang sedang cemberut.
"Tapi abang mesti kerja. Abang ada pertemuan di luar. Apa kamu ikut abang saja ya. Dari pada kamu di aini sendiri." saran Viki dengan antusias.
"Kamu pasti akan bosan nanti, sendirian." imbuh Viki, menaruh rambut Nara ke belakang telinga.
Nara menggeleng pelan. "Nara di sini saja boleh. Nara ngantuk." cicit Nara, benar adanya.
Setelah makan, perut Nara kenyang. Dan berakhir dengan matanya yang sepat. "Sebenarnya abang juga mengantuk." papar Viki, mendapat hadiah cubitan dari Nara.
"Kamu dari tadi cubit abang terus." rengek Viki manja, dengan mengelus lengan bekas cubitan Nara.
"Abis abang ada-ada saja. Pake ikut-ikutan." tutur Nara, membuat kedua sudut bibir Viki tersenyum.
"Oke baiklah. Abang pergi dulu. Kamu masuk, istirahat. Tidur yang pulas. Buat ngumpulin tenaga, untuk nanti malam." senyum mesum Viki tercetak di bibir.
Nara melotot dan membulatkan kedua matanya. "Bang,,,," geram Nara.
"Eiittsss, dosa berbohong. Tadi pagi kamu bilang apa sayang...." Viki memencet gemas hidung Nara.
"Dan satu lagi. Menolak suami untuk berbuat ehem-ehem itu dosa besar. Tanya saja sama mama." lanjut Viki memberi saran aneh.
"Masa iya, Nara tanya mama. Malulah bang." tutur Nara, mendengar saran nyleneh dari sang suami.
Viki mencium kening Nara, beralih ke hidung. Dan terakhir ke bibir. "Sepertinya abang harus libur beberapa hari. Kita bulan madu. Tanpa pengganggu." Viki menaruh kedua telapak tangannya di pipi Nara.
Cup,,, lagi, Viki mencium bibir Nara. "Bobok yang nyenyak. Jangan lupa, kunci pintu dari dalam. Jika ada yang mengetuk, kamu biarkan saja. Jangan di buka." Viki memperlihatkan jika dirinya membawa kunci lainnya.
"Iya abang sayang." Nara dengan gemas mencubit dagu Viki.
"Aaahhh,,,, kenapa kamu sweet banget sih. Jadi pengen bawa ke kamar. Berdua." cicit Viki.
"Aaiissshh,,," Nara segera berdiri, dan masuk ke dalam kamar di ruang kerja Viki. "Lama-lama malah bahaya." gumam Nara, masih terdengar di telinga Viki.
Sementara Viki terkekeh melihat Nara seperti sedang berlari kecil ke dalam kamar. Dan segera menguncinya dari dalam.
Rey, dia berdiri di depan ruangan Viki. Hanya bisa bersabar dan menunggu dengan setia sang atasan keluar dari ruangan.
Sesekali Rey melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Kita sudah telat tuan. Sepuluh menit." gumam Rey.
Tanpa berani mengetuk pintu. Tentu saja dia tahu apa yang akan terjadi padanya. Jika dia mengganggu kebersamaan sang atasan dengan istri kecilnya.
__ADS_1
"Untung saja, ini bukan perusahaan besar. Dan bukan kerja sama yang terlalu penting." desah Rey. Dan pastinya Rey sudah menghubungi mereka. Jika Viki dan dirinya akan sedikit terlambat.