
"Bolehkan ma." rayu Nara, supaya Nyonya Rahma memperbolehkan dirinya untuk pergi ke perusahaan Viki.
Nyonya Rahma menarik nafas panjang. "Sayang, kamu dengar sendirikan. Jika tadi, sebelum berangkat kerja, Viki menyuruh kamu untuk tetap stay di rumah. Bersama dengan mama." jelas Nyonya Rahma.
Nyonya Rahma hanya takut, Nara akan dalam bahaya jika keluar dari rumah. Terlebih di depan rumah ada begitu banyak orang dengan kamera menggantung di leher mereka. Dan juga alat kecil yang berada di tangan mereka.
Beliau juga tidak bisa memastikan. Apakah mereka benar-benar pencari berita, atau memang kirimkan dari pihak lain, yakni musuh Viki. Yang pastinya membenci Viki. Dan ingin menghancurkan kehidupan putra tersayangnya.
Oleh karenanya, Nyonya Rahma tidak memperbolehkan Nara keluar dari dalam rumah. Sebab, disinilah tempat teraman untuk dirinya.
Bahkan, hari ini. Rinipun juga tidak pergi untuk belajar di sekolah. Nyonya Rahma terpaksa beralasan jika Rini sedang sedikit flu dan demam. Sehingga dia tidak bisa pergi belajar.
Juga dengan Nara. Karena berita tersebut. Hari ini guru privat yang biasanya mengajar dirinya juga tidak datang.
Viki mengerahkan bawahannya untuk menjaga kediamannya, dari setiap orang yang akan menerobos ke dalam rumah.
Selain itu, Viki juga menempatkan beberapa bawahannya untuk memantau dan mengawasi keselamatan dari sang papa.
Viki benar-benar tidak ingin kecolongan. Dirinya tidak ingin terjadi sesuatu pada orang-orang yang dia sayangi.
"Ma, entah kenapa, Nara merasa ada yang janggal. Pikiran Nara tidak bisa tenang, sebelum melihat abang." jelas Nara, tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya..
Nara memegang tangan sang calon mertua. "Ma, tolong, izinkan Nara keluar." rengek Nara seperti anak kecil yang tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Ma, Nara tidak akan sendirian. Akan ada bawahan abang yang menjaga Nara. Ma, tolong." Nara tetap kekeh merayu Nyonya Rahma.
Nyonya Rahma menghela nafas dan berdecak. Memandang sayu pada kekasih sang putra, yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri.
"Kamu tahukan, mama hanya khawatir. Mama cemas, jika dalam keadaan seperti ini, kamu ada di luar. Mama merasa was-was, jika tidak melihat wajah kamu." papar Nyonya Rahma, membelai lembut pipi Nara.
__ADS_1
Nara tersenyum, mengerti kenapa Nyonya Rahma bersikap demikian. Nara merasa begitu senang, mendapat begitu banyak limpahan kasih sayang dari mama kandung Viki tersebut, juga seluruh penghuni rumah ini. Sebuah angan-angan yang menjadi kenyataan.
Nara memeluk Nyonya Rahma. "Tapi Nara tetap merasa khawatir, dan hati Nara tidak tenang, sebelum melihat wajah abang secara langsung." cicit Nara dalam pelukan Nyonya Rahma.
"Baiklah, mama mengizinkan." ucap Nyonya Rahma yang akhirnya luluh, karena merasa kasihan pada Nara yang sedari tadi merengek padanya.
Segera Nara menarik diri dari rengkuhan Nyonya Rahma. "Terimakasih ma." Nara mencium singkat pipi Nyonya Rahma.
"Tapi ingat, jangan jauh-jauh dari mereka." jelas Nyonya Rahma, supaya Nara tetap berada di sekitar bawahan Viki saat keluar dari dalam rumah.
"Pasti. Mama tenang saja, mama tidak perlu khawatir. Nara akan baik-baik saja. Nara akan menjaga diri Nara dengan baik." ucap Nara menyakinkan calon mertuanya.
Nara meninggalkan rumah melewati pintu belakang. Meskipun di pintu belakang ada beberapa orang pencari berita, namun jumlahnya tidak sebanyak yang ada di depan. Sehingga bawahan Viki dapat mengatasinya dengan mudah.
Nara tak lantas segera turun dari dalam mobil, saat dirinya telah sampai di depan perusahaan Viki. "Nona, sepertinya itu Melva." tutur bawahan Viki yang duduk di kursi depan, tepatnya samping pengemudi.
"Jangan di buka Nona." cegah bawahan Viki, saat Nara hendak membuka kaca jendela mobil. Sebab, jika Nara membukanya, kemungkinan besar Melva juga akan melihat mereka.
"Sepertinya dia sedang mengawasi perusahaan abang." cicit Nara.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Nara pada mereka, juga pada diri sendiri.
Nara terdiam. Dia sepertinya tengah berpikir. Apa yang bisa membuat semua orang percaya, jika Viki bukanlah seperti apa yang ada dalam berita tersebut, dan juga alasan Melva bisa ada di sini.
"Apa seorang yang menyukai sesama jenis akan biasa saja, saat dia berinteraksi dengan lawan jenis?" tanya Nara tiba-tiba.
Membuat dua orang bawahan Viki yang berada di kursi depan sling menatap. "Maksud Nona?" tanya salah satu dari mereka.
"Begini, seorang laki-laki, menyukai laki-laki juga. Apa lelaki tersebut juga akan menikmati, saat dia di dekati, bahkan di cium oleh perempuan?" tanya Nara lebih spesifik menjelaskan pertanyaannya.
__ADS_1
"Setahu saya tidak Nona. Orang seperti mereka, cenderung tidak ingin di dekati oleh perempuan. Jika iya, mungkin hanya sebatas berteman. Sebab, seseorang seperti mereka akan lebih pencemburu, makanya mereka lebih baik menghindari perempuan. Dari pada membuat kekasih mereka cemburu." paparnya.
"Memang sepeti itu?" tanya Nara lagi.
"He,,, he,,, he,,, tidak tahu juga sih Nona. Hanya pemikiran saya saja." ucapnya sambil tertawa pelan.
"Ckk,,,." decak Nara, lantas terdiam, otaknya memikirkan sesuatu yang dia harap akan bisa menyelamatkan Viki. "Nona, Tuan Viki keluar." ucapnya, membuat lamunan Nara buyar.
"Kita kesana." perintah Nara. Namun bawahan Viki malah terdiam, tidak segera menjalankan mobilnya.
"Ayo cepat." ucap Nara sedikit menaikkan nada suaranya.
"Eeehh,, baik."
Mobil yang mereka kendarai berhenti di parkiran perusahaan. Bersamaan dengan mobil yang juga di naiki oleh Melva.
"Ngapain dia juga ke sini." ucap Nara dalam hati.
Tapi keberuntungan berpihak pada Nara, sebab saking fokusnya Melva memperhatikan Viki, dia tidak sadar, jika Nara ada di dekatnya.
Di tengah-tengah suara para banyaknya pencari berita yang terus bertanya pada Viki, tentang tersebarnya foto sang pengusaha dengan seorang lalaki, ada suara teriakan seorang perempuan yang mampu membuat mereka terdiam, dan langsung menoleh ke arah belakang.
"Kalian ingin tahu semuanya? Apakah Viki itu penyuka sesama atau tidak? Baiklah, lihat sekarang juga." ucap perempuan tersebut. Yakni Melva.
Nara yang tepat berada di belakang Melva, mengerutkan keningnya. Mendengar perkataan Melva.
"Nara." ucap Viki, menyadari jika sang kekasih berada di belakang Melva.
Viki menatap Nara. Namun pandangan Viki seakan sedang menatap Melva. Sebab, keberadaan Nara yang tepat di belakang Melva.
__ADS_1
Bibir Melva tersenyum sempurna. Dia merasa jika Viki memperhatikannya. "Benar kata papa. Gue harus bisa memiliki Viki. Entah berita yang di sampaikan gara-gara foto tersebut benar apa tidak. Siapa yang tidak menginginkan berdiri di samping lelaki seperti dia. Terlepas apapun dan bagaimana dirinya." ucap Melva dalam hati.
Senyum Melva semakin berkembang, saat Viki berjalan ke arahnya. Tentu saja, Melva mengira jika Viki akan menghampiri dirinya. "Ayo, Viki. Dan aku akan membuat rencana papa berjalan dengan mulus." lanjut Melva dalam hati.