
Di lokasi syuting, Melva yang sedang dalam emosi yang tidak stabil selalu melakukan kesalahan. Membuat proses syuting berlangsung lama.
Melva selalu teringat kejadian di restoran. Dimana dia melihat Viki sedang makan malam bersama seorang perempuan.
Dengan mata kepala sendiri, Melva melihat bagaimana Viki memperlakukan perempuan tersebut dengan sangat romantis.
"Maaf semuanya, Nona Melva sedang tidak enak badan." ucap sang asisten meminta maaf dengan sopan pada para kru.
Berbeda dengan Melva, di saat sutradara berteriak,, cut,,, serta memasang wajah frustasinya, karena sedari tadi Melva terus melakukan kesalahan.
Melva malah acuh dan masuk ke dalam ruangannya tanpa berkata apapun. Bahkan kata maaf tak terlontar dari mulut Melva.
Bahkan artis lainnya yang menjadi lawan Melva juga ikut meradang. "Katakan pada artismu, bersikaplah profesional." teriak artis lain, yang juga geram dengan sikap Melva.
"Dia pikir kita semua harus mengikuti semua jadwalnya." lanjutnya, karena Melva membuang waktu yang lainnya. Padahal mereka juga punya pekerjaan lain setelah ini.
"Baik, maaf semuanya." ucap sang asisten, segera mengikuti Melva masuk ke ruangannya.
"Ckk,,, sekali lagi dia membuat kesalahan. Gue akan cabut dari sini." geram artis lainnya.
Karena memang Melva meminta satu ruangan khusus untuk dirinya saat dia menjalani syuting. Dimanapun dia melakukan syuting, dan dengan pihak manapun dia bekerja sama. Itulah syaratnya.
"Kasihan sekali asistennya." celetuk kru yang lain. Karena memang sebagian besar dari mereka sudah mengetahui sifat asli dari Melva.
Mereka juga tahu, jika Melva sering bersikap dan bertindak kasar pada sang asisten. Memperlakukan sang asisten seperti budak.
Namun herannya, sang asisten tetap bertahan di samping Melva. Mungkin karena memang dia membutuhkan pekerjaan tersebut untuk menghasilkan uang.
"Serigala berbulu domba." celetuk yang lain.
"Anget dong." timpal yang lain.
Semua kru hanya bisa mendesah dengan pandangan mata melihat ke arah ruangan Melva. Berharap sang artis yang mendapat julukan princess tersebut segera keluar dari ruangannya. Dan melanjutkan syuting.
Entah apa yang sekarang terjadi di ruangan Melva. Hanya Melva dan sang asisten yang tahu. Tak ada yang berani ikut campur masalah Melva.
__ADS_1
Selain karena fansnya yang fanatik selalu membela Melva, dia juga mempunyai orang tua yang berkuasa di dalam dunia bisnis.
Di tambah lagi, Melva tak hanya pandai berakting di depan kamera. Tapi juga di belakang kamera. Lidahnya juga sangat licin dalam berkata-kata.
Sehingga bisa memanipulasi semuanya. Membuat semua orang percaya dengan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya. Bahkan Melva juga membawa aktingnya dalam dunia nyata.
Benar-benar artis yang totalitas.
Itulah sebabnya mereka enggan berurusan dengan Melva. Mereka masih menginginkan pekerjaan, dan juga rasa aman dalam hidup mereka.
"Ckk,,, sabar." ucap seorang kru dengan mengipaskan selembar kertas ke arah wajahnya. Mengurangi rasa panas yang menjalar di otaknya, bukan karena sengat matahari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nara dan Mbak Mira sedang berbelanja kebutuhan dapur. "Baru kali ini, Nara datang ke tempat sebesar ini mbak." ucap Nara lirih. Karena memang, selama ini Nara hanya berbelanja di pasar tradisional.
Mbak Mira tersenyum. Dia sangat menyayangi Nara seperti seorang adik. "Mbak juga jarang ke sini. Mbak ke sini jika bahan dapur yang di perlukan tidak ada di pasar tradisional." ucap Mbak Mira.
Keduanya berbelanja dengan tenang, memilih sayur yang akan di beli. Tanpa sengaja, manik mata Nara melihat seorang perempuan yang berdiri tak jauh di depannya.
Perempuan yang menurunkan dirinya di pinggir jalan di pemukiman kumuh. Dia adalah Vanya. Mama kandung dari Nara.
"Nara, kamu kenapa?" tanya Mbak Mira, melihat wajah Nara pucat, dengan irama nafas yang sedikit cepat.
"Tidak mbak, Nara tidak apa-apa." ucap Nara berbohong.
"Sebaiknya kita pulang saja." ajak Mbak Mira khawatir.
Nara tersenyum haru atas perhatian yang di berikan oleh mbak Mira. "Tidak perlu mbak. Nara baik-baik saja." ucap Nara menyakinkan Mbak Mira.
Nara merasa tidak enak jika harus kembali ke rumah sekarang. Apalagi mereka baru saja sampai. Bahkan belum sempat memasukkan apapun ke dalam keranjang belanjaan yang di tenteng mbak Mira.
"Nara, kamu pasti bisa." ucap Nara dalam hati, menyemangati dirinya sendiri.
Takut. Tidak. Nara tidak takut bertemu dengan sang mama. Nara hanya merasa trauma. Mungkin itulah yang di rasakan oleh Nara.
__ADS_1
Saat pertama bertemu, pikiran Nara langsung mengingat kejadian tujuh tahun yang lalu. Dimana saat itu dirinya di buang oleh sang mama.
"Ya sudah. Kalau begitu, kita kembali memilih sayuran saja." ucap Mbak Mira, Nara mengangguk pelan.
Nara tersenyum sinis. Mengingat perlakuan keluarganya selama dirinya tinggal di rumah mewah tersebut. Nara sama sekali tidak mendapatkan kebahagiaan. Hanya rasa tertekan yang dia dapat.
Tapi, setelah Nara di rawat oleh sepasang suami istri yang tinggal di tempat kumuh. Barulah Nara bisa merasakan yang namanya kasih sayang. Meski mereka hidup serba kekurangan.
"Aku harus mengucapkan terimakasih padanya. Mungkin, jika aku tetap berada di sangkar tersebut, aku tidak akan merasakan hidup seperti sekarang." Nara menatap mbak Mira, dan memeluknya secara tiba-tiba.
"Eh, ada apa Nara?" tanya mbak Mira terkejut.
Nara mengurai pelukannya. "Terimakasih." ucap Nara. Sontak mbak Mira menaruh punggung telapak tangannya di dahi Nara.
"Kamu baik-baik sajakan?" cemas Mbak Mira. Nara mengangguk sembari tersenyum. Keduanya lantas melanjutkan belanja.
Nara juga bersyukur di pertemukan dengan semua anggota yang tinggal di rumah Tuan Hendra. Mereka membuat Nara merasa hidup kembali.
Terlebih bertemu dengan Viki.
"Nyonya, anda kenapa?" tanya seorang perempuan paruh baya pada Nyonya Vanya.
Sama seperti Nara, Nyonya Vanya tertegun. Melihat sang putri yang di buangnya, kini berdiri tepat di hadapannya. Hanya bersekatkan tempat sayur.
Nara sadar, jika saat ini dirinya sedang di tatap oleh sang mama. Tapi Nara hanya acuh. Baginya, kini keduanya tidak lagi memiliki ikatan apapun. Semenjak dia di buang waktu itu.
"Nyonya." panggilnya lagi, karena Nyonya Vanya masih diam memandang ke arah Nara.
Nara mengangkat sedikit kepalanya yang sedari tadi menunduk. Kini mata keduanya saling bertatapan. Nara hanya tersenyum sinis dan acuh memandang Nyonya Vanya.
Nara melangkahkan kakinya mengikuti Mbak Mira. Menghiraukan Nyonya Vanya yang masih menatapnya dengan tatapan tidak percaya bercampur rasa terkejut.
"Tidak mungkin. Dia,,, bagaimana bisa." ucap Nyonya Vanya dalam hati.
Perempuan tak berhati. Apa sebenarnya yang dia rasakan saat pertama kali melihat putri kandungnya. Terlebih Nara terlihat cantik dan anggun dengan dress sederhana bermotif bunga-bunga.
__ADS_1
"Itu hanya sedikit syok terapi dari saya Nyonya. Aku sudah sangat tidak sabar. Saat dia mengetahui, jika aku adalah calon istri dari lelaki yang sangat di cintai putri tirinya tersayang." ucap Nara dalam hati, tersenyum sinis.