VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 138


__ADS_3

Para pencari berita dengan setia menunggu di depan rumah Viki dan juga di depan perusahaan. "Tuan, apa perlu saya bubarkan mereka secara paksa?" tanya Rey.


"Tida perlu, biarkan saja." ujar Viki terkesan cuek.


"Tapi Tuan." bantah Rey, yang memang tidak mengerti pikiran dari atasannya tersebut..


"Tenanglah Rey, siapapun dia, dia akan muncul sebagai pahlawan sebentar lagi. Kita tunggu saja permainan apa yang sedang dia mainkan." ujar Viki.


Sebelum masuk ke dalam perusahaan, Viki mendapat pesan tertulis dari sahabatnya yang bernama Ella. Jika ada seseorang yang sengaja memberikan foto tersebut pada Tuan Diego.


Dengan arti, jika Tuan Diego juga tidak mengetahui masa lalu Viki yang mempunyai masalah dalam berhubungan intens dengan lawan jenis.


Oleh sebab itu, Viki yang awalnya ingin segera mengadakan konferensi dengan beberapa media, tidak jadi dia lakukan. Sebenarnya Viki melakukan konferensi pers hanya karena ingin memulihkan nama baik sang papa sebagai pejabat negara.


Viki dan Ella hanya bisa menebak, jika Tuan Diego mengira jika foto tersebut di ambil untuk kebutuhan pemotretan. Lantaran lelaki yang berada dalam foto bersama Viki adalah model terkenal dari luar negeri.


Dan pastinya, otak licik Tuan Diego yang membuat semua skenario berita tersebut. Viki dapat menebak, apa yang akan terjadi selanjutnya.


Dan saat ini, itulah yang sedang di tunggu oleh Viki. "Apakah anda yakin untuk membatalkan konferensi pers dengan beberapa media, Tuan?" tanya Rey gamang.


"Iya." ucap Viki. Viki sudah memberi penjelasan pada sang papa terkait kenapa dirinya masih diam. Seolah membiarkan masalah ini berlarut-larut.


Dan Tuan Hendra paham dan malah mendukung apapun keputusan yang di ambil oleh sang putra. Beliau yakin, jika putra kebanggaannya tersebut dapat menyelesaikan masalah ini dengan baik.


"Tugaskan anak buahmu di depan. Suruh mereka mengawasi jika ada sesuatu yang menarik perhatian. Dan katakan, untuk segera melaporkannya." perintah Viki pada Rey.


"Baik Tuan."


Di tempat lain, Tuan Smith merasakan kegelisahan atas berita mengenai Viki. "Pa, papa tenang saja. Mungkin semua ini hanya gosip saja untuk menjatuhkan Viki." papar Nyonya Binta menenangkan sang suami.


"Bagaimana papa bisa tenang. Bagaimana jika semua itu benar. Bagaimana dengan Nara. Astaga, papa tidak bisa berpikir jernih ma." keluh Tuan Smith.


"Baiklah, kita tunggu sampai besok. Jika sampai besok belum ada klarifikasi dari Viki, mama akan menemani papa untuk bertemu dengan Viki dan Nara. Bagaimana, papa setuju." tawar Nyonya Binta.


"Kenapa harus menunggu besok. Lebih cepat lebih baik." kekeh Tuan Smith.


"Pa, bukannya mama tidak mau. Mama tahu, apa yang sedang papa pikirkan. Tapi seharusnya papa juga tahu, siapa Viki. Sosok seperti dia, tidak mungkin bersih, tidak mungkin Viki tidak mempunyai musuh. Papa mengerti maksud mama kan?" Nyonya Binta masih berusaha membujuk dan menenangkan sang suami.


Nyonya Binta paham benar, apa yang sekarang ada di pikiran sang suami. Pasti masa depan Nara. Sebab, jika berita miring mengenai Viki itu benar adanya, berarti Nara hanya di jadikan tameng oleh Viki untuk menutupi semuanya.

__ADS_1


Dan artinya, kehidupan Nara ke depannya akan lebih suram dan lebih sulit.


Suasana berbeda terlihat di kediaman Tuan Diego. Papa dan sang anak tertawa bahagia. Rencana Tuan Diego berjalan dengan mulus tanpa hambatan.


"Papa akan mengucapkan banyak terimakasih pada pengirim foto tersebut." ucap Tuan Diego, yang juga tidak mengetahui siapa yang mengirimkan foto Viki bersama lelaki melewati emailnya.


"Pa, tapi papa yakin, jika Viki tidak seperti itukan?" tanya Melva, merasa ngeri dan geli membayangkan jika Viki benar-benar penyuka sesama.


"Lantas kenapa kalau Viki seperti itu. Tidak ada ruginya untuk papa. Yang papa inginkan kekayaan Viki. Papa tidak peduli dengan semua tentang Viki." lontar Tuan Diego.


"Tapi pa..." bantah Melva.


"Tapi apa! Kamu tidak mau membantu papa!" bentak Tuan Diego.


Melva menekuk wajahnya. Membayangkan jika Viki seperti apa yang dia bayangkan di benaknya. Sungguh membuatnya merasa bergidik jijik.


"Bukannya Melva tidak mau membantu papa. Tapi, jika Viki benar-benar seperti itu, berarti,,, Melva,,,, pa,,, papa seharusnya mengerti maksud Melva." ujar Melva dengan kesal.


"Bodoh. Pakai otak kamu. Kamu bisa mencari lelaki lain untuk kebutuhan biologis kamu. Jika benar Viki memang seperti itu, bukanlah itu hal yang baik." ujar Tuan Diego.


"Maksud papa?" tanya Melva.


"Kenapa otak kamu selalu berjalan dengan lambat." hardik Tuan Diego pada sang putri.


Melva mengangguk pelan. "Iya." jawab Melva dengan malas.


"Sudahlah, yang sekarang harus kamu lakukan adalah menuruti dan menjalankan semua apa yang papa perintahkan. Dan jangan banyak bertanya atau membantah." tegas Tuan Diego memberi perintah pada sang putri.


Sementara Nyonya Vanya hanya bisa mencuri dengar percakapan Tuan Diego dan Melva dari balik tembok. Beliau sungguh tidak ingin terlibat dalam masalah Viki.


Seperti saat ini, Nyonya Vanya berpura-pura sakit, saat Tuan Diego menyuruhnya untuk membantu melancarkan rencananya membuat skenario tentang Viki.


Takut. Tentu saja Nyonya Vanya takut, jika Viki membongkar semuanya. "Apa yang harus aku lakukan?" tanya Nyonya Vanya dalam hati.


Kepalanya berdenyut, saat memikirkan hal tersebut. Nyonya Vanya merasa bodoh dan menyesal. Mengalihkan semua hartanya atas nama Tuan Diego. Dan sekarang dia sendiri merutuki kebodohannya.


"Jika sampai semua terbongkar, habis sudah." ucapnya dalam hati, yang memang sudah tidak mempunyai apa-apa.


Nyonya Vanya takut, jika Viki sampai mengira dirinya terlibat masalah ini. "Apa aku memberitahu Viki saja, tentang masalah ini. Memberitahunya, jika aku sama sekali tidak terlibat." ucapnya dalam hati, merasa cemas akan nasibnya.

__ADS_1


"Tapi bagaimana bisa. Jika aku memberitahunya, sama saja aku membongkar rencana suamiku. Dan jika sampai papa tahu, aku juga akan terkena masalah." ucap Nyonya Vanya dalam hati.


"Ahhh,,,, Aku harus bagaimana?" gumamnya merasa bimbang dengan pilihannya. Sebab, dirinya saat ini berada di tengah-tengah.


Yang saat ini ada dalam benak Nyonya Vanya hanyalah bagaimana cara membuat dirinya tetap hidup bergelimang harta. Hanya itu.


"Sekarang, kamu pergi ke perusahaan Viki. Orang papa sudah ada di sana. Tunggu sampai Viki keluar dari perusahaan. Kamu tahukan, apa yang harus kamu lakukan?" tanya Tuan Diego memastikan langkah dari Melva.


Melva tersenyum licik. "Tenang pa, Melva akan melakukan dengan baik. Papa lupa, putri papa adalah artis terbaik, dengan akting yang luar biasa." ucap Melva dengan pongah.


"Bagus, pergunakan kemampuanmu itu sekarang. Tunjukkan pada papa." ucap Tuan Diego.


"Tentu saja. Dengan senang hati." ucap Melva penuh percaya diri.


Sementara itu, Viki hendak meninggalkan perusahaan. Lantaran ada pekerjaan di luar. "Tuan, biar saya saja yang menghandle pekerjaan anda di luar perusahaan." ucap Rey, mengkhawatirkan atasannya tersebut.


Lantaran di depan masih begitu banyak pencari berita yang dengan setia menunggu kedatangan Viki. "Tidak perlu." ucap Viki.


"Saya akan menemani anda." papar Rey, padahal memang biasanya Rey selalu menemani Viki. Lantas kenapa Rey meski berkata demikian. Ada-ada saja.


Belum sempat Viki dan Rey meninggalkan ruangan, ponsel Rey berdering lebih dulu. Ternyata anak buah Rey melaporkan, jika dia melihat Melva di sekitar perusahaan.


"Tuan, anak buah saya melihat Melva." lapor Rey.


"Tepat sekali. Kamu lihat, siapapun dia yang membuat ulah, pasti dia juga yang akan menyelesaikannya." papar Viki tersenyum penuh makna.


"Jadi..." seketika otak Rey bekerja, saat mendengar perkataan Viki.


"Maaf Tuan." ucap Rey, sebab dirinya merasa bodoh sejak tadi. Bahkan bawahannya yang dia tugaskan untuk mencari sosok orang dibalik tersebarnya berita tersebut belum juga menemukan hasilnya.


"Bukan salah kamu. Sebab, Tuan Diego hanya dia gunakan sebagai pion saja. Dan aku, hanya dia gunakan sebagai permainan saat dia senggang." kekeh Viki.


Viki tahu, jika sebenarnya dirinya bukanlah target utama dari orang tersebut. Sebab, target utamanya adalah salah satu sahabat Viki.


Rey merasa jika otaknya kembali bingung. "Hanya pion. Dan Tuan hanya di gunakan untuk mengisi waktu senggang. Apa maksudnya?" tanya Rey dalam hati.


"Kita keluar sekarang." ujar Viki.


Segera Viki di kerumuni oleh pencari berita. Dan pastinya mengenai pemberitaan tentang Viki yang menjadi trending utama.

__ADS_1


Di tengah-tengah suara yang terus bertanya pada Viki, ada suara teriakan seorang perempuan yang mampu membuat mereka terdiam, dan langsung menoleh ke arah belakang.


"Kalian ingin tahu semuanya? Apakah Viki itu penyuka sesama atau tidak? Baiklah, lihat sekarang juga." ucap perempuan tersebut.


__ADS_2