
"Loh, Viki mana?" tanya Nyonya Rahma, saat mereka sarapan bersama seperti biasa.
"Abang sudah berangkat kerja ma. Katanya ada pekerjaan penting." jelas Nara.
"Huuufffttt,,, kamu harus selalu mengingatkan Viki. Dia, jika sudah seperti ini, maka akan lupa segalanya. Gila kerja." ucap Nyonya Rahma menggeleng pelan.
"Baik ma." jawab Nara.
Hari ini, Nara kembali mulai belajar privat lagi, setelah beberapa hari libur. Selesai belajar, masih seperti biasa, Nara disibukkan dengan mengasuh Bima dan membantu pekerjaan rumah seperti hari-hari sebelumnya.
Hanya saja, mulai saat ini, Nara tidak diperbolehkan menyapu atau mengepel, bahkan mengelap dan juga mencuci. Jadi Nara hanya membantu memasak dan menata bunga yang memang beberapa hari sekali diganti.
Sebab, bunga yang di letakkan di beberapa sudut rumah, adalah bunga asli. Bunga tersebut berasal dari kebun belakang. Dimana, di belakang rumah Tuan Hendra memang terdapat taman dengan berbagai macam bunga.
Hingga malam menjelang, Nara kembali tertidur di kamar Bima dan Rini. Namun tidak seperti kemarin malam, Nara terbangun saat masih sore.
"Semoga abang belum pulang." ucap Nara berharap.
Dengan pelan, Nara membuka pintu kamarnya dari luar. Kosong. Menandakan jika Viki belum pulang. "Tumben, abang belum pulang. Apa lembur." cicit Nara.
Nara mengambil ponselnya, melihat jika saja ada pesan dari sang suami. Kosong. Lagi-lagi tidak ada satupun pesan dari Viki.
"Mungkin abang sibuk. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan abang." ujar Nara lirih.
Di sebuah tempat, Viki sedang melakukan sidak mendadak di mall miliknya. Membuat semua karyawan menjadi was-was. Pasalnya, Viki datang di saat mall ingin tutup.
Selesai berkeliling, rombongan Viki mampir ke sebuah outlet. Dimana di sana menjual berbagai makanan. Mereka menikmati makanan sembari berbincang masalah yang terjadi di mall.
Pandangan Viki tiba-tiba tertuju pada sepasang perempuan dan lelaki. Dimana terlihat jika mereka masih sama-sama bersekolah. Tampak mesra.
Viki menghembuskan nafas. Teringat akan Nara. "Mungkin mereka sepantaran dengan Nara." ujar Viki dalam hati.
Merasa jika sepertinya seusia Nara memang masih bermain dan berpacaran. Belum saatnya menikah. "Tapi gue nggak bisa menunggu." batin Viki sedang bergejolak.
Mengingat perkataan Nara jika dirinya belum siap memberikan Viki haknya, dan melihat sepasang kekasih sepantaran Nara di depannya.
__ADS_1
Viki memijat pelipisnya yang berdenyut. "Tuan, anda baik-baik saja?" tanya karyawan Viki. Segera Rey menolah ke arah Viki.
Viki mengangguk pelan. Tangannya terulur mengambil secangkir kopi di depannya. Menyeruputnya secara perlahan.
"Maaf, saya permisi dulu." pamit Viki pada para karyawan yang mengikutinya melakukan sidak di mall.
"Silahkan Tuan." ucap mereka serempak.
"Ada apa dengan atasan kita?" tanya salah satu dari mereka, saat Viki dan Rey sudah tak terlihat lagi.
"Baru menikah, sudah sibuk bekerja. Jangan-jangan berita itu benar." timpal yang lain.
"Jangan berbicara begitu, gue mrinding jadinya."
"Kenapa elo yang mrinding?" tanya rekannya, pasalnya yang berbicara adalah karyawan lelaki.
"Ya iyalah, jika benar. Berati gue masuk dalam katagorinya." jawabnya.
"Ngaca,,,, meskipun boss kita seperti itu, elo nggak termasuk. Apaan, gue aja ogah sama elo." cibir karyawan perempuan.
"Hussttt,,,, kalian bicara apa sih. Bahaya jika ada yang dengar." tegur yang lainnya.
"Iiiissshhh,,,," desis Viki, merasa perih di bagian perutnya.
"Astaga, gue lupa belum mengganti perbannya." ucap Viki memandang tubuhnya yang terluka.
Segera Viki melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah. Dalam perjalanan, Viki tersenyum miris. "Gini amat pengantin baru. Ckk,,, rasanya sama. Punya istri ataupun tidak." keluh Viki.
"Den Viki, mau makan malam?" tanya mbok Nah, yang melihat Viki berjalan hendak menaiki anak tangga.
Viki hanya menggeleng dan meneruskan langkahnya. Mbok Nah menghela nafas. "Semoga Nara cepat mengambil keputusan yang tepat." ucap mbok Nah, merasakan kecemasan.
Viki masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Nara sudah meringkuk di atas ranjang. Sesudah meletakkan dengan sembarangan tasnya di atas kursi, Viki mendekat ke arah Nara.
Dilihatnya wajah cantik sang istri yang tampak damai dalam tidurnya. "Apa aku terlalu memaksakan pernikahan ini." ujar Viki mengingat umur Nara.
__ADS_1
Viki menengadahkan kepalanya sejenak. Lalu kembali menatap Nara. "Apapun yang kamu inginkan dan kamu mau, akan abang lakukan. Jangan pernah khawatir, abang tidak akan menyentuh kamu. Tanpa seizin dari kamu, sayang." ucap Viki tersenyum.
Cup,,, Viki mencium pelan pipi Nara, sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Viki lebih lama dari biasanya saat berada di kamar mandi. Sebab dia harus membersihkan lukanya dan menggunakan perban.
"Pantas perih." ucap Viki, perban di perut Viki ada yang terbuka sedikit. Membuat lukanya menempel di kemeja putih miliknya. Menjadikan kemeja puti miliknya terdapat bercak bekas luka.
Viki membuang kemeja tersebut ke tempat sampah. Bukan ke keranjang pakaian kotor. Dengan telaten dan perlahan, Viki mengobati sendiri lukanya. Hingga melilitkan perban.
Memang sulit melakukannya sendiri. Namun Viki tak punya pilihan lain. Mana mungkin Viki meminta Nara melakukannya. Bisa-bisa Viki tidak tahan saat dekat dengan Nara, dan malah menyerangnya.
"Akhirnya selesai juga." ucap Viki bernafas lega.
Viki membaringkan badannya di atas kursi sofa yang empuk dan panjang. Tentu saja Viki tetap merasa nyaman tidur di sana.
Lantaran sofa tersebut memang sedikit lebih lebar dan panjang dari pada ukuran kursi sofa biasanya.
Di belahan bumi lain, terjadi perdebatan antara Giska dan Renggo. "Kenapa? segitu cintanya elo sama gue?" tanya Giska dengan tidak sopan.
Ya, Giska kekeh ingin bercerai setelah anak yang ada dalam perutnya lahir. Namun Renggo berkata tidak akan pernah menceraikan Giska.
Selama menikah, Renggo sama sekali tidak menyentuh Giska. Entahlah, rasa cinta yang dulu menggebu-gebu, kini lenyap dengan mudah bagai debu terbawa hembusan angin.
Selama menikah, bahkan keduanya pisah kamar. Awalnya, Giska yang menginginkan itu. Dan Renggo mengikuti semua keinginan Giska.
Dengan berjalannya waktu, Renggo mengetahui rencana busuk sang istri yang ingin kembali mengejar Viki. Dan menyingkirkan Nara.
Sejak saat itulah, perasaan Renggo mulai terkikis habis sedikit demi sedikit.
"Dulu, memang mungkin gue bodoh. Merasa gue mencintai perempuan seperti elo. Tapi gue sadar, gue sama sekali tidak pernah mencintai elo." ucap Renggo dalam hati.
Tentu saja Renggo tidak ingin Giska tahu, jika dirinya tidak mencintainya. Renggo bermaksud selamanya menjadikan Giska sebagai istrinya, tak lain karena Nara.
Tanpa sengaja, saat belum menikah dengan Giska. Renggo mendengar pembicaraan sang mama dan papanya mengenai Nara. Bagaimana kehidupan seorang Nara.
__ADS_1
"Jadi Nara adik tiri gue. Dan selama ini, kehidupannya sangat menderita. Tenang saja pa, aku akan membantu papa membahagiakan Nara." itulah janji Renggo.
Yang memang sudah menjadikan Nara sebagai adiknya.