VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 109


__ADS_3

"Minggir!!" bentak Melva pada Rey, yang saat ini menghalangi jalannya.


"Maaf, tapi Tuan Viki sedang tidak berada di tempat." kekeh Rey, menghalangi jalan Melva.


Melva memutar kedua matanya dengan malas. "Elo pikir gue percaya." Melva menunjuk sendiri ke arah kepalanya.


"Nggak akan. Dasar pembohong. Gue sumpahin elo kejedot pintu." Melva mendorong tubuh Rey yang berdiri tegap di depannya. "Gue bilang. Minggir. Elo tuli. Budeg." gertak Melva dengan mata melotot.


Tapi Rey tetap diam di tempat. Bahkan kakinya tidak beranjak satu centipun dari tempatnya berdiri. "Saya hanya memastikan, tidak ada yang masuk ke ruangan Tuan Viki. Selama beliau tidak berada di tempat." ucap Rey beralasan.


"Lagian kenapa sih, ni uler keket ngebet banget. Nggak punya malu banget dah di usir." ucap Rey dalam hati.


Melva memandang Rey dengan tatapan remeh. "Gue pastikan. Elo orang nomor satu yang akan di pecat Viki, saat gue sudah menikah dengannya." ancam Melva.


"Anda yakin. Menikah dengan Tuan Viki. Memang Tuan Viki mau. Memang Tuan Viki buta." ejek Rey tersenyum, memandang ke arah Melva.


Tangan Melva yang bebas terkepal sempurna. Sementara tangannya yang satu menenteng paper bag. Yakni berisi makanan yang di beli untuk Viki.


Rey memandang aneh ke arah Melva. "Nggak ada yang bisa di banggakan. Kecuali,,,, tapi asli apa nggak. Besar banget." ucap Rey dalam hati, dengan pandangan menatap ke dada Melva yang besar. Seakan wadahnya tak mampu untuk menampung semuanya, hingga ada bagian yang menyembul keluar seperti tumpah.


Plak.... tangan Melva terangkat menampar pipi Rey. Membuat Rey menoleh dan memegang pipinya yang terasa sakit karena tamparan Melva.


"Jaga mata elo!!" hardik Melva. Rey hanya meringis, ingin marah pada Melva. Tapi Rey sendiri tahu jika dirinyalah yang bersalah karena tidak menjaga pandangan matanya.


"Gue di suruh jaga pandangan. La situ, berpakaian kayak gitu." ucap Rey dalam hati, mengelus pipinya.


"Oke, maaf." ujar Rey, sebagai lelaki sejati Rey berani mengakui kesalahannya dan meminta maaf.


"Maaf elo nggak guna. Lebih baik minggir. Jangan halangi jalan gue!!" bentak Melva, semakin kehilangan kesabaran. Karena sedari tadi Viki selalu mengganggunya.


Rey menaikkan sebelah alisnya, saat Melva tersenyum licik dan memandangnya. "Kenapa gue jadi merinding disko begini." ucap Rey lirih, serta bergidik.


"Mau apa elo?" Rey melangkahkan kakinya ke belakang. Dan Melva dengan perlahan melangkah semakin mendekat ke arah Rey.

__ADS_1


"Siapa suruh menghalangi jalan gue." ucap Melva dalam hati, semakin membusungkan dada dan mendekat ke arah Rey.


Melva yakin, jika cara ini pasti ampuh. Melva juga yakin, Rey tidak akan berani menyentuh dadanya. "Ja-ja-ja-jangan macam-macam."


Rey meletakkan tangannya di depan dada miliknya dengan posisi menyilang. "Husssttt,,, husstt,,, pergi jauh-jauh." usir Rey seperti mengusir anak ayam.


"Brengsek. Dia pikir gue hewan." geram Melva, menatap Rey tajam.


"Bye,,, bye..." Melva melenggang pergi melangkahkan kakinya untuk menuju ruangan Viki. Meninggalkan Rey yang masih terbengong dalam kebingungan, serta kedua tangan masih di depan dadanya sendiri.


Rey memandang sendiri ke arah tubuhnya, lalu mengalihkan pandangannya pada Melva yang berjalan bak model ke ruangan Viki.


Kedua mata Rey membulat sempurna. "Gua di tipu. Gue di kerjain sama lampir. Melva..!!" teriak Rey segera menyusul Melva.


"Nggak akan gue lepasin elo. Beraninya nipu gue." geram Rey.


Brak..... terdengar suara keras menghantam pintu, dan langsung menghentikan kemesraan Viki dan Nara di dalam ruangan.


"Siapa. Berani sekali." geram Viki, hendak bangun dari duduknya. Namun mendengar pemilik suara dari luar, membuat Viki urung untuk membuka pintunya.


"Untung gue kunci. Ternyata yang datang kunti." ucap Viki lirih, tak ingin jika sampai Melva mendengar suaranya.


"Bang..." panggil Nara lirih. Namun Viki langsung membungkam mulut Nara menggunakan bibirnya.


"Modus." geram Nara dengan suara lirih, setelah Viki melepaskan ciumannya dan tersenyum. Padahal suara Nara sangat lirih. Dan pastinya tidak akan terdengar sampai luar ruangan.


Viki membawa Nara ke ruangan pribadinya. "Ini tempat apa?" tanya Nara dengan pandangan memindai seluruh isi ruangan tersebut.


Ranjang berukuran besar, almari, bahkan juga beberapa perabot lain ada di dalam ruangan tersebut. Dan Nara yakin, jika pintu yang saat ini Nara pandang adalah pintu menuju kamar mandi.


"Ini seperti kamar." gumam Nara, karena memang ini pertama kalinya Nara masuk ke sebuah perusahaan. Dan masuk ke dalam ruangan pemilik perusahaan.


"Bang, ini tempat apa?" tanya Nara masih berdiri dengan pandangan meneliti. Sementara Viki sudah berbaring di atas ranjang berukuran besar dan empuk.

__ADS_1


"Kamar." jawan Viki singkat, memandang sang kekasih yang masih terheran-heran.


"Enak sekali, pasti mereka jika ngantuk langsung tidur." celetuk Nara, Viki hanya mengerutkan keningnya mendengar perkataan Nara.


"Pantas, banyak yang kepengen kerja kantoran. Gajinya besar, kerjanya juga tidak terlalu capek. Ada tempat tidurnya lagi." lanjut Nara.


Viki terkekeh kecil. Sekarang dirinya tahu, kenapa Nara berkata seperti itu. Nara mengira jika setiap karyawan mempunyai ruangan seperti milik Viki. Tentunya mempunyai tempat tidur mewah yang saat ini dia lihat.


Perlahan, Nara duduk di tepi ranjang. Menekan kasur yang di duduki. "Empuk lagi. Persis kayak di rumah." cicit Nara dengan ekspresi wajah polosnya.


Viki tersenyum miring. Viki mempunyai niat untuk mengerjai Nara. "Kamu mau, kerja kantoran?" tanya Viki dengan posisi telentang, dengan tangan sebagai bantal.


Nara segera mengangguk dan tersenyum. "Belajar yang rajin dan benar. Kalau kamu sudah pandai, abang janji. Kamu akan abang jadikan sekertaris abang." ucap Viki tersenyum licik.


Nara naik ke atas ranjang dan mendekat ke arah Viki. "Serius. Benar bang?" tanya Nara dengan antusias.


Viki mengangguk dan menepuk bantal di sebelahnya. "Mau. Nara akan belajar yang rajin. Terus jadi sekertarisnya bang Viki." ucap Nara dengan wajah berbinar, membaringkan badannya di samping Viki.


"Tapi abang nggak bohongkan. Memang bisa?" tanya Nara dengan tatapan tidak percaya.


Viki mencium singkat pipi Nara. "Bisa. Kan abang pemiliknya. Terserah abang." ujar Viki sombong.


Nara hanya mengangguk. "Temani abang tidur. Abang ngantuk." Viki memeluk tubuh Nara seperti memeluk guling.


"Bang, longgaran dikit. Sesak." pinta Nara, Viki dengan patuh melonggarkan pelukannya.


Viki memejamkan kedua matanya. "Menikah dengan Nara. Lalu membuat Nara bekerja sebagai sekertaris gue. Lengkap sudah kebahagiaan gue." ucap Viki dalam hati, merasa rencananya akan berjalan mulus.


Sementara Nara masih membuka kedua matanya. Pikirannya membayangkan jika dirinya bekerja di samping Viki, sebagai sekertarisnya. Pasti keren.


Nara bahkan tidak menyadari, jika calon suami mesumnya ini mulai menjalankan rencananya. Agar tidak berjauhan dengannya.


Perlahan-lahan Viki mulai masuk ke dalam mimpinya. Begitu juga dengan Nara yang mulai merasa kedua matanya terasa berat untuk di buka. Nara mengikuti Viki ke alam bawah sadarnya.

__ADS_1


__ADS_2