
"Apa suamiku ini tahu sesuatu?!" selidiki Nara, menaikkan sebelah alisnya.
Keduanya kini tengah berada di dalam kamar. Berdua. Setelah acara perayaan ulang tahun Nara selesai.
Viki tersenyum geli melihat cara sang istri marah. Bukannya menakutkan, Viki malah merasa saat marah, Nara terlihat begitu menarik dan juga, lucu.
Nara masih menatap tajam ke arah sang suami. Bersedekap dada, bermaksud mengintimidasi sang suami, agar membuka mulutnya.
Viki tertawa lepas. Tak bisa lagi menahan rasa geli melihat Nara saat marah. Nara melongo melihat sang suami malah tertawa lepas. Bukannya takut.
Nara menghentakkan kakinya di lantai dan berkacak pinggang. "Abang...!!" serunya manja. Nara kesal, niatnya membuat sang suami takut, gagal sudah.
Viki mendekat dan langsung memeluk tubuh Nara, mencium wajah Nara bertubi-tubi. "Geli, sayang..." rengek Nara tertawa.
Viki merapikan rambut Nara yang berantakan. "Jangan pernah marah di depan orang, sayang. Mengerti." jelas Viki.
Nara memandang ke arah sang suami. "Memang kenapa?"
Viki mencubit gemas hidung Nara. "Kamu sama sekali tidak terlihat menakutkan kalau marah. Malah menggemaskan."
Nara memukul pelan lengan Viki dengan menggelembungkan kedua pipinya. "Mana ada orang marah menggemaskan."
"Ada."
Nara mencebikkan bibirnya. "Kamu orangnya." gemas Viki.
"Ada apa, istriku tersayang marah-marah. Masih kurang hadiahnya?" Viki memandang sebuah kalung sederhana yang melingkar di leher Nara, tapi jangan tanya soal harganya.
Sebab, Viki langsung memesan secara pribadi. Dan dipastikan, hanya satu desain kalung yang dipakai oleh Nara.
Nara mengalungkan tangannya di leher sang suami. "Terimakasih sayang. Kalung ini, begitu indah. Aku sangat menyukainya." tukas Nara.
"Kamu tidak lupakan, hadiah dari papa Smith dan mama Binta?" tanya Viki mengingatkan.
Nara menggeleng dan tersipu malu. Sebab, hadiah dari mereka adalah tiket bulan madu untuk Nara dan Viki. Dengan fasilitas yang sudah lengkap.
"Suamiku, apa menurut kamu tidak apa-apa, kita tinggal terpisah dari mama dan papa?" tanya Nara hati-hati.
Nyonya Rahma dan Tuan Hendra menghadiahi Nara sebuah rumah. Tidak terlalu besar. Namun itulah rumah impian Nara.
Sebenarnya Viki yang ingin memberi hadiah Nara rumah untuk tempat tinggal mereka. Namun sang mama tidak setuju. Lantaran Nyonya Rahma sudah menyiapkannya.
Dan jauh-jauh hari, Nyonya Rahma berbincang ringan dengan Nara. Menanyakan rumah seperti apa yang diinginkan oleh sang menantu.
Dan saat Nara menemani dirinya berbelanja, mereka melewati sebuah rumah yang tidak begitu besar. Tapi tampak bagus dan nyaman.
Nara langsung mengatakan jika dirinya ingin sekali mempunyai rumah seperti itu. Halaman luas, dengan berbagai bunga tumbuh di depannya. Sementara di belakang, Nara juga menginginkan pekarangan yang luas.
Dirinya sangat senang berkebun. Sejak awal, Nara berfantasi, jika sang suami sedang bekerja, dirinya akan menyibukkan diri dengan berkebun. Membuang, rasa jenuh pada dirinya. Saat mereka belum memiliki anak.
Viki tersenyum, mengerti kenapa sang istri sedikit ragu ketika meninggalkan rumah orang tuanya. Viki menggendong sang istri, segera Nara mengalungkan tangannya di leher Viki, dan menurunkannya di atas ranjang.
"Sayang..." ucap Nara manja.
Viki mengecup lembut kening sang istri. "Apa?" Viki mengungkung tubuh Nara dibawah tubuhnya. Mencium seluruh wajah Nara dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Suamiku,..."
__ADS_1
Viki terkekeh, mengganti posisinya. Tidur di sebelah Nara, dengan menggunakan tangannya sebagai penyangga kepala. Dengan tangan yang satu memeluk tubuh sang istri.
"Mama dan papa sudah menganggap mereka sebagai anaknya sendiri. Bahkan, semenjak ada mereka, aku seperti anak angkat." keluh Viki dengan wajah memelas.
Nara tersenyum, memang benar apa yang dikatakan oleh sang suami..Dan Nara melihatnya sendiri. Betapa Nyonya Rahma dan Tuan Hendra begitu menyayangi Rini dan Bima.
Bahkan, setelah Nara menikah dengan Viki, Rini dan Bima semakin sering tidur bersama Nyonya Rahma dan Tuan Hendra.
"Apa mereka tidak akan membuat mama repot. Aku takut, mama akan capek." Nara khawatir dengan kesehatan sang mertua.
Seakan Nara lupa tujuannya marah pada Viki. Dengan mudahnya, Viki mengalihkan perhatian istri kecilnya.
Viki sebenarnya tahu, apa yang ingin ditanyakan oleh Nara padanya. Bukannya Viki tidak ingin membagi cerita dengan sang istri.
Namun lebih pada, Viki tidak ingin menceritakan sesuatu tentang orang lain. Yang Viki sendiri belum menyelidiki secara pasti. Atau bisa dikatakan, Viki hanya menebak bayi siapa yang saat ini tengah berada dalam perut Giska.
"Ada mbak Mira, mbak Siti, dan Mbok Nah. Mereka akan membantu menjaga Bima dan Rini. Jika memang dibutuhkan, aku akan menyewa jasa perawat untuk menjaga mereka. Bagaimana?" tanya Viki, meminta pertimbangan dari Nara.
"Jangan sayang terlalu berlebihan." tolak Nara dengan halus. Sebab, Bima beberapa bulan lagi akan genap berumur tiga tahun. Dan Rini, sebentar lagi akan berumur delapan tahun.
"Bukannya aku tidak mau atau tidak mengizinkan Rini dan Bima untuk ikut dengan kita. Namun mama melarang ku. Aku sudah berbicara dengan mama. Dia malah marah padaku." jelas Viki.
"Mama bilang, lebih baik kita selamanya serumah dengan mereka. Jika kita membawa Rini dan Bima." ungkap Viki jujur.
Nara tersenyum. Hatinya merasa menghangat. "Lagi pula, jarak rumah kita tidak terlalu jauh dengan rumah mama. Kamu bisa kapan saja berkunjung."
"Nanti suamimu ini akan menyediakan sopir khusus untuk Nyonya Nara."
"Kenapa tidak motor saja, Nara bisa." tawar Nara.
Viki hanya tidak ingin jika sampai terjadi apa-apa dengan sang istri. "Baiklah, suamiku."
"Memangnya suamiku ini sudah tahu rumahnya?" tanya Nara penasaran. Sebab dirinya belum mengetahui dimana dan bagaimana bentuk rumah yang akan mereka tinggali.
Viki mengangguk. "Aaawww,,, sakit sayang." Nara mencubit kesal pipi Viki.
"Kok kamu cubit aku sih sayang, sakit.." Viki cemberut dengan ekspresi menggemaskan di mata Nara.
"Kamu jahat. Aku yang dikasih sama mama. Masa aku belum melihatnya, malah kamu dulu yang melihatnya. Nggak adil." Nara cemberut.
Viki mencium bibir Nara, membuat Nara melongo dengan tingkah sang suami. Bisa-bisanya Viki malah menciumnya, di saat dia sedang sebal padanya.
"Kamu mau yang adil?" tanya Viki, Nara menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Nara tahu, apa yang saat ini ada di otak Viki. Terlihat jelas dari tatapan sang suami.
"Aaa....!!" seru Nara dengan mulut masih terbungkam telapak tangannya sendiri.
Viki mengangkat piyama Nara, dan memasukkan kepalanya di sana. Sebab, piyama yang dipakai Nara memang besar dan longgar.
Keberadaan kepala Viki, benar-benar membuat darah Nara mendidih.
Mendidih karena apa yang sedang dilakukan oleh sang suami kepada dua benda di dadanya. Sungguh membuat Nara ingin melayang terbang ke khayangan.
Pasrah. Nara menyerahkan tubuhnya pada sang suami. Menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh sang suami pada setiap inci tubuhnya.
Pagi hari, tubuh Nara terasa remuk. Nara perlahan menggeliatkan tubuhnya. Menjelang subuh, Viki baru menghentikan kegiatannya. Benar-benar membuat Nara kewalahan. Viki benar-benar memiliki tenaga ekstra.
Sang suami masih tertidur lelap di sampingnya. Tidak terganggu dengan pergerakan Nara. Bukannya bangun, Nara malah semakin mendekat ke tubuh Viki.
__ADS_1
Meletakkan kepalanya di atas lengan Viki dan memeluk sang suami. Viki tersenyum samar, tak ingin membuka matanya.
Dirinya ingin mengetahui apa yang akan dilakukan sang istri. Tebakannya meleset, Viki mengira jika Nara akan meninggalkan ranjang yang membuatnya merasakan kenikmatan semalam.
Ternyata Nara malah kembali memberikan pelukan hangat dan mengikutinya kembali ke dalam mimpi.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Nara memejamkan kembali kedua matanya. Terdengar suara nafas dari Nara yang beraturan. Viki dapat mendengarkannya.
Viki mengecup pelan pucuk kepala sang istri. Membenarkan letak kepala Nara. Agar lebih nyaman. "Apa sebegitu lelahnya sayang." gumam Viki.
Ting,,, terdengar suara dari ponsel Viki. Dengan pelan, tangan Viki yang bebas meraih ponsel di atas meja dekat ranjang tempat tidurnya.
Viki tersenyum membaca apa yang tertulis di layar ponselnya. Sang mama mengatakan jika mereka semua telah meninggalkan rumah mewah ini.
Sengaja tidak membangunkan Nara dan Viki. Dan untuk makan, Viki maupun Nara tinggal menghangatkan kembali masakan yang sebelumnya sudah di masak oleh para pembantu. "Pengertian juga mereka." puji Viki pada sang mama.
Bibir Viki mengembang sempurna, saat membaca kalimat terakhir dari sang mama. Apalagi jika bukan soal cucu.
Viki meletakkan kembali ponselnya. Memandang ke arah sang istri yang tertidur lelap di pelukannya. "Untuk anak, Viki akan menyerahkan pada Nara. Viki tahu, jika umur Nara masih sangat muda. Viki tidak ingin membebani Nara dengan sesuatu. Apapun itu."
Viki memeluk sang istri dan menyusulnya ke dalam mimpi. Sebenarnya ingin sekali Viki mengulang apa yang dilakukannya tadi malam bersama sang istri.
Tapi melihat sang istri kembali tertidur lelap, tak tega rasanya hati Viki untuk membuat Nara kembali membuka matanya. "Pasti kamu lelah." ucap Viki lirih.
Dengan gaya duduk yang angkuh, Giska menunggu kedatangan mertuanya di ruang tamu. Sedangkan Renggo, jangan ditanyakan lagi.
Renggo sudah tidak berada di rumah sejak pagi. Entah kapan Renggo keluar dari dalam rumah tersebut. Semua pekerja di rumah bahkan tidak mengetahuinya.
"Giska." sapa Nyonya Binta pertama kali masuk ke dalam rumah. Berusaha tersenyum, meski dalam hatinya sangat menolak.
Bukannya kalimat ramah dan sopan yang keluar dari mulut Giska. Namun, Giska malah menggunakan nada tinggi, dan langsung menyerang Nyonya Binta.
"Mama tahu, sejak Giska membuka mata. Renggo tidak ada di rumah. Apa ini yang anda katakan, jika putra anda adalah lelaki baik-baik dan bertanggung jawab..!" seru Giska, menyambut kedatangan sang mertua.
Ekspresi Nyonya Binta langsung berubah. Dingin dan tenang. Beruntung, Tuan Smith langsung menuju ke perusahaan tanpa pulang ke rumah.
Sehingga tidak perlu berurusan dengan perempuan yang tak beretika seperti Giska.
Seorang pekerja di rumah Tuan Smith mendekat, dan mengambil alih tas yang berada di tangan Nyonya Binta. Dia melirik tak suka pada Giska.
"Kita bicara di ruang tengah." tutur Nyonya Binta berjalan melangkah, dengan Giska mengekor di belakangnya.
Seorang pelayan menurunkan dua gelas berisi teh hangat di meja. Di depan Giska dan Nyonya Binta.
Nyonya Binta mengambilnya, menyeruputnya sedikit. Dan meletakkan kembali ke tempatnya. "Apa yang kamu inginkan?"
Tampak berwibawa dan tegas. Pandangan mata Nyonya Binta sangat tajam menatap Giska. "Tanggung jawab apa yang kamu inginkan dari putra saya." sambungnya.
Giska terdiam. Dia salah memperkirakan. Sebab, di awal pernikahan, Nyonya Binta memperlakukan dia bagaikan seorang putri. Meski dirinya bersikap sangat arogan.
Giska mengira jika Nyonya Binta akan bersikap sama seperti yang dulu. "Bercerai dari putra saya. Dengan senang hati, akan saya kabulkan."
Nyonya Binta tersenyum sinis. "Perempuan murahan seperti kamu. Memang tak layak masuk dalam keluarga terpandang seperti kami." ejek Nyonya Binta.
Giska melotot tak percaya dnegan apa yang baru saja dia dengar. Padahal, Giska berharap kehamilannya akan membuat kedua orang tua Renggo memperlakukannya dengan baik.
"Saya lihat, putra saya malah menderita menikah dengan perempuan macam kamu. Dan jangan menjadikan bayi kamu itu sebagai alasan. Saya masih bisa memiliki cucu dari perempuan lain. Jadi jangan bertingkah." ancam Nyonya Binta.
__ADS_1