
"Satu lagi. Kalian mendapat titipan salam dari Tuan Haris dan juga Tuan Danto." ucap Viki.
Seketika, tubuh semua orang di dalam ruangan membeku, mendengar Viki menyebut dua nama pebisnis handal dan juga sukses. Apalagi keduanya sangat di segani sekaligus ditakuti oleh lawan bisnis mereka.
Viki meninggalkan ruangan dengan senyum remeh di bibirnya. Dengan Rey mengekor tepat di belakangnya.
"Apa benar ucapannya?" gumam seseorang di dalam ruangan.
Karena mereka masih berada di dalam ruangan, meski Viki sudah meninggalkan ruangan tersebut. "Mungkin dia hanya menggertak."
"Tapi kita harus tetap berhati-hati. Jangan sampai kita salah langkah."
"Benar, buktinya dia bisa menyelidiki kehidupan pribadi kita semua. Membuat kita berada di ujung tanduk."
"Apalagi jika dia benar-benar mengenal baik dengan Tuan Haris dan Tuan Danto."
"Dan itu artinya, dia juga mengenal baik Vano." ucapnya bergidik ngeri. Karena Vano terkenal lebih kejam dari pada papanya. Tuan Danto.
"Segera kita harus bertemu Tuan Marko. Kita tidak bisa menyembunyikan semua ini dari Tuan Marko."
"Benar. Viki masih terlalu jauh dari pada Tuan Marko. Bisa-bisa kita yang akan terkena masalah besar, setelah ini. Jika kita tidak menyampaikannya pada Ruan Marko."
"Jangan sampai Tuan Marko murka. Kita sendiri yang akan luluh lantah."
"Sebaiknya kita segera bergerak cepat. Jangan membuang-buang waktu."
Ternyata setelah mengadakan pertemuan dengan Viki, para investor langsung menuju ke tempat Tuan Marko. Guna menjelaskan permasalahannya dengan Viki. Terkait ancaman Viki.
Mereka berpikir, jika kekuasan Tuan Marko masih jauh di atas Viki. Sehingga mereka merasa aman jika bekerja sama dengan Tuan Marko. Mereka akan menceritakan semuanya pada Tuan Marko. Dan meminta saran darinya.
Atau lebih tepatnya, mereka menginginkan perlindungan dari Tuan Marko.
"Tuan, seperti perkiraan kita. Mereka bergegas menemui Tuan Marko." ucap Rey, memberitahu Viki.
Karena Viki telah menyuruh Rey untuk memantau mereka setelah meninggalkan perusahaan.
Viki tersenyum dengan pandangan mata mengarah pada lembaran kertas yang telah mereka tanda tangani. "Biarkan saja. Kita lihat, apa yang akan di lakukan mereka."
"Tepatnya, apa yang akan dilakukan Marko." imbuh Viki, mengikuti permainan mereka.
Viki memandang tajam ke arah Rey. Menyodorkan nomor ponsel seseorang pada Rey. "Hubungi dia. Katakan jika aku mendapatkan nomor teleponnya dari Tuan Haris." ucap Viki.
__ADS_1
"Dia sendiri nanti yang akan menghubungiku. Lakukan saja sesuai perintahku." ucap Viki, saat Rey masih menatapnya.
"Baik Tuan." ucap Rey.
Sesuai intruksi Viki, Rey segera menghubungi nomor tersebut. "Ternyata dia orang bawah tanah." gumam Rey.
Karena Rey menyelidiki sosok tersebut sebelum melakukan perintah dari atasannya. Rey tersenyum. "Sepertinya Tuan mulai menunjukkan taringnya." ucap Rey.
Viki merapikan beberapa berkas di mejanya. Pekerjaannya selesai lebih cepat dari perkiraannya.
Brakk... Viki mengangkat kepalanya. Dengan mata menatap ke arah pintu yang di buka paksa dari luar.
"Maaf Tuan." ucap Rey. Saat seorang perempuan menerobos masuk ke dalam ruangan Viki.
Viki menggerakkan tangannya dengan mengibaskan telapak tangannya dengan perlahan. Mengisyaratkan untuk Rey meninggalkan ruangan miliknya. Menyisakan dirinya dan Giska.
"Vik, aku ingin berbicara." ucap Giska, berdiri tak jauh di depan meja Viki.
"Vikkk,,,!!" seru Giska, karena Viki malah asyik dan terlihat sibuk dengan kertas-kertas di mejanya.
"Jangan berteriak. Ini bukan hutan." ucap Viki memandang tajam ke arah Giska.
"Jika aku menolakmu. Kamu tidak akan berdiri di ruangan ini."
"Bukan itu maksudku. Tentang perasaanku. Seharusnya kamu tahukan. Bagaimana aku sangat menyukaimu?" tanya Giska dengan lembut, mencoba mendapat simpati dari Viki.
Viki mendesah pelan. Menatap ke arah Giska. "Aku tahu, tapi kamu tentu juga tahu jawabanku."
"Katakan padaku. Kekuranganku. Katakan. Akan aku perbaiki." kekeh Giska.
"Kekuranganmu?" tanya Viki dengan nada rendah. Giska mengangguk pelan.
Viki melihat penampilan Giska dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Tidak ada." ucap Viki, Giska tersenyum senang.
"Ehh,,, hanya satu." imbuh Viki.
"Katakan." ucap Giska semakin penasaran.
"Kamu terlalu memaksa. Dan aku, sangat tidak menyukai orang yang pemaksa." ucap Viki tenang, seketika raut wajah Giska berubah murung.
"Giska." Viki berdiri dari duduknya, berjalan mendekat ke arah Giska yang sedang berdiri.
__ADS_1
Viki ingin berbicara dengan Giska dari hati ke hati. Mencoba memberi pengertian pada Giska. Viki sama sekali tidak menginginkan hal ini.
Di sukai atau di cintai seorang perempuan. Membuatnya hanya bisa frustasi. Mengingat penyakit yang di deritanya.
"Giska. Kamu perempuan berpendidikan. Cantik dan berasal dari keluarga terpandang. Tidak ada lelaki yang akan menolak dirimu." ucap Viki.
Giska menatap Viki dengan tatapan yang rumit. "Tapi aku. Aku benar-benar tidak bisa membalas perasaanmu." jelas Viki.
"Kenapa? Katakan padaku. Kenapa? Beri aku alasan yang masuk akal." kekeh Giska.
"Karena memang aku tidak mencintaimu." jawab Viki.
Giska tertawa. "Alasan klasik." sungut Giska.
"Kita bisa mencobanya terlebih dahulu. Bagaimana?" tanya Giska.
Tanpa di duga, Giska memeluk tubuh Viki. "Katakan. Aku akan menjadi seperti yang kamu inginkan." ucap Giska lirih. Membelai punggung Viki yang lebar.
Tampak Giska menikmati tubuh Viki. Dada yang bidang, dan perut terasa keras dari luar. Dapat Giska bayangkan, bagaimana bentuk tubuh Viki tanpa menggunakan sehelai pakaian yang menempel di tubuhnya.
Giska semakin mengeratkan pekukannya. Menghirup dalam-dalam wangi parfum yang menempel di pakaian dan tubuh Viki. Begitu memabukkan.
"Lepas." ucap Viki, mendoronga pelan tubuh Giska dari badannya.
"Vik, aku bisa membuktikan jika aku benar-benar menyukaimu. Aku rela berada di bawah badanmu, merangkak naik ke atas ranjangmu." rayu Giska.
Viki menatap remeh ke arah Giska. Membuat Giska kembali membuka mulutnya, merasa ada sesuatu yang tersirat dari tatapan mata yang di berikan oleh Viki.
"Aku tidak pernah melakukannya dengan lelaki manapun. Kamu percayakan?" jelas Giska, seperti membuat sebuah pengakuan.
Viki tersenyum. "Bahkan aku tidak peduli. Jika kamu melakukannya dengan banyak lelaki sekalipun." ucap Viki seolah penjelasan Giska sangat tidak berpengaruh pada dirinya.
Wajah Giska berubah murung mendengar perkataan Viki. "Keluarlah, aku sangat sibuk." usir Viki dengan halus.
Giska meninggalkan ruangan Viki dengan raut wajah kesal. Bahkan dia sudah menjatuhkan harga dirinya sejatuh-jatuhnya.
Membuat dirinya terlihat seperti seorang ****** di depan Viki. Menyerahkan badannya untuk dinikmati oleh Viki secara gratis dan sadar. Tapi Viki tetap menolaknya.
Giska memukul stir berkali-kali. Melampiaskan amarahnya. "Kita lihat, sejauh mana kamu akan terus berlari." gumam Giska, dengan alis naik sebelah dan tatapan mata yang sinis.
"Kemanapun kamu pergi, aku akan tetap harus bisa mendapatkanmu. Bagaimanapun caranya." gumamnya, mencengkeram erat stir mobilnya.
__ADS_1