
Sudah tiga hari Sara menginap di rumah keluarga Renggo. Menjaga baby Al dengan baik. Jika pagi hingga sore dia akan menjaga baby Al.
Menghabiskan waktu bersama bayi berusia setahun itu. Menemaninya bermain dan juga belajar. Sara tahu betul, jika anak sepantaran baby Al pasti suka dengan hal yang baru.
Sara dengan senang hati mengajarkan semuanya pada baby Al. Tentunya dengan sambil bermain. Mengenalkan bayi gembul tersebut dengan berbagai hal baru
Sara merasa hidupnya saat ini sungguh menyenangkan. Dan Sara benar-benar menikmati kehidupannya saat ini.
Belajar menjadi calon ibu untuk baby Al dan juga istri untuk Renggo.
Tapi Sara juga tidak hanya bermain bersama baby Al. Ada kalanya calon anak tirinya tersebut istirahat dan tidur.
Waktu tersebut Sara gunakan untuk belajar memasak bersama chef di rumah ini. Sara meminta beliau mengajari dirinya masak makanan kesukaan Renggo.
Dan tentunya makanan untuk baby Al juga. Sebab baby Al sudah makan seperti orang dewasa. Namun tekstur makanannya sedikit lembut.
Dengan telaten, Sara mendengar dan melihat setiap arahan dari perkataan chef tersebut saat mengajari dan membimbingnya memasak.
Berbeda jika malam. Dia akan bersama Renggo menjaga baby Al. Meski hanya sebentar. Sebab baby Al pastinya sudah mengantuk dan istirahat.
Sara menghabiskan waktunya bersama Renggo. Sara semakin mengetahui banyak tentang Renggo. Membuatnya semakin mencintai pria tersebut.
Tapi baik Renggo maupun Sara masih menjaga batasan mereka. Hanya berciuman dan berpelukan. Tidak lebih.
"Aaaa,,,, aku bisa..!!!" teriak Sara, melompat kegirangan sambil bertepuk tangan.
Semua pembantu dan chef yang melihatnya tersenyum senang melihat bagaiman tingkah lucu calon istri Tuan muda mereka. "Bagaimana menurut kalian?" tanya Sara meminta pendapat.
"Dari tampilannya bagus. Entah rasanya. Apa Renggo akan menyukainya?" Sara menjawab sendiri pertanyaan yang dia ajukan.
Tersirat raut kekhawatiran pada wajah Sara. Tentu saja, meski ini masakan pertamanya, dirinya ingin Renggo memujinya.
Dan pastinya Sara akan merasa bangga pada dirinya sendiri. Seolah apa yang dia kerjakan tidak sia-sia.
"Nyonya Sara tidak perlu khawatir, Tuan muda Renggo pasti menyukainya." mereka mencoba membuat Sara merasa percaya diri dengan masakan pertamanya untuk Renggo.
Sara mengambil sebuah mangkok berukuran tanggung dan beberapa mangkuk berukuran kecil. "Kalian coba." pinta Sara, mengisi semua mangkok di samping tangannya.
"Tidak perlu Nona. Bukankah itu untuk Tuan muda Renggo." tolaknya dengan sopan.
Sara menunjuk ke sebuah mangkok berukuran tanggung. "Ini untuk calon suamiku. Dan lihat. Masih banyakkan?"
Sara memperlihatkan masakannya di dalam panci pada mereka. "Ayo kalian coba. Beri nilai pada masakanku. Tapi yang jujur." pinta Sara.
Sara menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. Melihat para pembantu mencicipi masakannya.
Seperti sedang menunggu hasil penilaian. Itulah perasaan yang saat ini dirasakan Sara. Tegang bercampur rasa penasaran.
Dengan sedikit cemas, mereka melakukan apa yang diperintahkan oleh Sara. "Enak Nona. Takaran bumbunya juga pas." ucapnya sembari mengangguk pelan.
Sara menipiskan bibirnya. "Kamu tidak bohongkan. Jangan berbohong, hanya untuk menyenangkan." ucap Sara.
"Tidak Nona. Sumpah. Ini sangat enak." puji yang lain.
Sedikit, Sara bisa bernafas lega. Akan jawaban mereka pada nilai masakannya.
Sara menatap chef di sebelahnya. Di mana dialah guru yang mengajari Sara memasak. Chef tersebut tersenyum. Mengerti keinginan dari calon majikannya tersebut.
"Seperti yang mereka bilang Nona. Masakan anda enak. Bumbunya pas, sesuai takaran. Hanya, dagingnya terlalu empuk. Mungkin Nona merebusnya terlalu lama." jelas sang chef.
Sara terdiam. Mencerna perkataan sang chef. "Tapi ini adalah masakan Nona yang pertama. Hanya sedikit kekurangan. Bukan masalah besar." lanjut sang chef.
Sara tersenyum sempurna. "Terimakasih semua. Terimakasih chef. Setelah ini, saya akan lebih semangat belajar memasak." Semuanya tersenyum melihat bagaimana sifat dan sikap seorang Sara.
Beberapa hari tinggal di kediaman Tuan Smith. Sara dengan mudah mencuri kasih sayang dari semua penghuni di rumah ini.
Sifat dan sikap Sara yang ramah, sopan, dan mudah berbaur. Membuat siapa saja akan segera menyukai sosok seperti Sara.
Bahkan semua pekerja di kediaman Tuan Smith berharap agar Sara dan Renggo secepatnya menikah.
Tanpa Sara tahu, beberapa pasang mata melihat interaksi dirinya dan beberapa pembantu di dapur.
Saat Sara memutuskan untuk masak tanpa bantuan para pembantu dan chef. Kepala pelayan langsung menghubungi pemilik rumah.
Bukan bermaksud ingin menjatuhkan Sara. Kepala pelayan justru ingin majikannya melihat bagaimana semangatnya calon menantu mereka memasak untuk sang putra.
"Tolong, simpan ini. Hangatkan saat makan nanti. Aku ingin Renggo merasakan masakan pertamaku." kekeh Sara dengan binar bahagia.
Sara merentangkan kedua tangannya. "Aku ingin mandi, lalu istirahat sebentar." jelas Sara. Sebab baby Al pun juga masih tertidur nyenyak.
__ADS_1
"Silahkan Nona." ucap mereka bersama.
Mereka memandangi punggung Sara yang sedang berjalan menaiki anak tangga. "Syukurlah. Sepertinya Tuan Muda tidak salah pilih kali ini."
"Benar. Aku juga sempat bersyukur. Tuan Muda bercerai dari perempuan itu. Dia sangat tidak layak menjadi Nyonya Muda."
"Sudah, kalian ini malah menghibah. Sana kerja." usir kepala pelayan pada rekannya.
Seperti yang Sara katakan. Sara langsung membersihkan badannya dan memejamkan mata. Meski hanya sebentar. Berharap saat bangun, badannya kembali segar.
Di perusahaan, Renggo kedatangan tamu penting. Dialah orang yang Renggo perintahkan untuk mencari tahu tentang kegiatan Giska dua tahun terakhir.
Sebelumnya, Renggo mengatakan pada sang sekertaris. Untuk tidak menggangu mereka. "Apa yanga kamu temukan?"
Tanpa bicara, dia menaruh sebuah amplop berwarna coklat berukuran besar di atas meja. Tangan Renggo segers mengambil amplop tersebut. Mengeluarkan semua iso di dalamnya dengan tidka sabar.
Yakin jika di dalamnya ada informasi yang dia ingin lihat. "Setiap malam hanya berpesta. Menghamburkan uang. Dan menyewa beberapa lelaki untuk menemani mereka. Dan mantan istrimu ada diantara perempuan-perempuan sosialita tersebut."
Renggo mengangkat beberapa lembar foto di tangannya. "Apa ini semua lelaki yang mereka sewa?"
Dia mengangguk, menjawab pertanyaan Renggo. Dengan teliti, Renggo melihat dan mengamati setiap gambar lelaki di foto tersebut.
Renggo meletakkan kembali di atas meja. "Apa tidak ada yang lain?" Renggo tidak melihat apa yang ingin dia lihat ada di sana.
Dia menggeleng. Tahu jika Renggo kali ini tidak puas dengan hasil kerjanya. "Kamu yakin?" tekan Renggo.
Dia terdiam. Matanya menyorotkan keraguan untuk membuka mulut. "Aku membayar pekerjaanmu dengan sangat mahal." dengus Renggo.
Dia menghela nafas. "Ada satu malam. Dimana Nyonya Giska bermalam di sebuah hotel. Aku sudah menyelidikinya. Tapi sama sekali tidak membuahkan hasil."
"Hotel mana?"
Dia menyebutkan nama hotel tersebut. Dan Renggo tahu, siapa pemiliknya. "Tepatnya, kapan Giska bermalam di sana?"
Dia menyebutkan tanggal di mana Giska tidur di hotel tersebut. "Kamu bisa pergi." usir Renggo.
Dia meninggalkan perusahaan Renggo dengan hati berat. Dia tahu, jika Renggo tidak puas bahkan kecewa dengan pekerjaannya kali ini.
Meski Renggo tetap membayarnya seperti biasa. Namun dirinya merasa bersalah dan tidak enak.
Renggo mengambil ponsel miliknya, dan menelpon seseorang. "Bisa kita bertemu?" tanya Renggo dengan seseorang yang baru saja dia hubungi lewat ponselnya.
"Tidak perlu. Aku ingin kita bertemu di restoran hotel milikmu." jelas Renggo, dengan ponsel masih menempel di telinga kirinya.
"Hemmmm." Renggo kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
"Jika aku tidak mendapatkan sesuai keinginanku. Aku harus menggunakan cara yang sama dengannya."
Renggo tersenyum miring. "Tes DNA." ucap Renggo tanpa ragu.
Sementara di rumah sakit, Erlangga memegang sebuah amplop persegi panjang berwarna putih. Dimana di depannya tercetak nama rumah sakit sekarang dia berada.
"Ckk,,, kenapa kamu tidak segera membukanya?" kesal sang dokter sekaligus sahabatnya tersebut.
"Apa kau sudah gila!!" bentaknya, melihat Erlangga malah menatap dengan tatapan rumit ke arahnya.
"Jangan diam saja. Jangan membuatku takut!!" sang dokter memegang sebuah suntik berukuran besar, mengarahkannya ke Erlangga.
Suntik tersebut ibarat sebuah pisau tajam untuk dirinya. Jika Erlangga macam-macam, sang dokter tidak akan segan-segan menancapkan jarum suntik tersebut ke tubuh Erlangga.
Erlangga tertunduk lesu. Meletakkan amplop tersebut kembali di atas meja. "Aki takut." cicitnya lirih, terdengar ada nada ragu bercampur khawatir.
"Kamu sedang tidak aktingkan?" sang dokter takut jika Erlangga hanya sedang ngeprank dirinya saja.
Erlangga mengangkat wajahnya, menatap ke arah sang dokter. Ada perasaan khawatir dalam pancaran sinar mata Erlangga. "Bagaimana jika benar dia putraku. Anakku. Darah dagingku?"
"Kau ini, berani berbuat berati harus berani bertanggung jawab."
"Kami melakukannya hanya sekali. Itupun tidak disengaja. Dan kami tidak saling kenal." jujur Erlangga, dirinya sudah tidak sanggup lagi menahan semua ini seorang diri.
Mata sang dokter membulat sempurna. "Sekali. Dan langsung jadi. Hebat." beliau menggelengkan kepala.
"Bukan itu yang aku ingin dengar." geram Erlangga. "Aku tahu, jika aku memang hebat."
Sang dokter langsung mencebikkan bibirnya. Menyesal memuji Erlangga. "Dari dulu kamu memang tidak berubah." gerutunya.
"Kamu tahu jika dia anak perempuan itu. Berarti kalian sudah bertemu. Tinggal nikahi saja. Gampangkan. Kenapa meski berpikir ribet." tukas sang dokter, berpikir simpel.
Mengira jika ada seorang perempuan menemui Erlangga, dan mengatakan pada Erlangga jika dia mempunyai anak dengan Erlangga.
__ADS_1
"Semua tidak semudah itu. Tidak segampang yang ada di otak kamu." papar Erlangga mulai frustasi.
"Terserah. Itu hidupmu, bukan hidupku." elaknya dengan santai.
"Apa dia sudah menikah?" Erlangga menggeleng.
"Ya sudah. Nikahi. Beres." sang dokter mengangkat telapak tangannya ke atas meja.
"Erlangga, kenapa kamu berpikir rumit. Itu belum kamu buka." tunjuknya ke arah amplop putih di atas mejanya.
"Kamu belum mengetahui isinya. Apa hasil tes DNA nya. Membuat gedek saja." kesalnya.
Erlangga malah menyodorkan amplop tersebut pada sang dokter. "Bukain." pintanya.
Dengan kasar, sang dokter menyambar amplop di tangan Erlangga yang menggantung di depannya. "Baru kali ini ada pasien menyuruh saya." kesalnya.
Dengan tidak sabar, dibukanya amplop tersebut. Di lihatnya apa hasil tes DNA beberapa hari yang lalu. "Lihat."
Sang dokter membeber kertas hasil tes DNA di meja depan Erlangga. "Lihat." telunjuknya pada sebuah angka persentase.
Erlangga menghela nafas panjang. Tatapannya perlahan beralih ke kertas yang ada di depannya. Tepatnya ke arah di mana jari sahabatnya berada.
Kedua mata Erlangga menatap intens hasil DNA tersebut. Nafasnya terasa sesak. "Kalian, anak dan bapak. Dia anak kamu. sembilan puluh sembilan persen cocok." tegas sang dokter.
Erlangga menyenderkan badannya dan menyugar kasar rambutnya dengan jari tangannya. "Berarti dia benar-benar darah dagingku." cicit Erlangga lirih.
Seolah ada sebuah beban berat di pundaknya. "Iya. Dan kamu harus mengakuinya. Apa kamu mau, jika dia tidak memiliki ayah?"
"Dia sudah memilikinya." lirih Erlangga.
"Jadi perempuan yang tidur dengan kamu sudah menikahi dengan lelaki lain. Apa lelaki itu menerima anak kamu?"
"Mereka bukan sepasang suami istri. Dia tidak menikah." jelas Erlangga tidak bersemangat.
Sang dokter semakin bingung. "Sungguh, aku jadi bingung sendiri. Anakmu sudah memiliki bapak. Tapi perempuan yang tidur dengan kamu belum menikah?"
Erlangga mengangguk. "Semuanya rumit. Aku tidak punya tenaga untuk menjelaskan."
Erlangga mengambil hasil tes DNA tersebut dan meninggalkan ruangan sang dokter tanpa pamit.
Sepeninggal Erlangga, sang dokter masih mencoba berpikir tentang masalah yang di alami sahabatnya tersebut. "Rumit sekali. Apa yang sebenarnya terjadi. Aku yang tidak mengerti, apa Erlangga yang salah memberi penjelasan."
Erlangga tak segera melajukan mobilnya. Tetap berada di area parkir rumah sakit. Dia duduk merenung di kursi kemudi.
Memegang kertas hasil tes DNA tersebut dan memandangnya dengan lekat. "Sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanyanya pada diri sendiri.
Erlangga sama sekali tidak tertarik dan memikirkan Giska. Tapi dia hanya memikirkan baby Al. Bayi berumur setahun yang menggemaskan itu ternyata adalah putranya.
Darah dagingnya. Putra kandungnya. Naluri seorang ayah keluar tiba-tiba. Rasa ingin memiliki seutuhnya pada sang anak muncul.
"Renggo, apa dia tahu hal ini?" Erlangga mencoba menebak.
"Jika Renggo tahu, apa dia akan menerima baby Al. Apa dia akan tetap menyayangi baby Al. Apa sebenarnya Renggo sudah tahu."
"Tapi, jika Renggo tahu. Kenapa dia diam saja. Kenapa dia tetap merawat baby Al. Bahkan memperlakukannya seperti putra kandungnya sendiri."
Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Erlangga.
Erlangga meremas kertas di tangannya dengan kuat. "Apa yang harus aku lakukan. Muncul, dan mengakui baby Al sebagai putra kandungku. Atau... Aa...!!!" Erlangga merasa frustasi.
Rasanya sungguh membingungkan. Dirinya benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Terlebih jika tebakannya benar.
Renggo belum mengetahui kebenaran semua ini. Ketakutan terbesarnya, apabila Renggo mengetahuinya. Apa yang akan terjadi dengan putranya. Apakah Renggo akan membuangnya.
Erlangga meraup kasar wajahnya. Kebingungan menyergap dirinya. Dia butuh seseorang. Seseorang yang mampu diajaknya bicara dan berdiskusi.
Seseorang yang tidak akan membocorkan rahasianya pada siapapun. Termasuk pada kedua orang tuanya.
Dan orang itu hanya satu. Sara.
Tapi di sini, Sara adalah calon istri Renggo. Berarti dia juga calon ibu tiri dari putranya. "Apa aku harus mengambil baby Al. Merawatnya sendiri. Biar bagaimanapun. Dia adalah anakku."
Erlangga menyenderkan badannya ke kursi. Menengadahkan wajahnya ke atas. "Aku harus berpikir rasional dan hati-hati. Jangan sampai aku salah melangkah."
Erlangga mengangguk. "Iya, benar. Aku harus memantau keadaan. Apalagi Giska kembali. Aku juga harus waspada pada dia."
Erlangga sedikit tahu tentang Giska. Sebab Sara pernah mengatakan bagaimana sifat Giska pada dirinya.
Dan dari penyelidikannya, Giska memang perempuan nekat. Dan saat ini, perekonomian Giska dalam keadaan tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Aku tidak akan menjadikan dia sebagai istriku. Mesti pernah mengandung putraku. Aku masih waras, untuk tidak melakukan hal tersebut." gumamnya.
Mengingat bagaimana gaya hidup seorang Giska. Meski Erlangga tidak melihat sendiri dengan mata kepalanya. Tapi dia percaya dengan orang suruhannya.