
"Renggo, jangan seperti ini." Sara mencoba melepaskan tangan kekar Renggo yang melingkar di pinggangnya, hingga perut.
Renggo malah semakin mengeratkan pelukannya. Mengendus wangi harum tengkuk Sara. "Kenapa?" tanya Renggo dengan nada manja.
Sara dengan posisi berbaring miring, berusaha mengangkat tangan kekar Renggo di atas tubuhnya. "Lepas." geram Sara.
Renggo malah menambahinya dengan menaruh kakinya di atas kaki Sara. Yang mempu membuat Sara kelimpungan. "Renggo, nanti ada yang masuk." rengek Sara.
"Nggak ada. Lebih baik kamu tidur. Sudah malam." Renggo tersenyum senang.
Sara mengatur emosinya. "Renggo, aku mau lihat baby Al. Takut dia bangun." rengek Sara, mencari alasan.
"Tidak. Baby Al ada pengasuhnya. Tenang saja."
"Tapi..."
"Hussttt,, seharusnya kamu lebih kasihan sama aku. Bukan baby Al, dia ada pengasuh yang menemaninya tidur setiap malam. Sementara aku. Tiap malam tidur sendiri." ucapnya manja.
Sara hanya mengedipkan mata, perkataan Renggo terasa aneh. "Kalau tidak tidur sendiri. Kamu mau tidur sama siapa?!" ketus Sara.
"Kamu." cicit Renggo, semakin senang menggoda Sara.
Sara merasa ini bukan hal yang baik. Terlebih ultimatum dari kedua orang tua Renggo sebelum mereka pergi. Dan Sara, tidak ingin merusak kepercayaan mereka.
Sara menggerakkan badannya terus menerus. Membuat sesuatu yang tertidur lelap menjadi bangun. "Sara,,, sayang. Diam."
"Lepas. Pengap. Aku nggak bisa nafas." ucap Sara, berharap Renggo melonggarkan pelukannya.
Renggo mendekatkan bibirnya di telinga Sara. "Mau aku kasih nafas buatan?" tanyanya ambigu.
Sara menahan nafas. Suara Renggo terdengar sensual di telinga Sara. Seketika bulu-bulu lembut di seluruh tubuh Sara berdiri.
Renggo menggigit kecil daun telinga Sara. "Auucchhh..." rintih Sara.
Sara memukul kasar lengan Renggo. "Jangan macam-macam." dengus Sara.
Meski Sara sama sekali belum pernah tidur dengan lelaki, namun Sara bukan perempuan kolot. Dia sudah cukup umur. Dan mengerti hal semacam itu.
Sara tahu tanda bahaya yang sedang mendekat pada dirinya. Dan bahaya itu adalah Renggo.
Awalnya, Renggo hanya ingin menggoda calon istrinya tersebut. Tapi memang naluri lelaki Renggo malah muncul tak tertahan.
Apalagi selama setahun ini, Renggo benar-benar tidak pernah menyentuh atau berhubungan dengan perempuan.
Renggo ingin membuktikan keseriusan perasaannya pada Sara. Jika dirinya benar-benar menginginkan Sara menjadi istrinya. Bukan karena ingin menikmati tubuh molek sang artis.
Renggo menyingkirkan rambut Sara yang berada di belakang, dan mengendus tengkuk Sara. Bahkan Renggo memberikan ciuman kecil di sana.
Basah dan merinding. Itulah yang Sara rasakan pada leher bagian belakang. "Renggo, ini salah." cicit Sara.
Renggo menyusupkan tangannya di bawah leher Sara, memeluk tubuh Sara dari bawah dan atas dengan posesif. "Kamu harum sekali. Aku suka." gumam Renggo, terdengar jelas di telinga Sara.
Sekuat tenaga, Sara melepaskan pelukan Renggo. "Hahh... Renggo!!" geram Sara tertahan.
Tapi sepertinya Sara malah melakukan kesalahan besar. Terlepas dari pelukan Renggo, Sara malah membalikan badan, menghadap ke arah Renggo.
Membuat wajahnya dan wajah Renggo begitu dekat. Renggo tersenyum manis. Pandangannya tertuju ke bibir merah ranum milik Sara.
Cup,,,, Renggo mencium singkat bibir Sara.
Sara terdiam. Bukan ini yang ada dalam pikirannya tadi. Bukan.
Sara ingin menegur Renggo. Sara ingin memarahi Renggo. Sara ingin mengatakan jika mereka melakukan hal yang salah.
Tapi apa yang terjadi, pikiran Sara malah kosong. Dan dengan mudah, Renggo mengambil alih semuanya. Mengendalikan pikiran Sara.
Cup,,, Renggo menempelkan bibirnya. ******* bibir Sara dengan pelan. Terbawa suasana, Sara menutup kedua matanya.
Sara memegang kerah kaos Renggo dengan erat. Sangat erat. Renggo terus menikmati rasa manis dari bibir Sara.
"Eeuugghhh..." tanpa sadar, Sara melenguh. Bukan sadar, Renggo semakin semangat mendengar suara seksi yang keluar dari bibir Sara.
Renggo semakin memperdalam ciumannya. Sedikit menggigit bibir Sara dengan pelan. Menimbulkan gelenyar aneh pada tubuh Sara.
__ADS_1
Tubuhnya hanya berinteraksi normal pada lawan jenis saat adegan sinetron. Dan tentunya semua itu tidak nyata. Ada beberapa bagian yang dibuat ambigu.
Terkesan pada artis sedang melakukan sesuatu yang panas. Padahal sesungguhnya tidak seperti itu. Dunia sudah semakin canggih. Dengan alat-alat tersebut, sinetron bisa menghasilkan sesuatu yang bagus.
Meski ada beberapa artis yang memang dengan berani melakukan adegan panas. Namun tidak untuk Sara.
Sara memilih untuk mundur dan tidak mengambil pekerjaam tersebut, jika menurut Sara adegannya bertentangan dengan apa yang dikehendaki dan terlalu fulgar untuk Sara.
Dan saat ini, Sara benar-benar merasakan sentuhan lelaki pada tubuhnya. Rasanya seperti ingin terbang melayang.
Tanpa melepaskan pangutan di bibirnya, tangan Renggo mulai aktif, bergerak mencari sesuatu yang bisa membuat tangannya berhenti bergerak.
Jangan ragukan kemampuan Renggo dalam aktifitas panas ini. Dia sudah pro dengan hal tersebut. Karena bagi Renggo, itu bukan hal yang baru.
Tangan Renggo berhenti bergerilya, saat sudah mendapatkan sesuatu. Bulat kecil, dan menggemaskan. Memilin, dan terus memelintir.
Membuat si pemiliknya reflek membusungkan dadanya. Siapa lagi jika bukan Sara.
Dan,,, Sara merasakan sesuatu yang berbeda pada pahanya. Sangat terasa keras dan memanjang. Sara tersadar. Membuka kedua matanya dan mendorong dengan kuat tubuh Renggo.
Hingga membuat Renggo terkejut dan menatap aneh ke arah Sara. "****..." Renggo mengumpat pelan. Melihat batang di sela kakinya yang sudah on, siap tempur membobol gawang lawan hingga tak berdaya.
Segera Sara duduk. Merapikan kaosnya yang tersingkap ke atas dan menyisir rambutnya yang berantakan dengan menggunakan tangan.
Sara memejamkan matanya. Mengusap bibirnya yang basah. "Bodoh, kenapa gue malah ikut menikmati. Tolol." umpat Sara dalam hati. Memaki dirinya sendiri yang dengan mudah terbuai permainan bibir dan tangan Renggo.
Renggo bersikap tenang. Padahal dirinya sangat takut luar biasa. Takut jika Sara marah pada dirinya. "Maaf, aku tidak bisa mengendalikan diri." tutur Renggo, duduk di samping Sara.
Sara menggelembungkan pipinya. Mencoba menguasai keadaan. Menggunakan kepandaian aktingnya untuk merubah situasi canggung ini.
"Kamu sih. Aku jadi kayak gini." kesal Sara, cemberut.
Renggo menoleh ke arah Sara, dan melongo. Lalu Renggo tersenyum. Sungguh perkataan yang keluar dari mulut sangat menggemaskan.
Renggo kira, Sara akan mengamuk. Memukulnya dan menampar. Tapi semua tidak terjadi. Dan Renggo cukup lega.
Sara merasa ada yang aneh. "A-aap-apa?!" Sara menoleh ke samping.
Sara menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya. "Kenapa gue ngomong kayak gitu tadi." ucap Sara dalam hati. Mengerakkan bola matanya ke kanan dan ke kiri.
Renggo sedikit mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke wajah Sara. "Jangan mulai." bentak Sara kembali mendorong Renggo ke belakang, hingga tubuh Renggo terjengkal.
Bukannya marah, Renggo malah tersenyum jahil. "Mulai apa?"
Sara menatap sesuatu yang seharusnya tak boleh dia lihat di tubuh Renggo, meski barang tersebut tertutup rapat.. "Ini lebih berbahaya dari pada kena omel sutradara." ucap Sara dalam hati.
Sara berdiri, menarik tubuh Renggo. "Keluar dari kamar." Sara menyeret tubuh besar Renggo untuk keluar dari kamarnya.
"Keluar." Sara mendorong tubuh Renggo yang sudah berada di depan pintu. Sedikit lagi, Renggo akan keluar.
Namun tubuh Renggo tidak bergeming sedikitpun. Pasti Renggo sengaja ingin menggoda Sara lagi. Meski pada kenyataannya, saat ini Renggo sedang menahan sesuatu yang bergejolak di bawah sana.
Sesuatu yang ingin dipuaskan. "Kenapa?" Renggo mengerlingkan matanya dnegan genit, tangannya mengelus sesuatu yang membuat mata Sara membelalak.
"Renggo...!!" teriak Sara. Kesal melihat kelakuan absurd dari calon suaminya tersebut. Tanpa malu, Renggo malah memperlihatkan batangnya yang mengeras, dengan mengelusnya di depan Sara.
Meski Sara tidak melihat secara langsung. Dan Renggo masih memakai celana. Sara tetap saja merasa malu. Padahal seharusnya bukan dia yang malu. Tapi Renggo.
Brak...!! Sara menutup pintunya keras, setelah berhasil mengeluarkan Renggo dari dalam kamarnya. Menguncinya dari dalam. Tak ingin kejadian memalukan itu terulang kembali.
Renggo yang berdiri di depan pintu kamar Sara, tersenyum menatap pintu kamar Sara. "Sabar. Kita mandi air dingin seperti biasanya." seolah Renggo sedang berbicara dengan seseorang. Padahal bukan.
Menggoda Sara sungguh mengasikkan untuk Renggo. Namun sangat berbahaya.
Sara menyenderkan tubuhnya di pintu. Menutup wajahnya sendiri, seolah sedang menyembunyikan malunya. Padahal dia sendirian di dalam kamar.
Sungguh seperti anak remaja yang sedang kasmaran. Lucu dan penuh drama.
Tangan Sara terulur mengelus tengkuknya yang masih terasa basah. Beralih ke bibirnya yang juga masih terasa aneh.
Sara memukul pelan kepalanya. "Sadar Sara,,, sadar. Jangan terlihat seperti perempuan murahan. Ingat. Kamu masih perawan." kesal Sara.
Sara menunduk. Melihat ke ************. Teringat milik Renggo. "Oohh,,, my... Apa yang ada di otak elo Sara."
__ADS_1
Sara berlari. Melemparkan badannya ke atas ranjang dengan posisi tengkurap. "Bisa-bisanya gue berpikir mesum." gumam Sara, memukul kasur empuk.
Beberapa menit berlalu, dan Sara masih tengkurap di atas ranjang besarnya. "Sudahlah, aku harus segera tidur. Besok harus bangun pagi. Latihan jadi ibu dan istri yang baik."
Sara tersenyum simpul. Mematikan lampu. Menarik selimutnya, dan mulai memejamkan mata. Tidak semudah itu Sara.
Baru saja Sara memejamkan mata, ponsel miliknya yang dia letakkan di atas nakas mulai bernyanyi memanggil dirinya.
Sara menyingkap kasar selimutnya. "Siapa malam-malam menelpon. Mengganggu saja." omelnya, meski kenyataannya dia tetap melihat siapa yang menelpon dirinya malam-malam begini.
Tanpa menyalakan lampu, Sara melihat ke arah latar ponselnya. "Erlangga, ngapain telpon."
Sara mengangkat panggilan telepon dari Erlangga. Belum sempat Sara membuka suara, Erlangga sudah nyocos, memecahkan gendang telinganya.
Di sebuah apartemen, Erlangga perlahan membuka kedua matanya. Suara berisik dari ponselnya mau tak mau membuatnya harus segera meninggalkan dunia mimpinya.
"Hemm..." Erlangga mengusap layar ponselnya, tanpa melihat siapa yang mengganggu tidurnya.
Kedua mata Erlangga langsung terbuka lebar, mendengarkan perkataan dari seseorang di seberang ponselnya.
Tanpa mengatakan apapun, Erlangga memutuskan sambungan teleponnya. "Aku harus bertemu dengan Sara. Dan bertanya secara langsung." gumam Erlangga.
Mencoba menghubungi sahabatnya tersebut berkali-kali. Namun tak membuahkan hasil. "Pergi ke mana ini anak." geram Erlangga, sebab Sara tak mengangkat panggilan telepon darinya.
Erlangga turun dari ranjang besar dan empuk miliknya. Membersihkan diri, dan bergegas pergi ke apartemen Sara. Saat pergi, tak lupa Erlangga memakai masker, kacamata, dan juga topi.
Tentu saja semua itu untuk menghindar dari awak media ataupun orang diluar sana yang mengenal dirinya.
Erlangga tidak ingin kedatangannya di negara ini diketahui banyak orang. Menjadikan pergerakannya akan terbatas. "Ckk,,, ternyata ada hal dampak negatif juga dikenal banyak orang." gumamnya.
Tentu saja. Menjadi publik figur, harus menyiapkan diri. Sebab, kehidupan seorang publik figur bukan hanya miliknya dan keluarganya. Tapi milik semua orang.
Privasi. Memiliki hal tersebut sungguh susah. Semuanya harus tersorot kamera. Hingga hal sekecil amobapun, pasti akan terendus oleh pencari berita. Meski sudah di simpan rapat-rapat.
Erlangga dengan cermat memperhatikan sekelilingnya. Sebelum turun dari dalam mobil. "Gue kayak maling saja." gumamnya.
Merasa aman segera Erlangga turun dari dalam mobil. Mempercepat langkahnya untuk sampai di depan lift.
Tok.. tok.. tok... Erlangga mengantuk pintu kamar Sara berkali-kali. "Ampun, bisa-bisa jari-jariku yang mulus dan putih ini akan lecet." keluhnya.
Kaki Erlangga mukai kesemutan. Kesabaran Erlangga setipis tisu. Erlangga melepas topinya. Membuatnya menjadi kipas.
"Ini terakhir kali aku mengetuk pintu." Tetap saja, pintu tidak terbuka. Memang siapa yang akan membuka dari dalam. Penghuninya saja tidak ada di dalam.
"Sara,,,,!" geram Erlangga kesal.
Erlangga kembali menghubungi nomor ponsel milik Sara. Berharap Sara akan mengangkatnya.
Akhirnya,,, Sara mengangkat panggilan telepon darinya. "Sara kamu dimana? Aku didepan apartemen. Cepat buka pintunya!!" omel Erlangga pada Sara di seberang ponselnya.
"Apa...!!" seru Erlangga mendadak lemas.
Bagaimana tidak. Dengan sedikit melakukan penyamaran, menunggu malam hari, Erlangga jauh-jauh datang ke apartemen Sara.
Menunggu Sara dan mengetuk pintu apartemen Sara hingga punggung jarinya terasa sakit. Lalu Sara dengan santai mengatakan jika dirinya tidak berada di dalam apartemen.
Erlangga menendang pintu apartemen Sara dengan keras. "Aaaww...!!" Erlangga mengaduh, kakinya terasa sakit karena menendang benda keras di depannya. Pintu.
"Sekarang kamu di mana?" Erlangga bertanya dengan manahan rasa kesal sekaligus rasa sakit di kakinya akibar ulahnya sendiri.
Tidak kunjung mendengar suara Sara, Erlangga memanggil Sara. Memastikan Sara masih di sana. Tidak mematikan panggilan teleponnya secara sepihak. "Sara..!!" panggil Erlangga dengan tidak sabar.
"Kamu sekarang di mana. Aku akan ke sana." tegas Erlangga, mendesak Sara untuk mengatakan keberadaannya.
Erlangga mengangkat sebelah alisnya. Mendengar pengakuan di mana saat ini Sara berada. "Baiklah, besok pagi aku akan datang ke sana." ucapnya.
Entah apa yang dikatakan oleh Sara pada Erlangga. Emosi Erlangga yang menggebu, lenyap sudah. "Jaga dirimu baik-baik." ucap Erlangga sebelum mematikan ponselnya dan menyimpannya kembali ke dalam saku.
Erlangga memperbaiki penampilannya. Masker yang sudah terlepas, kini kembali berada di tempat seharusnya. "Kenapa Sara bisa tinggal di rumah Renggo."
"Ckk,,, sudahlah. Sebaiknya aku segera menemukan tempat tinggal Giska." tutur Renggo.
"Semoga apa yang ada di benakku semuanya benar. Sehingga semuanya akan menjadi lebih mudah."
__ADS_1