
Viki menatap ke arah pintu ruangannya. Menggelengkan kepala mengingat dua perempuan yang baru saja meninggalkan ruangannya.
"Semoga setelah ini, Giska tidak terlalu merecoki kehidupan gue." ujar Viki.
"Maaf Melva." imbuh Viki. Tapi Viki yakin, jika Melva tidak ada bedanya dengan Giska. Sama-sama perempuan dengan ambisi yang besar.
Giska, kamu akan memiliki rival yang setara. Sementara kedua perempuan tersebut terlibat masalah yang di buat Viki, Viki dapat konsentrasi ke masalah lain.
Viki masuk ke dalam ruang pribadinya. Memakai kembali jasnya, dan mengganti kemejanya. Tanpa memaki kembali dasinya. "Benar-benar mengganggu." ucap Viki sambil berjalan dan merapikan penampilannya.
Belum sempat Viki mendaratkan pantatnya, terdengar suara ketukan dari luar. "Masuk." ucap Viki, menaikkan nada suaranya.
"Maaf Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda." ucap Rey.
"Siapa?" tanya Viki, merasa dirinya tidak ada janji temu dengan siapapun hari ini.
"Saya." ucap seorang paruh baya, masuk ke dalam ruangan Viki. "Maaf, jika saya lancang." ucap beliau, karena masuk ke dalam ruangan Viki, sebelum di persilahkan oleh pemiliknya.
"Perkenalkan. Saya Gina. Mamanya Giska, istri dari Marko." ucap Nyonya Gina memperkenalkan diri.
"Haisss,,, tadi anaknya. Sekarang ibunya. Apa sebentar lagi bapaknya." ucap Viki dalam hati. Berpikir mereka satu keluarga sama-sama gesrek.
"Maaf, jika kehadiran saya mengganggu." ucapnya dengan sopan dan ramah.
Viki melihat jika sikap dan sifat mamanya Giska berbeda jauh dari Giska sendiri. Viki menggerakkan tangannya, memerintahkan pada Rey untuk meninggalkan ruangan.
Rey sedikit menundukkan badan. Dan meninggalkan ruangan, seperti perintah dari atasannya.
"Silahkan Nyonya Gina." ucap Viki, mempersilahkan Nyonya Gina untuk duduk.
"Terimakasih." ucap Nyonya Gina, mendaratkan pantatnya di kursi.
"Pasti anda bisa menebak tujuan dari kedatangan saya." ucap Nyonya Gina.
Rey kembali masuk ke ruangan Viki dengan membawa dia cangkir berisi teh hangat. "Silahkan." ucap Rey dengan sopan. Segera Rey meninggalkan ruangan atasannya tersebut.
__ADS_1
"Saya datang ke sini. Ingin meminta maaf." ucap Nyonya Gina, tersenyum pahit menatap ke arah Viki.
Viki masih diam serta memandang ke arah Nyonya Gina. "Maaf untuk putri dan suami saya." imbuh Nyonya Gina, mengulum bibir.
Nyonya Gina tersenyum dengan mata mulai berembun, menatap ke arah Viki. "Hah,,, saya mengerti. Jika perasaan tidak dapat di paksakan. Dan saya salut. Dengan keteguhan anda." ucap Nyonya Gina, padahal sang suami sudah membuat hari-hari Viki lebih sibuk dari biasanya.
"Meskipun suami saya menyerang anda. Tapi anda tetap memegang keyakinan anda." imbuh Nyonya Gina.
"Silahkan di minum, Nyonya." ucap Viki mempersilahkan, dengan mengangkat cangkirnya dan menyeruput sedikit. Begitu juga dengan Nyonya Gina
"Terimakasih karena anda bisa mengerti." ucap Viki.
"Maaf, jika saya di sini menyakiti hati putri anda. Benar apa yang anda ucapkan. Jika perasaan, tidak dapat dipaksakan." imbuh Viki.
"Saya tidak bermaksud egois. Tapi saya lebih memikirkan semuanya, kedepannya. Seandainya saya menerima perasaan putri Nyonya. Padahal saya sama sekali tidak mencintainya." Viki menatap lurus ke depan. Dimana hanya ada tembok di sana.
"Hanya karena tekanan dari Ruan Marko. Saya tidak ingin Giska akan sakit hati. Pasti Nyonya lebih mengerti dari pada saya. Bagaimana cara menjalani rumah tangga. Apalagi tidak ada cinta di dalamnya." ungkap Viki.
"Memang benar, jika ada yang bilang. Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Dan saya juga percaya dengan perkataan tersebut."
"Tapi, sejak awal. Saya memang sama sekali tidak tertarik dengan Giska. Sama sekali. Dan yang saya takutkan, jika saya menerima karena rasa kasihan atau karena terpaksa. Hubungan kita hanya akan jadi bomerang untuk kita ke depannya." jelas Viki.
Nyonya Giska menatap dengan penuh haru. Sosok Viki yang masih muda, bisa mempunyai pikiran seperti itu.
Sementara sang suami. Dia selalu berpikir, pendek. Tanpa memikirkan apa kemungkinan yang terjadi di belakangnya.
"Seandainya kamu dapat membalas perasaan Giska. Saya adalah perempuan paling bahagia di dunia. Karena memiliki menantu seperti kamu." puji Nyonya Gina pada Viki.
"Apa anda akan berkata seperi itu, jika tahu alasan saya menolak putri anda selain karena saya tidak tertarik padanya." ucap Viki dalam hati.
"Anda pasti akan jadi orang pertama yang menentang hubungan kami." imbuh Viki dalam hati.
"Masih banyak lelaki yang lebih baik dan sempurna dari saya di luar sana Nyonya." ucap Viki merendah.
"Dan untuk suami saya. Saya benar-benar minta maaf. Jika dia sudah menyusahkan kamu." ucap Nyonya Gina dengan tulus.
__ADS_1
Viki memandang ke arah perempuan paruh baya tersebut. Nampak gurat sedih bercampur kecewa di wajahnya.
"Tidak apa-apa Nyonya. Semua bisa saya atasi dengan baik." ucap Viki.
"Huhhh,,, Saya sudah berkali-kali menasehati Giska. Memberitahu suami saya. Tapi percuma. Mereka bahkan menganggap saya seperti angin lalu. Hanya pertengkaran berujung sakit hati yang saya dapatkan." ucap Nyonya Gina, menghapus air mata yang sudah menetes di pipinya.
Segera Viki menyodorkan tisu kepada Nyonya Gina. "Terimakasih." ucap Nyonya Gina, mengambil selembar tisu dari tempatnya.
"Mungkin, Tuan Marko hanya menginginkan putrinya bahagia. Karena biar bagaimanapun, Giska adalah putri satu-satunya kalian." jelas Viki secara bijak.
"Saya juga ibu kandung Giska. Saya juga perempuan, sama seperti Giska. Saya bisa mengerti perasaan Giska. Tapi apa yang dilakukan suami saya benar-benar di luar batas." geram Nyonya Gina.
"Giska, seandainya kamu bisa memiliki sedikit saja sifat dari mama kamu, pasti kita bisa berteman." batin Viki. Menyayangkan tidak ada satupun sifat Nyonya Gina yang menurun pada Giska. Kecuali satu hal. Wajah cantiknya.
"Sekali lagi, maafkan kelakuan anak dan suami saya. Yang sudah membuat hidup kamu lebih berwarna saat ini." ucap Nyonya Gina tersenyum.
"Tapi, saya juga minta maaf sebelumnya Nyonya. Jika di kemudian hari, saya akan bertindak tegas dan sedikit kejam. Baik pada putri ataupun suami Nyonya, jika mereka melakukan suatu hal yang membuat batas kesabaran saya habis." ucap Viki.
"Silahkan. Silahkan lakukan. Saya yakin, kamu di besarkan dengan baik oleh kedua orang tua kamu. Dan kamu, pasti sudah memikirkan semuanya dengan matang." ucap Nyonya Gina memberi izin.
"Sebelum saya pamit, saya hanya ingin mengingatkan kamu. Giska dan papanya itu sama. Mereka sama-sama keras kepala."
"Apalagi suami saya. Jika sudah menyangkut tentang Giska, dia pasti akan melakukan apapun. Apapun, untuk membuat sang putri tersenyum bahagia." jelas Nyonya Gina.
"Terimakasih Nyonya." ucap Viki dengan tulus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil Giska berhenti di tengah jalan. Menghadang laju jalan dari mobil Melva. "Ternyata dia." ucap Melva, melihat Giska menghampiri mobilnya.
"Jika tidak ada hukum, sudah gue tabrak sampai mati elo." ucap Melva. Karena Melva melihat ada beberapa orang yang berlalu lalang di jalan tersebut.
Dengan gaya sombong, Melva keluar daei dalam mobil. "Nona..." ucap Melva menggantung.
"Giska. Dan seharusnya kamu tahu, siapa saya." ucap Giska dengan angkuh.
__ADS_1
Melva mengibaskan rambut panjangnya. "Ya,,, ya,,, ya,,, Nona Giska. Yang setiap malam pergi berpesta dengan teman sosialitanya. Menghamburkan uang milik sang papa." sindir Melva.
"Ya iyalah,,, dia nggak bisa cari uang sendiri. Beda sama elo Melva." Makanya Viki suka sama elo." ucap Melva lirih, memandang ke arah lain, dan masih bisa di dengar oleh Giska dengan sangat jelas.