
"Apa-apaan ini..!!!" geram Giska. Saat dirinya memberanikan diri untuk menyalakan lampu kamar Viki. Membuatnya bisa melihat dengan jelas semua batang di ruangan tersebut.
Giska menggelengkan kepalanya dengan mata merah, menahan amarahnya. Melihat jika barang yang berada di atas kasur yang dia kira Viki, ternyata sebuah guling.
"Aaaa...!!!" jerit Giska, menggelegar di kamar Viki. Namun sayang suaranya tidak akan bisa terdengar sampai luar kamar sang empunya.
Karena memang, beberapa kamar yang terdapat di rumah Tuan Hendra kedap suara. Termasuk kamar yang saat ini Giska masuki. Yakni kamar Viki.
Giska berjalan mendekat ke arah ranjang, mengambil guling dan memukul-mukulnya untuk meluapkan rasa kesalnya.
"Brengsek, gagal." gumam Giska, duduk di tepi ranjang. Setelah nafasnya tersengal karena memukul guling dengan penuh emosi.
"Kemana Viki, kenapa sampai sekarang belum pulang." gumam Giska lebih tenang.
Giska belum sadar, jika dirinya sekarang terkurung di dalam ruangan tersebut. Di dalam pikiran Giska, hanya ada Viki, Viki dan Viki.
"Apa dia lembur." ucap Giska menebak.
Giska tersenyum senang, menggerakkan tangannya untuk mengusap kasur empuk di sekitarnya. Membayangkan, dirinya dan Viki berada di atas ranjang tersebut.
Bergulat dengan peluh, membuat irama romantis yang terdengar sangat nikmat di telinga. "Viki..." desah Giska memejamkan matanya. Membayangkan sesuatu yang sangat mesum.
"Aau,,,, Ssshhh,,,," desah Giska, merasakan sakit di perutnya. Dengan pelan, Giska membelai perutnya yang masih rata. Mengatur nafasnya. Dan juga membuat pikirannya kembali segar.
Giska berpikir jika sang janin menginginkan hal yang sama dengannya. Tapi, mungkin saja sang janin tidak menghendaki apa yang sekarang di lakukan sang mama.
"Kenapa sayang, kamu pasti juga tidak sabarkan. Kita bertiga tidur bersama papa Viki. Tapi ingat, kamu akan tidur bersama kita, saat masih di dalam kandungan." ucap Giska dengan mata berbinar.
Ya,,, angan-angan Giska sangat jauh. Belum tentu dia berhasil melakukan rencananya, membuat Viki menikahi dirinya.
Namun, Giska sudah terlebih dulu berangan-angan. Jika bayi yang sekarang berada di dalam perutnya sudah keluar, dia akan mencari pengasuh.
Membuatkan kamar sendiri untuk sang bayi. Sementara dia menginginkan sekamar dengan Viki. Hanya berdua, tanpa gangguan siapapun. Meski anaknya sendiri. Stresss...
__ADS_1
Giska tiba-tiba mengernyit. Merasakan lapar lagi. Padahal dirinya baru saja makan sepiring penuh. "Heeehhh,,,, jika begini, lama-lama pasti aku akan gendut." keluh Giska, menghela nafas.
"Tapi sumpah, lapar banget." Giska memegang perutnya.
Giska mencebikkan mulutnya. "Mungkin aku harus memundurkan rencanaku. Apalagi Viki belum pulang. Pasti dia akan marah besar, melihat aku ada di sini." ucap Giska sembari mengangguk kecil.
Giska bangun dari duduknya. Melangkahkan kakinya ke pintu. "Loh,,,," ujar Giska, yang gagal menarik gagang pintu untuk membuka pintu.
Kembali Giska menarik gagang pintu dengan kuat. Namun hasilnya tetap sama. Pintu tetap tertutup dengan rapat.
"Apa pintu ini otomatis." gumam Giska, berusaha membuka pintu. Namun lagi-lagi gagal.
Giska mengangkat kedua alisnya. "Tidak mungkin. Tidak. Tidak mungkin." ucap Giska sambil menggeleng.
"Jangan bilang, ada yang menguncinya dari luar." tebak Giska, dengan tangan masih berada di handle pintu dan masih mencoba menariknya.
Giska berkacak pinggang. "No, gue nggak mau di sini semalam. Apalagi gue lapar banget." Giska memegang perutnya.
"Ponsel." gumam Giska, meraba kantong piyamanya.
"Astaga...!!!" seru Giska meraup kasar wajahnya. Pandangannya memindai kamar Viki, mencari sesuatu yang mungkin bisa menolongnya.
Giska lari ke balkon. Berharap dia melihat seseorang dari atas. Mungkin satpam. Tapi lagi-lagi Giska harus menahan rasa kecewa. Tidak ada satu orangpun di penglihatannya. "Kemana sih mereka. Sialannnn!!!" teriak Giska frustasi.
Bahkan segelas airpun, Giska tidak menemukan di dalam kamar Viki. "Bukankah biasanya ada minuman, meski air putih." Giska berucap dengan lemas.
Bermalam di kamar Viki dengan manahan lapar. Dan meminum air dari kran, itulah yang bisa Giska lakukan. Bukankah tujuannya sudah tercapai.
Tidur di kamar Viki.
Sementara di kamar Nara, Viki sudah memejamkan kedua matanya. Dan Nara, berbaring di samping Viki dengan badan seperti boneka. Badan Nara sama sekali tidak bergerak, hanya terasa hembusan nafasnya. Dengan kedua mata masih terbuka lebar.
"Bagaimana aku bisa tidur." keluh Nara dalam hati. Merasa khawatir. Seumur-umur, ini pertama kalinya Giska tidur dengan seorang lelaki. Selain Bima.
__ADS_1
Nara dengan perlahan menoleh ke samping, bibirnya tersenyum samar. Melihat betapa tampannya calon suaminya. "Pantas, banyak perempuan yang mengejar kamu." puji Nara dalam hati.
Seperti terhipnotis dengan pesona wajah Viki, Nara memiringkan badannya. Jari tangannya yang lentik menyentuh wajah sang kekasih.
Nara mengelus pelan, salah satu alis yang hitam dan tebal milik Viki. Perlahan jari jemarinya beralih ke pipi Viki, dengan memperhatikan bulu mata Viki yang lentik. Meskipun Viki seorang lelaki.
Hidungnya yang mancung, rahangnya yang tegas, dan bibir tebal yang menambah kesan seksi. "Kamu memang sempurna." Nara mendekatkan wajahnya ke wajah Viki.
"Eemmmhhhh...." Nara terkejut, saat Viki dengan cepat meraih tengkuknya dan menyatukan bibir mereka.
Mencium, *******, merasakan dan menyesap setiap bagian di bibir Nara. Membuat Nara memejamkan mata, dan menikmati kegiatan yang di lakukan Viki.
Nara menaruh tangannya di dada Viki, dan menaruh kakinya di atas perut sang kekasih. "Ahhhh...."
Nara mengeluarkan suara laknat, saat Viki melepaskan bibirnya fan beralih ke leher jenjangnya. Tak hanya bibir Viki yang beraksi, kini tangan Viki yang awalnya berada di tengkuk Nara, berpindah mengelus lembut punggung Nara.
Sementara, tangan yang satunya mulai mengusap perut rata Nara dengan pelan. Memberikan sensasi yang berbeda pada tubuh Nara.
"Bang,,,,,!!" kesadaran Nara kembali, saat merasakan sedikit sakit di payudara miliknya. Saat tangan Viki sudah bermain di area tersebut.
"Bang,,, stop...!!" seri Nara lirih, membuat Vikipun menghentikan kegiatannya.
Viki tersenyum. Membawa Nara ke dalam pelukannya. Mencium kepala Nara. "Maaf, abang kelepasan." ucap Viki seraya memeluk tubuh Nara layaknya guling.
"Nara yang salah." cicit Nara mendusel ke dada Viki. Nara sadar, jika semuanya berawal dari dirinya yang mendekati Viki lebih dulu.
"Lebih baik kita segera tidur, sudah larut malam." ucap Viki masih memeluk Nara.
Dengan nyaman, Nara tertidur di pelukan Viki. Mendengar suara nafas Nara yang sudah teratur, Viki menyimpulkan jika sang kekasih sudah berada dalam mimpinya.
Perlahan, Viki melepaskan pelukannya pada Nara. Membenarkan letak selimut di atas tubuh Nara. "Aku akan segera menjadikan kamu istriku." Viki mengecup singkat pipi Nara.
"Heeeeehhh...." desah Viki, melihat ke bawah. Dimana, juniornya sudah terbangun sadari tadi.
__ADS_1
"Menyiksa." Viki melangkahkan kaki ke dalam kamar mandi. Menuntaskan apa gang seharusnya dia tuntaskan.