VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 67


__ADS_3

"Apa?!! Baik." ucap Nyonya Rahma segera menutup teleponnya.


Nara segera berlari mendekat ke arah Nyonya Rahma. Meninggalkan begitu saja buku pelajaran yang sedang dia pegang. Karena sebenarnya, saat ini Nara sedang dalam kegiatan belajarnya.


"Ada apa tante?" tanya Nara, sebab Nyonya Rahma terlihat khawatir dan juga menangis.


"Papa, papa kecelakaan." ujar Nyonya Rahma dalam tangisnya.


Nyonya Rahma sendiri tidak tahu bagaimana kronologinya. Dirinya hanya diberitahu jika saat ini sang suami sedang berada di rumah sakit untuk menjalani perawatan.


Karena baru saja mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang dari kunjungannya ke sebuah pelosok desa.


"Om Hendra?" tanya Nara dengan raut wajah tidak percaya.


"Iya." jawab Nyonya Rahma, tubuh Nyonya Rahma seakan lemas.


Segera Nara menenangkan calon mertuanya tersebut. "Tenang tante. Nara akan temani tante ke rumah sakit." ucap Nara, menuntun Nyonya Rahma untuk duduk terlebih dahulu.


"Mbak Mira.... Mbok...!!" teriak Nara, dengan segera mereka bergegas datang ke tempat suara.


Membuat semua penghuni di rumah tersebut bergegas datang. Termasuk Alif yang juga masih di rumah Tuan Hendra.


"Mbok, ambilkan air minum." ucap Nara. Tanpa banyak bertanya, Mbok Nah segera melangkah pergi ke dapur. Apalagi melihat keadaan majikannya uang masih menangis dalam dekapan Nara.


"Mbak Mira, tolong ambilkan tas tante ya." pinta Nara. Seperti mbok Nah, Mbak Mira segera berlari menaiki anak tangga. Masuk ke dalam kamar Nyonya Rahma dan mengambil tas yang di maksud oleh Nara.


Sebenarnya Nara juga merasa sungkan saat mulutnya mengeluarkan perkataan seperti memerintah. Tapi mau bagaimana lagi. Keadaan yang membuatnya melakukan hal tersebut.


"Terimakasih mbok." Nara segera mengambil gelas berisi air putih di tangan Mbok Nah. "Tante, minum dulu." Nara tetap memegang gelas tersebut, dan membantu Nyonya Rahma untuk meminumnya.


"Mbok, tolong katakan pada pak sopir, untuk segera bersiap. Saya dan Tante akan pergi ke rumah sakit." ucap Nara lagi.


Seperti sebelumnya, mbok Nah segera melangkahkan kakinya. "Mbak Mira, Nara minta tolong. Jaga Rini dan Bima. Nara mau menemani tante ke rumah sakit." ucap Nara.


Karena saat ini, Bima di ajak oleh Mbak Siti untuk menjemput Rini. "Pasti, kamu tenang saja. Jangan khawatir." sahut Mbak Mira.


Mbok Nah, Mbak Mira, dan juga Alif memandang ke arah Nara. Karena sedari tadi Nara tidak memberitahu apa yang terjadi.


Sementara Nara memapah Nyonya Rahma. "Om Hendra masuk rumah sakit. Beliau kecelakaan." jelas Nara.


"Bagiamana dengan saya?" timpal Atif dengan pertanyaan bodohnya.


"Pelajaran hari ini selesai sampai di sini. Keluarga saya lebih penting dari apapun. Tenang saja, gaji anda tidak akan terpotong sedikitpun." tegas Nara kesal dengan pertanyaan yang di lontarkan gurunya tersebut.


Bisa-bisanya Alif bertanya seperti itu. Apa kedua matanya tidak melihat apa yang terjadi. Membuat Nara dan yang lainnya menjadi kesal karenanya.


"Tolong beritahu Abang?" pinta Nara.


"Pasti." Mbok Nah dan Mbak Mira mengantar Nara dan Nyonya Rahma sampai keduanya masuk ke dalam mobil.


"Semoga Tuan baik-baik saja." ucap Mbok Nah berharap cemas.


Segera mereka kembali ke dalam rumah. Dan Mbak Mira segera menghubungi Viki. Memberitahunya tentang kecelakaan yang menimpa majikannya.


"Sudah?" tanya Mbok Nah, saat Mbak Mira meletakkan kembali telepon di tempatnya. "Den Viki sudah tahu. Dia sekarang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit." ucap Mbak Mira.


Viki sedang memimpin rapat. Rey bergegas mendekat di membisiki sesuatu di telinga atasannya tersebut. Tanpa berkata apapun, Viki langsung meninggalkan rapat tersebut.


"Maaf, rapat kita tunda. Tuan Viki ada kepentingan mendadak." ucap Rey, mewakili Viki yang sudah berlari meninggalkan ruang rapat.


Rey segera berlari menyusul Viki. Dari arah lain, tampak Melva tersenyum melihat Viki dan Rey berlari ke arahnya.


"Ehh,,, loooh." Viki melewati Melva begitu saja. Bahkan Melva seperti makhluk tak kasat mata. Sehingga Melva tak terlihat di matanya.


Melva memutar tubuhnya. Tampak Rey membukakan pintu untuk atasannya tersebut. Segera Rey sedikit memutar dan duduk di kursi pengemudi.


"Viiiikkk!!" teriak Melva, saat mobil yang ditumpangi Viki melesat meninggalkan perusahaan.


"Kenapa dengan Viki." tanya Melva bermonolog.

__ADS_1


Nara memeluk pundak Nyonya Rahma. Keduanya duduk, menunggu di depan ruang operasi. Nyonya Rahma meletakkan kepalanya di pundak Nara.


Air mata keduanya terus mengalir dari mata. Keduanya selalu menatap lampu yang tertempel di tembok atas pintu operasi.


"Ma,,,,,!!" seru Viki. Dengan masih dalam keadaan duduk. Nyonya Rahma memeluk tubuh sang putra. Nara menggeser duduknya. Memberi tempat pada Viki.


"Papa pasti akan baik-baik saja. Mama tidak perlu khawatir." Viki memeluk sang mama. Mengelus punggung sang mama.


"Rey,,," panggil Viki lirih tanpa memandang ke arah Rey.


"Baik Tuan." segera Rey meninggalkan tempat tersebut. Ada hal yang harus dia selidiki.


"Mas Viki." panggil seorang lelaki. Tampak dari pakaiannya dia adalah pekerja yang mengabdi pada pemerintah. Sama seperti papanya.


Viki melepaskan pelukannya pada sang mama. "Aku titip mama." Viki memandang ke arah Nara. Dengan kedua mata sembab, Nara mengangguk.


"Kita bicara di sana." ajak Viki.


Usia lelaki tersebut sepantaran dengan Viki. Dia biasanya yang akan mengikuti kemanapun Tuan Hendra pergi. Bisa di katakan dia adalah asisten Tuan Hendra.


"Kunjungan kali ini tidak ada dalam jadwal." jelasnya. Yang artinya, bahwa Tuan Hendra pergi tanpa ada persiapan atau rencana sebelumnya.


Viki memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Saya dan Bapak pergi ke sana. Bersama beberapa rekan dan juga staf lainnya." ucapnya.


Bapak, adalah panggilan yang diberikan pada Tuan Hendra oleh karyawan atau staf di mana beliau bekerja.


"Saat acara selesai, ponsel Tuan Hendra berdering. Setelah mengangkat panggilan di ponselnya, beliau mengatakan pada kami untuk kembali ke kantor terlebih dahulu. Karena sat itu, kami masih beramah tamah dengan beberapa perangkat di desa tersebut.


Ada jeda dalam perkataan lelaki tersebut. "Seperti biasa, saya mengikuti langkah bapak saat akan menuju ke mobil. Tapi bapak melarang dan menolak. Saat saya akan mengantarkan beliau." ucapnya.


Dengan artian, ada sesuatu dalam pembicaraan antara Tuan Hendra dan si penelpon. "Kamu tahu, siapa yang menghubungi papa?" tanya Viki tanpa ekspresi.


"Tidak mas." jawabnya.


"Bagaimana kamu bisa tahu jika papa kecelakaan?" tanya Viki.


Dengan arti, polisi mengambil alih kasus kecelakaan ini. Menyelidiki kenapa kecelakaan bisa terjadi.


"Keadaan mobil?" tanya Viki, seperti sedang mengintrogasi seseorang.


"Mobil bapak rusak parah mas. Dan....."


"Bukan itu yang saya tanyakan. Keadaan mobil sebelum papa memakainya." sela Viki. Karena dirinya sudah mendapatkan informasi berupa foto tentang keadaan mobil sang papa.


"Sangat baik." jawabnya.


"Yakin?" tekan Viki.


"Yakin mas. Karena setiap minggu saya selalu membawanya ke bengkel langganan saya. Dan baru dua hari yang lalu saya membawa mobil tersebut ke bengkel." jelasnya, karena dia tahu jika mobil tersebut adalah mobil dinas yang selalu di pakai Tuan Hendra beserta rombongannya.


Kerena itulah dia sebagai asisten Tuan Hendra melakukan hal terbaik untuk kenyamanan dan keselamatan atasannya.


Viki menengadahkan kepalanya. "Lagi pula, saat berangkat. Mobil juga masih dalam kondisi baik. Saya yang mengemudikannya mas." imbuhnya, karena memang itu benar adanya.


"Terimakasih." bertepatan dengan Viki hendak kembali ke kursi, Rey berjalan tergesa dari belakang Viki.


"Tuan." panggil Rey, menghentikan langkah Viki.


"Saya permisi dulu." ucap asisten Tuan Hendra, merasa jika Viki dan Rey akan berbicara serius.


"Polisi memutuskan jika kecelakaan yang terjadi pada Tuan Hendra adalah kecelakaan tungga." jelas Rey.


Viki tersenyum kecut. "Bukankah itu lebih baik." Viki menatap aneh ke arah Rey, dan sepertinya Rey tahu arti dari tatapan Viki.


Viki merasa ada sesuatu yang janggal dalam kecelakaan sang papa. Biarkanlah polisi mengatakan kecelakaan tunggal.


Hal itu malah menguntungkan Viki. Dia bisa menyelidiki lebih jauh. Tanpa perlu memikirkan hukum yang berlaku. Dan merasa jika di awasi gerakannya oleh pihak polisi.


Dengan mereka memutuskan kecelakaan yang terjadi pada Tuan Hendra adalah kecelakaan tunggal. Mereka akan menghentikan penyelidikan.

__ADS_1


Dan semua itu malah semakin menguntungkan buat Viki. "Jika tebakan saya benar. Biarkan hukum saya sendiri yang berlaku untuk mereka." gumam Viki, tersenyum menakutkan.


Rey menelan kasar air liurnya, melihat senyum dari tuannya. "Ponsel papa?"


"Ponsel Tuan hancur." Rey menggeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Menunjukkan pada Viki.


Viki hanya melihat, tanpa mengambil ponsel sang papa yang berada di telapak tangan Rey. Terbungkus dalan kantong plastik bening. Memperlihatkan jika ponsel tersebut menjadi seperti rempeyek.


Viki mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. "Berikan ini padanya. Dia tahu apa yang harus dia lakukan." Viki memberikan sebuah kartu nama pada Rey.


"Ba--baik." ucap Rey. Dirinya tidak menyangka jika Tuannya mengenal seseorang yang sangat berbahaya di bidang teknologi, terkhusus perangkat lunak.


"Mobil Tuan Hendra di bawa ke bengkel. Tapi saya sudah meminta untuk tidak di sentuh terlebih dahulu." jelas Rey.


Saat Viki hendak membuka mulutnya, ada seorang perempuan paruh baya dan beberapa orang di belakangnya. Berjalan menuju ke arahnya.


"Tante Ane." Rey segera menyingkir beberapa langkah ke samping. Memberi ruang kepada keduanya.


Viki dan Nyonya Ane berpelukan. "Maaf, Om sedang berada di luar negeri." ucap Nyonya Ane.


"Bagaimana keadaan mama kamu?" tanya Nyonya Ane, beliau malah menanyakan keadaan mama dari Viki. Bukan keadaan Tuan Hendra.


Karena Nyonya Ane yakin jika Tuan Hendra pasti di tangani oleh orang yang tepat. Yaitu dokter di rumah sakit ini.


Sementara Nyonya Rahma, pasti sekarang sedang syok dan sedih akan apa yang menimpa sang suami. Viki tidak menjawab pertanyaan Nyonya Ane..


Viki hanya menoleh ke belakang, dimana sang mama dan Nara berada di sana. Begitu juga dengan Nyonya Ane. Beliau mengikuti ke mana pandangan Viki bermuara.


"Tenang saja. Pasti semua akan baik-baik saja." ucap Nyonya Ane, menenangkan Viki.


"Kalian bantu Viki sebisa mungkin. Jika perlu, panggil rekan kalian yang lainnya." perintah Nyonya Ane pada beberapa orang yang mengikutinya tadi.


Nyonya Ane merasa jika Viki akan mengusut sampai tuntas kecelakaan yang menimpa papanya. "Baik Nyonya." ucap mereka serempak.


"Maaf, paman Haki juga tidak ada di sini. Beliau mengikuti Om kamu pergi." ucap Nyonya Ane merasa sedikit bersalah.


"Tante tenang saja. Tidak perlu merasa seperti itu. Mereka sudah lebih dari cukup." ucap Viki tersenyum.


Meski senyum tersebut adalah senyum luka. Tapi Viki merasa senang, mama dari sahabatnya mau datang untuk membantu dan meringankan bebannya.


Nyonya Ane menepuk pelan pundak Viki. Berjalan menuju ke arah Nyonya Rahma berada. "Rahma." panggil Nyonya Ane pelan.


Tanpa berkata apapun, dan air mata masih menetes di pipi. Nyonya Rahma memeluk Nyonya Ane yang duduk di sampingnya.


Nara hanya diam, tersenyum pada Nyonya Ane dan bersalaman. Karena jujur, dia tidak mengenal siapa perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik tersebut.


"Nara, dia tante Ane. Mama dari Ella." ucap Viki, berdiri di depan Nara. Mengenalkan siapa perempuan yang baru saja datang tersebut.


Nara dan Nyonya Ane saling pandang dan tersenyum. "Dia Nara tante. Emmm,,,," Viki hendak memperkenalkan Nara, tapi apa perlu di saat seperti ini. Saat semuanya sedang dalam keadaan sedih.


"Calon istri Viki." ucap Viki, memutuskan untuk mengenalkan Nara. Viki rasa inilah yang terbaik. Setidaknya Nyonya Ane dapat membantu Viki untuk menjaga Nara di rumah sakit.


Masih sambil memeluk Nyonya Rahma, Nyonya Ane memandang Viki dan Nara bergantian. "Hanya mama, papa, dan Ella yang tahu. Dan sekarang bertambah, tante." ucap Viki.


Nyonya Ane seperti mengerti, kenapa Viki mengatakan hal tersebut. Nyonya Ane tersenyum dan mengangguk pelan. "Pergilah. Urus semuanya. Mamamu dan Nara aman bersama saya. Sebentar lagi beberapa bawahan suami saya akan datang ke sini. Kamu tidak perlu khawatir." jelas Nyonya Ane.


Perkataan Nyonya Ane membuat Viki seperti mendapatkan angin. Dia bisa meninggalkan ketiga orang yang disayangnya dengan tenang.


"Lakukan apa yang perlu kamu lakukan. Karena kamu adalah putranya." lanjut Nyonya Ane tegas.


Nara memandang ke arah Nyonya Ane dan Nyonya Rahma. "Tenang saja. Semua sudah di takdirkan oleh Tuhan. Kita hanya bisa berdoa. Meminta yang terbaik." ucap Nyonya Ane.


Rey segera pergi ke tempat di mana orang tersebut berada. Menyerahkan ponsel milik Tuan Hendra pada lelaki tersebut.


"Katakan pada Viki. Sepertinya tidak akan mudah." ucapnya, melihat ke arah ponsel yang sudah seperti rempeyek.


"Tuan Viki akan mentransfer sesuai kemampuan anda." ucap Rey, mengerti permainan mulut dari orang seperti mereka.


Lelaki tersebut tersenyum. "Pantas Viki mempekerjakan kamu. Mulutmu tak kalah kalah tajam dari atasanmu." kekehnya.

__ADS_1


__ADS_2