
"Sudah siap?" tanya Viki yang berdiri di ambang pintu kamar Nara.
Nara menoleh ke sumber suara. "Abang yakin?" tanya Nara memastikan. Sebab malam ini Viki akan mengajak Nara makan malam di luar.
Viki melangkahkan kakinya ke dalam kamar Nara. "Aku tadi sudah minta izin sama Rini. Katanya boleh." Viki menatap wajah cantik sang kekasih.
"Ckk,,, Abang, jangan bercanda." ucap Nara cemberut.
Viki terkekeh pelan. "Lagian Bima sudah ada yang menjaga." Viki meletakkan kedua tangannya di pinggang milik Nara.
"Jadi kita bisa pergi berdua." Viki mengerlingkan sebelah matanya dengan genit.
Nara mencubit pelan perut Viki. "Awaaa,,,, sakit." ringis Viki.
Nara memukul pelan dada Viki. "Apa sih bang, pelan juga." ucap Nara menahan senyumnya.
"Tapi sakit, elus..." ucap Viki dengan manja.
"Bang. Abang yakin, pergi berdua dengan Nara?" tanya Nara memastikan. Viki mengangguk pelan.
"Di tempat umum low bang." ucap Nara seperti sedang mengingatkan. Viki kembali mengangguk.
Viki mencubit gemas hidung mancung dan mungil mulik Nara. Membuat Nara cemberut dan mengusap hidungnya. "Abang sudah tidak tahan. Pengen pamer pada semuanya. Jika Abang punya kekasih cantik seperti peri." gombal Viki.
"Ckkk,,, dasar." ucap Nara tersipu.
"Cie...." goda Viki.
"Ya sudah ayo. Jadi tidak kita pergi?" Nara segera mengalihkan perhatian Viki. Dirinya tidak ingin di ledek oleh Viki.
"Jadi dong. Ayo." ajak Viki dengan semangat membara.
Di sinilah mereka sekarang berada. Di restoran mewah dengan pelayanan terbaik. Begitu masuk ke dalam restoran, Viki langsung mengajak Nara duduk di sebuah meja.
Di mana di atas meja tersebut sudah nampak berbagai makanan di atasnya dan juga minuman. Nara menarik lengan Viki, saat Viki mempersilahkan Nara duduk dengan menarik kursi ke belakang.
Viki memandang ke arah Nara. "Abang, kita nggak salah meja kan?" tanya Nara berbisik, dengan manik mata menatap ke arah meja dengan polos.
Viki tersenyum, membelai rambut Nara. Mendekatkan bibirnya pada daun telinga milik Nara. "Tidak, abang sudah pesan sebelum kita datang ke sini." papar Viki dengan suara lirih.
Nara hanya mengangguk dengan membulatkan mulutnya membentuk huruf O. "Terimakasih." Nara duduk di kursi dengan anggun.
__ADS_1
"Kamu senang?" tanya Viki yang duduk di samping Nara dengan menggenggam telapak tangan Nara.
"Iya." ucap Nara mengangguk bahagia.
Viki mengambilkan makanan dan di letakkan di piring Nara. "Abang, biar Nara sendiri." tolak Nara merasa jika Viki tidak perlu melayani Nara.
"Sudah, tidak apa-apa. Bukankah jika di rumah kamu yang selalu melakukannya untuk abang. Sekarang, giliran abang. Silahkan makan tuan putri." ucap Viki tersenyum simpul.
"Pasti rasanya akan lebih enak, karena di ambilkan oleh tangan abang." ujar Nara.
"Sudah pandai menggombal sekarang." puji Viki.
"Kan yang ngajarin abang." kilah Nara.
"Apa perlu abang suapi. Biar tambah enak." ucap Viki tersenyum jahil.
"Jangan aneh-aneh deh bang." ucap Nara. Sebenarnya Nara tidak keberatan. Namun dia merasa malu, jika Viki benar-benar melakukannya.
Apalagi mereka tidak hanya berdua di restoran tersebut. "Tahu begitu, tadi abang pesan ruangan khusus." celetuk Viki. Nara hanya menggeleng pelan sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Sedari keluar dari rumah, mobil mereka di buntuti oleh seseorang. Bahkan setelah mereka sampai di restoran. Orang tersebut masih memantau Viki dan Nara.
Nara tidak sadar jika mereka sedang di buntuti seseorang, lain halnya dengan Viki. Dia tahu betul, jika saat ini ada yang mengawasi dirinya dan Nara.
Termasuk sang papa kandung Nara. Tuan Smith. Dialah yang menyuruh seseorang untuk menguntit Viki dan Nara. Dan Viki tahu tujuan dari beliau.
Bahkan Viki juga sadar, jika sedari awal keduanya masuk ke dalam restoran. Ada sepasang mata yang menatap ke arahnya dengan tatapan membunuh.
Siapa lagi jika bukan Melva. Dan Nara, tentu saja dia tidak tahu. Jika ada sepasang mata yang tajam menatapnya seperti mata pisau yang siap mengenai lawannya hingga tak berkutik.
Suatu kebetulan yang luar biasa. Sungguh, Viki tidak mengetahui jika Melva berada di restoran ini. Sedang makan malam bersama teman-temannya.
Tapi Viki seolah tidak peduli dengan ancaman dari Melva. Viki tahu bagaimana para artis seperti Melva akan lebih mementingkan citra mereka.
Jadi kemungkinan besar, Melva akan berusaha mati-matian mengendalikan amarah yang ada pada dirinya. Melva tentu saja tidak mungkin menghampiri meja Viki dan membuat keributan.
Jika itu di lakukan. Pasti citra baik yang selama ini Melva bangun akan hancur dalam hitungan detik.
Viki tetap tersenyum di sela makan malam bersama Nara. Mereka juga berbincang kecil. Yang membuat semua orang merasa iri, sikap dari Viki yang sangat romantis.
Viki dengan telaten mengambilkan makan untuk Nara. Menuangkan air minum yang berada di botol kristal ke dalam gelas Nara. Dan melakukan hal romantis lainnya.
__ADS_1
Viki benar-benar memperlakukan Nara layaknya seorang tuan Putri. Membuat Nara merasa terbang ke awan.
"Bukankah dia Viki. Sedang bersama siapa dia. Sungguh sangat cantik."
"Sumpah, baru kali ini gue melihat Viki berjalan dengan perempuan. Mana masih muda banget perempuannya."
"Alah, palingan dia memang masih sekolah. Lihat saja wajahnya. Masih muda. Pasti mengincar harta Viki."
"Pastilah. Apa lagi yang membuat dia rela menjalin hubungan dengan yang lebih tua."
"Pasti tak jauh-jauh dari urusan uang."
"Adek, jika kamu bisa membuatku senang di atas ranjang. Apapun yang adek inginkan akan terpenuhi."
"Gue kira Viki dekat dengan Melva. Berarti cuma gosip dong."
"Gue lihat masih pantes sama Melva. Dia masih bocah. Kenapa cari yang sudah dewasa."
Terdengar bisik-bisik dari beberapa meja sebelah. Dan semua itu tertangkap oleh indera pendengaran Nara maupun Viki.
Viki memegang telapak tangan Nara. Viki yakin, jika Nara mulai terganggu dengan suara-suara sumbang tersebut. "Tidak perlu khawatir. Nara bisa mengatasinya." ucap Nara tersenyum.
Viki mencium pipi Nara sedikit lama. Fan juga punggung telapak tangan Nara. Membuat semua pengunjung membulatkan mata. Bahkan ada yang syok, ada yang senyum-senyum sendiri melihat kemesraan yang sedari tadi di perlihatkan oleh Viki kepada Nara.
Di meja lain, Melva mengepalkan tangannya. Tapi dia masih waras untuk menahan amarahnya agar tidak meledak. "Mel, itukan Viki?" tanya temannya, memandang ke meja Viki dan Nara.
"Oh iya ya. Ternyata benar. Tahu nggak, sedari tadi mereka itu mesra banget." timpal yang lain.
"Gue kira Viki dekat sama elo Mel." sahut yang lain.
Melva berusaha untuk tetap tersenyum. Meski dirinya ingin sekali meluapkan amarahnya. "Biasa, lelaki seperti Viki pasti dong, banyak yang mendekati. Mungkin salah satunya dia." ucap Melva berusaha untuk tetap tenang.
"Lah, terus elo gimana?"
"Gue." Melva memutar bola matanya dengan sok santai. "Tenang saja. Gue tetap yang pertama di hati Viki. Yah, asal kalian tahu. Viki memang selama ini suka berganti-ganti perempuan." ucap Melva bohong.
"Tapi tetap, ujung-ujungnya kembali pada gue. Padahal gue sih nggak terlalu kepikiran. Kalian tahukan, gue juga belum ada niat berumah tangga." lanjut Melva terlihat baik-baik saja.
"Elo yakin?"
"Yakinlah. Sebentar lagi pasti itu perempuan di tinggal. Seperti yang sudah-sudah. Dan Viki, kembali pada gue. Tanpa harus gue minta." ucap Melva dengan percaya diri.
__ADS_1
"Tapi Viki nggak pernah terlihat dekat dengan perempuan manapun."
"Ckk,, elonya saja yang nggak tahu. Diakan orang berkuasa. Sahabat-sahabatnya juga bukan orang sembarangan. Tahulah kalian maksud gue." ucap Melva menahan geram dengan pemandangan yang membuatnya terasa di bakar.