
Perkataan Nara pada Rini membuat dahi Tuan Hendra berkerut. Terulang lagi. Memangnya apa yang mereka lakukan.
"Rini, boleh om bertanya sesuatu?" tanya Tuan Hendra, setelah sang istri dan Nara meninggalkan mereka bertiga.
"Memang apa yang terjadi pada kalian di rumah putra om?" tanya Tuan Hendra dengan pelan.
"Emm,,, Bima memecahkan vas besar milik bang Viki." ucap Rini lirih, sambil menundukkan kepala. Takut jika papa Viki marah.
"Tapi Rini berjanji, tidak akan membiarkan Bima bermain sendiri lagi." ucap Rini menatap wajah Tuan Hendra, seperti menyakinkan Tuan Hendra.
Tuan Hendra tersenyum, tangannya mengelus lembut rambut milik Rini. "Iya." ucap Tuan Hendra.
"Terimakasih mbok." ucap Nara sedikit membungkukkan badan.
"Sama-sama Non." sahut mbok dengan ramah.
"Eh, jangan panggil Non. Panggil Nara saja." ucap Nara. Dirinya merasa tidak nyaman dengan panggilan tersebut.
Mbok menatap ke arah majikannya. Dimana Nyonya Rahma berada di belakang Nara. "Baik. Non,, eh Nara." ucap Mbok, saat Nyonya Rahma mengangguk kecil.
"Saya permisi Nyonya, Nara." pamitnya.
"Kamu yakin, tidur di kamar ini?" tanya Nyonya Rahma memastikan.
"Iya tante." jawab Nara tersenyum, segera Nara memasukkan pakaiannya beserta milik kedua adiknya ke dalam almari.
Setelah selesai merapikan pakaiannya, Nara memanggil kedua adiknya. "Rini, kamu tunggu sebentar. Kakak mandikan Bima terlebih dahulu. Setelah itu baru kamu." ucap Nara.
"Baik kak." Rini dengan patuh menunggu Nara di dalam kamar.
"Mau memandikan Bima?" tanya seorang pembantu di rumah Nyonya Rahma.
"Iya mbak." jawab Nara dengan sopan.
"Pakai air hangat saja." sarannya.
"Terimakasih mbak. Tidak apa-apa, pakai air dingin saja." tolak Nara dengan sopan.
"Ingin." ucap Bima dengan cedal. (dingin)
"Bima sayang, Bima harus nurut ya. Nggak boleh nakal. Sekarang mandinya cepat. Biar nggak dingin." ucap Nara melepas pakaian milik Bima.
Dengan patuh, Bima menuruti perkataan Nara. Pantas Bima merasa dingin, karena hari sudah larut. Karena biasanya, Bima akan mandi saat sore hari.
Segera Nara memakaikan handuk di badan Bima, dan menggendongnya ke dalam kamar. Karena kamar mandi dan kamar mereka berada di ruangan berbeda.
"Rini, cepat. Nanti keburu dingin. Jangan lama-lama mandinya." suruh Nara pada Rini.
"Baik kak."
Seperti Bima, Rini juga mandi dengan kilat. "Dingin ya dek?" tanya Rini dengan memakaikan baju di badannya di belakang Bima.
__ADS_1
"Iya." jawab Bima dengan memakai selimut di badannya dengan tangan sibuk memainkan mainannya.
Sedangkan Nara, dia sedang mandi. Sebelum mandi, Nara sudah mewanti-wanti. Rini untuk menjaga Bima dengan baik. Jangan sampai keluar dari kamar.
"Mereka itu siapa?" tanya Siti. Salah satu pembantu di rumah kedua orang tua Viki.
Di rumah Nyonya Rahma ada tiga pembantu rumah tangga. Mereka bekerja mulai membersihkan rumah bagian dalam hingga luar. Termasuk kebun dan halaman. Selain Mbak Siti, ada Mbok Nah dan juga mbak Mira.
"Saya kurang tahu. Nyonya yang mengajak mereka ke sini." jawab Mbok Nah.
"Semoga dia baik. Tidak sombong seperti perempuan waktu itu." ucap Mbak Mira.
"Permisi." ucap Nara, menghentikan percakapan mereka.
Selesai mandi, Nara meminta Rini untuk menjaga Bima. Sementara dirinya ingin membantu yang lain.
"Nara, ada apa?" tanya Mbok Nah.
"Tidak mbok, Nara mau membantu menyiapkan makan malam." ucap Nara.
"Tidak usah Nara. Sebaiknya kamu istirahat saja." tolak Mbak Mira. Dirinya takut jika sampai di marahi oleh majikan mereka.
"Tidak apa-apa mbak. Lagian Nara sama seperti kalian." ucap Nara. Dirinya paham mengapa para pekerja di rumah Viki melarangnya untuk bekerja.
"Saya juga akan bekerja di rumah ini. Sama seperti mbok Nah dan yang lainnya." jelas Nara.
Awalnya Nara menolak ajakan Nyonya Rahma tinggal di rumahnya. Hingga akhirnya Nara menyetujuinya, lantaran Nyonya Rahma mengatakan jika dirinya sedang mencari seorang pembantu.
"Iya mbak." jawab Nara.
"Kalau begitu, tolong kamu bawa ini ke meja." ucap mbok Nah tersenyum dengan memberikan semangkok sayur pada Nara.
"Dia memang bekerja membantu kita. Tapi dia pembantu spesial. Jadi, kalian tidak boleh iri. Paham." ujar Mbok Nah pada Siti dan Mira, sepeninggal Nara yang sedang membawa mangkok berisi sayur ke meja makan.
"Paham mbok. Kita bisa lihat kok." ucap Siti.
"Yang terpenting dia nggak sombong." imbuh Mira.
"Kalian ini, ayo bekerja. Sebentar lagi Tuan dan yang lain akan segera makan malam." ucap Mbok Nah.
Nara terlihat membantu pembantu lainnya menyiapkan makan malam. Setelah itu, dia kembali lagi ke kamar. Memastikan kedua adiknya masih berada di dalam kamar.
"Nara mana?" tanya Nyonya Rahma.
"Di kamarnya Nyonya."
"Kamu panggil. Sekalian bersama kedua adiknya." pinta Nyonya Rahma.
Tidak lama kemudian, Nara bersama kedua adiknya menghadap ke arah Nyonya Rahma. "Loh, kenapa berdiri. Ayo duduk. Kita makan." ucap Nyonya Rahma.
"Maaf Nyonya, kita makan di belakang saja." tolak Nara dengan halus.
__ADS_1
"Loh, kenapa?" tanya Nyonya Rahma.
Sementara Mbak Mira yang berada di belakang Nara, menyenggol Nara. "Sudah, kamu duduk sana. Jangan membantah." bisik Mbak Mira.
Tapi Nara tetap enggan untuk duduk bersama kedua orang tua Viki. Apalagi Nara datang ke sini untuk bekerja sebagai pembantu. Sungguh tak pantas bagi Nara untuk duduk bersama majikan saat makan.
Viki dnegan wajah segar menuruni tangga. Tampak senyum di bibir Viki. Nara melihat ke arah Viki tanpa mengedipkan mata.
Dan semua itu tak luput dari pandangan Nyonya Rahma. "Aissshh,,,,, sudah ganteng. Mau kemana?" tanya Viki langsung menggendong Bima.
"Ini aju bang piki." ucap Bima menarik sendiri baju yang dipakaianya.
"Iya, kamu masih ingat saja." Viki mencium gemas pipi Bima. Karena memang baju yang di pakai Bima adalah baju yang di belikan oleh Viki.
"Rini, cepat duduk. Kita makan." Viki menaruh Bima di samping tempat duduknya.
"Baik Bang." ucap Rini. Tapi nampaknya bocah berusia tujuh tahun itu sedang bingung untuk duduk di mana.
"Rini duduk di sini." ucap Nyonya Rahma. Menyuruh Rini duduk di dekatnya. Sementara Tuan Hendra hanya diam, membiarkan anak dan istrinya.
"Terimakasih tante." ucap Rini dengan sopan.
"Kenapa kamu masih berdiri." ucap Viko menatap tajam ke arah Nara.
"Maaf Bang." segera Nara duduk di samping Bima.
Seperti biasa, Nyonya Rahma melayani Tuan Hendra saat makan. Tapi betapa kagetnya Nyonya Rahma dan Tuan Hendra, saat Nara juga mengambilkan makanan untuk Viki. Keduanya saling berpandangan.
"Rini mau lauk apa?" tanya Nyonya Rahma. Bukannya menjawab, Rini malah memandang ke arah Nara dan Viki bergantian.
Dan Nara, dia malah menatap ke arah Viki. "Rini bisa ambil dan memilih sendiri, bukankah Rini sudah besar." ucap Viki tersenyum.
"Baik bang." dengan sopan, Rini mengambil sayur dan lauk seperlunya. Nyonya Rahma dan Tuan Hendra tersenyum melihat ke arah Rini.
Viki makan dengan lahap makanan yang sudah diambilkan Nara di atas piringnya. Nyonya Rahma hanya mencuri pandang ke arah putranya.
Sementara Nara, dia makan sambil menyuapi Bima. "Bima mau kemana?" tanya Nara di saat dia makan. Karena Bima hendak turun dari kursi.
"Bima." tegur Viki. "Makannya di habiskan dulu. Baru main." imbuh Viki, mengelus lembut rambut Bima.
Nara mendengus kesal melihat Bima patuh terhadap perkataan Viki. "Bima nurut sama Bang Viki." celetuk Rini, mendapat tatapan tajam dari Nara.
Langsung Rini menunduk, melanjutkan makannya. Sementara Nyonya Rahma dan Tuan Hendra tersenyum.
"Rini, kamu temani Bima duku. Abang pinjam kak Nara sebentar." ucap Viki setelah makan.
"Rini dan Bima sama tante saja. Kita melihat televisi." ajak Nyonya Rahma.
"Baik tante."
Sementara Nara mengekor di belakang tubuh Viki. Mengikuti kemana Viki mengajaknya pergi.
__ADS_1