VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 47


__ADS_3

"Kalian di sini?" tanya Melva, saat melihat beberapa artis yang berada di bawah naungan perusahaan Viki juga duduk di kursi, di tempat dirinya dan Viki akan bertemu.


"Maaf, membuat kalian menunggu." ucap Rey baru datang.


Dan Melva, masih berdiri. Menatap ke semuanya. Seakan tidak percaya. Melva mengira jika Viki mengundangnya makan secara pribadi. Hanya dengannya. Berdua.


Tapi ternyata tidak. Dirinya bersama dengan artis lainnya. Berkumpul menjadi satu, untuk membahas kontrak mereka ke depannya.


"Nona Melva, silahkan." ucap Rey mempersilahkan untuk Melva duduk di kursi yang masih kosong.


Melva mengatur emosinya. Dia tetap tersenyum, meski menahan kesal di hatinya. "Sial, gue kira cuma berdua, ternyata sama mereka." ucap Melva dalam hati.


Awalnya Melva sudah merasa di atas angin. Mengira jika dirinya spesial di mata Viki. Mengira Viki telah tertarik padanya.


"Maaf, sebelumnya. Saya akan mewakili Tuan Viki untuk pertemuan kali ini. Karena beliau sedang ada keperluan lain." jelas Rey, sebelum memulai membahas tentang pertemuan kali ini.


Di sela-sela pertemuan, ada berita yang menjadi trending topik secara langsung.


KEMATIAN PENGUSAHA MUDA VANO REYANDLI DALAM KECELAKAAN.


"Sungguh."


"Astaga, ini berita hoax apa nyata sih."


Masih banyak lagi cuitan dari para artis di tempat tersebut. Melva tersenyum. "Mungkin karena ini, Viki membatalkan janjiannya sama gue." ucap Melva dalam hati.


Melva menyimpulkan sendiri, jika Viki terpaksa menyuruh Melva bergabung dengan artis lain. Karena merasa tidak enak membatalkan janjinya.


Dan Viki terpaksa melakukannya. Karena Viki pasti sedang berada di kediaman Vano dan Ella.


"Oke, tidak masalah. Mungkin dengan begini, gue bisa lebih dekat dengan Viki." ucap Melva dalam hati.


Di rumah sakit, Viki menunggu Ella sampai Ella sadar. Hingga menjelang petang. Viki pulang, bersama dengan Hana.


Itupun Viki harus memaksa Hana untuk pulang bersama dirinya. Karena Hana kekeh tak mau meninggalkan rumah sakit.


"Bang Viki...!!" seru Rini, melihat ke arah Viki. Yang berjalan dengan malas. Dengan tampilan kacau. Serta menampilkan ekspresi wajah sedih.


"Vik." ucap Nyonya Rahma. "Ambilkan minum." imbuh Nyonya Rahma, melihat ke arah Viki.


"Rini, ajak adik kamu bermain di belakang." pinta Tuan Hendra.


"Baik om." segera Rini membawa Bima serta beberapa mainannya ke belakang. Sebelumnya, Rini sempat menoleh ke arah Viki.


"Kamu kemana saja. Kenapa..." ucap Nyonya Rahma. Tapi terhenti saat Tuan Hendra menepuk pahanya. Nyonya Rahma yang mengerti, langsung terdiam.


"Bagaimana keadaan Ella?" tanya Tuan Hendra. Karena Tuan Hendra menebak, jika Viki tidak ada di pemakaman, lantaran mengurusi Ella.


Karena sewaktu melayat, Tuan Hendra dan Nyonya Rahma tidak melihat batang hidung dari putranya. Mereka hanya bertemu dengan Denis.


"Dia sudah sadar." ucap Viki dengan lirih. Nara membawa segelas air putih ke depan.


"Ini, minum dulu." Nyonya Rahma mengambilkannya, dan meyerahkan pada Viki.


"Sulit untuknya menerima kematian suaminya." ucap Viki, dengan mata memerah. "Apalagi, janin dalam kandungannya tidak bisa di selamatkan." imbuh Viki, seraya meminum air putih yang baru saja Nara ambilkan.


Nara yang berdiri di samping Tuan Hendra juga menitikkan air mata. Dirinya tahu tentang kecelakaan yang mengakibatkan kematian suami dari Ella. Karena Nara di beritahu oleh Nyonya Rahma, sebelum Tuan Hendra dan Nyonya Rahma pergi takziah.


"Ella pasti kuat. Dia perempuan yang hebat." ucap Nyonya Rahma, mencoba menenangkan Viki.


Nara yakin, jika sekarang Viki pasti sedang hancur. Mengingat hubungan keduanya sangatlah dekat. Nara mengetahuinya dari Mbok Nah.


Beliau menceritakan hubungan Viki dengan kedua sahabatnya. Denis dan Ella. Yang sudah terjalin sejak SMA. Dan mereka tidak hanya bersahabat biasa. Lebih kepada memperlakukan satu sama lain, seperti saudara.


"Nara, kamu siapkan air untuk Viki mandi." pinta Nyonya Rahma.


"Baik Tante." ucap Nara, segera melangkahkan kakinya menuju ke kamar Viki. Sebelum masuk ke kamar mandi, mata Nara menatap ke sebuah meja panjang di dalam kamar Viki.


Di mana ada foto Viki, bersama kedua sahabatnya. Mulai mereka berseragam SMA, sampai mereka menjadi orang seperti sekarang ini.


Nara tersenyum, dan segera masuk ke kamar mandi. Menyiapkan air mandi untuk Viki.

__ADS_1


Selesai, Nara keluar dan hendak memberitahu pada Viki. Jika airnya sudah siap. Tapi ternyata Viki sudah berada di depan meja.


Menatap deretan foto dirinya bersama dengan kedua sahabatnya. Nara berdiri di samping Viki. Mengikuti pandangan mata Viki.


"Bang, mbak Ella perempuan kuat dan hebat. Pasti dia akan baik-baik saja." ucap Nara, membuat Viki menoleh ke arah Nara.


"Boleh, abang memeluk Nara sebentar." pinta Viki.


Nara melongo dan bengong, saat mendengar permintaan Viki. "Maaf." ucap Viki, mengira Nara tidak mengizinkannya.


"Kamu mikir apa sih Nara. Bang Viki sedang sedih." batin Nara, memarahi dirinya sendiri.


Nara tersenyum dan langsung memeluk tubuh Viki. Membuat Viki juga mengeratkan pelukannya. Dengan pelan, Nara menepuk-nepuk bahu Viki. Seolah memberikan kekuatan pada Viki.


"Apa Nara saja." ucap Viki dalam hati. Seketika teringat perkataan Ella.


"Mikir apa kamu Vik. Dia masih bocah. Umurnya saja belum genap tujuh belas tahun." tambah Viki dalam hati.


"Terimakasih." ucap Viki, melepaskan pelukannya dari Nara.


Nara memandang tulus pada Viki. "Kapanpun abang menginginkan, Nara akan siap." ucap Nara ambigu.


Membuat Viki menatap Nara dengan tatapan aneh. "Kapanpun akan siap." batin Viki, mengulang perkataan Nara.


"Abang." panggil Nara, karena Viki malah menatapnya dengan tatapan rumit.


"Ah, iya." ucap Viki, segera mengalihkan pandangannya.


"Aku mau mandi dulu." segera Viki masuk ke kamar mandi.


Lagi, Viki merasa resah. "Ckkk,,, ini gara-gara ide gila dari Ella." ucap Viki, sambil melepas pakaiannya.


"Tapi,,," Viki melihat pantulan dirinya yang sedang telanjang, tanpa benang sehelai di badannya di depan cermin.


"Nara, apa bisa. Apa bisa dia di percaya. Apa dia mau membantu gue." ucap Viki, mengacak rambutnya kasar.


Dan segera masuk ke dalam bak mandi. Berendam ke dalam air hangat. Menyegarkan badan serta pikirannya. Setelah sehari dirinya berada di rumah sakit.


Dan sekarang, pikirannya malah kacau oleh saran-saran dari Ella.


"Meremas bongkahan besar yang ada di dada perempuan."


"Memainkan jari di area lembab perempuan."


Kalimat-kalimat dari mulut Ella terus berkeliling di kepala Viki. "Aaa...." teriak Viki, memukul air di dalam bak mandi. Hingga airnya meluap.


"Gue bisa gila." kesalnya.


"Tuhan. Ini semua gara-gara Ella." dengus Viki, menyalahkan Ella karena sudah memberi saran.


"Tapi sungguh, gue juga pengen sembuh." ucapnya, kembali menenggelamkan badannya di bak mandi.


"Perempuan. Banyak perempuan yang mendekati gue. Tapi masa iya, gue asal nyomot. Emang beli tempe goreng." kesalnya.


Kini Viki benar-benar merasa frustasi. Dirinya ingin melakukan apa yang di sarankan oleh sahabatnya tersebut.


Tapi, sekarang yang menjadi masalah terbesarnya adalah. Siapa perempuan yang bisa membantu Viki. Karena tidak mungkin Viki memilih Giska, ataupun Melva.


"Memilih Melva atau Giska. Tamat riwayat gue." gumam Viki.


"Apa aku bisa." Viki mengangkat telapak tangannya ke atas air. Memandang fokus ke telapak tangannya.


Viki memejamkan mata. Mengambil nafas panjang dan dalam. Menggenggam erat kedua telapak tangannya sendiri.


"Pasti bisa. Aku akan mencoba." ucap Viki, membuka kedua matanya.


"Sekarang, tinggal mencari lawannya. Tidak mungkin aku membeli robot perempuan dari silikon." ucap Viki nyleneh.


Entah dari mana Viki punya pikiran gila. Hingga berpikir tentang robot wanita yang berasal dari silikon. Yang saat ini banyak di perjual belikan secara umum.


Malam hari, Viki tetap tidak bisa tidur. Dia masih berpikir, untuk mencari perempuan yang bisa di ajaknya bekerja sama.

__ADS_1


"Apa gue ke bar saja. Di sana pasti banyak perempuan." gumam Viki.


"Cuma ciuman. Tidak lebih." imbuh Viki, seolah membenarkan niatnya pergi ke bar.


Segera Viki mengambil jaket dan juga kunci mobil. Berniat pergi ke bar. "Bang Viki mau ke mana?" tanya Nara, yang kebetulan berada di ruang tengah. Sedang membereskan sisa mainan Bima.


Rini belum sempat membereskannya, sebab Tuan Hendra terlebih dahulu menyuruhnya mengajak Bima bermain di belakang, saat Viki tiba.


"Mau ke rumah teman." jawab Viki santai.


"Bang, ini sudah malam loh." ucap Nara menghentikan langkah Viki. Jujur, Nara khawatir.


Viki menatap ke arah Nara. Dengan tatapan fokus ke bibir mungil dan tipis milik Nara, yang berwarna merah muda alami.


Viki mengulum bibirnya sendiri. Tersenyum samar. "Ikut gue." Viki menyeret lengan Nara ke samping rumah. Dimana lampu sudah banyak yang mati. Karena memang semua penghuni sudah terlelap dalam tidurnya.


"Ada yang mau gue omongin." Viki menyuruh Nara duduk. Keduanya saling berhadapan.


Glekk,,,, Viki menelan ludah dengan sulit. Melepaskan tangan Nara dan mengusap kasar ke wajahnya. "Gimana gue ngomongnya." gumam Viki bingung.


"Bang Viki kenapa? Katanya ada yang mau di omongin sama Nara." tanya Nara memandang Viki dari samping.


"Astaga, dada ini." batin Nara, memegang dadanya sendiri. Jantung Nara kembali berdetak dengan kencang. Melihat wajah tampan Viki dari samping.


Apalagi melihat hidung Viki. "Kayak perosotan." batin Nara tersenyum.


"Apa elo udah punya cowok?" tanya Viki spontan, memberanikan diri.


"Belum bang. Memang kenapa?" tanya Nara. Dan Viki malah manggut-manggut.


"Elo mau bantuin gue?" tanya Viki, mencoba bersikap tenang. Padahal, dadanya sudah bergemuruh hebat.


"Mau." jawab Nara dengan cepat dan singkat. Tanpa berkeinginan tahu terlebih dahulu. Bantuan apa yang di minta oleh Viki pada dirinya.


Viki menatap sekeliling. "Aman nggak di sini." batin Viki.


"Ikut gue. Tapi elo jangan berisik." ujar Viki, memegang lengan Nara. Membawanya ke kamar Viki.


Karena Viki merasa, kamar miliknya adalah tempat teraman. Untuk menjalankan terapinya, atau rencananya.


Nara menatap Viki dengan bingung. Apalagi Viki membawa Nara masuk ke dalam kamar Viki. Dan Viki, mengunci pintu kamarnya.


"Bang..." panggil Nara dengan ekspresi takut. Meskipun Nara belum pernah dekat dengan lelaki. Tapi Nara bukan gadis bodoh.


Tentu saja ada ketakutan di hatinya. Berdua dengan lelaki di dalam kamar, dengan keadaan pintu terkunci. Meskipun dengan Viki.


"Tenang, gue nggak mau ngapa-ngapain elo. Gue cuma mau ngobrol." jelas Viki, menenangkan Nara yang mulai ketakutan dan gelisah.


Nara menghembuskan nafas lega, setelah mendengar perkataan Viki. "Duduk sini." suruh Viki.


Dengan patuh, Nara duduk di tepi ranjang Viki. Nara melihat Viki juga tampak tegang dan bingung. Kini, rasa takut dan gelisah yang Nara rasakan lenyap seketika.


Saat Nara melihat wajah dari Viki. Apalagi Viki berkali-kali mengambil dalam-dalam nafasnya. Dan menghembuskan secara perlahan.


"Sepertinya Bang Viki sedang tertekan. Mungkin Bang Viki mempunyai masalah yang besar. Makanya dia butuh Nara, untuk teman bicara." batin Nara, menyimpulkan sendiri.


Beberapa menit mereka berada di dalam kamar Viki. Tapi hanya keheningan yang terjadi. Baik Viki maupun Nara sama sekali tidak membuka mulut.


Viki tidak segera mengatakan tujuannya membawa Nara ke dalam kamarnya. Dan Nara, tidak bertanya pada Viki. Tentang bantuan apa yang diperlukan Viki darinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tuan Marko meremas kertas di telapak tangannya dengan kesal. Apalagi semua usahanya membuat perusahaan Viki gulung tikar tidak terlaksana dengan baik.


Meski pada awalnya, terlihat jika usaha Tuan Marko berjalan. Namun pada akhirnya, Viki lah yang menjadi pemenang.


Padahal Tuan Marko sudah mengeluarkan uang tidak sedikit untuk mengobrak-abrik perusahaan Viki.


"Kenapa aku bisa di kalahkan oleh anak kemarin sore..!?" geram Tuan Marko tidak terima.


Padahal Tuan Marko hanya ingin membuat Viki menerima perasaan dari putrinya. Dan sekarang, terlihat Tuan Marko seperti ingin mengalahkan Viki.

__ADS_1


Membuat Viki mengakui keberadaannya dan juga kehebatannya. "Aku tidak bisa diam saja. Bisa-bisa dia akan besar kepala." ucap Tuan Marko dengan perasaan yang sudah di penuhi emosi.


Ternyata benar perkataan Nyonya Gina. Dan keputusan Nyonya Gina memberitahu Viki sudah tepat. Jika Tuan Marko, adalah lelaki yang keras kepala. Apapun yang di inginkannya, harus terlaksana. Sama seperti putrinya, Giska.


__ADS_2